Mengembangkan Industri Patin

Oleh: Widyatmoko

Aquaculture – Management Information System, PT Suri Tani Pemuka (STP)

Widyatmoko

Semua jenis ikan mempunyai prospek yang baik, dengan perencanaan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, budidaya ikan akan menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi.

Pada dasarnya konsumsi masyarakat terhadap ikan meningkat terus, baik nasional maupun regional. Peningkatan ini dapat dirasakan sejalan dengan semakin banyaknya pembudidaya ikan secara umum. Khusus untuk ikan patin, Vietnam masih menjadi negara produsen utama.

Daya saingnya yang sangat tinggi membuat produk patin Vietnam mampu menembus pasar negara-negara lain.  Industri patin di Vietnam sudah dimulai lebih dari 15 tahun yang lalu, sehingga saat ini sudah mapan, efisien dan kompetitif.

Ikan patin di Indonesia belum menjadi menu favorit seperti ikan gurami, nila atau lele. Ikan patin segar dikenal luas di Sumatra dan Kalimantan, tetapi di Pulau Jawa belum terlalu diminati. Di Pulau Jawa ikan patin lebih dikenal dalam bentuk olahan, yaitu dalam bentuk filet atau bahan baku dari produk seafood olahan, ini yang menjadi salah satu faktor harga ikan patin di Pulau Jawa relatif lebih rendah dibanding dengan Vietnam.

Produksi patin di Indonesia masih jauh tertinggal, tetapi hal ini bukan karena teknologi budidaya yang diterapkan di Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam. Usaha budidaya patin di Vietnam tumbuh di sepanjang aliran Sungai Mekong dan anak-anak sungainya.

Teknologi yang diterapkan di Vietnam masih sederhana (konvensional), tetapi di sana airnya berlimpah, kolamnya dalam, luas (1 HA atau lebih)  dan subur. Di Indonesia usaha budidaya ikan patin menggunakan kolam kecil (< 1000 m2), dengan sumber air yang relatif terbatas sehingga budidaya tidak dapat dilakukan secara intensif.

Demikian juga halnya dengan teknologi pembenihan, nilai Survival Rate (SR) di stadia pendederan pembudidaya Vietnam hanya sekitar 20 %, pembudidaya Indonesia bisa menghasilkan lebih baik, tetapi industri patin di Indonesia belum stabil, sehingga kebutuhan benih juga belum stabil. Akibatnya para pembenih juga hanya memproduksi sesuai permintaan pasar. Kemudian, faktor lain yang di masa depan dapat menjadi kendala adalah kualitas induk patin di Indonesia

Majukan Patin

Jika industri ikan patin Indonesia ingin maju dengan cepat maka pemerintah harus turun tangan dengan membuat kebijakan real yang berhubungan langsung dengan budidaya patin dan atau pengolahan ikan patin.

Ikan patin

Kampanye untuk meningkatkan konsumsi ikan patin segar juga perlu ditingkatkan. Seminar, workshop, Focus Group Discussion (FGD) dan lain-lain sudah beberapa kali dilakukan, tetapi belum ada tindakan nyata dari pemerintah yang dapat menggerakkan industri patin domestik.

Satu faktor penting adalah mencari titik temu antara pembudidaya (produsen) ikan patin, processor (cold storage) dan end user (pasar) sehingga rantai perdagangan dapat berjalan efisien; jika diperlukan dapat diberikan subsidi untuk jangka waktu tertentu pada bidang tertentu.

Idealnya sentra produksi ikan patin dikembangkan di daerah aliran sungai besar yang bebas banjir.  Tetapi jika target pasar utama adalah industri ikan patin olahan, maka konsumen terbesar ada di kota-kota besar di Pulau Jawa. Hanya saja mengembangkan ikan patin di Pulau Jawa lebih sulit karena keterbatasan lahan dan air.

Pembenihan Patin

Teknologi pembenihan ikan yang berkembang di masyarakat masih konvensional. Saat ini kita seharusnya mulai melangkah pada pembenihan intensif, dengan menggunakan bak atau kolam kecil dan pengelolaan air yang lebih baik.

Pada stadia larva harus dilakukan dengan sistem indoor, menggunakan RAS (jika memungkinkan).  Sistem indoor atau semi indoor mulai perlu diterapkan pada tahap pendederan. Cara pembenihan konvensional sangat tidak reliable, produksi sangat fluktuatif bergantung pada cuaca dan kondisi air; dan rawan terhadap serangan parasit.

Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah kebutuhan pakan untuk larva dan benih ikan. Saat ini seluruh unit pembenihan mengandalkan cacing dan daphnia sebagai makanan alami untuk larva dan benih ikan.

Kedua sumber makanan tersebut masih bersumber dari penangkapan alami, ketergantungan terhadap tangkapan alami akan dapat menghambat perkembangan industri pembenihan. Salah satu faktor kunci dalam menghasilkan benih unggul adalah penanganan larva sampai benih yang benar, mulai dari menjaga kualitas air dan memberi makanan yang bergizi.

Induk unggul dapat menghasilkan benih unggul, tapi jika pendederan tidak dilakukan dengan benar maka benih yang berasal dari induk unggul tidak dapat menunjukkan keunggulannya. Kendala utama untuk semua stadia industri adalah informasi pasar yang tepat (jumlah, harga, waktu dan tempat). Produksi menjadi efisien jika dilakukan dalam skala masal, tetapi produksi tidak dapat dilakukan secara masal jika informasi pasar tidak jelas.

Penting, Ukur Kinerja Pertumbuhan Ikan Budidaya

Budidaya ikan erat kaitannya dengan memacu pertumbuhan ikan mencapai ukuran atau berat yang diharapkan. Semakin cepat laju pertumbuhan, semakin besar pula peluang pembudidaya untuk menekan biaya produksi. Ujung-ujungnya, hal ini akan berimbas pada keuntungan yang akan diperoleh pembudidaya di akhir periode pemeliharaan.

Banyak orang beranggapan, laju pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan banyaknya pakan yang diberikan. Padahal, kedua aspek ini tidak selalu berjalan beriringan. Dalam aspek budidaya perikanan, komponen pakan menempati porsi yang sangat besar dalam keseluruhan biaya produksi yang dihabiskan.

Rika Rostika

Menurut peneliti perikanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Tika Rostika yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK dan Wahyu Dewantoro, pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan. sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan tempat ikan hidup, antara lain kondisi fisik, biologis, dan kimiawi air.

Menurut Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK Unpad tersebut, performa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi jumlah pakan yang diberikan. Hal ini mengingat jumlah pakan yang diberikan menjadi aspek yang relatif mudah diukur dibanding aspek lainnya. di samping itu, pakan juga menempati porsi paling tinggi dalam biaya operasional budidaya ikan, yakni dapat mencapai 60 – 70 % dari total biaya yang dikeluarkan.

Di bawah ini adalah beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja budidaya ikan. berikut ini adalah ringkasan yang disarikan dari tulisan kedua peneliti tersebut dan sejumlah referensi.

Pertumbuhan mutlak

Pertumbuhan mutlak adalah selisih antara bobot akhir ikan dengan bobot awal sebelum budidaya. Satuannya adalah gram atau kilogram. Angka ini hanya menilai besarnya pertambahan bobot ikan selama masa pemeliharaan, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banyaknya pakan yang diberikan, lama masa pemeliharaan, dan lainnya.

Dimana Pm adalah pertumbuhan mutlak (gram atau kilogram), Wt adalah bobot setelah budidaya (gram atau kilogram). Sementara itu, Wo adalah bobot sebelum dibudidayakan (gram).

Meskipun angka ini tidak terlalu mencerminkan besarnya biaya yang dikeluarkan, angka pertumbuhan mutlak erat kaitannya dengan nilai ekonomis yang akan didapatkan oleh pembudidaya. Hal ini karena besarnya pendapatan yang diperoleh akan berbanding lurus dengan bobot ikan yang dipanen.

Penambahan bobot harian rata-rata

Wahyu Dewantoro

Berbeda dengan pertumbuhan mutlak, penambahan bobot harian rata-rata merujuk pada pertambahan bobot ikan setiap harinya secara rata-rata. Jadi, angka penambahan bobot harian rata-rata memperhitungkan lamanya masa pemeliharaan ikan. Untuk memperoleh angka ini, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana SGR adalah penambahan bobot harian rata-rata (gram/ hari), Wt adalah berat akhir ikan setelah masa pemeliharaan (gram), dan Wo adalah berat atau bobot ikan sebelum masa pemeliharaan (gram). Sementara itu, t menunjukkan lamanya masa pemeliharaan (hari).

