Budi Daya Udang Berbasis Ilmu dan Teknologi

Oleh  M. Ghufran H. Kordi K.

Penulis buku Perikanan dan Kelautan

 

Indonesia adalah salah satu produsen udang utama di dunia dan menempati urutan ketiga setelah China dan India dalam produksi udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Hingga tahun 2018 Indonesia memproduksi udang vaname sekitar 700 ribu ton, yang di ekspor ke beberapa negara, sebagian besar untuk pasar Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

 

Indonesia telah menjadi produsen udang dunia sejak tahun 1980-an. Tahun 1990-an Indonesia menjadi produsen udang windu (Penaeus monodon) terbesar di dunia dengan produksi udang budidaya mencapai 250 ribu ton tahun 1994. Sementara pada 1992 Indonesia mengekspor 140 ribu ton udang windu, ini merupakan capaian tertinggi dan terbesar di dunia.

 

Namun prestasi yang membanggakan sekaligus menguntungkan secara ekonomi tersebut tidak bertahan lama. Tahun 1993 udang windu mulai diserang penyakit bintik putih (white spot) atau White Spot Syndrome Virus (WSSV).

 

Virus ini melululantakkan industri perudangan nasional, ekspor udang windu yang mencapai 140 ribu ton tahun 1992 anjlok menjadi 53.000 ton pada tahun 1999. Tambak terlantar atau ”tambak parkir” ada di mana-mana. Demikian pula hatchery (balai benih) terbengkalai karena tidak memroduksi benur, diikuti dengan kredit macet dan pengangguran.

 

Hasil kajian antara lain menyatakan bahwa kegagalan budidaya udang di pantai utara Jawa (pantura) disebabkan oleh tingginya pencemaran perairan terutama oleh bahan organik, logam berat dan pestisida yang berasal dari limbah kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga di daerah hulu (Widigdo & Soewardi, 1999).

 

Bahan-bahan pencemar tersebut diduga sangat mendukung berkembangnya berbagai mikroba patogen seperti virus WSSV, sebelumnya dikenal virus Semi Extodermal and Mesodermal Bacullo Virus (SEMBV), penyebab penyakit bintik putih yang sejak kemunculannya tahun 1992 (Wang et al., 1998) hingga kini masih menjadi momok dalam budi daya udang.

 

Riset untuk Pertumbuhan Ekonomi

Penyakit adalah faktor utama runtuhnya industri udang nasional tahun 1990-an. Sampai saat ini pun penyakit tetap menjadi penentu naik turunnya produksi udang di berbagai negara. Penyakit udang yang paling menjadi momok saat ini di antaranya Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) atau dikenal sebagai Myo, White Spot, dan White Faeces Disease (WFD).

 

Semua negara produsen udang menghadapi permasalahan yang sama. Bahkan penyakit adalah salah satu masalah utama bagi akuakultur dunia. Pasalnya penyebaran penyakit mengikuti pemindahan biota akuatik secara global. Selain virus pada udang, penyakit akuakultur yang mengglobal adalah Koi Herpes Virus (KHV) yang menyerang ikan mas (Cyprinus carpio) dan Tilapia Lake Virus (TiLV) yang menyerang ikan nila (Oreochromis niloticus). KHV dan TiLV adalah penyakit yang pertama kali diidentifikasi di Israel.

 

Negara-negara yang akuakulturnya sangat maju, selalu cepat bangkit jika menghadapi permasalahan, termasuk serangan penyakit. Itu karena pengembangan akuakultur di negara-negara maju berbasis ilmu dan teknologi. Riset-riset akuakultur mereka diarahkan untuk mengatasi permasalahan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Ketika tahun 1990-an, budidaya udang Indonesia mengalami keruntuhan karena serangan virus WSSV, hal yang sama juga dialami oleh berbagai negara. Negara-negara di Amerika Selatan dan Hawai yang mengandalkan udang vaname mengalami serangan virus spesifik yang menyerang udang ini, Taura Syndrom Virus (TSV). Virus TSV pertama kali ditemukan tahun 1992 di muara sungai Taura, Guayaquil, Equador.

 

Akan tetapi berkat riset yang dikembangkan sejak tahun 1992, maka pada tahun 1996 Hawai (AS) dan Equador telah berhasil memroduksi induk udang vaname massal yang bebas penyakit (specific phatogen free, SPF) dan tahan penyakit (specific phatogen resisten, SPR). Dari induk SPF dan SPR yang diproduksi melalui rekayasa genetik (improvement genetik) itulah yang menghasilkan benih tahan penyakit (SPR) dan bebas penyakit (SPF).

 

Dari penemuan tersebut, maka alir penyebaran penyakit secara vertikal dapat dieliminir. Lebih lanjut penemuan ini berdampak terhadap peningkatan produksi dan volume ekspor udang dari negara-negara di Amerika Selatan. Hawai tidak hanya meningkatkan produksi udang untuk konsumsi, tetapi juga menjadi eksportir penting induk udang vaname ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

 

Bukan berarti riset akuakultur di Indonesia, termasuk budi daya udang tidak maju. Periset bertebaran di lembaga pemerintah dan perguruan tinggi (PT). Namun, riset yang dilakukan sering tidak mendorong pengembangan akuakultur, alias tidak berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, melainkan hanya untuk kepentingan pendidikan dan pemuatan di jurnal.   

 

Riset yang diharapkan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi haruslah inovatif dan hasilnya dapat digunakan. Namun, riset yang demikian harus dikerjakan secara berkesinambungan dan kolektif. Inovasi Hasanuddin Atjo mengembangkan sistem budidaya udang vaname super intensif dengan kepadatan 800-1.000 ekor/m² tidaklah instan, melainkan melalui riset yang cukup panjang.

 

Plasma Nutfah Lokal

 

Saat ini Indonesia menjadi produsen penting udang di dunia, namun spesies yang dibudidayakan adalah udang vaname, yang merupakan udang impor dan hasil riset dan inovasi panjang negara lain. Padahal perairan Indonesia menyimpan udang spesies asli yang merupakan plasma nutfah lokal.

Selain udang windu, juga udang putih (P. merguiensis, P. indicus) dan Udang Lambouh (Penaeus sp). Udang windu dan udang lambouh adalah udang yang berukuran besar, masing-masing dapat mencapai ukuran sekitar 260 g/ekor dan 300 g/ekor.

 

Selain udang, berbagai komoditas akuakultur yang dikembangkan di Indonesia dan menjadi komoditas andalan, sebagian besar adalah biota introduksi. Bukan berarti introduksi tidak boleh dilakukan, tetapi tentu ada yang keliru dalam kebijakan dan pengembangan komoditas budi daya nasional. Introduksi adalah jalan pintas dan kebijakan instan, yang pada banyak kasus juga berdampak buruk terhadap ekosistem perairan.

 

Di samping itu, ketergantungan pada komoditas introduksi, seperti udang vaname, menyebabkan produksi udang Indonesia bergantung pada induk impor. Induk vaname yang dirakit di dalam negeri kalah bersaing dengan induk impor. Sewaktu-waktu perakitan induk dalam negeri juga tetap mengimpor induk untuk memperkaya keanekaragaman genetik.

