Menyorot Pentingnya Biosekuriti dan Biodiversiti  pada Budidaya Udang

Covid 19 memberikan pelajaran pada kita bahwa perilaku higienis merupakan hal yang penting untuk mencegah penyebaran penyakit demi kesehatan. Selain dari kontak langsung dengan orang yang sakit, timbulnya penyakit juga disebabkan mengonsumsi pangan yang tidak sehat. Karena itu, makanan dan lingkungan harus dijaga untuk mencegah penyakit.

Higienis berlaku untuk manusia dan hewan, seperti udang, ikan, dan hewan lainnya. Untuk lingkungan, higienis harus diperhatikan. Sementara untuk makanan, selain higienis, keamanan pangan juga merupakan syarat utama yang tidak dapat diabaikan.

Pentingnya biosekuriti

Biosekuriti adalah tindakan prevensi  untuk mencegah timbulnya penyakit dan penyebarannya dengan mengisolasi sebanyak mungkin populasi hewan budidaya dari kontaminasi eksternal. Kontak berulang atau berkepanjangan dengan lingkungan eksternal (air, sedimen, satwa liar) mendorong perkembangan penyakit baru.

Pencegahan penyakit pada budidaya untuk menjamin biosekuriti harus dimulai pada pemilihan lokasi tanah dan lingkungan yang tidak tercemar serta tidak ada kemungkinan untuk pencemaran. Binatang lain juga harus dicegah agar tidak masuk ke lingkungan tambak.

Bibit  atau benur yang tidak bebas penyakit akan menyebarkan penyakit, merusak semua budidaya, dan menyebar ke daerah sekitarnya melalui air limbah. Adapun banjir melepaskan udang keluar dari tambak dan masuk ke perairan atau laut setempat. Ditambah pembuangan udang yang sakit ke laut,  ekosistem setempat akan terdampak. Oleh karena itu, penggunaan bibit yang bebas patogen sangat penting. Jika terlepas, keberadaan udang tidak mengganggu ekosistem lingkungan.

Air laut dan air sumur yang digunakan di tambak harus dijamin pemerintah agar layak untuk dipakai dan bebas dari penyakit. Dengan demikian, produktivitas petambak udang akan meningkat karena penyakit berkurang. Jika air laut dan air sumur diperiksa setelah masuk di dalam tambak udang, kontaminasi sudah terjadi.

Pengontrolan atau monitoring air laut dan tambak memerlukan teknologi yang tinggi, seperti remote sensing, satelit data, AI, dan akses ke seluruh wilayah perairan. Kerjasama dengan negara tetangga seperti ASEAN, Australia, atau Papua New Guinea yang mempunyai kepentingan yang sama merupakan suatu keharusan. Hal ini disebabkan air mengalir dan perpindahan binatang laut ke wilayah negara tersebut. Kepercayaan antar-negara harus dibina agar dapat melihat data bersama.

Sebagai contoh, sejak tahun 1998, negara di sekitar laut di North East Atlantic membuat perjanjian OSPAR (Oslo- Paris Committee) untuk melakukan monitoring terhadap laut tersebut, termasuk ekosistem, biodiversiti, juga perkembangan udang yang lepas pada lingkungan, substansi yang membahayakan, hingga aktivitas manusia di perairan tersebut. Dengan adanya kerjasama tersebut, illegal fishing juga dapat diberantas bersama.

Menjaga keragaman hayati (biodiversiti) laut

Biodiversiti adalah semua jenis kehidupan yang berbeda di satu area, mulai dari hewan, tumbuhan, jamur, bahkan mikroorganisme seperti bakteri yang membentuk dunia alami. Masing-masing spesies dan organisme ini bekerja sama dalam ekosistem yang merupakan jaringan rumit untuk menjaga keseimbangan dan mendukung kehidupan.

Indonesia mempunyai wilayah perairan yang luas. Lautan dan perairan air tawarnya kaya dengan berbagai jenis binatang dan tanaman. Oleh karena itu, monitoring biodiversiti di laut dan perairan dalam sangat penting dilakukan.

Udang yang sakit seharusnya tidak dijual dan tidak diijinkan keluar dari tambak agar tidak membawa penyakit ke luar. Udang sakit harus dimusnahkan di tambak atau di tempat pemusnahan. Perhatian pada aspek higienis diperlukan agar penyakit tidak berpindah. Di sisi lain, petambak perlu mendapat bantuan atau ganti kerugian dari pemerintah atas upaya higienis sehingga mereka bersedia membantu agar penyakit tidak menyebar dan berdampak pada ekonomi.

Perhatian khusus harus diberikan pada upaya higienis personil agar tidak mengontaminasi komoditas udang. Bakteri dan virus bisa berpindah melalui tangan atau kaki dari personil yang melakukan kontak dengan air atau udang. Sebaliknya, bakteri dari air dan udang pun dapat membahayakan personil, yang menyebabkan penyakit pada manusia seperti beberapa jenis vibrio yang hidup di air laut.

