Ujian Tsunami Bagi Perikanan di Pesisir Banten

Kilat dan petir berlangsung terus-menerus selama 3 malam paska-tsunami. Jalanan sepi, hanya suara-suara sirine ambulan sesekali melintas dan menambah suasana semakin mencekam.

Demikian tutur Yayan Sofyan, Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang kepada Info Akuakultur saat mengenang kejadian tsunami yang menerjang pesisir Banten beberapa waktu lalu.

Kantor LP2IL Serang (A), dan Rumah Dinas (B)

Sejak Februari 2010, Yayan telah bekerja di LP2IL Serang yang terletak persis di pinggir pantai, lengkap dengan pemandangan laut dan Gunung Anak Krakatau. Di tahun-tahun pertama, ia sudah dikagetkan aktivitas anak gunung krakatau, dengan gelegar kecil dari tengah laut yang menggetarkan kaca-kaca bangunan kantor. Pada tahun 2010—2011, debu vulkanik menyembur dan menyebarkan bau belerang yang menyengat sehingga pegawai harus memakai masker.

Bahkan tahun 2012 atau 2013, aktivitas getarannya pernah berlangsung dari siang sampai pagi hari dengan jarak antargetaran kecil sebanyak 10 kali per menit atau setiap 6 detik sekali. Sampai Yayan mengaku harus me-lackband kaca pada dinding rumah karena takut pecah.

“Gunung Anak Krakatau selalu begitu dari tahun ke tahun sehingga kami sudah akrab dengan perilakunya,” kata Yayan.

Pada tanggal 22 Desember 2018 pagi, Yayan melihat keanehan di pinggiran Gunung Anak Krakatau yang belum pernah dilihatnya. “Terkesan ada asap putih di permukaan air, seperti halnya ketika kita memasukan benda panas ke dalam air. Bahkan saya kira perahu layar karena bergerak menjauh dari pinggiran gunung. Saya lihat dengan menggunakan teropong sederhana,” lanjutnya.

Yayan Sofyan

Menjelang maghrib, Yayan kembali melihat pemandangan yang tidak seperti biasa. Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap berbentuk seperti payung. Ia pun segera memanjat tembok dinding petakan tambak dan berdiri di tanggul setingginya kira-kira 2,5 meter dan mengabadikan momen langka tersebut.

Paska-Maghrib, pemandangan mengejutkan kembali terjadi. Api yang keluar dari kepundan Gunung Anak Krakatau, yang sebelumnya tidak pernah sebesar itu, tampak seperti lilin atau lebih mirip seperti korek api gas atau las karbit, memancar. Yayan pun memanggil anak dan istrinya yang kemudian semua tercengang dan memuji, Subhanallah. “Foto saya posting pukul 18:49 dan direspon teman saya dengan kata-kata Wisata Lahar. Saya pun membalas Didahului kembang api anak krakatau.”

Tak heran, sebentar lagi tahun baru, di mana pada malam pergantian tahun tersebut, sepanjang Pantai Anyer Carita ramai dengan pesta kembang api. “Kami lama memandangi fenomena tersebut. Sampai saatnya memasuki waktu isya, saya kembali pergi ke mushola untuk azan dan shalat sendiri.”

Sekembali dari mushola, api yang keluar dari gunung anak krakatau sedikit meredup. Sekira pukul 20.00 WIB, api terlihat samar tertutup asap hitam. Sampai saat itu, Yayan belum menyadari keadaan gunung tersebut.

Sekira pukul 21.40, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Yayan yang sedang jagongan bersama satpam di pos jaga mencari sumber suara. Ternyata, sumber suaranya itu berasal dari arah laut, di mana pos satpam berada kira-kira 200 meteran dari pantai. Spontan ia berteriak, tsunamiiiiiiiiii!

Semua panik. Dengan segera Yayan pulang ke rumah dinasnya  yang berjarak 400 m dari pos satpam dan hanya 30 meter dari pinggir pantai. “Saya masuk ke rumah, sempat menyiapkan baju untuk mengungsi dan menyelamatkan surat-surat penting. Istri dan anak saya segera dievakuasi dengan mengunakan motor ke depan kantor. Kami sekeluarga mengungsi di rumah teman kantor yang tinggal di kampung Pasauran I. Saat memasuki jalan kampung, banyak orang yang berjalan menuju tempat yang tinggi, ada juga yang pakai kendaraan. Saat itu hujan rintik-rintik.”

Pukul 23.00, Yayan kembali menuju kantor bersama 3 orang satpam untuk mengecek kondisi bangunan yang terletak persis di pinggir pantai. Tanggul roboh dan dengan bantuan senter mereka melihat bak-bak fiber pecah bahkan ada yang bergeser jauh dari posisi sebelumnya.