 

Untuk itu, mestinya perlu kebijakan untuk mendorong riset intensif yang dapat menghasilkan udang unggul spesies lokal. Dengan mengembangkan spesies lokal, maka sistem produksi udang dari hulu hingga hilir berada dalam kendali kita, sehingga produksinya tidak bergantung pada pada pihak lain. (Ed: Adit)

 

Peran “Generasi Millenial” dalam Peningkatan Perikanan Nasional

Oleh: Rifqi Dhiemas Aji

(Konsultan Teknis Peternakan dan Perikanan PT. Natural Nusantara)

Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia tahun 2035 diperkirakan mencapai 305,7 juta jiwa. Maka pertambahan pertahunnya diproyeksikan sebanyak 2,5 juta per tahun dan pertambahan dalam 20 tahun ke depan bertambah sekitar 50,2 juta jiwa.

Selain itu, masih berdasarkan data BPS, pada tahun 2015 sekitar 53,3% dari penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Lalu diproyeksikan pada tahun 2035 mendatang, arus urbanisasi akan meningkat menjadi 66,6%.

Sehingga arus urbanisasi yang tinggi, diprediksikan akan mengurangi jumlah penduduk di pedesan dan berdampak pada produsen pangan yang rata rata berdomisili di desa, baik perikanan, peternakan dan pertanian secara umum akan mengalami penurunan.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait pertumbuhan industri sektor perikanan, produksi perikanan nasional mengalami kenaikan pada angka diatas 23 juta ton dimana tahun 2015 pada angka 20 juta ton.

Angka tersebut bisa saja terus terjaga atau naik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan atau promosi terhadap sektor perikanan yang lebih baik. Indonesia sendiri pada awal tahun 2018 sudah menerbitkan roadmap Making Indonesia 4.0 yang menjelaskan jika sektor makanan dan minuman menjadi prioritas pertama dari 5 prioritas unggulan di era Revolusi Industri 4.0.

Kekhawatiran dalam produksi perikanan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional adalah berkurangnya luas lahan perikanan budidaya akibat alih fungsi lahan yang berpindah, menurunnya minat pelaku budidaya perikanan dalam beternak ikan yang diakibatkan pengaruh sektor lain yang lebih menjanjikan serta lemahnya sumber daya manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan.

Dengan pengetahuan dan kemampuannya dalam berbagai sektor, anak muda atau generasi penerus ini harus menyadari bahwa kontribusi dalam dunia perikanan sedang ditunggu tunggu.

Baik sebagai tenaga ahli perusahaan, pemerintahan, enterpreneur maupun sociopreneur yang bergerak dalam memajukan perikanan Nasional. Sebab, sektor perikanan hampir selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan, karena pola pikir yang tertanam pada generasi muda saat ini adalah pekerjaan atau usaha di bidang perikanan kurang menjanjikan dibandingkan dengan menjadi pekerja kantoran.

Hal tersebut juga dapat menjadi alasan mengapa arus urbanisasi sangat tinggi, karena orang di desa menganggap mencari peruntungan di kota lebih baik ketimbang membangun sendiri desanya masing-masing.

Dalam revolusi keempat ini, kita menghadapi serangkaian teknologi baru yang mengombinasikan berbagai disiplin ilmu dengan dunia digital. Teknologi teknologi baru ini akan berdampak pada semua disiplin, ekonomi dan industri, bahkan akan menantang ide kita tentang arti manusia.

Teknologi ini memiliki potensi besar menghubungkan jutaan manusia melalui web, meningkatkan efisiensi bisnis dan organisasi secara drastis, dan membantu regenerasi lingkungan alami melalui manajemen aset yang lebih baik, mengurangi kerusakan yang terjadi.

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini, secara bersamaan Indonesia mengalami bonus demografi dimana jumlah usia kerja produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia kerja non produktif.

Hal ini perlu diantisipasi dan diarahkan untuk menampilkan sisi positif dari bonus demografi yang terjadi. Generasi muda nan produktif ini perlu diarahkan dan ditumbuhkan “ruh” dalam membangun sektor perikanan Nasional mengingat perikanan masih merupakan sektor penting bagi kebutuhan pangan Nasional.

Tidak sedikit saat ini mulai bermunculan inovasi inovasi hasil kreasi anak muda di bidang perikanan yang sangat diperlukan pada saat ini. Beberapa inovasi yang sudah mulai bertumbuh seperti platform digital untuk pelaku perikanan dan investor perikanan yang dapat menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen perikanan.

Inovasi lainnya seperti jejaring bisnis lewat sistem aplikasi yang mengutamakan efisiensi sehingga bisa tercapainya kemudahan dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring.

Disisi lain, generasi muda yang berkecimpung dalam budidaya perikanan juga harus mampu dan selalu siap apabila harus beternak mandiri secara intensif serta siap mendampingi apabila dibutuhkan oleh pelaku perikanan tradisional di lapangan.

Kemajuan teknologi ini akan memaksa para peternak rakyat di perdesaan untuk beradaptasi. Namun, peran generasi muda dan pemerintah harus terus mendukung masyarakat supaya memiliki daya saing dengan penyediaan infrastruktur dan kebutuhan untuk menuju digitalisasi. Pangan dan perikanan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dan harus selalu menjadi bagian dalam prioritas pembangunan negeri ini.

Menengok pada sektor industri perikanan Indonesia yang secara data telah menunjukkan angka perkembangan yang positif walau belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dengan potensi sumberdaya perikanan yang melimpah seharusnya sektor ini mampu menjadi sektor andalan.

Sejatinya membahas tentang perikanan kedepan harus melingkupi berbagai persoalan-persoalan yang sangat mendasar dan substansial. Pada Saat sekarang ini kehadiran dan peran pemerintah sangatlah diharapkan, berbagai persoalan penting yang berpengaruh terhadap ketahanan dan keberlanjutan perikanan menjadi penting dan harus menjadi perhatian semua kalangan terutama kalangan pemegang kebijakan. Isu lingkungan dan perijinan yang kerap kali dilontarkan terhadap sektor perikanan oleh berbagai kalangan, baik dari internal maupun kalangan eksternal menjadi “bola liar” yang berpotensi merugikan bahkan mengancam keberlanjutan industri perikanan di negara kita.

Mengembangkan Industri Patin

Oleh: Widyatmoko

Aquaculture – Management Information System, PT Suri Tani Pemuka (STP)

Widyatmoko

Semua jenis ikan mempunyai prospek yang baik, dengan perencanaan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, budidaya ikan akan menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi.

Pada dasarnya konsumsi masyarakat terhadap ikan meningkat terus, baik nasional maupun regional. Peningkatan ini dapat dirasakan sejalan dengan semakin banyaknya pembudidaya ikan secara umum. Khusus untuk ikan patin, Vietnam masih menjadi negara produsen utama.

Daya saingnya yang sangat tinggi membuat produk patin Vietnam mampu menembus pasar negara-negara lain.  Industri patin di Vietnam sudah dimulai lebih dari 15 tahun yang lalu, sehingga saat ini sudah mapan, efisien dan kompetitif.

Ikan patin di Indonesia belum menjadi menu favorit seperti ikan gurami, nila atau lele. Ikan patin segar dikenal luas di Sumatra dan Kalimantan, tetapi di Pulau Jawa belum terlalu diminati. Di Pulau Jawa ikan patin lebih dikenal dalam bentuk olahan, yaitu dalam bentuk filet atau bahan baku dari produk seafood olahan, ini yang menjadi salah satu faktor harga ikan patin di Pulau Jawa relatif lebih rendah dibanding dengan Vietnam.