Untuk kepentingan kedua belah pihak, personil harus memakai alat pelindung seperti masker, sarung tangan, dan sepatu boot agar tidak terjadi kontak langsung dengan air atau udang. Selain itu, kondisi higienis personil harus diperhatikan dengan selalu mencuci tangan. Toilet juga harus bersih dan mempunyai tempat cuci tangan yang higienis.

Alat yang dipakai untuk keperluan budidaya dan paska-panen udang harus selalu didesinfektikasi, misalnya keranjang, meja, dan peralatan lainnya agar patogen tidak berkembang. Begitu pula saat transportasi, keranjang dan peralatan lain yang digunakan pengepul harus selalu didesinfektikasi  agar patogen dari tambak yang satu tidak berpindah ke tambak yang lain.

Disebabkan biosekuriti merupakan tindakan prevensi, prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) seharusnya diterapkan sebagai basis untuk mencegah penyakit berdasarkan sistem dari setiap petambak. Setiap petambak harus dapat menilai titik kritis (critical point) dan potensi bahaya (hazard) pada tambak, yang dapat berbeda pada setiap tambak.

Sukses pada budidaya bukan diukur dari produksinya, tetapi dari keberlanjutan (sustainability) dan keamanan pangan (food safety). Kesuksesan dilihat dari pengaruh atau dampak budidaya pada lingkungan, kehidupan binatang laut atau perairan lainnya, serta ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya untuk dapat memperoleh makanan yang aman dan bergizi.

Keberlanjutan bukan tujuan, tetapi proses yang terus berubah, sesuai dengan perubahan dan kebutuhan lingkungan yang harus tetap diantisipasi. Oleh karena itu, dampak negatif dari budidaya seperti air limbah dari udang sebaiknya dibersihkan secara biologis agar tidak menimbulkan dampak negatif dari zat pembersih.

Salah satu alternatif untuk mengurangi dampak negatif dari limbah adalah Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), yaitu limbah budidaya udang digunakan untuk budidaya binatang laut lainnya seperti ikan, kekerangan, dan rumput laut, secara terpisah atau co-habitation. Cara ini membantu membersihkan limbah, menambah penghasilan petambak, serta mengurangi risiko kegagalan panen.

Yang lebih sustainable adalah silvofishery, sistem budidaya yang dilaksanakan di habitat alami udang pada hutan bakau. Sistem ini tidak memerlukan pakan tambahan dan tidak memerlukan biaya yang besar. Berbagai jenis binatang laut hidup bersama. Hutan bakau merupakan tempat bertelur dan pembesaran pada tahap pertama dalam pengembangan, sedangkan akar bakau menjadi tempat perlindungan.

Alam mempunyai sistem yang menjaga keseimbangan sehingga semua binatang hidup saling mendukung. Kotoran dari hewan yang satu, menjadi makanan bagi hewan yang lain. Populasinya pun terjaga karena hewan laut yang satu menjadi makanan bagi hewan yang lain. Dengan begitu, ketersediaan jumlahnya tidak mengganggu kelestarian alam dan semua jenis hewan hidup berkelanjutan.

Berbagai kemungkinan terbuka untuk mengembangkan lebih lanjut sistem ini sesuai dengan kebutuhan. Kerjasama antara masyarakat dengan universitas untuk pembinaan sistem ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Mahasiswa mendapatkan kesempatan praktik dan masyarakat mendapatkan ilmu secara kontinu karena mahasiswa dapat bergulir untuk tetap membantu sebagai kurikulum dari universitas. Selain itu, teknologi baru dapat selalu diterapkan pada masyarakat secara berkelanjutan.

Selain hewan laut, buah bakau dan tumbuhan lain yang hidup di daerah tersebut seperti nipah dapat dimanfaatkan sebagai tambahan penghasilan dan hilirisasi dari produk lingkungan. Sistem ini akan memberikan penduduk pesisir manfaat dari beragam jenis hewan laut yang ada, yang merupakan keunggulan dari Indonesia. Strategi untuk fokus hanya pada beberapa jenis binatang laut membuat kekayaan alam Indonesia terabaikan dan dapat mengganggu kelestarian lingkungan. Selain itu, stres pada udang yang sering terjadi karena kepadatan yang tinggi memfasilitasi berkembangnya penyakit.

Dengan sistem kolaborasi atau koperasi, industri dari hasil laut Indonesia dengan silvofishery dapat berkembang dan menjadi sistem konservasi dari keragaman hayati laut Indonesia. Para akademisi diharapkan bergerak untuk membantu penyelenggaraan ekosistem dengan memperhatikan spesies alami untuk menjaga keberlanjutan biota Indonesia.

Evelyne Nusalim, Direktur Eksekutif, Indonesian Food Safety Institute

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.