3 Jurus Mencegah White Feses Disease (WFD) dari Jepara

 

Serangan kotoran putih berdampak besar menurunkan produktivitas budidaya udang vaname. Namun, teknik pengendalian yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara ini dapat mencegah infeksi penyakit merugikan itu.

Lewat metode ekplorasi yang dilakukan dengan mengamati kualitas air meliputi kandungan bahan organik (TOM), total bakteri dan vibrio, kestabilan plankton, serta identifikasi jenis bakteri pada udang yang terserang penyakit, Darmawan Adiwijaya, Supito, dan I. Riskiyanti menunjukkan bahwa penyakit berak putih atau white feses Disease (WFD) pada udang dapat dikendalikan.

Hasil kajian menunjukkan bahwa udang yang terserang penyakit berak putih pada ususnya terdapat jenis Vibrio algynoliticus dan Vibrio parahaemolyticus. Media air tambak mengandung dominasi bakteri vibiro sebesar 12% dari total bakteri dan kandungan bahan organik (TOM) lebih dari 250 ppm. Dengan teknik pemuasaan, penambahan alicyn dan vitamin, pengendalian dominasi vibrio kurang dari 10% dengan aplikasi probiotik, serta pembuangan lumpur dasar tambak serta pergantian air untuk menurunkan kandungan bahan organik ternyata mampu mencegah serangan penyakit. Bahkan produksi tambak masih dapat dipertahankan pada tingkat kelangsungan hidup 65—70% dengan laju rataan pertumbuhan harian (ADG) sebesar  0,19 g/hari.

Tiga jurus yang dibeberkan Ir. Darmawan Adiwijaya, Perekayasa Utama Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara,  ini tertulis dalam sebuah publikasi dengan judul “Teknik Pengendalian Penyakit Kotoran Putih  (white feces syndrome) Pada Budidaya Udang di Tambak”.

Artikel Populer:  GRATIS Seminar Info Akuakultur : Sustanaible Shrimp Culture, Strategi Petambak Thailand Melawan WFD

 

Jurus pertama: Kelola air tambak dengan baik

Pengelolaan air tambak dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu mengelola kelimpahan plankton dan mengelola probiotik.

Dasar dari pengelolaan kelimpahan plankton mempertimbangkan bahwa kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan udang akan baik bila dipelihara pada lingkungan yang stabil, sesuai kebutuhan biologis udang. Kestabilan parameter  kualitas air tambak dengan fluktuasi yang rendah akan membuat udang nyaman dan sehat. Oleh karena itu diperlukan manajemen pengelolaan lingkungan, terutama media air tambak udang untuk mengendalikan kualitas air.

Agar udang nyaman dan sehat, penumbuhan plankton  pada air tambak udang  diarahkan untuk dominasi chloropiceae dan diatom. Dengan pengamatan visual, dominasi chloropiceae terlihat dari warna air tambak yang hijau kecokelatan. Untuk dapat mempertahankan dominasi chloropiceae dapat dilakukan dengan mengatur perbandingan N/P rasio.

Secara spesifik, dominasi pertumbuhan plankton ditentukan oleh keseimbangan N/P rasio sebagai berikut: N/P = 8—kondusif bagi blue green algae (cyanobacteria); N/P = 10—kondusif bagi plankton coklat (diatom); N/P = 12  kondusif bagi dinoflagellata; N/P = 20—30—kondusif bagi plankton hijau (chlorella).

Untuk menumbuhkan plankton selain blue green algae, diperlukan aplikasi pupuk ammonium dan posfat dengan N/P rasio lebih dari 10.  Pupuk TSP dengan kandungan 36% diperlukan minimal 7 kg/ha (0,7 ppm), sedangkan pupuk ammonium dengan kandungan 46%  diperlukan minimal 54 kg/ha (5,4 ppm).

Artikel Populer:  Symbiotics Sebuah Solusi dalam Budidaya Udang

Akumulasi nitrogen dan fospat dari pemberian pakan udang menyebabkan peningkatan kesuburan sehingga pertumbuhan plankton pesat dan kelimpahan plankton tinggi. Penggunaan pupuk perlu dihitung agar rendahnya keseimbangan N/P rasio tidak terjadi, yang dapat menyebabkan pergeseran dominasi plankton ke arah blue green algae.

Penambahan pupuk ammonium perlu dilakukan untuk meningkatkan kesimbangan N/P rasio dengan dosis 2—5 ppm sehingga warna air menjadi hijau kecokelatan. Agar tidak terjadi blooming plankton, kelimpahan plankton dipertahankan pada kisaran kecerahan sekitar 30—40 cm.

Dampak pertumbuhan plankton yaitu fluktuasi nilai pH harian yang luas dan cenderung tinggi. Dominasi plankton dalam air tambak bisa membuat pH air mencapai nilai 9 pada sore hari dengan fluktuasi antara pagi dan sore mencapai nilai 1. Jika tidak didukung aerasi yang baik, nilai pH yang tinggi pada sore hari bisa menyebabkan pembentukan amoniak. Amoniak bersifat racun dan menyebabkan ketahanan tubuh udang lemah sehingga mudah terserang penyakit. Kelimpahan plankton yang tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan respirasi pada malam hari sehingga perairan tambak kekurangan oksigen.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Similar Posts:

Artikel Populer:  Cegah Myo pada Udang Vaname

Artikel Sedang Trending
Biasa menyerang udang di usia 60 hari, kini WFD terdeteksi menyerang di usia 40 hari.
Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan
Beberapa tahun belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus (TiLV) yang
Indonesia diakui berhasil menangani berbagai macam penyakit ikan dan udang. Namun janganlah terlena dengan keberhasilan
Teguh Winarno Oleh: Teguh Winarno Head of Technical Support & Partnership PT Universal Agri Bisnisindo

One thought on “3 Jurus Mencegah White Feses Disease (WFD) dari Jepara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.