Dari pukul 23.00 sampai pukul 01.00, tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Sepi dan mencekam. “Minggu pagi (23/12), saya bersama teman berkedara sepeda motor menyusuri jalan sepanjang pantai dari Kampung Pasauran ke arah Kampung Carita. Mulai dari Kampung Cilurah, kira-kira 1 km dari kantor, sudah terlihat rumah yang pagarnya rusak tanpa ada penghalang apa apa terhadap laut. Di Desa Mataram, Sambolo, kerusakan terlihat lebih berat. Pos polisi jalan raya dan kontainer yang rencananya akan dijadikan vila—yang semula di pinggir pantai persis—terlempar ke seberang jalan, vila-vila di pinggir pantai serta saung-saung tempat berdagang hancur porak poranda. Mobil-mobil banyak yang berpindah ke tengah sawah atau menumpuk di depan bangunan vila. Aparat Kemanan, Basarnas, dan ambulan sudah mulai berdatangan untuk mengevakuasi dan membuka akses jalan.

Paska-tsunami, hujan turun terus-menerus dengan waktu lama dan intensitas yang besar. Cuaca pada saat musim barat terjadi, baik siang maupun malam. Saat malam suasana semakin mencekam. Hujan dan penampakan kilat-kilat serta petir yang hanya terjadi di atas gunung anak krakatau berlangsung sekira 3 malam setelah kejadian tsunami.

Dampak tsunami Anak Krakatau terhadap perikanan budidaya

“Dalam 3—4 bulan ke depan, produksi udang, khususnya wilayah Jabar, Banten  dan Lampung akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan cukup banyak hatchery yang ada di pesisir Banten dan Lampung Selatan rusak berat akibat tsunami,” ungkap Ketua Bidang IPTEK, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Bambang Nardianto .

Menurut Bambang, kerusakan tersebut mengakibatkan pasokan benur terganggu, meskipun tambak pembesaran yang ada di pesisir kedua propinsi tersebut tidak banyak mengalami kerusakan. Kerusakan tambak pembesaran hanya berupa kerusakan kecil seperti pagar tambak roboh, pompa laut hilang, atau paralon distribusi air hanyut.

Kerusakan yang terjadi di hatchery bervariasi, ada  yang hancur, rusak bangunannya, dan rusak sistem instalasi untuk proses  pembenihannya. Kerugian secara langsung berupa kerugian materi seperti fisik bangunan, benur dalam proses pemeliharaan, induk, dan sarana produksi lainnya yang ikut hilang. Nilai kerusakan bisa mencapai milyaran rupiah.

Adapun kerugian tidak langsung berupa kerugian kehilangan potensi produksi hatchery yang hilang dalam beberapa bulan  ke depan. Kehilangan potensi produksi benur bisa mencapai 400 juta ekor/bulan. Jika recovery membutuhkan waktu 6 bulan, kehilangan potensi produksi benur sebesar 2—2,5 milyar ekor. Kerugian potensi ekonomi bisa mencapai puluhan milyar rupiah.

Dari sisi budidaya pembesaran udang, proses budidaya terhambat akibat pasokan benur tidak mencukupi. Potensi kehilangan produksi udang minimal bisa mencapai 4.000 ton per bulan. Jika recovery memerlukan waktu 6 bulan, potensi kehilangan produksi udang Lampung, Banten, dan Jawa Barat minimal 24.000 ton. Nilai ekonomi bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Dampak lain yang ditimbulkan adalah berkurangnya serapan pakan udang. Potensi kehilangan serapan pakan udang bisa mencapai 6.000 ton/bulan.

“Kondisi tersebut berpengaruh pada penurunan produksi, meskipun hanya di kisaran 10%-15%. Meskipun begitu, pasar udang Indonesia tidak terlalu terganggu secara signifikan karena masih ada produksi udang yang bisa dihasilkan oleh daerah lain,” terang Bambang.

Sementara menurut Yayan, secara umum dampak tsunami terhadap kegiatan perikanan budidaya tidak signifikan di beberapa wilayah. Beberapa perusahaan hatchery di daerah Kosambi, Karang Bolong, secara fisik tidak mengalami kerusakan. Kerusakan hanya pada instalasi PIP yang sedikit rusak akibat lokasi bangunan berada di seberang Jalan Raya Anyer Carita. Begitu juga tambak di sekitar Panimbang, yang relatif tidak terganggu, karena lokasinya berada cukup jauh dari pantai.

Untuk KJA yang banyak di sekitar daerah Panimbang, tepatnya di Desa Copanon, sebagian besar masih di posisi dan sebagian ada yang bergeser ke pantai. “Dari info lapangan, di daerah sekitar Taman Jaya, wilayah yang berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, juga tidak terdampak,” terang Yayan.

Sementara kerusakan di wilayah Pandeglang akibat tsunami relatif kecil. “Kalau tambak udang yang ada di wilayah Kec. Sumur, Kab. Pandeglang, Alhamdullilah selamat. Yang di Cikeusik, di Wanasalam, semuanya selamat, tutur H. Buntara, salah seorang petambak udang di Sumur, Pandeglang, kepada Info Akuakultur.

Peran KKP di daerah bencana

Secara langsung, peran KKP terhadap dampak tsunami cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan menjadikan balai-balai penelitian di pesisir—yang tidak terdampak tsunami—sebagai salah satu posko relawan, posko pendistribusian bantuan, dan dapur umum. Peran lainnya adalah melakukan pemetaan dan pendataan nelayan yang menjadi korban tsunami untuk diberikan bantuan tertentu agar mata pencahariannya bisa terus berlangsung. “Terhadap pemilik usaha pembenihan skala kecil (backyard) dan hatchery yang terdampak akan dilakukan pendampingan dan pemberian bantuan agar pembenih kembali bisa melakukan usahannya kembali,” ujar Bambang.

Dalam jangka pendek, kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuka akses untuk mendapatkan benur dari hatchery yang berada di daerah lain agar proses budidaya tetap berjalan. Tentu saja, dengan tetap mengedapankan kualitas dan treceability benur yang akan dibudidayakan. Dalam jangka menengah, dilakukan percepatan perbaikan infrastruktur dan sarana produksi serta mempercepat pengadaan indukan udang yang baru.

Begitu pula menurut Yayan, sebagai PIC Posko KKP Peduli Bencana Tsunami wilayah Banten. Menurutnya, KKP sangat peduli terhadap stakeholder-nya, termasuk pelaku kegiatan budidaya. Pada masa tanggap darurat, KKP melakukan kunjungan untuk mengecek kondisi, baik SDM maupun fisik paska-bencana tsunami. Beberapa kegiatan yang dilakukan di antaranya pemberian bantuan sembako, ikan segar, perlengkapan tidur, perlengkapan penerangan, serta perlengkapan kesehatan maupun masak-memasak.

Doa dan harapan

“Di wilayah kami tidak ada yang budidaya ikan. Semuanya bertambak udang vanamei. Kalau bantuan buat masyarakat yang terkena tsunami, Alhamdulilah, sangat cukup. Yang belum adalah pembangunan rumah-rumah yang hancur. Itu saja deh. Yang diperlukan masyarakat Kecamatan Sumur, Desa Tamanjaya, Kampung Pani’is, yang 55% kampungnya habis terkena tsunami, adalah relokasi ke tempat yang aman di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kampung Nelayan juga, Desa Ujung jaya, Kampung Tanjung Lame, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Yang terpenting jalan segera dibangun dan listrik harus stabil,” harap H. Buntara.

Sementara Yayan mengungkapkan harapannya bahwa menimbang potensi bencana akibat gelombang tinggi saat ini daerah tambak perlu dijaga vegetasi bakau atau mangrove-nya. Tujuannya agar barisan bakau bisa menjadi penahan hempasan gelombang. Di samping itu, pembangunan unit hatchery perlu mempertimbangkan bangunan dengan sepadan pantai sesuai aturan, salah satunya bagi yang bangunannya terlalu dekat dengan pantai.

“Saya yakin penduduk di sekitar pantai sangat shock dan takut. Namun apa mau dikata, mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka terlahir dan tumbuh di situ. Sikap pasrah serta yakin bahwa ajal tetap akan datang ada atau pun tidak ada bencana tsunami membuat mereka ikhlas atau terpaksa untuk bertahan. Begitu juga kami,  ini sudah menjadi tugas yang harus saya terima dengan lapang dada, meskipun sanak keluarga terkadang mengatakan pindah saja. Saya yakin, tetap yakin, dengan Maha Pengasih dan Penyayang-nya Allah SWT. Namun kami tetap harus waspada dan ini menjadi pengalaman dan pelajaran hidup berharga bagi kami. Sebagaimana disampaikan salah satu pimpinan kami, baik kepada kami maupun kepada para nelayan yang kami temui, bahwa bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting kita harus belajar dan tahu apa yang harus kita lakukan saat menghadapi bahaya dan tetap waspada,” jabar Yayan.

Yayan melanjutkan, “…Kami berbela sungkawa terhadap para korban tsunami, baik di wilayah Banten maupun Lampung. Semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Begitu juga korban selamat serta yang kehilangan harta bendanya, semoga diberi kesabaran dan kekuatan serta kemudahan rejeki yang lebih baik. Kepada para donatur/relawan yang telah empati membantu sesama baik dengan hartanya, tenaganya maupun fikirannya semoga menjadi ladang amal yang selalu mengalir dan semoga pihak pemerintah maupun pihak terkait untuk segera dapat memulihkan kondisi ekonomi maupun fisik agar aktivitas warga terdampak tsunami cepat kembali normal.”

“Akhirnya kita harus sadar bahwa manusia itu lemah, hanya Tuhan yang Maha Perkasa. Semua takdirnya telah menjadi ketetapan atau Sunatulloh sebagai ujian bagi umat manusia agar semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Di balik ini semua pasti ada hikmahnya. Allah SWT mengajarkan kepada manusia ini yang baik dan ini yang tidak baik. Jika tetap melanggar, ketentuan akan berjalan. Semoga bangsa Indonesia selalu diberikan perlindungan oleh Yang Maha Kuasa…Aamiin.. ‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. QS Al-Anbiya Ayat 35’,” pungkas Yayan. (Rochim/Adit/Resti)