Produksi patin di Indonesia masih jauh tertinggal, tetapi hal ini bukan karena teknologi budidaya yang diterapkan di Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam. Usaha budidaya patin di Vietnam tumbuh di sepanjang aliran Sungai Mekong dan anak-anak sungainya.

Teknologi yang diterapkan di Vietnam masih sederhana (konvensional), tetapi di sana airnya berlimpah, kolamnya dalam, luas (1 HA atau lebih)  dan subur. Di Indonesia usaha budidaya ikan patin menggunakan kolam kecil (< 1000 m2), dengan sumber air yang relatif terbatas sehingga budidaya tidak dapat dilakukan secara intensif.

Demikian juga halnya dengan teknologi pembenihan, nilai Survival Rate (SR) di stadia pendederan pembudidaya Vietnam hanya sekitar 20 %, pembudidaya Indonesia bisa menghasilkan lebih baik, tetapi industri patin di Indonesia belum stabil, sehingga kebutuhan benih juga belum stabil. Akibatnya para pembenih juga hanya memproduksi sesuai permintaan pasar. Kemudian, faktor lain yang di masa depan dapat menjadi kendala adalah kualitas induk patin di Indonesia

Majukan Patin

Jika industri ikan patin Indonesia ingin maju dengan cepat maka pemerintah harus turun tangan dengan membuat kebijakan real yang berhubungan langsung dengan budidaya patin dan atau pengolahan ikan patin.

Ikan patin

Kampanye untuk meningkatkan konsumsi ikan patin segar juga perlu ditingkatkan. Seminar, workshop, Focus Group Discussion (FGD) dan lain-lain sudah beberapa kali dilakukan, tetapi belum ada tindakan nyata dari pemerintah yang dapat menggerakkan industri patin domestik.

Satu faktor penting adalah mencari titik temu antara pembudidaya (produsen) ikan patin, processor (cold storage) dan end user (pasar) sehingga rantai perdagangan dapat berjalan efisien; jika diperlukan dapat diberikan subsidi untuk jangka waktu tertentu pada bidang tertentu.

Idealnya sentra produksi ikan patin dikembangkan di daerah aliran sungai besar yang bebas banjir.  Tetapi jika target pasar utama adalah industri ikan patin olahan, maka konsumen terbesar ada di kota-kota besar di Pulau Jawa. Hanya saja mengembangkan ikan patin di Pulau Jawa lebih sulit karena keterbatasan lahan dan air.

Pembenihan Patin

Teknologi pembenihan ikan yang berkembang di masyarakat masih konvensional. Saat ini kita seharusnya mulai melangkah pada pembenihan intensif, dengan menggunakan bak atau kolam kecil dan pengelolaan air yang lebih baik.

Pada stadia larva harus dilakukan dengan sistem indoor, menggunakan RAS (jika memungkinkan).  Sistem indoor atau semi indoor mulai perlu diterapkan pada tahap pendederan. Cara pembenihan konvensional sangat tidak reliable, produksi sangat fluktuatif bergantung pada cuaca dan kondisi air; dan rawan terhadap serangan parasit.

Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah kebutuhan pakan untuk larva dan benih ikan. Saat ini seluruh unit pembenihan mengandalkan cacing dan daphnia sebagai makanan alami untuk larva dan benih ikan.

Kedua sumber makanan tersebut masih bersumber dari penangkapan alami, ketergantungan terhadap tangkapan alami akan dapat menghambat perkembangan industri pembenihan. Salah satu faktor kunci dalam menghasilkan benih unggul adalah penanganan larva sampai benih yang benar, mulai dari menjaga kualitas air dan memberi makanan yang bergizi.

Induk unggul dapat menghasilkan benih unggul, tapi jika pendederan tidak dilakukan dengan benar maka benih yang berasal dari induk unggul tidak dapat menunjukkan keunggulannya. Kendala utama untuk semua stadia industri adalah informasi pasar yang tepat (jumlah, harga, waktu dan tempat). Produksi menjadi efisien jika dilakukan dalam skala masal, tetapi produksi tidak dapat dilakukan secara masal jika informasi pasar tidak jelas.

Peran Besar Perikanan Budidaya

Oleh: Rezi Hidayat

Peneliti di Rokhmin Dahuri Institute

 

Seiring pertumbuhan penduduk dan kesadaran manusia terhadap asupan gizi, Ikan sebagai makanan yang kaya akan gizi, semakin banyak dikonsumsi. Selain karena kandungan protein yang tinggi dan mudah diserap, ikan juga mengandung omega 3, asam DHA, EPA yang dibutuhkan otak. Meningkatnya tingkat konsumsi ikan ini tentu menuntut peningkatan produksi ikan yang berasal dari penangkapan dan budidaya. Perkembangan dewasa ini, peningkatan produksi ikan di Dunia lebih banyak disumbangkan dari hasil budidaya. Sejak periode 2000-2014, berdasarkan data FAO peningkatan produksi hasil budidaya rata-rata mencapai 5,4% per tahun, berbeda dengan hasil penangkapan yang justru turun 0,1% per tahun. Capaian tersebut diprediksikan akan semakin kontradiktif, mengingat produksi ikan hasil penangkapan mempunyai keterbatasan stok di alam. Oleh karena itu, peran sektor perikanan budidaya kedepanya akan menjadi sangat vital dalam peningkatan produksi ikan.

Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang sangat besar. Tercatat lahan potensial perikanan budidaya di Indonesia mencapai 17,32 juta Ha, terbagi di laut 24,00 juta Ha, air payau 2,96 juta Ha, dan air tawar 2,22 juta Ha. Dari potensi tersebut, estimasi produksi ikan mencapai 57,7 juta ton/tahun dengan nilai ekonomi sebesar 210 milyar dolar AS. Hingga tahun 2016, pemanfaatan potensi lahan tersebut baru sekitar 12,8% dengan produksi mencapai 16,67 juta ton. Dengan nilai tersebut ternyata Indonesia berhasil menempatkan diri diperingkat kedua dunia setelah China sebagai negara terbesar produsen perikanan budidaya. Jika potensi perikanan budidaya yang dimiliki Indonesia ini mampu dimanfaatkan secara optimal, maka tidak mustahil kita menjadi raksasa produsen perikanan budidaya dunia.

Sayangnya, pemerintah saat ini justru belum memanfaatkan potensi sektor perikanan budidaya secara optimal dan sungguh-sungguh. Tahun 2018 ini, pemerintah mengalokasikan anggaran terkecil kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diantara 15 kementerian dan lembaga besar. Dari anggaran tersebut pagu untuk sektor perikanan budidaya hanya 13%. Masih dibawah sektor perikanan tangkap 17% dan Badan riset dan SDM 24%. Padahal jika merujuk misi yang dicanangkan KKP untuk sektor perikanan budidaya sangatlah baik, yaitu mengusung “kemandirian yang berkelanjutan”. Sebagai catatan, komponen produksi sektor perikanan budidaya Indonesia saat ini sebagian besar masih berasal dari Impor, terutama untuk bahan pakan, induk, dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada produk impor dan juga inefisiensi dalam hal biaya produksi. Persoalan lain yang terjadi akibat kurangnya perhatian pemerintah pada sektor perikanan budidaya adalah kegagalan capaian target produksi dalam 4 tahun terakhir. Bahkan di tahun 2017 kemarin, capaian target produksi perikanan budidaya hingga bulan Oktober berada pada posisi terendah diangka 70,91 %.

