Manfaatkan Momentum, Jadi Produsen Udang Terbesar di Dunia

Manfaatkan Momentum, Jadi Produsen Udang Terbesar di Dunia

Oleh: Dr. H. Hasanuddin Atjo
Ketua SCI Sulawesi

Musyawarah Nasional (Munas) kelima, Shrimp Club Indonesia (SCI) yang dilaksanakan di Kota Pahlawan Surabaya pada tanggal 23-25 Agustus, terbilang sukses. Banyak hal yang menarik dapat diulas dari Munas tersebut, salah satunya momentum menjadikan produsen udang terbesar di Dunia.

Pada Munas SCI kelima di Surabaya beberapa waktu lalu, secara aklamasi menunjuk nahkoda baru, yakni Haris Muhtadi yang menggantikan Iwan Sutanto yang memimpin selama 3 periode. Dari periode kedua hingga keempat, sekitar 17 tahun, itu merupakan waktu yang cukup panjang.

Awetnya kepemimpinan Iwan bisa memberi makna bahwa paguyuban seperti ini belum memiliki magnet yang kuat untuk membuat anggota tertarik berkompetisi menjadi unsur ketua. Padahal keberadaan paguyuban seperti ini sangat strategis untuk mendorong peningkatan kinerja karena hampir 60 persen produksi udang di Indonesia berasal dari SCI yang menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara.

Kita berharap ke depan kompetisi untuk menjadi ketua punya daya tarik tinggi sehingga paguyuban ini memiliki kekuatan untuk memajukan industri udang dalam negeri yang makin tertinggal dari negara kecil seperti Equador dan Vietnam.

Munas pada kali ini menurut sejumlah peserta antara lain Dr. Made L. Nurdjanah, mantan Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan juga salah satu tokoh nasional dalam budidaya udang memberi kesan bahwa Munas kali ini adalah yang terbesar, terbaik dan tersukses.

Selanjutnya menurut Iwan Sutanto, diperkirakan akan terjadi transaksi bisnis mendekat 3 triliun rupiah dari biaya penyelenggaraan sekitar 2 milyar rupiah, ini merupakan jumlah yang besar dan sangat berpotensi ditingkatkan di masa datang.

Iwan lebih lanjut menginformasikan bahwa kegiatan ini bisa terlaksana secara mandiri melalui elaborasi dan dukungan para pelaku usaha bisnis budidaya tambak udamg yang makin berkembang, bahkan semua booth pameran dan undangan dinner terjual habis.

Selain pemilihan ketua umum SCI, ada seminar berkelas internasional yang berkaitan dengan industrialisasi budidaya udang dan berlangsung selama tiga hari. Selain itu, pemeran yang berkaitan dengan inovasi sarana, prasarana dan teknologi sistem budidaya yang berkembang pesat.

Tidak kalah pentingnya adalah pemberian reward bagi tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap SCI dan kemajuan budidaya umumnya khususnya udang yang selama ini telah menjadi komoditi primadona di sektor kelautan dan perikanan.

Munas kelima ini, mengusung tema peningkatan produksi udang yang berdaya saing dan berkelanjutan. Temanya sederhana, namun dalam rancangan hingga implementasi diperlukan elaborasi, regulasi dan power serta cara-cara baru yang modern dilaksanakan terintegrasi untuk mendukung satu sama lain.

Menteri Kementerian dan Kelautan Republik Indonesia (KKP RI) Sakti Wahyu Trenggono saat memberikan sambutan dalam pembukaan munas itu, merespon tantangan ketua SCI Iwan Sutanto terkait upaya peningkatan produksi pendekatan cluster di luar pulau Jawa dengan cara-cara baru. Menurutnya, Indonesia harus menjadi pemain utama dalam produksi udang karena memiliki SDA yang terbesar.

Menurut Iwan, sangat ideal jikalau pemerintah bisa mempersiapkan cluster industrialisasi udang 3000 hingga 5.000 ha per cluster-nya. Mulai izin, desain, dan infrastruktur yang berada dalam satu kawasan dengan tata kelola yang memberi kemudahan dan jaminan keamanan investasi, agar memiliki daya tarik dan pikat yang tinggi, ini semua harus disiapkan pemerintah.

Selanjutnya, cluster tersebut akan dimanfaatkan oleh anggota SCI dan lainnya dengan cara menyewa atau membeli tergantung aturan badan pengelola, mulai indukan, hatchery, pabrik pakan, tambak udang, industri prosesing, industri penunjang lainnya hingga logistik.

Cara ini dinilai menjadi salah satu strategi mencapai target produksi udang nasional sebesar 2 juta ton pada akhir tahun 2024, jika dari setiap cluster dalam setahun bisa berkontribusi antara 50 ribu hingga 100 ribu ton dari areal budidaya 2000 – 3000 ha, namun pada saat ini baru tercapai separuhnya.

Diakhir sambutannya, Menteri Trenggono berharap SCI lebih berperan lagi memanfaatkan sumberdaya alam untuk peningkatan produksi udang dengan cara modern berkelanjutan dan juga tidak lupa menggandeng tambak rakyat agar mereka juga terbawa arus modernisasi.

Pemanfaatan Lahan
Di luar pulau Jawa banyak dijumpai bekas tambang ilegal di wilayah pesisir yang potensial dimanfaatkan untuk cluster budidaya udang dengan pendekatan estate atau kawasan. Namun yang jadi persoalan masih tercatat sebagai hutan lindung dan perlu dikaji pemanfaatannya.

Sebagai contoh sejumlah areal bekas tambang timah di Bangka maupun Belitung yang kini sudah ditinggal dalam kondisi yang tidak beraturan dan terletak pada wilayah pesisir. Lahan yang sudah tidak produktif Ini harus dikaji pemanfaatannya agar lebih bermanfaat, dengan tetap menyisahkan areal untuk dihutankan kembali.

Seminar tiga hari di Munas SCI banyak terungkap bahwa saat ini teknologi budidaya udang telah berkembang sangat pesat serta dinamis. Ada empat pendekatan baru sedang diimplementasikan oleh sejumlah pelaku usaha dalam negeri yang memberi rasa optimis akan peningkatan produktifitas dan daya saing serta berkelanjutan.

Pendekatan baru tersebut adalah improvement genetics, integrasi lingkungan dan konstruksi, inovasi budidaya two step dan feeding program serta integrasi mekanisasi dan digital. Pendekatan baru yang seperti inilah yang bisa segera di desain, diterapkan secara masif dan konsisten dalam cluster-cluster pengembangan. (Ed: Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *