AgResults Indonesia Aquaculture Challange ProjPeran Teknologi Tingkatkan Produksi Budidaya Perikanan

“Kegiatan tahunan Indonesia Aquaculture Competition yang diselenggarakan oleh AgResult ini cukup strategis untuk mendorong keterlibatan pihak swasta dan stakeholder non-pemerintah lainnya, khususnya penyedia peralatan sarana produksi dan pendampingan teknologi, untuk berkontribusi lebih besar dalam peningkatan produksi perikanan budidaya,” demikian disampaikan Ujang Komaruddin, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP dalam sambutannya di acara Agresult Indonesia Aquaqulture Challenge Project di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH)-Depok pada Selasa, 4 Juni 2024.

AgResults bersama yayasan WWF-Indonesia yang didukung oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kompetisi teknologi dan pendampingan teknis budidaya pada ‘AgResults Indonesia Aquaculture Challange Project’. Tahun 2024 merupakan tahun ke-3 kompetisi ini diadakan.

Sesuai arahan FAO, kata Ujang melalui konsepsi Aquaculture Transformation, bahwa saat ini dan kedepannya, kegiatan budidaya perikanan harus memenuhi prinsip yaitu efisiensi, inklusivitas, ramah lingkungan, berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui implementasi atau penerapan teknologi tepat guna dalam kegiatan budidaya. Teknologi, dalam kaitan ini, menjadi poin penting dalam implementasi transformasi akuakultur.

Coco Kokarkin, Technical Advisory Comitee (TAC) WWF/Sekjen Forum Udang Indonesia menambahkan bahwa, produksi ikan budidaya adalah sebuah kewajiban bangsa kita bila menyongsong Indonesia emas 2045 ditengah kenyataan tingginya jumlah anak-anak yang stunting dan jumlah ikan tangkapan laut yang menyusut dengan cepat. Statistik telah membuktikan bahwa negara-negara dengan asupan protein yang tinggi identik sebagai bangsa yang inovatif dan berprestasi dalam olah raga.

Lanjutnya, pemenuhan protein berkualitas di negara kita ternyata harus protein ikan agar efisien dalam banyak hal. Namun bila menginginkan produktivitas produksi ikan yang tinggi dan terukur maka harus dilakukan intervensi teknologi. Human error dan stress yang berujung penyakit adalah dua sandungan dalam pelaksanaan budidaya yang berskala industri.

“Kegiatan Agresult WWF dengan support berbagai donor dan Yayasan dari negara maju, fokus pada intervensi teknologi aerasi, autofeeder serta sistem pengawalan SDM pembudiaya skala kecil di Indonesia dalam bentuk perlombaan kemampuan menjual produk inovasi dan menjual jasa pendampingan,” tambah Coco.

Di awal pelaksanaan perlombaan, kata Coco, masih sedikit peserta yang dapat memenuhi kualifikasi dan mencapai threshold. Namun sejak tahun 2023 yang lalu pemenang bisa meraih penghargaan hingga 1,2 M lebih untuk semua peserta dan tahun ini ada delapan perusahaan anak muda yang mampu mencapai threshold sehingga mendapat pernghargaan finansial yang menarik.

“Semoga buah nyata yang diraih dalam pertandingan ini dapat menciptakan kultur baru berbudidaya ikan yang lebih presisi, terjamin jumlah dan ukurannya sebagai dampak positif suatu keputusan dan keberanian penerapan teknologi,”harap Coco.

Kompetisi penjualan berhadiah
Menurut Achmad Mustofa, Sustainable Fisheries and Aquaculture Program Manager, Marine & Fisheries Program WWF – Indonesia, AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project yang merupakan kompetisi penjualan berhadiah (Pay-for-Result).

Dilandasi atas dasar pembudidaya skala kecil di Indonesia yang merasa kesulitan untuk meningkatkan produktivitas budidaya, hal ini diperkirakan karena keterbatasan pemahaman dalam menggunakan teknologi dan menjangkau aksesnya.

