Peran Sinamaldehid dalam Menurunkan Jumlah Bakteri Vibrio Koloni Hijau dalam Budidaya Udang Vaname

Peran Sinamaldehid dalam Menurunkan Jumlah Bakteri Vibrio Koloni Hijau dalam Budidaya Udang Vaname

Udang vaname saat menjadi komoditas perikanan budidaya yang sedang berkembang pesat baik di Indonesia maupun di dunia. Indonesia sendiri masuk ke dalam 5 besar produsen udang vaname di dunia. Udang vaname saat ini menjadi andalan sektor perikanan budidaya di Indonesia. Permintaan udang vaname terus meningkat seiring dengan peningkatan konsumsi ikan oleh masyarakat. Untuk memenuhi permintaan tersebut, para petambak terus berupaya untuk meningkatkan produksi. Peningkatan produksi secara intensif digadang-gadang menjadi salah satu solusi untuk menggenjot produksi udang baik nasional maupun pasar ekspor. Namun dalam prakteknya, beberapa faktor budidaya udang penting untuk diperhatikan untuk menunjang produktivitas, seperti penyakit dan kesehatan udang, ketersediaan benih dan induk, distribusi dan marketing produk, dan sebagainya.

Kondisi selama pandemi dan pasca-pandemi Covid-19, permintaan udang vaname cenderung stagnan dan cenderung meningkat. Tentunya pemenuhan kebutuhan pangan selama pandemi dan pasca-pandemi tersebut perlu dibarengi juga dengan upaya peningkatan produksi udang vaname. Berbagai upaya peningkatan produksi telah dilakukan oleh para praktisi, akademisi dan pemerintah. Salah satu upaya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yaitu merevitalisasi tambak udang tradisional menjadi tambak udang semi-intensif hingga intensif. Intensifikasi ini berhubungan dengan kepadatan udang yang dibudidayakan semakin padat dan diharapkan mendapatkan hasil panen yang jauh lebih tinggi. Namun tak jarang ini justru memicu berbagai masalah diantaranya udang mudah stress akibat perubahan kualitas air seperti penurunan pH, suhu, alkalinitas, salinitas, kadar oksigen terlarut (DO) dan sebagainya. Pada akhirnya udang menjadi lebih mudah terserang penyakit hingga mengakibatkan kematian. Menurut data Global Seafood Alliance (GOAL) 2021, penyakit merupakan top isu dan tantangan nomor satu dalam budidaya udang di semua negera di dunia. Beberapa penyakit ditimbulkan oleh beberapa golongan mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit dan fungi.

Penyakit bakterial yang sering menyerang udang vaname di semua stadia salah satunya adalah penyakit vibriosis. Penyakit ini disebabkan oleh golongan Vibrio, seperti V. harveyi, V. vulnificus, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, dan Vibrio sp.. Dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini cukup besar karena merugikan secara ekonomi. Menurut Dian Eka Ramadhani, S.Pi, MSi (Dosen Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University), bakteri Vibrio ini merupakan bakteri yang secara alami memang berada di lingkungan perairan laut maupun payau seperti di dasar tambak, di perairan laut maupun areal payau dan bakteri penghuni saluran pencernaan udang maupun ikan. ”Tidak semua bakteri Vibrio itu bersifat patogen (agen penyakit), beberapa ada yang bersifat baik atau menguntungkan, sambungnya”.

Bakteri golongan Vibrio secara umum memiliki karakteristik warna yang berbeda pada saat kita tumbuhkan dalam media selektif thiosulphate citrate bile salt (TCBS), yaitu berwarna kuning dan hijau. Beberapa strain dari bakteri Vibrio yang berwarna hijau merupakan penyebab penyakit acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) atau biasa disebut juga early mortality syndrome (EMS). Beberapa laporan di lapangan, penyakit ini banyak menginfeksi udang vaname pada ukuran benur atau juvenil. Selain itu, penyakit ini juga menyerang juvenil udang windu. Kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini dapat mencapai 100% dalam kurun waktu 10-35 hari pasca-penebaran. Penyakit ini pertama kali terjadi di negara China pada tahun 2009, berbarengan dengan berbagai kejadian di beberapa wilayah Asia Tenggara seperti di Thailand, Vietnam dan Malaysia pada tahun 2011. Thailand menjadi salah satu negara yang terdampak paling besar di Kawasan Asia Tenggara. Kerugian yang ditimbulkan cukup signifikan, dimana total produksi udang menurun hingga 54% dan menyebabkan kerugian finansial sebesar $11,58 miliar.