Guna mengoptimalkan potensi lahan perikanan budidaya Indonesia dalam rangka peningkatan produksi ikan, perlu dukungan semua pihak yang saling bersinergi satu sama lain. Sejumlah langkah strategis mesti segera dilakukan oleh pemerintah, pengusaha dan seluruh komponen masyarakat lainnya. Pertama, peningkatan porsi anggaran KKP, terutama sektor perikanan budidaya menjadi lebih tinggi dibanding sektor lainnya. Peningkatan ini terutama guna mendorong program revitalisasi maupun ekstensifikasi lahan budidaya di wilayah-wilayah sentra produksi, pengembangan produksi indukan dan pakan nasional, serta bantuan kredit usaha pembudidaya. Kedua, peningkatan daya saing produk budidaya dengan meningkatkan mutu sesuai standar internasional melalui sertifikasi dan akreditasi. Agar mencapai kualitas produksi yang standar dan efisien diperlukan sumberdaya manusia yang mampu berkompetisi secara global, sehingga pemberdayaan SDM mesti dilakukan.

Ketiga, menarik para investor baik dalam maupun luar negeri dengan memberi kemudahan-kemudahan dalam berinvestasi didukung oleh iklim investasi yang sehat. Pengembangan usaha dilakukan dari hulu ke hilir, diantaranya melalui pola kerjasama kemitraan dengan pembudidaya lokal yang sudah berkembang. Keempat, percepatan pembangunan infrastruktur pendukung yang mampu memenuhi keberlangsungan usaha perikanan budidaya di wilayah-wilayah sentra produksi, seperti energi listrik, air bersih, jalan, telekomunikasi, pelabuhan, bandara, dll. Kelima, pengembangan riset dan teknologi budidaya ikan melalui kerjasama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga luar negeri dan pihak terkait lainnya. Hasil riset dan teknologi kemudian tak hanya dipublikasikan, tetapi juga diaplikasikan secara terpadu, terarah, dan terukur guna tercipta peningkatan produksi yang efektif dan efisien. Dan Keenam, penyelesaian tata ruang laut atau rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) yang ditetapkan melalui peraturan daerah provinsi guna kepastian usaha perikanan budidaya, sesuai dengan amanat Undang-Undang.

Dengan menjalankan langkah-langkah strategis tersebut, diharapkan sektor perikanan budidaya Indonesia mampu menjadi andalan dalam peningkatan produksi perikanan. Tak hanya sebagai pemenuh kebutuhan ikan nasional, namun juga global. Lebih jauh lagi, Indonesia mampu menjadi raksasa produsen perikanan budidaya Dunia, demi mewujudkan mimpi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

 

Menangkap Peluang dari Kasus Produk Ikan Dori Ilegal

Oleh: Cocon, S.Pi, M.Si

 

 

Baru-baru ini konsumen dikejutkan dengan laporan adanya bahan berbahaya dalam produk daging ikan patin (dori) yang diperdagangkan pada salah satu retail di Indonesia. Hasil pemeriksaan laboratorium menyimpulkan bahwa dori tersebut mengandung Tripolyphosphatesemacam pemutih yang melebihi ambang batas dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim bahwa produk dori tersebut adalah hasil impor illegal, karena faktanya KKP tidak pernah memberikan rekomendasi izin impor terhadap perusahaan manapun untuk melakukan importasi. Hasil penelusuran terhadap data importasi patin di Badan Pusat Statistik (BPS) memang menyimpulkan tidak ada catatan Indonesia melakukan importasi patin dalam kurun waktu tahun 2013 hingga 2016. Berdasarkan data International Trade Center (ITC) mengenai data ekspor di negara lain terhadap Indonesia, menunjukkan bahwa justru ada catatan data ekspor patin dari Singapura ke Indonesia. ITC mencatat setidaknya dalam kurun waktu tahun 2016 volume ekspor produk Patin termasuk dori dari Singapura ke Indonesia sebesar 1.771 ton dengan nilai ekspor mencapat lebih kuran 5,01 juta US$ (dikutip dari Suhana.web).

 

Apakah Singapura produsen ikan Patin?Faktanya Singapurabukan produsen patin.Hasil uji sampel tehadap produk tersebut menyimpulkan 98-100 persen ikan dori tersebut berasal dari Vietnam.Artinya, dalam hal ini Singapura melakukan re-ekspor produk patin asal Vietnam ke Indonesia. Kasus ini, lagi- lagi menunjukkan sistem perdagangan yang tidak sehat, dimana dalam payung Masyarakat Ekonomi Asean  (MEA) mestinya arus barang jasa dapat lebih terkontrolkhususnya bagaimana mengantisipasi perdagangan yang bersifat ilegal. Ekspor dori Singapura kuat dugaan dilakukan secara illegal melalui pintu masuk pada pelabuhan-pelabuhan laut yang tidak resmi, menuju Batam dan Medan, lantas dibawa ke Jakarta.Kita kecolongankarena pengawasan di pelabuhan tikustersebut memang tidak ada.

 

Penerapanimport risk analysis terhadap produk pangan yang masuk ke wilayah NKRI harus semakin diperketat dengan melakukan pengawasan ketat termasuk di pintu-pintu masuk pelabuhan non resmi. Upaya kita berjibaku dalam memenuhi standar/sertifikasi persyaratan ekspor produk dari negara-negara importir yang semakin ketat, harus juga diperlakukan sama atas produk impor yang akan masuk Indonesia di era globalisasi saat ini.

 

Pemerintah harus segera menggandeng pengusaha retail termasuk pelaku usaha online (e-commerce) yang memasarkan produk hasil perikanan untuk mulai menerapkan standar/sertifikasi keamanan pangan bagi produk yang diperjual-belikan.Termasuk mendorong mereka melakukan pengawasan intern dan ruang pengaduan konsumen (hotline khusus pengaduan).Konsumen harus didorong agar melek mutu, dan tanggap terhadap potensi bahaya keamanan pangan pada produk yang dibelinya.

 

Terhadap pelaku perusahaan yang melakukan importasi illegal, Pemerintah harus tegas dengan melakukan punishment berupa tindakan hukum karena telah menyangkut hak dasar masyarakat untuk dijamin kesehatan dan keselamatannya. Kasus ini jelas jelas telah melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan Undang-undang nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pengan.

 

Penegakan aturan setidaknya akan memicu tanggungjawab pelaku dalam mejamin penyediaan pangan yang sehat danaman. Ini berbeda dengan negara lain seperti di Eropa, dimana masyarakatnya telah mampu memegang prinsip ADS (atur diri sendiri) dalam konteks implementasi aturan yang ada, sehingga tanggunjawab muncul dengan sendirinya mulai dari produsen hingga konsumen.Itulah kenapa di negara-negara tujuan ekspor, standarisasi/sertifikasi produk lebih banyak didominasi oleh private standard, termasuk konsumen memiliki kepekaan tersendiri dan self-control terhadap produk pangan yang mereka beli.

 

Bagaimana memanfaatkan momentum?