“Tujuan kompetisi ini adalah untuk meningkatkan adopsi teknologi aerator dan auto-feeder dengan memberikan insentif kepada sektor swasta yang berhasil menjual atau menyewakan teknologi pada pembudidaya skala kecil.

Selain melombakan kategori teknologi, kompetisi tahun ini juga mendorong sektor swasta untuk memberikan pendampingan teknis kepada pembudidaya,”ungkapnya.

Nur Ahyani, Project Manager Team Leader ‘AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project’ mengatakan bahwa kompetisi ini mulanya direncanakan hanya berlangsung selama 3 tahun, tetapi kemudian diperpanjang menjadi 6 tahun. Kompetisi tahunan ini menggunakan hadiah untuk mendorong sektor swasta dalam menyediakan teknologi maupun pendampingan teknis yang ditujukan untuk pembudidaya skala kecil.

“Secara umum ada 3 tujuan dari kompetisi ini, yang pertama adalah untuk meningkatkan produktivitas pembudidaya skala kecil melalui adopsi teknologi ataupun pendampingan teknis, yang kedua adalah untuk meningkatkan pendapatan dari pembudidaya skala kecil, kemudian yang ketiga adalah penguatan hubungan rantai nilai antara penyedia teknologi dan penyedia paket pendampingan teknis dengan off-taker, sehingga memungkinkan adopsi ini bisa berkelanjutan,” kata Nur Ahyani.

Teknologi akuakultur yang dimaksud dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu aerator tradisional, aerator modern (menggunakan tenaga surya, IoT, microbubble, atau nanobubble), auto-feeder tradisional, dan auto-feeder modern (berbasis IoT).

Kategori pendampingan teknis budidaya yang dikompetisikan yaitu untuk dua komoditas secara garis besar yakni udang dan ikan, melalui layanan berbayar untuk mengumpulkan data kualitas air dan pengujian penyakit. Target komoditas yang diperlombakan antara lain udang vaname, udang galah, udang windu, ikan lele, ikan patin, ikan mas, ikan nila, dan ikan bandeng.

Pada tahun ketiga kompetisi, Nur Ahyani mengungkapkan bahwa semakin banyak peserta yang bergabung dan semakin banyak juga kompetitor yang mendapatkan hadiah. Pada kategori teknologi, ada 6 perusahaan swasta yang berhasil mendapatkan hadiah dari 7 peserta yang ikut serta. Sementara di kategori pendampingan teknis dimenangkan oleh 2 peserta dari total 5 peserta yang mendaftar.

Di posisi pertama kompetisi teknologi dimenangkan oleh CV Republik Vannamei dengan unit terjual sebanyak 911 unit dan hadiah yang diterima sebesar US$112.382,5. Kemudian diikuti di posisi selanjutnya secara berurutan, antara lain CV Asia Cahaya Teknik (ACT) yang menjual 570 unit dan mendapat US$75.300, PT Venambak Kali Dipantara (Venambak) dengan 331 unit terjual dan hadiah US$67.580, PT Multidaya Teknologi Nusantara (eFishery) dengan 23 unit terjual dan 586 unit disewakan serta hadiah US$18.316,5, PT Bumi Wirastaraya Sejahtera (BWS) dengan 102 unit terjual dan hadiah US$13.562,5, dan PT Banoo Inovasi Indonesia (Banoo) dengan 12 unit terjual dan 38 unit disewakan serta hadiah US$4.866,8.

Sementara untuk kompetisi penjualan paket pendampingan teknis dimenangkan oleh dua peserta, yaitu Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) di posisi pertama dengan jumlah paket terjual 208 dan hadiah US$16.192, lalu diikuti oleh PT Jala Akuakultur Alamku (Jala) dengan paket terjual 33 dan hadiah sebesar US$2.112.

