Atikah Nurhayati
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan sistem logistik yang terintegrasi dengan potensi sumber daya alam, diantaranya sumber daya kelautan dan perikanan yang berpotensi sebagai penggerak utama perekonomian nasional serta sumber pangan yang diperuntukkan sebagai pemenuhan kebutuhan protein hewani.
Aktivitas sumber daya perikanan mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu rantai bisnis perikanan harus dilakukan secara efektif dan efisien dan memiliki nilai daya saing nasional dan internasional sehingga diperlukan sistem produksi dan distribusi yang dapat menjamin ketersediaan pasokan komoditas untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat luas serta memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
Sistem logistik yang terintegrasi menuntut adanya sistem distribusi yang efektif, efisien dan reliabel bagi pelaku usaha perikanan yang meliputi nelayan, pembudidaya ikan, pengolah produk perikanan, pemasar produk perikanan.
Produk Perikanan merupakan bentuk produk pangan yang berupa ikan utuh atau produk yang mengandung bagian ikan, termasuk produk yang sudah diolah dengan cara apapun yang berbahan baku utama ikan. Pelaku usaha perikanan dalam melaksanakan bisnis perikanan harus memperhatikan standar mutu hasil perikanan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2014 Kementerian Kelautan dan Perikanan bahwa Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) adalah sistem manajemen rantai pasokan ikan dan produk perikanan, bahan dan alat produksi, serta informasi yang terintegrasi mulai dari pengadaan, penyimpanan, sampai dengan saluran distribusi untuk sampai ke konsumen akhir.
Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) dengan tujuan membangun dan mengembangkan sistem manajemen rantai pasokan ikan dan hasil perikanan yang terintegrasi, efektif dan efisien untuk meningkatkan kapasitas dan stabilisasi sistem produksi perikanan mulai dari hulu sampai hilir, pengendalian terjadinya disparitas harga, serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan tujuan ekspor produk perikanan.
Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) meliputi pengadaan, penyimpanan, transportasi dan distribusi. Pengadaan bahan dan alat produksi yang bersumber dari produsen, antara lain pakan, benih, obat ikan, alat penangkapan ikan, es, dan bahan bakar minyak, masih terjadi disparitas harga karena adanya perbedaan harga yang sangat signifikan atas harga input produksi perikanan seperti harga pakan ikan yang terjadi di antar daerah serta ketergantungan impor pakan ikan, kondisi ini menunut adanya perbaikan saluran distribusi pakan ikan dan alternatif pakan ikan yang berkualitas, mudah didapatkan oleh pembudidaya ikan dan harga yang terjangkau.

Hal yang sama terjadi pada perikanan tangkap dimana input produksi berupa bahan bakar minyak untuk operasional melaut mengalami disparsitas harga BBM, dimana nelayan mengakses BBM bersubsidi di dengan harga eceran yang lebih tinggi dari harga subsidi. Hal ini disebabkan karena rantai pasok dan informasi untuk mendapatkan BBM bersubsidi masih rendah dan minimnya infrastruktur pengisian bahan bakar pada daerah-daerah pesisir.
Kelemahan manajemen distribusi menjadi penyebab kelangkaan input produksi perikanan. Distribusi input produksi perikanan yang tidak lancar, dengan lead time yang jauh dari waktu normal akan menyebabkan hasil produksi perikanan tidak sampai ke pasar dengan tepat waktu
Proses produksi perikanan tidak terlepas dari ketersediaan tenaga kerja di sektor perikanan budidaya, perikanan tangkap, olahan perikanan dan pemasar produk perikanan. Fenomena disparitas tenaga kerja di sektor perikanan sangat signifikan berdasarkan penggunaan alat produksi dimana skala usaha yang bersifat tradisional, semi modern dan modern.
Penggunaan alat produksi yang masih bersifat tradisional dengan skala usaha mikro masih mendominasi bagi pelaku usaha perikanan, dibandingkan dengan penggunaan alat produksi yang modern dengan skala usaha besar seperti pabrikasai olahan ikan.
Disparitas yang terjadi mulai dari sumber daya manusia, asset, permodalan, jaringan pemasaran dan profit yang dihasilkan dari setiap skala usaha mikro, kecil dan menengah, sehingga diperlukan pendampingan dan penguatan kualitas tenaga kerja di sektor perikanan untuk meningkatakan pengetahuan dan keterampilan di sektor perikanan.
Disparitas penangan hasil pasca panen masih terjadi di Indonesia, khususnya untuk perikanan tangkap laut dengan sentra produksi yang Sebagian besar berada di kawasan Indonesia bagian timur sedangkan unit pengolahan perikanan berada di kawasan Indonesia bagian barat, sehingga mengeluarkan biaya transportasi yang lebih besar dan penanganan produk ikan segar sebelum diolah menjadi perhatian khusus untuk keamanan pangan bagi konsumen, diperlukan penguatan konektivitas sistem logistik untuk membuka peluang pasar yang jauh lebih menguntungkan.
Proses pemasaran produk ikan dimulai dari perikanan budidaya atau tangkap, yang kemudian disalurkan ke pasar ikan atau tempat pelelangan ikan kemudian ke konsumen akhir, namun ada juga yang mendistribusikan untuk industri pengolahan ikan dengan skala usaha mikro kecil dan menengah, disamping hal tersebut yang menjadi konsen di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil adalah untuk memenuhi kebutuhan permintaan dari restoran, café, hotel untuk tujuan wisatawan.
Penguatan sistem logistik produk perikanan sangat penting dalam menentukan simpul gudang / portable cold storage untuk penanganan hasil pasca panen dan penyediaan stock ikan sehingga tercapai nilai kontinuitas produk perikanan, yang diharapkan mampu menekan terjadinya disparsitas harga.
Disparitas harga merupakan masalah lintas sektoral yang dihadapi oleh pelaku usaha perikanan, hal ini terjadi karena sisi keseimbangan pasar, dalam teori ekonomi dinyatakan bahwa kelangkaan produk perikanan terjadi apabila permintaan lebih besar dari penawaran.
Penawaran tidak dapat mengantisipasi permintaan, kondisi ini bisa terjadi jika produsen keliru dalam mem- forecast permintaan yang berakibat pada pasokan yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan perubahan lonjakan permintaan.
Sistem manajemen logistik perikanan yang baik mampu memastikan kelancaran distribusi produk perikanan sebagai bahan pokok pemenuhan kebutuhan protein hewani dari daerah produsen ke daerah-daerah konsumen setiap saat dan sepanjang waktu secara berkesinambungan. (Ed: Adit/Resti)

