Secangkir Kopi Pahit dari Seorang Petambak Kecil

Secangkir Kopi Pahit dari Seorang Petambak Kecil

Sebuah pesan Whatsapp pribadi masuk ke HP saya. Isinya undangan dari salah satu pengurus SCI Banyuwangi untuk hadir di acara seminar dan ulang tahun SCI ke-17. Satu lagi, acara Rembuk Udang Nasional di Bali. Sejujurnya saya ingin datang. Namun, disebabkan terbentur acara yang sudah lama terjadwal pada tanggal yang sama, saya belum bisa hadir.

Sebagai orang yang telah dibesarkan lebih dari separuh umur berkecimpung dibudidaya udang, saya terpanggil untuk terus terkoneksi dan berkontribusi di dunia tambak udang. Lewat secarik pemikiran ini, saya berharap bisa memberikan sumbangsih dalam Rembuk Udang Nasional di Bali. Semoga ada manfaatnya.

Potensi dan tantangan
Berbicara tentang potensi produksi udang, kita bisa mulai dari panjang garis pantainya. Panjang garis pantai Indonesia nomor dua dunia setelah Kanada. Sementara iklim Indonesia adalah tropis. Idealnya, Indonesia menjadi pengekspor udang nomor dua dunia, jika tidak mau menjadi yang nomor satu. Sayangnya, benar apa yang dikatakan DR Hasanudin Atjo. Beliau mengatakan bahwa potensi sumberdaya alam (SDA) bukan jaminan bagi negara kita untuk menjadi produsen udang terbesar dunia. Dengan modal panjang garis pantai Indonesia, seharusnya negeri kita menjadi jawara pengekspor udang. Namun, kenapa hanya menduduki ranking empat? Inilah pekerjaan rumah besar yang menanti kita.

Tantangan ke depan bagi petambak udang tidak hanya dipengaruhi kebutuhan dan suplai yang berbasis biaya rendah dan berdaya saing, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai konvensi regional dan international. Beragam konvensi tersebut menyangkut berbagai isu seperti kelestarian lingkungan, keamanan pangan (food safety), serta berbagai hambatan perdagangan lainnya.

Oleh karena itu, lembaga otoritatif yang berperan sebagai regulator, fasilitator, dan eksekutor perlu mengambil langkah nyata dalam mengakomodasi dialog dan koordinasi antar-stake holders. Dengan begitu, sikap dan perilaku egosentris dari ekosistem bisnis udang di semua lini tidak selalu berposisi diametral dan saling menyalahkan. Dialog dan koordinasi dalam bingkai paradigma baru akan menjadi salah satu pintu menuju terciptanya “klaster baru”, yaitu para petambak yang mampu mengelola sumberdaya (alam, manusia, peluang, pasar) yang ada dengan baik dan bijaksana.

Kolaborasi rantai pasokan (suplly chain) dalam ekosistem bisnis udang adalah kunci untuk bangkit dari keterpurukan. Tak perlu menunggu sampai “jungkir balik” terlebih dulu, instrospeksi dan desain ulang pengelolaan tambak udang jelas diperlukan. Kegiatan Rembuk Udang Nasional pasti lahir dari kesadaran komunal insan per-udangan (seperti SCI) atas keprihatinan produksi saat ini.

Tidak mustahil, apa yang kita rasakan saat ini adalah sebuah jawaban alam. Dalam sejarah panjang tambak udang, kisah di era 80-an pada saat udang menjadi primadona perikanan hendaknya menjadi pelajaran. Kesuksesan besar memicu munculnya para petambak udang bak jamur di musim hujan. Semangatnya yang eksploitatif dan ekspansif tidak di-iringi kapasitas dan kompetensi yang memadai, semata karena peluang yang prospektif. Sementara tata ruang dan daya dukung seolah bukan pilihan untuk diperhatikan. Akankah kejadian di Pantai Utara Jawa di era tahun 1980-1990 terulang di masa datang? Seharusnya tidak.

Tiga pilar, Dua Pondasi
Ada 3 pilar dalam membangun budidaya udang yang produktif dan lestari, yaitu (1) layak secara biologis atau biologically feasible, (2) layak secara teknis atau technically feasible, dan (3) keberlanjutan secara ekonomi atau economically viable.

Berdasarkan kelayakan biologis, pemeliharaan udang memerlukan kriteria biologis meliputi syarat dan rukun agar udang bisa hidup, tumbuh, dan sehat. Belajar dari kisah sukses Ekuador, untuk mengatasi disparitas wilayah di Indonesia karena perbedaan topografi, hidrologi, elevasi, vegetasi, dan iklim perlu disiapkan strain induk udang dengan perbaikan genetik, sesuai dengan kondisi karakteristik spesifik wilayah tersebut. Dengan pendekatan strain genetik yang spesifik, dimungkinkan hasil optimal berupa udang yang sehat (tahan penyakit), cepat besar, dan memiliki survival rate yang tinggi.