 

Dari kasus ini, sudah dipastikan citra produk dori Vietnam akan jatuh terpuruk di pasar global. Dengan kondisi ini, pelaku usaha patin nasional segera memanfaatkan momentum iniuntuk menangkap peluang terutama dalam mengisi pasar domestik.Fenomena lain yaitu saat ini produk patin asal Vietnam juga tengah bermasalah di pasar Amerika Serikat. Amerika Serikat sebagai negara tujuan ekspor patin, justru tengah mewaspadai produk patin asal Vietnam karena dinilai tidak memenuhi standar keamanan pangan (foodsafety), begitupun dengan negara-negara lainnya.Fenomena ini juga bisa menjadi peluang ekspor bagi produk patin Indonesia.Syaratnya tentunya bagaimana mampu memenuhi standar.

 

Lalu, seberapa besar peluang pasar patin Indonesia? Sebagai gambaran saja, tahun 2014 kebutuhan pasar dalam negeri untuk fillet ikan patin diperkirakan sebanyak 700 ton per bulan atau mencapai 8.400 ton per tahun artinya kebutuhan ikan patin utuh yang dapat disuplai mencapai 24.000 ton per tahun (dikutip dari Suara Pembaharuan.com).Pada era sebelum tahun 2013 dori asal Vietnam justru banyak membanjiri pasar-pasar retail Indonesia dan menekan peluang pasar bagi produk patin lokal, karena harga patin asal Vietnam lebih murah. Dan ironisnya persepsi konsumen dalam negeri cenderung menilai produk hanya dari takaran harga jual, bukan dari mutu.

 

Pada tataran pasar global, produk patin Vietnam sebelumnya masih menguasai pangsa pasar dunia. International Trade Center (ITC) mencatat, tahun 2016 AmerikaSerikat setidaknya mengimpor produk patin (fillet dan frozen) dari Vietnam hingga mencapai nilai 389 ribuUS$.Dimana dari total kebutuhan produk ikan patin Amerika Serikat, tercatat lebih dari 90 persen disuplai dari Vietnam. Image buruk produk patin Vietnam di mata Amerika Serikat saat ini, sebenarnya membuka peluang untuk mengisi kekosongan pangsa pasar Patin Amerika Serikat.  Peluang ini harus mulai kita rebut, tentunya dengan mengutamakan terlebih dahulu kebutuhan pasar domestik, yang notabene quotanya masih belum terpenuhi utamanya untuk produk fillet patin/dori.

 

Jika kita melihat trend produksi patin secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2011 s/d 2015) menunjukan kinerja positif dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 13,15persen. Tahun 2015 tercatat volume produksi patin nasional mencapai 339.069ton. Dari angka tersebut, jika dilihat memang upaya diversifikasi produk belum optimal dilakukan, artinya perdagangan patin masih didominasi oleh patin utuh dan mengisi pasar-pasar lokal. Oleh karenanya, kinerja di hulu seharusnya mampu menjadi kekuatan untuk menangkap peluang di hilir melalui upaya diversifikasi produk untuk menaikan nilai tambah (added value).

 

Pertanyaannya, bagaimana menangkap peluang tersebut? Saat ini, telah terjadi pergeseran preferensi masyarakat global terhadap produk pangan yang aman dan menyehatkan, oleh karenanya upaya pemenuhan standarisasi/sertifikasi mutu menjadi keniscayaan. Bukan hanya pada produk untuk orientasi ekspor semata, tapi lebih dari itu bagiamana tanggunjawab produsen menyediaan produk pangan yang aman dan sehat untuk konsumen dalam negeri.

 

Masalah persaingan pasar erat kainnyanya dengan daya saing, dimana daya saing sangat ditentukan oleh efesiensi ekonomi (economic efficiency). Dalam konteks ekonomi mikro, ada 2 (dua) factor utama yang perlu menjadi pertimbangan dalam mewujudan economic efficiency. Kedua factor tersebut adalah efesiensi teknis (engineering efficiency), dan preferensi. Engineering efficiency erat kaitanya dengan proses produksi, dimana alokasi input produksi yang sedikit (efisien) dapat mampu menghasilkan output produk dengan nilai ekonomi yang besar. Sedangkan preferensi berkaitan dengan kecenderungan konsumen atas pilihan yang disukai (consumer choice). Intinya terwujudnya economicefficiencyadalah jika engineering efficiency dan preferensi konsumen terpenuhi.

 

Oleh karenanya, langkah penting yang saat ini harus segera didorongyaitu : Pertama, ciptakan engineering efficiency dalam proses produksi budidaya patin di hulu. Pengembangan inovasi teknologi, fasilitasi akses terhadap input produksi yang efisien hendaknya menjadi prioritas utama saat ini. Langkah KKP dalam pengembangan pakan mandiri, dukungan induk dan benih unggul dan perbaikan sistem logistic benih melalui revitalisasi UPTD Balai Benih Ikan dan pengembangan larva center untuk mensuplai UPR di sekitar kawasan sentral produksi dapat terus didiorong.Kedua, penuhi preferensi konsumen, dengan pemenuhan standar produk yang berkualitas danaman sesuai keinginan pasar. Gandeng semua pelaku usaha (Pembudidaya, UPI, penguasah retail, penguasaha e-commerce) untuk konsisten menerapkan system mutu. Perbaikan system tata niaga di hilir juga sangat penting untuk memutus rantai pasar dan Licensi terhadap pelaku usaha untuk mempermudah pembinaan, sekaligus pengendalian.

 

Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa dominasi pasar ikan patin asal Vietnam, disebabkan karena telah terpenuhinya engineering efficiency, namun sayang mereka lupa akan pertimbangan preferensi konsumen, disisi lain pada kenyataannya ada unsur kecurangan (fraud) sehingga terjadilah un-sustainable business dan justru menciptakan apa yang dinamakan inefisiensi alokasi sumberdaya (in-efficiency resources allocation).

 

Kasus ikan dori illegal menjadi pembelajaran, agar kita mulai memperbaiki seluruh mata rantai sistem produksi patin nasional. Tidak kalah penting adalah bagiamana mendorong masyarakat kita untuk mencintai produk pangan nasional.

 

 

 

*) penulis adalah Analis Akuakultur

Pada Ditjen Perikanan Budidaya, KKP

Haruskah Ikan Diawetkan?

Oleh : Baiq Mirna Fitriani

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R.I No 722/MENKES/PER/IX/88, yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan bukan merupakan ingredient khas makanan. Penambahan BTP pada suatu makanan dilakukan secara sengaja dengan tujuan teknologi pada  pengolahan, penyimpanan, perlakuan, pengepakan dan pengemasan. Termasuk ke dalamnya adalah pewarna, penyedap rasa, peningkat aroma, penyedap rasa, antioksidan, pengental, dan pengawet.

 

Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik dalam bentuk asam atau garamnya. Macam-macam pengawet pun memiliki aktivitas yang berbeda-beda, misalkan ada bahan pengawet yang efektif terhadap bakteri, khamir ataupun kapang. Zat pengawet organik biasanya lebih banyak digunakan karena pembuatannya yang lebih sederhana.

 

Zat kimia yang sering digunakan sebagai bahan pengawet adalah asam sorbat, asam propionat, asam asetat, dan asam benzoat. Asam benzoat digunakan untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri. Di dalam tubuh manusia terdapat mekanisme detoksifikasi asam benzoat, sehingga tidak terjadinya penumpukan asam benzoat di dalam tubuh.

