Harga Komoditas Perikanan Rawan  Tergerus Inflasi
Atikah Nurhayati

Fluktuasi harga yang terjadi di pasar bukan hal yang biasa, namun perlu dicermati kenaikan harga beberapa bahan pokok pangan termasuk komoditas perikanan bersumber dari kenaikan harga input produksi.

Proses produksi komoditas perikanan budidaya yang mengalokasikan biaya produksi hampir 70 % untuk biaya pakan dengan kisaran harga menyentuh Rp 370.000,- sampai Rp 410.000/sak (30 kg) dengan kandungan nutrisi protein yang tinggi berbahan dasar pembuatan pakan seperti dari tepung kedelai (soybean meal) merupakan produk impor yang tergantung padad rantai pasok dan nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing yang ditentukan oleh mekanisme pasar bebas (free floating exchange rate system).

Kenaikan biaya produksi mengakibatkan tekanan di sisi penawaran (cost push inflation) di tingkat produsen yang akan berpengaruh terhadap daya beli di masyarakat. Sedangkan dari sisi permintaan akan terjadi demand pull inflation yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan barang dan jasa dari stok yang ada atau agregrat demand lebih besar dari kapasitas ketersediaan produk yang mengakibatkan kenaikan harga.

Nilai tukar rupiah yang berfluktuasi memberikan pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam menggunakan uang seperti tingkat suku bunga dan inflasi. Tingkat suku bunga merupakan harga dari pemakaian atau penggunaan dana investasi (loanable funds), diimana tingkat suku bunga merupakan kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, sedangkan inflasi merupakan kondisi dimana terjadinya kenaikan harga barang dan jasa yang mengalami peningkatan dalam jangka waktu tertentu yang mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya.

Komponen inflasi inti yang cenderung stabil (persistent component) dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, nilai tukar mata uang, harga komoditi internasional, dan perkembangan ekonomi global sedangkan inflasi non inti memiliki volatilitas yang tinggi dengan komponen yang bergejolak dipengaruhi oleh kondisi alam seperti di perikanan tangkap dipengaruhi oleh musim barat dan timur, perubahan suhu air laut, pasang surut air laut terhadap hasil tangkapan perikanan.

Begitu pula halnya dengan perikanan budidaya air tawar di perairan umum daratan dengan sistem keramba jaring apung, apabila terjadi perubahan cuaca yang ekstrim dari musim kemarau ke musim penghujan yang menyebabkan kematian ikan secara masal, mengakibatkan penawaran produk ikan konsumsi air tawar menurun sehingga harga di tingkat konsumen mengalami kenaikan. Terdapat pula inflasi harga yang diatur oleh kebijakan pemerintah (administered prices), seperti harga bahan bakar minyak yang disubsidi oleh pemerintah yang digunakan oleh nelayan untuk biaya operasional melaut.

Kondisi tersebut menimbulkan ekpektasi inflasi khususnya untuk komoditas perikanan. Ekspektasi inflasi merupakan faktor yang dipengaruhi oleh persepsi dan harapan pelaku usaha perikanan terhadap tingkat inflasi di masa depan, yang akan mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan pelaku usaha perikanan yang meliputi ekspektasi inflasi adaptif dan inflasi forward looking.

Inflasi yang tidak stabil menyebabkan pendapatan pelaku usaha perikanan terus mengalami penurunan dan ketidakpastian pelaku usaha perikanan dalam mengambil keputusan. Keadaan tersebut mengakibatkan berkurangnya potensi menabung bagi pelaku usaha perikanan dan meningkatknya angka kemiskinan.

Strategi adaptasi yang harus dilakukan dari pemerintah untuk memastikan keterjangkauan harga input produksi komoditas perikanan berbahan lokal dengan kualitas yang sebanding dengan produk impor, akses terhadap pembiayaan dan pengembangan usaha komoditas perikanan serta meminimalisir terjadinya disparsitas harga pasokan input produksi yang terintegrasi dengan sistem informasi dan teknologi yang berdaya saing, termasuk memastikan hilirisasi komoditas perikanan melalui manajemen produksi yang padat karya untuk menyerap tenaga kerja di sektor perikanan dan kelautan.

Hal tersebut diharapkan mampu mengakselerasi ketahanan rumah tangga pelaku usaha perikanan. Inflasi yang rendah dan stabil merupakan harapan bagi pelaku usaha perikanan untuk meraup keuntungan yang proposional dan peningkatan kesejahteraan pelaku usaha perikanan.

Oleh: Atikah Nurhayati, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.