Oleh:
Evelyne Nusalim
Direktur Eksekutif Indonesian Food Safety Institute (IFSI) / Kolumnis Info Akuakultur
Di balik ketahanan pangan dan denyut ekonomi perikanan, ada peran besar wanita yang kerap tak terlihat. Dari dapur rumah tangga hingga rantai produksi dan pemasaran, wanita sesungguhnya adalah motor yang menjaga kualitas pangan, membentuk generasi sehat, sekaligus menopang daya saing perikanan Indonesia di pasar global.

Rania Al Abdullah pernah mengatakan, “Educate a woman and you educate her family. Educate a girl and you change the future.” Kutipan ini menegaskan bahwa wanita memiliki peran fundamental dalam membangun sistem, termasuk sistem keamanan pangan perikanan Indonesia demi kesejahteraan rakyat dan perluasan akses pasar.
Dalam lingkup terkecil, ibu rumah tangga sejatinya menjalankan fungsi manajerial yang kompleks. Ia mengatur kebutuhan keluarga, mengelola pendapatan, serta memastikan kesejahteraan seluruh anggota rumah tangga. Tanpa disadari, peran ini merupakan miniatur dari sistem ekonomi dan tata kelola pemerintahan.
Lebih dari itu, ibu menjadi garda terdepan dalam pendidikan dasar, khususnya terkait higiene dan kesehatan. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan rumah, hingga mengolah makanan dengan benar adalah bentuk nyata penerapan prinsip pencegahan kontaminasi, yang dalam industri dikenal sebagai bagian dari sistem HACCP. Nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini dan menjadi fondasi keamanan pangan dalam keluarga.
Dalam aspek gizi, ibu juga berperan memastikan asupan makanan keluarga tetap seimbang. Namun, realitas di banyak keluarga menunjukkan bahwa kualitas gizi masih sangat bergantung pada tingkat pendapatan. Negara-negara maju seperti Swedia terlebih dahulu menjamin standar pendapatan minimum sebelum menerapkan program makan bergizi gratis. Pendekatan ini memastikan setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangan secara layak.
Indonesia dapat mengambil pelajaran penting dari hal tersebut. Program seperti Makan Bergizi Gratis akan lebih efektif jika penyalurannya melibatkan langsung para ibu, bukan sepenuhnya berbasis komersial. Dengan demikian, manfaatnya lebih tepat sasaran dan berkontribusi langsung pada penurunan malnutrisi.
Pendidikan Higiene dan Keamanan Pangan
Untuk meningkatkan daya saing produk perikanan di pasar domestik maupun global, pendidikan higiene dan keamanan pangan bagi wanita menjadi sangat strategis. Ketika para ibu memahami nilai gizi ikan, cara memilih bahan yang segar, serta risiko bahan berbahaya seperti formalin, maka mereka tidak hanya melindungi keluarga, tetapi juga mendorong terciptanya pasar yang lebih sehat dan transparan.
Pengetahuan ini akan ditransfer ke generasi berikutnya dan membentuk budaya keamanan pangan sejak rumah tangga. Dalam jangka panjang, hal ini akan meningkatkan standar kerja di sektor budidaya maupun pengolahan hasil perikanan.

Namun, implementasi higiene tidak lepas dari ketersediaan infrastruktur dasar. Air bersih yang layak konsumsi dan fasilitas penyimpanan seperti lemari pendingin merupakan prasyarat utama. Sayangnya, di banyak wilayah Indonesia, air keran belum memenuhi standar air minum dan masih berpotensi membawa patogen. Hal ini meningkatkan risiko kontaminasi, terutama pada pangan yang dikonsumsi mentah atau setengah matang.
Ketersediaan air bersih sendiri merupakan bagian dari target United Nations dalam Sustainable Development Goals (SDG) 6. Tanpa dukungan infrastruktur ini, upaya peningkatan keamanan pangan akan sulit mencapai hasil optimal.
Pencegahan Stunting
Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi yang baik dalam pencegahan stunting melalui posyandu dan program berbasis komunitas seperti “dari ibu untuk ibu”. Program ini efektif karena berbasis pengalaman langsung dan kebutuhan nyata di lapangan.
Namun, keterbatasan anggaran sering menjadi kendala. Oleh karena itu, alokasi dana program gizi, khususnya bagi ibu hamil, sebaiknya diperkuat melalui posyandu dan komunitas ibu. Pendekatan ini lebih fleksibel, tepat sasaran, dan minim risiko, termasuk risiko keracunan pangan yang dapat berdampak fatal seperti keguguran.
Peranan Wanita dalam Akuakultur
Menurut Asian Development Bank, secara global sekitar 70% tenaga kerja di sektor akuakultur adalah wanita. Mereka memainkan peran penting mulai dari penangkapan ikan, pengolahan, hingga pemasaran. Di kawasan Pasifik, kontribusi wanita bahkan mencapai 56% dari tangkapan skala kecil tahunan dengan nilai ekonomi sekitar USD 110 juta.
Namun demikian, kontribusi besar ini kerap tidak diiringi dengan penghargaan yang setara. Pekerja wanita masih sering menerima upah lebih rendah, sementara gagasan dan kontribusinya kurang mendapatkan pengakuan.
Padahal, wanita memegang peranan strategis dalam sektor perikanan sebagai pengambil keputusan, ilmuwan, hingga pemimpin komunitas. Sayangnya, kajian mengenai gender dalam sektor kelautan masih relatif baru dan data terpilah berdasarkan gender masih terbatas. Statistik yang ada cenderung berfokus pada aktivitas yang didominasi laki-laki, sementara peran besar wanita di sektor pengolahan dan pemasaran kurang terakomodasi.
Mengabaikan kontribusi ekonomi dan sosial wanita berarti menyia-nyiakan potensi besar dalam pembangunan sektor perikanan. Terlebih, dengan adanya proyeksi bahwa pada tahun 2048 stok ikan komersial di kawasan Asia-Pasifik dapat mengalami penurunan drastis, maka kebijakan pengelolaan perikanan harus berbasis data yang inklusif, termasuk peran wanita.
Pemberdayaan wanita dalam pengelolaan sumber daya kelautan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan wanita meningkatkan peluang keberhasilan program konservasi. Hal ini juga tercermin dalam inisiatif regional seperti Coral Triangle Initiative yang melibatkan enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philippines, Papua New Guinea, Solomon Islands and Timor-Leste.
Salah satu kekuatan utama wanita terletak pada kemampuan empati dan kepekaan dalam memahami permasalahan. Naluri ini mendorong pendekatan yang lebih komprehensif dan solutif dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat rumah tangga maupun dalam pengelolaan sumber daya.
Seperti disampaikan oleh Ritu Sharma dalam bukunya Teach a Woman to Fish, “Jika seorang pria diajari memancing, ia akan makan seumur hidup. Namun jika seorang wanita diajari, maka seluruh keluarga akan menikmati manfaatnya.”
Di tengah tantangan yang dihadapi perikanan Indonesia, mulai dari ketatnya standar keamanan pangan di pasar ekspor hingga dinamika geopolitik global, peran wanita menjadi semakin penting. Keterbatasan akses pasar ke Uni Eropa dan Amerika Serikat serta dampak konflik global menuntut adanya langkah mitigasi yang cepat dan tepat.
Sudah saatnya wanita didorong untuk mengambil peran lebih besar, dengan semangat Raden Ajeng Kartini: “Habis gelap, terbitlah terang.”