 

Asam asetat atau yang biasa dikenal dengan sebutan cuka oleh banyak orang, juga biasa digunakan sebagai bahan pengawet roti yang dapat mencegah pertumbuhan kapang. Sedangkan zat pengawet anorganik yang masih sering digunakan adalah sulfit, nitrat dan nitrit. Walaupun sebenarnya tersedia banyak bahan tambahan pangan yang dapat digunakan untuk pengawetan makanan, namun tidak sedikit ditemukan kasus keracunan makanan akibat adanya tambahan bahan kimia berbahaya seperti salah satunya adalah formalin.

 

Apakah formalin merupakan BTP yang dapat ditambahkan ke dalam makanan ataupun minuman? Tidak! Formalin bukan merupakan bahan tambahan pangan. Formalin digunakan pada industri tekstil, kayu dan banyak juga digunakan untuk mayat, yang bertujuan untuk pembelajaran organ tubuh atau proses otopsi suatu kasus.

 

Namun, bahan pengawet yang satu ini, banyak disalah gunakan oleh kalangan masyarakat, terutama yang memiliki produk basah. Tidak jarang sebenarnya para penjual ikan yang dipasaran menggunakan formalin untuk ikan daganganya. Tujuan mereka tentunya ingin memperoleh untung sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan pembelinya, salah satunya adalah menambahkan formalin untuk mengawetkan ikan dengan biaya yang tidak banyak.

 

Formalin yang ditambahkan pada ikan akan membuat penampakannya semakin segar, seakan-akan baru ditangkap dari laut, dan tentunya tidak tercium aroma amis yang terlalu tajam seperti biasanya. Ikan yang tidak diawetkan, akan mudah lembek (tidak segar) dalam waktu yang singkat dan aroma yang busuk. Tentu, pedagang akan mudah rugi kalau daganganya tidak laku dan tidak dapat bertahan lama. Sehingga tidak heran, banyak pedagang berfikir kreatif tanpa memikirkan dampaknya demi memperoleh untung yang sebanyak-banyaknya.

 

Adanya formalin pada suatu makanan tidak berdampak langsung pada kesehatan jika ditambahkan dalam jumlah yang sedikit. Namun apabila ditambahkan dalam jumlah yang banyak maka akan mengakibatkan gejala keracunan seperti muntah-muntah dan diare. Apabila tubuh sering mengonsumsi makanan yang mengandung formalin, maka bahan kimia ini akan terakumulasi di dalam tubuh manusia yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan dan memicu beberapa penyakit yang akan dirasakan beberapa tahun berikutnya (penyakit degerenatif).

 

Formalin yang masuk ke dalam tubuh akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Kemudian pada saat di dalam tubuh pun akan cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di hati dan sel darah merah. Formalin bukan merupakan salah satu dari beberapa bahan tambahan makanan yang dapat dijadikan pengawet makanan. Formalin (formaldehyde) merupakan salah satu dari daftar bahan tambahan pangan yang tidak diizinkan untuk digunaan dalam makanan menurut Permenkes RI No. 1168/Menkes/Per/X/1999.

 

Kesegaran suatu bahan makanan sangat penting untuk menentukan kandungan gizi yang terkandung pada bahan tersebut dapat diserap baik di dalam tubuh. Maka dari itu memang sangat penting untuk memperhatikan kesegaran dan keamanan makanan yang akan kita konsumsi, salah satu caranya adalah dengan pengawetan yang sederhana.

 

Pengawetan yang dapat dilakukan adalah dengan pendinginan, pengasapan dan juga penggaraman. Para pedagang dapat melakukan cara yang mudah dan aman ini untuk menjual produk nya agar aman dikonsumsi. Agar tetap terlihat segar dan awet, para pedagang dapat menanam ikan dari tumpukan es batu yang telah dihancurkan.

 

Metode ini telah banyak dilakukan oleh para pedagang yang dipasaran. Ikan akan tetap awet dan tetap terlihat segar, karena proses pembusukan akan melambat pada suhu yang rendah, selain itu bakteri pembusuk tidak akan tumbuh pada suhu yang rendah, sehingga akan membuat ikan lebih tahan lama. Sama hal nya untuk para ibu -ibu yang ingin menjamin keamanan ikan yang akan dikonsumsi keluarga, tentu dapat dilakukan dengan cara pendinginan juga.

 

Apabila memiliki lemari es, maka tentu lebih mudah dan praktis, hanya dengan membersihkan ikan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan perendaman ikan dengan rempah-rempah khas Indonesia yang sangat baik untuk antibakteri, sehingga sangat baik untuk metode pengawetan.

 

Tidak ketinggalan juga untuk metode penggaraman. Sangat tidak asing terdengar di Indonesia, karena masyarakat Indonesia sangat gemar dengan ikan asin. Jangan salah, ikan asin ini tinggi akan mineral dan tentunya sangat awet. Metode penggaraman dilakukan hanya dengan mencampurkan ikan dengan garam dan air. Garam yang ditambahkan akan mengikat air yang ada pada ikan, sehingga kadar air pada ikan akan berkurang. Selanjutnya dicuci dan dijemur agar kadar air ikan semakin berkurang, dengan begitu maka akan memperpanjang umur simpan ikan.

 

*Penulis adalah Food Technology Study Program, Life Sciences Faculty, Surya University.

BERBAGAI JENIS NILEM DI JAWA BARAT

Oleh  :

Yuli Andriani

Keberadaan habitat seperti sungai, danau, dan waduk merupakan penunjang bagi kehidupan serta keanekaragaman ikan di Jawa Barat. Salah satu asli Jawa Barat yang potensial diantaranya ikan Nilem (Osteochillus sp.). Ikan nilem merupakan ikan Cyprinid (famili ikan karper) yang banyak dibudidayakan di beberapa tempat di Jawa Barat, khususnya di  kawasan Priangan (Sumedang, Garut, Singaparna, Tasikmalaya). Ikan nilem merupakan jenis ikan sungai atau perairan tawar yang bentuknya mirip ikan mas, tawes, dan karper, hanya kepalanya lebih kecil, badannya lebih memanjang dan sirip punggungnya lebih panjang. Pada kedua sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut peraba. Tubuhnya ditutupi oleh sisik berwarna hijau keabu-abuan, coklat atau kehitam-hitaman dan merah atau albino bergantung dari jenis spesiesnya. Ikan nilem pernah melewati masa jayanya pada masa lalu, hingga tersisa istilah “gerenyem nilem” yang melekat pada orang Sunda. Namun seiring introduksi berbagai ikan konsumsi lainnya, perlahan budidaya ikan nilem meredup, sehingga perlu diangkat kembali pamornya sebagai ikan endemik Jawa Barat.

Pada penyebarannya, terdapat beberapa jenis ikan nilem yang terdapat di Jawa Barat berdasarkan pola genetiknya.  Variasi ini merupakan cerminan polimorfisme yang akan ditampakkan dalam perbedaan fenotip maupun genotip dalam genom strain ikan nilem. Lebih lanjut, kegunaan mengetahui jenis atau strain genetik ikan nilem adalah untuk mempertahankan plasma nutfah serta berguna dalam pengembangan produksi keberlanjutan produksi ikan nilem, dimana perlu dipertahankan genetik stok ikan nilem yang unggul secara genetik. Berdasarkan hasil penelitian Sedawati dkk (2014) , jenis ikan nilem berdasarkan kekerabatan genetik yang ada di Jawa Barat diantaranya adalah : ikan nilem merah, ikan beureum panon, ikan nilem hijau, dan ikan nilem mangot.


