Peningkatan temperatur dapat meningkatkan metabolisme bakteri yang memicu munculnya penyakit. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Dany Yukasano, National Technical Manager Grobest Indomakmur, mengungkapkan bahwa peningkatan temperatur meningkatkan metabolisme bakteri. Dengan begitu, bakteri lebih cepat mencapai quorum yang memunculkan patogenitasnya.

“Curah hujan ekstrem juga merubah ekosistem tambak secara drastis dan udang mengalami masalah osmotis. Ujungnya, patogen semakin virulen, sedangkan udangnya semakin lemah, yang memicu munculnya penyakit,” ungkap Dany.
Pendapat senada juga disampaikan Ilham, Kepala Instalasi Tambak Punaga Takalar (Penyuluh Perikanan) Instalasi Tambak Punaga Takalar (BRPBAPPP Maros). Menurutnya, perubahan suhu air yang meningkat dan curah hujan ekstrem mempercepat penyebaran penyakit pada udang. Suhu air yang terlalu tinggi meningkatkan risiko serangan penyakit bakteri seperti vibriosis. Sementara fluktuasi curah hujan memicu ketidakstabilan kualitas air, yang menyebabkan stres pada udang. Udang pun menjadi lebih rentan terhadap infeksi virus seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV).
“Kondisi ini memerlukan perhatian ekstra terhadap pemantauan kualitas air dan kesehatan udang,” ujar Ilham.
Sementara itu, Technical Sales Representatif De Heus Shrimp Feed Indonesia, Luthfi Yusuf, menjelaskan beberapa dampak perubahan ikim dan cuaca ekstrem terhadap kesehatan udang, di antaranya peningkatan suhu air, peningkatan plankton, curah hujan ekstrem, serta kualitas air yang buruk.
Menurut Luthfi, suhu air yang lebih tinggi dapat mempercepat metabolisme udang, tetapi juga meningkatkan risiko stres dan kerentanan udang terhadap penyakit. Suhu yang terlalu tinggi dapat memicu pertumbuhan patogen seperti virus White Spot Syndrome (WSSV) dan Vibrio. Suhu yang lebih tinggi juga dapat memicu pertumbuhan plankton yang merugikan, misalnya blue-green algae, yang dapat mengganggu kesehatan udang dan memicu penyakit seperti Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Adapun curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan perubahan mendadak dalam salinitas air tambak. Perubahan ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem tambak sehingga menurunkan daya tahan udang terhadap penyakit dan meningkatkan risiko infeksi.
“Perubahan cuaca yang ekstrem dapat memperburuk kualitas air tambak, seperti peningkatan kadar amonia dan nitrit. Kondisi ini dapat menyebabkan stres pada udang dan membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit,” terang Luthfi.
Potensi gangguan kesehatan dan serangan penyakit
“Saat curah hujan tinggi, air hujan yang miskin mineral akan tercurah ke dalam kolam. Dan yang terjadi adalah berubahnya komposisi keseimbangan mineralnya,” kata Agus Suryadi, Technical manager Asia Aquascience.

Agus menambahkan, beberapa akibat yang terjadi dengan keadaan ini di antaranya metabolisme rutin seperti proses molting menjadi tidak sempurna. Hal itu disebabkan berkurangnya salah satu penyusun perkembangan kitin untuk tumbuhnya kulit udang dengan sempurna. Akibat lainnya adalah peluang infeksi WSSV menjadi lebih besar jika di kolam sudah terdapat kontaminasi virus tersebut.
Berdasarkan beberapa referensi, Agus menyebutkan bahwa kelenjar antena udang sebagai entri infeksi WSSV. Mengingat kelenjar antena merupakan organ penting yang berfungsi dalam mengatur tekanan dan keseimbangan osmotik ion pada udang, semakin tinggi frekuensi lalu-lintas ionik melalui jaringan tersebut, semakin tinggi juga peluang virus menginfeksi tubuh udang.
Sementara itu, Dany menerangkan bahwa hampir semua penyakit muncul saat ada perubahan iklim. WSSV meningkat saat musim hujan, sedangkan IMNV muncul jika cuaca sangat panas. Adapun vibriosis dan AHPND akan muncul setiap ada perubahan yang merubah ekosistem, sebagai sifatnya yang oportunistik.