Peran teknologi

“Kami berterima kasih kepada WWF dan AgResult, penghargaan ini sangat berarti bagi kami. Dengan adanya kegiatan AgResult Indonesian Aquaculture Challenge Project ini, kami sebagai perusahaan yang berkemauan menjadi mampu untuk berkarya, turut serta usaha-usaha teknologi pertambakan di Indonesia, terutama dalam usaha transformasi petambak tradisional menjadi petambak tradisional plus,” ungkap Gelardi Siswantara, CTO PT Venambak Kail Dipantara.

Dari kegiatan ini, kata Gelardi, banyak kearifan lokal yang menginspirasi, terutama untuk mengembangkan inovasi terkait teknologi sistem aerasi kami. Aspirasi dari rekan-rekan di banyak daerah, banyak petambak yang ingin mencoba teknologi kami tapi terkendala dengan terbatasnya akses listrik di lokasi, untuk solusi tersebut.

“Saat ini tim research sedang mengiterasi integrasi energi terbaharukan dengan teknologi kami, untuk memberikan solusi desentralisasi energi di tambak-tambak yang belum mendapatkan akses listrik, terutama daerah sekitar konservasi mangrove,” tambah Gelardi.

Lanjutnya, Venambak sedang giat melakukan advokasi budidaya silvofishery plus yang mengintegrasikan teknologi aerasi kami dengan keberlanjutan budidaya dan konservasi kawasan mangrove. “Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan mewarnai kanvas teknologi di kolam budidaya, dengan harapan optimis dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya perikanan, terutama dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks di masa depan,”ujar Gelardi.

Tingkatkan produksi budidaya

Pada kesempatan yang sama juga digelar seminar bertajuk, “Peran Teknologi dalam Meningkatkan Produksi Ikan.” Narasumber yang hadir pada acara ini yaitu Joni Haryadi selaku Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok (BRBIH), Mulud Mulia selaku Ketua Tim Kerja Sarana Pakan Ikan Ditjen Pakan dan Obat Ikan (IPOI) DJPB KKP/Tim Kerja Kampung Perikanan Budidaya, Zulkifli Selaku Pembudidaya Ikan Nila dan Ikan Mas di Sukabumi dan dipandu oleh Arief Arianto selaku Technical Advisory Committee Agresults Indonesia Aquaculture Challenge Peoject.

Mulud Mulia dalam persentasinya menjelaskan mengenai kampung perikanan budidaya (KPB), yakni kawasan yang berbasis komoditas unggulan dan/atau komoditas lokal yang mensinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya usaha pembudidayaan ikan yang berdaya saing dan berkelanjutan, menjaga kelestarian sumber daya ikan, serta masyarakat sebagai penggerak utamanya.
KPB melibatkan berbagai aspek diantaranya, hulu (Benih, Produksi sarana & prasarana), On-Farm (Budidaya Pembesaran) dan Hilir (Pengolahan dan Pemasaran), dengan tujuan antara lain pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan pembudidaya, menjaga kepunahan spesies endemik, mengembangkan komoditas bernilai ekonomis tinggi, konektivitas lokasi budidaya, pengolahan hasil budidaya, pemasaran, dan sarana umum lainnya dengan melibatkan partisipasi masyarakat lokal.

Upaya peningkatan produksi kampung perikanan budidaya, kata Mulud ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain mensinergikan proses produksi budidaya di KPB, penyiapan pakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan yang dibudidayakan, peningkatan sarana prasarana budidaya, mencari terobosan peluang pasar hasil produksi dan pengolahan hasil produksi menjadi produk olahan yang bervariatif.

“Budidaya perikanan bisa berhasil, untuk meningkatkan produktivitasnya diperlukan teknologi yang terjangkau harganya, mudah penerapannya, dan bisa dimanfaatkan pembudidaya dalam berbagai jenjang skala usahanya,”pungkas Zulkifli. (Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.