Agenda Pembangunan Akuakultur untuk Bersaing di Kancah Dunia

Prof. Rokhmin Dahuri

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia

Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2021 – 2024

Untuk mentransformasi potensi ekonomi akuakultur yang luar biasa besar, bagai raksasa ekonomi yang tertidur (the sleeping economy giant), menjadi realitas kemajuan dan kesejahteraan bangsa, maka ada sejumlah agenda pembangunan yang mesti kita kerjakan dalam lima tahun kedepan.

Ditambah lagi, kemajuan ilmu dan teknologi yang terejawantahkan dalam revolusi industri 4.0 telah membuat ekonomi dunia semakin produktif dan efisien. Namun pada sisi lain menimbulkan permasalahan sosial-ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya yang sangat kompleks dan serius.

Paling tidak, ada beberapa agenda pembangunan akuakultur yang menjadi fokus untuk tetap bersaing di kancah akuakultur dunia. Diantaranya kesatu, merevitalisasi semua usaha (bisnis) akuakultur yang ada saat ini supaya lebih produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan. Ini dapat dicapai dengan memastikan, bahwa setiap usaha akuakultur harus memenuhi skala ekonominya. Lalu, menerapkan BAP (Best Aquaculture Practices) meliputi: (1) penggunaan benih unggul, (2) pemberian pakan, (3) pengendalian hama dan penyakit, (4) pengelolaan kualitas air, (5) teknik perkolaman dan budidaya, dan (6) biosecurity.  Selain itu, di dalam mengelola bisnis akuakultur harus menerapakan sistem manajemen rantai pasok terpadu, dari produksi, pasca panen (industri pengolahan) sampai ke pemasaran.

Kedua mengembangkan usaha akuakultur di kawasan-kawasan perairan baru (ekstensifikasi), terutama di luar Jawa dan wilayah perbatasan, dengan komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi setempat.  Contoh komoditas unggulan untuk perairan laut adalah kerapu, kakap, abalone, gonggong, lobster, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut Euchema spp. Komoditas unggulan untuk perairan payau antara lain udang vaname, udang windu, ikan bandeng, nila salin, kepiting bakau, kepiting soka, dan rumput laut Gracillaria spp. Komoditas unggulan untuk perairan darat mencakup ikan nila, gurame, belida, patin, lele, dan udang galah.

Ketiga, diversifikasi spesies budidaya yang baru. Hal ini sangat penting untuk dapat memasok permintaan komoditas dan produk akuakultur yang terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dunia. Saat ini China dengan keanekaragaman hayati lebih rendah ketimbang Indonesia, sudah mampu membudidayakan 120 spesies biota perairan. Sedangkan, Indonesia hingga kini baru berhasil membudidayakan 25 spesies. Artinya, peluang untuk mengembangkan ekonomi akuakultur di Indonesia masih terbuka sangat lebar. Pastikan, bahwa program ekstensifikasi dan diversifikasi ini juga menerapkan BAP seperti diatas.

Keempat, perkuat dan kembangkan hilirisasi komoditas akuakultur agar lebih bernilai tambah, tidak rentan terhadap gejolak pasar global, lebih banyak menciptakan lapangan kerja dan multiplier effects. Di setiap Kabupaten/Kota yang memiliki sentra kawasan produksi akuakultur, harus dibangun sediktnya satu industri pengolahan akuakultur. Kembangkan kemitraan yang saling menguntungkan antara industri pengolahan dengan usaha akuakultur rakyat (UMKM) guna menjamin stabilitas pasokan dan harga.

Kelima, pengembangan industri bioteknologi perairan (makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, dan biofuel) berasal dari bahan baku komoditas akuakultur. Keenam, pemerintah melalui BUMN/BUMD atau mendorong swasta untuk mengembangkan industri hulu akuakutur yang menghasilkan sarana produksi yang berkualitas tinggi dan harga relatif murah. Contohnya, pabrik pakan, peralatan dan mesin akuakultur seperti kincir air tambak, dan aplikasi berbasis industri 4.0.

Ketujuh, membangun sistem logistik akuakultur nasional yang meliputi pergudangan (cold storage), transportasi dan distribusi sarana maupun output produksi.  Kedelapan, perbaiki dan bangun infrastruktur baru untuk mendukung pembangunan akuakultur sesuai kebutuhan di setiap wilayah. Kesembilan, pastikan bahwa lokasi setiap usaha akuakultur itu sesuai dengan RTRW.

Kesepuluh, pengendalian pencemaran perairan agar kualitas airnya baik untuk kehidupan dan pertumbuhan biota budidaya. Kesebelas, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global dan bencana alam lainnya.Keduabelas, peningkatan kapasitas IPTEK dan kualitas SDM akuakultur.

Akhirnya, implementasi keduabelas agenda pembangunan tersebut memerlukan skim kredit perbankan khusus yang suku bunganya relatif rendah dengan persyaratan lebih lunak, seperti yang pernah diberikan kepada perkebunan dan industri sawit.  Selain itu, iklim investasi, kemudahan berbisnis, dan kebijakan politik-ekonomi pun harus kondusif bagi tumbuh-kembangnya industri akuakultur nasional.

Denngan mengimplementasikan segenap agenda pembangunan diatas secara berkesinambungan, sektor perikanan budidaya tidak hanya akan berkontribusi secara signiikan bagi pemecahan masalah kekinian bangsa termasuk kemiskinan, gizi buruk, ketimpangan ekonomi, dan defisit transaksi berjalan. Tetapi, juga turut membantu Indonesia naik kelas, dari negara berpendapatan menengah menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan bedaulat, paling lambat pada 2045. (Ed: Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.