Upaya pengendalian penyakit ini terus dilakukan oleh para peneliti, akademisi, maupun industri. Beberapa upaya yang dilakukan diantaranya penggunaan imunostimulan seperti probiotik, prebiotik, herbal, senyawa bioaktif, dan sebagainya. Umumnya probiotik yang digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas air, pertumbuhan, dan sistem imun pada udang vaname baik dari stadia larva hingga dewasa. Penelitian dari Dian Eka Ramadhani, S.Pi, M.Si dan tim penelitian melaporkan bahwa pemberian probiotik Bacillus NP5 dalam bentuk cair dan powder dapat meningkatkan pertumbuhan dan imunitas ikan mas dan lele. Sedangkan probiotik Pseudoalteromonas piscicida (1Ub), prebiotik mannan-oligosakarida (MOS), dan gabungan keduanya dapat meningkatkan pertumbuhan dan imunitas pada udang vaname. Penggunaan senyawa bioaktif seperti sinamaldehid juga dapat digunakan untuk melawan bakteri patogen atau berperan dalam aktivitas antimikroba. Sinamaldehid dapat diperoleh dari tumbuhan kayu manis, baik dari kayu maupun daunnya. Beberapa penelitian lainnya melaporkan konsentrasi sinamaldehid 70 ppm memiliki aktivitas antibiotik yang hampir sama dengan antibiotik standar amoksisilin yaitu 18,2 mm terhadap Streptococcus aureus sementara amoksisilin pada konsentrasi yang sama memiliki zona hambatan 18,9 mm.

Dian Eka Ramadhani, S.Pi, M.Si dan tim melakukan penelitian tentang pemberian sinamaldehid dan pengaruhnya terhadap komposisi bakteri Vibrio koloni kuning dan hijau, serta pengaruhnya terhadap imunitas udang vaname. Usus merupakan salah satu organ yang paling banyak disukai oleh bakteri untuk menempel dan berkembang biak, karena banyak sekali nutrisi yang terdapat pada usus. Sehingga kami melakukan penghitungan bakteri Vibrio pada usus, hepatopankreas, dan air pemeliharaan budidaya udang vaname serta pengaruhnya terhadap imunitas tubuh udang vaname. Dari hasil penelitian yang telah kami lakukan, jumlah bakteri Vibrio paling banyak terdapat di usus, dibandingkan di hepatopankreas dan media pemeliharaan budidaya udang vaname. Pemberian sinamaldehid dilakukan dengan dosis 0,2% (0,2 mL/kg pakan) dapat menurunkan jumlah bakteri terutama koloni hijau pada usus dan hepatopankreas udang vaname. Hal ini berkolerasi dengan jumlah bakteri Vibrio kuning yang banyak berkolonisasi pada udang vaname yang diberi pakan sinamaldehid dosis 0,2%. Umumnya beberapa koloni Vibrio kuning tidak patogen bagi udang vaname dan beberapa merupakan bakteri menguntungkan bagi udang vaname (bakteri probiotik) seperti bakteri Vibrio alginolyticus (SKT-b). Bakteri tersebut telah diteliti, ternyata dapat meningkatkan pertumbuhan dan imunitas udang vaname. Penelitian yang kami lakukan juga mengukur imunitas udang vaname yang diberikan pakan mengandung sinamaldehid. Hasilnya juga menunjukkan adanya peningkatan imunitas udang vaname seperti total haemocyte count (THC), aktivitas phenol-oxidase (PO) dan respiratory burst (RB) lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang tidak diberikan pakan mengandung sinamaldehid.

Kami menduga bahwa adanya penurunan jumlah bakteri Vibrio koloni hijau dan peningkatan kolonisasi bakteri Vibrio koloni kuning ada hubungannya dengan peningkatan imunitas udang vaname. Bakteri menguntungkan (probiotik) dari golongan Vibrio kuning diduga memicu sel-sel fagositik (sel yang berperan meningkatkan imunitas) yang terdapat pada epitel usus untuk menghalangi bakteri patogen menginfeksi tubuh udang vaname. Sehingga ini juga memungkinkan adanya peningkatan imunitas pada udang vaname. Potensi sinamaldehid untuk akuakultur masih sangat terbuka lebar untuk dilakukan berbagai penelitian dan aplikasinya kepada para petambak udang vaname. Sinamaldehid ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai antibiotik alternatif. Bahan baku utama untuk mendapatkan sinamaldehid terdapat pada daun dan kulit kayu manis.

Author: Dian Eka Ramadhani1*, Andri Hendriana1, Dinamella Wahjuningrum2 , Muhammad Arif Mulya1
*Corresponding author’s email: [email protected]
1 Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University
2 Departemen Budidaya Perairan, Fakultas  Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB Univresity

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.