Konsumsi pakan harian

Konsumsi pakan harian merupakan jumlah pakan yang dihabiskan setiap harinya. Angka ini sudah memperhitungkan bobot ikan pada awal masa pemeliharaan, bobot ikan akhir masa pemeliharaan, dan lamanya waktu pemeliharaan. Untuk menghitungnya, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana FI adalah bobot pakan yang diberikan untuk ikan (g), Wo adalah bobot biomassa ikan sebelum masa pemeliharaan (gram), Wt merujuk pada bobot biomas ikan pada akhir masa pemeliharaan (g), dan T mewakili lama masa pemeliharaan (hari).

Efisiensi pemberian pakan

Konsumsi pakan yang tinggi belum tentu menunjukkan tingginya produktivitas pertumbuhan ikan. Boleh jadi, konsumsi tinggi tapi pertumbuhan ikan lambat. Pemberian pakan dikateakan efisien jika besarnya pakan yang diberikan sebanding dan optimal dalam memperoleh pertambahan bobot ikan secara maksimal.

Efisiensi pakan 90% berarti hanya 90% dari pakan yang diberikan menjadi pertambahan bobot ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui efisiensi pemberian pakan, dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Dimana F adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (g), Wt adalah bobot rata-rata benih pada akhir masa pemeliharaan (g), dan Wo adalah bobot rata-rata benih pada awal masa pemeliharaan (g).

Dengan angka ini, pembudidaya dapat memperkirakan seberapa besar pendapatan bersih yang diperoleh setelah memperhitungkan pengeluaran untuk pembelian pakan. Sebagai contoh, jika dalam budidaya lele, angka efisiensi pakan mencapai 80%, artinya, setiap kg pakan yang diberikan akan memberikan pertambahan bobot ikan lele sebesar 800 gram.

Dengan memperhitungkan harga pellet ikan per kg dan harga jual lele per kg, akan didapatkan berapa selisih pemasukan dan pengeluaran yang diperoleh. Setelah itu, selisih ini juga harus dapat menutupi biaya lainnya, seperti biaya obat-obatan, probiotik, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lain-lain.

Rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR)

Rasio konversi pakan mewakili perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dengan laju pertumbuhan ikan. pada umumnya, rasio konversi pakan bernilai di atas angka 1. Sebagai contoh, jika rasio konversi pakan sebesar 1,6; artinya untuk memperoleh pertambahan bobot 1 kg ikan yang dipelihara, diperlukan pakan sebanyak 1,6 kg. Semakin kecil angka rasio ini, semakin besar efisiensi pemberian pakan.

Mengukur panjang ikan
Menimbang bobot ikan

Dimana FI adalah bobot kering pakan yang dikonsumsi (g), Wo adalah bobot biomas ikan pada awal pemeliharaan (g), sementara itu, Wt merujuk pada bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan (g), dan terakhir, D mewakili bobot ikan yang mati (g).

Pada umumnya, angka konversi pakan di atas 1. Dengan demikian, efisiensi pakannya umumnya di bawah 100%. Akan tetapi, pada budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, angka atau rasio konversi pakan ini dapat bernilai di bawah 1.

Hal ini karena di samping pakan yang diberikan, ikan memanfaatkan bakteri yang melimpah sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, sumber makanan ini membantu pertumbuhan bobot ikan di samping dari sumber pakan utamanya.

Kelangsungan hidup benih (survival rate)

Angka kelangsungan hidup benih menunjukkan tinggi rendahnya benih dapat bertahan hidup selama masa pemeliharaan sehingga masa pemanenan. Semakin tinggi tingkat kelangsungan hidupnya, semakin besar juga ikan yang dapat dipanen.

Dengan demikian, semakin besar peluang pembudidaya dalam mendapatkan keuntungan. Istilah lainnya, kelangsungan hidup dikenal juga dengan sebutan tingkat kelulusan hidup benih. Kelangsungan hidup ikan dapat diukur dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Dimana Nt adalah jumlah ikan yang hidup pada akhir masa pemeliharaan (ekor) dan No adalah jumlah ikan pada awal masa pemeliharaan (ekor). Sebagai contoh, jika jumlah benih pada awal masa pemeliharaan sebanyak 1.000 ekor, dengan angka kelangsungan hidup 70%, pada tahap akhir masa pemeliharaan, diperoleh benih 700 ekor. (noerhidajat)