Ahmad Arif, CEO PT Juara Biolife Solution, memberikan gambaran detil beberapa penyakit udang terkait perubahan iklim. Beberapa penyakit tersebut adalah WSSV, AHPND, IMNV, dan WFS.
Menurut Ahmad, WSSV (White Spot Syndrome Virus) ditandai dengan munculnya bintik putih pada kulit udang, lalu udang berhenti makan dan mati dalam waktu beberapa hari setelah infeksi. Virus WSSV dapat menyebar melalui air, lumpur, atau benda-benda yang terkontaminasi, termasuk peralatan tambak dan transportasi. Perubahan iklim, seperti hujan lebat atau banjir, dapat membawa virus ini dari tambak atau lingkungan lain yang terkontaminasi. Selain itu, udang yang sudah terinfeksi dapat menularkan virus ke udang lain melalui kontak langsung, terutama di tambak dengan populasi yang padat. Suhu tinggi akibat perubahan iklim juga mempercepat replikasi virus dalam tubuh udang dan meningkatkan risiko penyebaran.
AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus. Bakteri ini menghasilkan racun yang merusak hepatopankreas (organ pencernaan utama) udang. Bakteri Vibrio parahaemolyticus berkembang dalam lingkungan air yang tercemar dan bersuhu tinggi. Dengan suhu yang meningkat akibat perubahan iklim, bakteri ini berkembang biak lebih cepat dan menginfeksi udang. Bakteri ini juga dapat menyebar melalui pakan atau peralatan tambak yang terkontaminasi, terutama jika sanitasi tidak memadai. Bakteri menyebar dengan cepat dalam tambak, terutama ketika udang saling bersentuhan. Populasi yang padat dan kualitas air yang buruk memperparah penyebaran AHPND.
IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) adalah virus yang menyerang jaringan otot udang, menyebabkan jaringan otot menjadi putih dan lumpuh. IMNV menyebar melalui air dan lingkungan yang terkontaminasi. Perubahan iklim yang menyebabkan fluktuasi suhu dan salinitas mendukung perkembangan virus ini. Virus IMNV juga dapat menyebar melalui kontak dengan organisme laut lain yang terinfeksi.
Adapun WFS (White Feses Syndrome) adalah sindrom yang ditandai dengan kotoran putih pada udang, yang disebabkan oleh bakteri, parasit, atau perubahan lingkungan yang tidak mendukung sistem pencernaan udang. Perubahan suhu dan salinitas, yang sering terjadi akibat perubahan iklim, dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme patogen yang menyebabkan WFS. Kondisi tambak yang padat, kebersihan pakan yang buruk, dan sanitasi yang tidak terjaga meningkatkan risiko WFS.
Faktor kunci kesehatan udang
Kualitas air yang optimal dalam tambak merupakan faktor krusial dalam menjaga kesehatan dan produktivitas ikan. Kondisi cuaca yang tidak stabil dapat mengganggu keseimbangan ekosistem tambak, meningkatkan risiko penyakit pada udang, dan berujung pada kerugian bagi para pembudidaya.
“Oleh karena itu, pengelolaan kualitas air yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kelangsungan usaha budidaya,” ujar Wendy Santiadjinata, Teknisi Pembenihan udang dan Penyuluh Perikanan BRPBAPPP Maros.
Menurut Wendy, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola kualitas air kolam atau tambak. Langkah tersebut adalah: pengendalian suhu air, penambahan kincir, pengelolaan pakan, dan penggantian air.
Suhu air yang optimal sangat penting untuk kesehatan ikan. Untuk mengendalikan suhu air, petambak dapat menggunakan sistem peneduh seperti jaring atau terpal untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Petambak juga dapat menggunakan sistem sirkulasi air untuk menjaga kestabilan suhu air dan mencegah air menjadi terlalu panas.
Pemasangan kincir juga dapat membantu mendinginkan air dan meningkatkan kadar oksigen terlarut. Beikutnya, petambak perlu memonitor suhu air secara berkala dan melakukan penyesuaian pada sistem pengendalian suhu sesuai kebutuhan.
Kadar oksigen terlarut yang rendah dapat menyebabkan stres dan kematian pada ikan. Untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut, petambak dapat memasang kincir di dalam tambak. Kincir berfungsi untuk mengaduk air dan memasukkan oksigen ke dalam air.