Berdasarkan kelayakan teknis, diperlukan pendekatan sistem untuk merekayasa dan memodifikasi syarat biologi udang untuk hidup, tumbuh, dan sehat. Kelayakan teknis dan sistem ini akan divalidasi dengan tingkat keekonomian bisnis udang. Tentunya, tata letak atau lay out, konstruksi, desain, fasilitas budidaya, serta SDM menjadi kunci kesuksesan budidaya udang yang produktif, lestari, dan efisien.

Kegiatan budidaya udang adalah kegiatan bisnis yang berujung pada profit. Cara menghitung tingkat keekonomian bisnis budidaya udang adalah kunci mengendalikan perilaku, dari ‘memperkosa’ alam menuju ramah lingkungan. Salah satu pendekatan yang saya pakai adalah menghitung biaya yang dikeluarkan untuk setiap meter persegi lahan produktif. Dari sini kita bisa menghitung tingkat produktifitas yang layak (produktif, lestari, dan efisien).

Sementara dua pondasi untuk membangun budidaya udang yang produktif dan lestari, meliputi (1) kualitas air baku dan (2) sumberdaya manusia (SDM).

Berbicara tentang kualitas air baku tak lepas dari dinamika lingkungan yang begitu komplek dan rumit, dengan variasi yang tidak terbatas. Terkadang, hal kecil dan sering tidak terdeteksi bisa menimbulkan pengaruh yang sangat besar. Hal ini menjelaskan bahwa keberhasilan sering terjadi dari pengalaman dan intuisi dibandingkan analisis dan kecerdasan buku. Seringkali faktor kunci di suatu area tambak berbeda dengan area tambak yang lain. Pola ini hanya bisa dikenali oleh petambak berpengalaman dalam pengamatan yang tepat.

Prosedur operasi standar (SOP) yang lincah (agile) dan adaptif menjadi ‘mantra’ kesuksesan budidaya dan cara efektif memahami dinamika lingkungan yang dinamis. SOP perlu diklarifikasi secara kontinu, yang fleksibilitasnya terlihat pada penyesuaian rangkaian proses saat produksi sedang berjalan.

Pondasi sumberdaya manusia (SDM) melekat pada salah satu ciri budidaya udang yang berhasil, yang biasanya didukung oleh organisasi yang kuat. Untuk itu kapabilitas organisasi (SDM, struktur, dan sistem) harus menjadi prioritas utama sebagai pengendali operasi budidaya udang.

Kapabilitas dan kompetensi tidaklah cukup. Mengelola kerjasama strategis dan taktikal dengan seluruh karyawan dan perusahaan akan lebih banyak menyempurnakan efisiensi biaya dan kualitas. Perusahaan harus mampu menciptakan atmosfer yang sangat personal bagi karyawannya, jika tidak ingin kehilangan orang-orang terbaiknya.

Harus diakui, banyak faktor yang mempengaruhi produksi budidaya udang. Namun, dengan sedikit mengubah sudut pandang—insya Allah—akan memperluas kemungkinan untuk melihat sesuatu yang belum terlihat sebelumnya.

Budidaya udang berbasis natural nesources. Transformasi sikap mental dari “egosentris” menjadi “ekosentris” adalah poin yang seharusnya sudah menjadi “default mental” petambak Indonesia. Diperlukan waktu dan tekad yang kuat, terbuka dan bekerjasama, serta sikap mental patuh dan bertanggung jawab terhadap aturan berlaku yang dirancang untuk kemajuan bersama.

Tidak satu pun yang lebih penting setelah memahami persoalan dan cara mengubahnya, selain komitmen dan kebijakan politik-ekonomi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya budidaya udang. Hal ini penting karena udang adalah komoditi ekspor. Tentunya, kebijakan fiskal yang responsif menjadi sebuah harapan.

Inilah, secangkir kopi pahit dari seorang petambak kecil. Semoga bisa menambah semangat perubahan. Saya teringat perkataan Robert Koch, seorang konsultan strategi: “ Selalu akan ada harapan bagi inovator, betapa pun lemahnya posisi kita.”

Selamat Ulang Tahun Shrimp Club Indonesia (SCI) Ke-17. Tetap Semangat Membangun Negeri Melalui Sektor Budidaya Udang. Dirgahayu SCI!

Salam, Agus Saiful Huda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.