2345

Sumber : Sedawati, Buwono dan Andriani (2014)

Perbedaan dari keempat jenis nilem tersebut terletak pada ciri-ciri fisik, seperti bentuk tubuh, warna sisik dan nama species. 1) Ikan nilem merah, memiliki ciri  morfologi pola warna tubuh kuning oranye dengan bercak kehitaman ditubuhnya, termasuk famili Cyprinidae dan memiliki bentuk tubuh memanjang dan sedikit pipih kesamping (compressed). Dari ciri-ciri di atas ikan ini tergolong genus Osteochillus, namun belum diketahui spesiesnya. 2) Ikan beureum panon, disebut juga dengan ikan mata merah, istilah lainnya Java barb. Di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya dikenal dengan nama beureum panon. Ukuran tubuh beureum panon sedikit lebih pendek dibandingkan dengan ikan nilem. Nama species ikan beureum panon adalah Puntius orphoides. 3) Ikan nilem hijau, badannya memanjang, dan sirip punggungnya lebih panjang. Pada kedua sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut peraba. Ikan nilem hijau memiliki ciri-ciri khusus yaitu bentuk tubuh yang berwarna hijau gelap pada tubuh bagian atas dan sedikit kemerahan di dekat sirip pectoral. Species nilem hijau dinamai Osteochilus hasselti. 4) Ikan nilem mangot, mempunyai kemampuan migrasi ke sungai yang debit airnya besar. Mempunyai bentuk tubuh pipih, mulut terminal dapat disembulkan. Posisi sirip perut terletak di belakang sirip dada (abdominal) dan bersisik lingkaran (sikloid). Rahang atas sama panjang atau lebih panjang dari diameter mata, sedangkan sungut moncong lebih pendek dari pada panjang kepala. Nama lain spesies ikan nilem mangot adalah Osteochilus vittatus.

Dalam hal cara memijah, ikan nilem memiliki tipe pemijahan synchronous batch spawning yaitu ikan yang dapat memijah berkali-kali secara bersamaan antara jantan dan betina selama puncak masa pemijahan. Selain itu frekuensi pemijahan ikan nilem cukup tinggi, nilem memiliki jumlah telur yang sangat banyak. Seekor ikan nilem betina dapat menghasilkan telur sebanyak 80.000-110.000 butir dan memijah sepanjang tahun. Potensi inilah yang pada gilirannya memungkinkan telur ikan nilem dijadikan produksi caviar air tawar. Hasil penelitian Hibah Academic Leadership Grant (ALG) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad (2016) yang diketuai Prof. Junianto, memetakan produksi telur (fekunditas) ikan nilem pada beberapa sentra budidaya ikan nilem di Jawa Barat.

Sumber : Rostika, Andriani, Junianto (2016)
Sumber : Rostika, Andriani, Junianto (2016)

Hasilnya menunjukkan bahwa ikan nilem dari Tasikmalaya, Kuningan dan Cianjur memiliki fekunditas dan ukuran telur yang berbeda. Ikan nilem yang dibudidayakan di Kuningan cenderung memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan dengan dari daerah lain, namun fekunditasnya paling tinggi. Diduga kondisi perairan, pola pemberian pakan dan strain ikan nilem berpengaruh terhadap jumlah telur ikan nilem. Berdasarkan hasil tersebut, maka kita dapat mempertimbangkan strain nilem mana yang sesuai dipilih untuk dibudidayakan sesuai tujuan kegiatannya.

 

* Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

 

Untung Berlipat dari Budidaya Skala Rakyat

Oleh: Supito, S.Pi.,M.Si

 

Komoditas perikanan khususnya udang penaeid mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Kebutuhan pasar ekspor udang penaeid  masih belum terpenuhi, bahkan cenderung meningkat volumenya. Harga pasar udang serta margin keuntungan yang tinggi, prospek usaha budidaya udang  masih menjadikan kegiatan usaha  yang   menguntungkan.

 

Menurut data stastitik perikanan budidaya (2014) luas potensi lahan tambak adalah 2.964.331 Ha dan existing tambak adalah 657.346 Ha yang terdiri sekitar 16.680 Ha tambak intensif; 38.920 ha adalah tambak semi intensif dan sisanya sebesar 601.746 Ha masih dikelola secara tradisional. Hal ini merupakan potensi yang besar untuk meningkatan produksi, pendapatan pembudidaya dan dapat menciptakan peluang tenaga kerja.

 

Permasalahan utama pada kawasan tambak tradisional,  adalah penerapan teknologi budidaya yang kurang tepat. Karena tidak seimbang ketersediaan sarana dan prasarana yang ada, dengan  luas lahan budidaya. Kondisi ini menyebabkan   penerapan teknik budidaya udang yang baik (CBIB) tidak dapat diterapkan secara optimal.

 

Sebagai dampaknya parameter kualitas air menjadi rendah, yang pada akhirnya udang terserang penyakit dan gagal panen. Penerapan biosekurity untuk pengendalian penyakit  tidak dapat dilakukan secara maksimum, sehingga menyebabkan  potensi yang besar akan terserang penyakit virus.

 

Infeksi  penyakit virus pada salah satu petak tambak tradisional  yang tidak segera dilakukan pengendalian, akan berpotensi  besar dapat menyebar pada kawasan yang lebih luas. Penyakit virus pada udang apabila tidak dilakukan pengendalian dengan baik akan mudah menular. Patogen virus akan menular melalui media air yang dibuang pada saluran-saluran.

 

Krustasea  dan udang  yang hidup pada saluran tersebut akan tertular penyakit virus dan bisa sebagai carier penyakit.  Sebagai akibatnya seluruh kawasan tambak tersebut akan terinfeksi penyakit virus. Oleh karena itu perlu manajemen pengelolaan kawasan tambak sederhana/tradisional  agar dapat berproduksi dengan baik.

 

Manajemen Teknis Budidaya

Permasalahan utama pada tambak tradisional adalah  adalah pertumbuhan lambat dan gagal panen udang karena  serangan penyakit virus. Infeksi penyakit virus tambak tradisional dan tidak dilakukan tindakan sterilisasi diduga sebagai penyebab  menyebarkan patogen penyakit virus tersebut pada kawasan.

 

Desain petak tambak yang lebih kecil dengan luasan 500-2000 m2, akan memudahkan dalam pengelolaan air.  Hal ini memudahkan untuk melakukan sirkulasi air dalam petak tambak dengan optimal. Seluruh kolom air dalam petak tambak dapat bergerak sehingga dapat menyebabkan kualitas air terutama oksigen terlarut merata pada seluruh bagian petak tambak.

 

Air yang bergerak dengan kecepatan minimal 8 m/menit dan dapat membuat kotoran dan sisa pakan melayang dalam kolom air.  Kandungan oksigen terlarut pada kolom air yang tinggi maka kotoran tersebut  akan mudah diuraikan oleh bakteri probiotik untuk membentuk nutrien untuk plankton maupun flok-flok bakteri.