Petambak juga dapat menggunakan tanaman air yang menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Penting untuk memastikan aerasi yang cukup, terutama pada saat cuaca panas atau hujan lebat. Pemasangan kincir yang memadai dan pemeliharaan tanaman air secara teratur dapat membantu menjaga kadar oksigen terlarut yang optimal.
Selanjutnya, pengelolaan pakan. Pengelolaan pakan yang baik dapat meminimalkan produksi amonia dan nitrit di dalam tambak. Hindari pemberian pakan berlebih karena sisa pakan yang membusuk meningkatkan kadar amonia. Pastikan untuk memberikan pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Petambak juga dapat menggunakan pakan yang mengandung probiotik untuk meningkatkan kesehatan pencernaan ikan dan mengurangi produksi amonia. Pemberian pakan yang terukur dan sesuai dengan kebutuhan ikan dapat membantu menjaga kualitas air dan mencegah penyebaran penyakit.
Terakhir, penggantian air. Penggantian air secara berkala dapat membantu meminimalkan penumpukan amonia dan nitrit serta memastikan kestabilan kualitas air. Frekuensi penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi tambak dan cuaca. Saat hujan lebat, penggantian air perlu dilakukan lebih sering untuk mengurangi penumpukan amonia dan nitrit yang dibawa oleh air hujan.
“Pastikan menggunakan sumber air yang bersih dan bebas dari polutan untuk penggantian air. Sistem penggantian air yang terencana dan terkontrol dapat membantu menjaga kualitas air tambak dan mencegah penyebaran penyakit,” papar Wendy.
Ragam strategi dalam mengelola kesehatan udang
“Teknologi paling maju dalam budidaya udang adalah indoor Recirculating Aquaculture System. Sistem ini meminimalkan dampak langsung dari perubahan cuaca dan mengurangi kehadiran patogen,” ujar Dany.
Sementara Ilham menyampaikan bahwa strategi terbaru mencakup penggunaan sistem monitoring otomatis untuk memantau kualitas air secara real time, penerapan vaksinasi dan probiotik untuk meningkatkan daya tahan udang, serta pengembangan tambak berkelanjutan dengan infrastruktur yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Selain itu, penggunaan biosekuriti yang lebih ketat dan pembaruan teknologi pengolahan air dengan sistem filtrasi yang lebih canggih dapat membantu menjaga kesehatan udang dalam jangka panjang. “Edukasi dan pelatihan juga penting agar petambak dapat mengambil keputusan yang tepat berdasarkan perubahan kondisi lingkungan,” terangnya.
Adapun Luthfi membagikan empat strategi kelola kesehatan udang. Pertama, sistem klaster kawasan tambak udang yang terintegrasi. Langkah ini dilakukan dengan mengelompokkan tambak dalam satu kawasan untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan. Sistem ini memungkinkan penerapan praktik budidaya yang seragam dan efisien, serta meminimalkan risiko penyebaran penyakit.
Kedua, teknologi alat deteksi kualitas air dengan sensor dan perangkat untuk memantau kondisi tambak secara real time. Teknologi ini dapat mengukur parameter penting seperti suhu, pH, salinitas, dan kadar oksigen, sehingga petambak dapat segera mengambil tindakan jika ada perubahan yang signifikan.
Ketiga, penggunaan probiotik dan bioflok. Penggunaan probiotik untuk meningkatkan kesehatan udang dan mengurangi patogen dalam air. Sementara sistem bioflok juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas air dan menyediakan sumber nutrisi tambahan bagi udang. Keempat, penerapan sistem RAS (Recirculating Aquaculture System), yang memungkinkan pemutusan aliran infeksi penyakit lewat filtrasi yang ketat sehingga penggunaan air terbatas dan aman.
Tak ketinggalan, Wendy pun memberikan pendapatnya. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka peluang baru dalam industri perikanan, khususnya dalam budidaya tambak. Penerapan teknologi monitoring cuaca dan kualitas air memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas kondisi tambak dan meningkatkan produktivitas. Sistem monitoring yang canggih memungkinkan petambak untuk memantau faktor-faktor kunci yang memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup komoditas budidaya, seperti suhu air, kadar oksigen terlarut, dan tingkat salinitas.
“Data yang diperoleh dari sistem monitoring membantu petambak dalam mengambil keputusan yang tepat untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan efisiensi budidaya,” pungkas Wendy. (RA/Adit/Resti)