 

Pendekatan penggunaan teknologi budidaya udang diarahkan pada penerapan biosekurity secara maksimum mulai dari penggunaan benih dan sarana lainnya untuk mencegah penularan penyakit. Yang kedua diarahkan pada  pengelolaan lingkungan budidaya udang atau kualitas air agar stabil pada kisaran paremater  sesuai dengan kebutuhan biologis udang.

 

Untuk mempertahankan lingkungan budidaya yang baik maka saat ini telah berkembang pengelolaan air sistim heterotrof atau biofloks serta sistem semi heteotrof yang memanfaatkan bioflok dan  plankton untuk memperbaiki kualitas air. Prinsip dasar pengelolaan sistem heterotrof maupun semi heterotrof adalah untuk mencegah pembusukan kotoran udang, sisa pakan dan bahan kotoran lainnya dalam tambak.

 

Bakteri probiotik yang diaplikasikan akan merombak bahan organik menjadi unsur hara untuk plankton dengan mencegah terbentuknya senyawa beracun seperti Amonia, Nitrit dan Asam belerang. Agar proses kerja probiotik maksimum perlu media air yang seimbang C/N ratio >20 dan kandungan oksigen terlarut yang tinggi >3 ppm.

 

Pengelolaan air dapat dilakukan dengan sistem resirkulasi dengan teknologi semi flok sistem dengan mengendalikan keseimbangan plankton dan bakteri.   Bakteri sebagai pengurai sisa pakan dan kotoran udang menjadi unsur hara  yang akan diserap oleh makroalga. Pemanfaatan ikan herbivora untuk mengendalikan pertumbuhan alga/makrolga.

 

ikan nila merupakan salah satu komoditas yang dapat mengendalikan  bakteri vibrio sp (Tendencia at.al., 2004). Dengan sistem pengelolaan air tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produksi ikan, dan mencegah penggunaan air baru sehingga akan dapat menekan biaya perbaikan kualitas air.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur

Optimalkan Pertumbuhan Udang dengan Biosecurity

 

Oleh: Dr. Ir. Agus Priyono, M.Si

 

 

Penerapan manajemen kesehatan ikan dan lingkungan belum sepenuhnya dilaksanakan secara konsisten, oleh pembudidaya udang di Indonesia. Pembudidaya kita melakukan usaha budidaya, masih berdasarkan kebiasaan turun temurun yang diwariskan dari pendahulunya.

 

Secara umum kasus penyakit udang terjadi karena adanya penurunan kualitas lingkungan perairan serta perubahan iklim yang ekstrim. Selain itu penurunan kualitas benur juga menjadi salah satu faktor penyebab penyakit mudah menyerang.

 

Penyebab penyakit tersebut biasanya melalui lalu lintas media pembawa, dapat berupa udang maupun air yang masuk dari luar negara atau penyebaran antar wilayah. Salah satunya kasus seperti White Feces Disease (WFD) yang sudah terjadi di Provinsi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi selatan.

 

Antisipasi guna terhindar dari serangan penyakit pada udang yakni dengan Penerapan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Pembudidayaan Ikan yang Baik (CBIB). Selain itu menerapkan manajemen kesehatan ikan dan lingkungan. Seperti menggunakan benih dan Induk Unggul (SPF Specific Pathogen Free/SPR specific pathogen resistant).

 

Selain itu menerapkan vaksinasi untuk benih dan induk. Menggunakan obat ikan yang telah terdaftar. Memelihara ikan sesuai baku mutu air budidaya, yang bebas dari pencemaran dan sesuaikan dengan daya dukung perairan. Memeriksa kualitas air dan penyakit secara periodik. Memeriksa kandungan residu pada ikan yang dikonsumsi. Penerapan biosecurity dan mampu menunjukkan ketertelusuran (Traceability).

 

Adapun yang kami lakukan dalam menghambat penyebaran peyakit antara lain dengan melakukan program survailan penyakit Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), White Feces Disease (WFD) dan Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) sejak tahun 2015 hingga saat ini di tiga kawasan (Lampung Selatan, Tangerang dan Banyuwangi).

 

Melakukan monitoring terhadap penyakit ikan penting termasuk didalamnya penyakit WSSV dan IMNV di seluruh Indonesia. Pengaturan lalu lintas mengikuti dengan aktif perkembangan terkini terkait penyakit ikan melalui workshop, seminar tingkat internasional, regional dan nasional. Sosialisasi perkembangan informasi dan cara pengendalian penyakit ikan terkini yang melibatkan para pembudidaya, pembenih, unit pengolahan, penyedia sarana produksi (pakan, obat ikan) beserta asosiasinya, pakar baik pemerintah maupun swasta.

 

Bentuk kerjasama kami diantaranya survailan penyakit bersama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (Direktorat Jenderel Perikanan Budidaya, Badan LITBANG, dan Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu), Pemerintah daerah, Perguruan Tinggi dan Swasta. Membangun kepedulian stakeholder perikanan budidaya terhadap penyakit yang dilakukan melalui public private partnership.

 

Kami juga melakukan kerjasama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) melalui TCP/INS/3402: Development Of A Preventive Aquatic Animal Health Protection Plan And Enhancing Capacities To Shrimp Disease Outbreaks in Indonesia. Kerjasama ini telah menghasilkan beberapa output berupa:

  • Guideline On Surveillance and Information System;
  • Guideline on Emergency Response and Contingency Plan,
  • Guideline on Farm Level Biosecurity,
  • National Aquatic Animal Health Strategy
  • Aplikasi pelaporan cepat penyakit ikan/udang berbasis sms gateway (Indonesian Aquatic Animal Disease Alert System/IAADAS);

 

Peningkatan kapasitas laboratorium kesehatan ikan berstandar internasional melalui OIE Twinning Programe yang melibatkan 2 (dua laboratorium UPT DJPB yaitu:

  • Laboratorium BPBAP Situbondo dengan Laboratorium Patologi Krustase Universitas Arizona sebagai laboratorium rujukan OIE dalam mendiagnosa penyakit udang (WSSV, IMNV, IHHNV, TSV)
  • Laboratorium BBPBAT Sukabumi dengan Laboratorium Nasional Research Istitute of Aquaculture (NRIA) – Jepang sebagai laboratorium rujukan OIE dalam mendiagnosa penyakit Koi Herves virus (KHV)

 

Membangun database penyakit ikan melalui Software Sistem Monitoring Penyakit Ikan (SSMPI) online yang hasilnya dapat diakses oleh masyarakat umum melalui www.impikan.kkp.go.id

Selanjutnya Baca di Majalah info Akuakultur

Budidaya Ikan dan Ketahanan Pangan

Oleh: Andang S Indartono

Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah pulau sekitar 17 ribu, yang memiliki sumber daya laut yang besar, baik sumber daya hayati maupun non hayati. Tidak hanya kekayaan laut, daratan Indonesia juga memiliki perairan tawar luas yang menyimpan potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Dengan potensi perairan yang begitu besar, maka budidaya ikan di Indonesia pun sangat prosfektif, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun jika untuk keperluan ekspor. Potensi besar pasar ikan hasil budidaya dapat dilihat dari terus meningkatnya jumlah penduduk dan makin sadarnya konsumen untuk menkonsumsi ikan. naiknya konsumsi ikan berarti meningkatnya kesehatan dan kecerdasan seseorang.

 

Selengkapnya baca di Majalah Info Akuakultur