Siasati Dampak Perubahan Iklim di Tambak

Setelah melewati musim kemarau yang panjang, beberapa wilayah di Indonesia mulai disambangi hujan. Apa dampaknya bagi tambak udang?

Perubahan iklim global menyebabkan peningkatan suhu air laut, perubahan pola curah hujan, dan peningkatan frekuensi cuaca secara ekstrem. Di Indonesia, hal ini berdampak pada penurunan produktivitas tambak udang karena perubahan suhu dan salinitas air yang tidak stabil. Selain itu, perubahan iklim juga mempengaruhi kesehatan udang, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit. Demikian ungkap Rizki Fajar Kurniawan, Technical Sales Representatif De Heus Indonesia.

Widyatmoko, Praktisi Akuakultur, mengungkapkan bahwa dampak iklim global dalam beberapa waktu ini telah terjadi pada beberapa wilayah daerah pantai tertentu. Beberapa wilayah pusat produksi udang di Thailand dan Vietnam telah mulai merasakan dampaknya.

“Gambaran yang hampir sama terjadi pada beberapa pantai di Indonesia. Turunnya curah hujan mengakibatkan suhu udara semakin tinggi. Udara jadi semakin panas dan suhu udara semakin tinggi. Akibatnya, suhu air dalam tambak jadi naik, bahkan hingga 35—36 oC. Kadar oksigen juga menipis karena sediaan oksigen semakin terbatas. Sementara kebutuhan oksigen semakin vital karena keterbatasan sediaan semakin sering terjadi,” tambah Widyatmoko.

“Perubahan iklim menjadi masalah yang paling menarik, karena merupakan proses yang panjang dengan kompleksitas tinggi. Akibatnya, dampaknya sulit diprediksi dengan tepat dan memengaruhi lingkungan alam,” ujar Maono Van Daswan, Praktisi dan Konsultan Budidaya Udang Manunggal Shrimp Management.
Menurut Maono, Indonesia sudah pasti akan terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim. Berdasarkan pengalaman, perubahan iklim untuk budidaya menunjukkan terjadinya fluktuasi suhu perairan yang tinggi. Adapun dampak lainnya terhadap kualitas air adalah kandungan oksigen (DO), kandungan bahan organik terlarut, serta terjadinya kelimpahan alga beracun.

Memahami dampak spesifik perubahan iklim

Menurut Yuni Puji Hastuti, Dosen Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), dampak spesifik dari peningkatan suhu dan curah hujan yang tidak teratur akan menyebabkan peningkatan kelarutan gas dalam lingkungan perairan. Ketika suhu meningkat, dua di antara gas yang berbahaya—yaitu kelarutan ammonia dan H2S—akan meningkat. Tentunya, hal ini berbahaya untuk keseimbangan lingkungan.

“Di tambah lagi dengan curah hujan yang tidak menentu. Curah hujan tinggi dapat menyebabkan perubahan tingkat keasaman dan sampai pada perubahan nilai pH atau derajat keasaman dalam air. Seiring dengan perubahan pH yang semakin asam, ditambah kelarutan gas H2S semakin tinggi, daya toksisitasnya dalam air akan meningkatkan. H2S sendiri merupakan senyawa gas hidrogen sulfida (H2S) yang sangat beracun, mudah terbakar, dan menyebabkan korosi,” papar Yuni, yang juga menjabat Asisten Bidang Intelectual Property & Komersialisasi Science Techno Park-IPB University dan Expert di PT Panca Sukses Lestari.

Lebih jauh, Yuni juga menjelaskan bagaimana perubahan iklim global ini terjadi. Menurutnya, perubahan iklim global merupakan suatu fenomena perubahan distribusi panas dan curah hujan pada waktu panjang di permukaan bumi. Perubahan iklim global disebabkan oleh timbulnya Gas Rumah Kaca (GRK) yang besar dari aktivitas manusia, yang menutupi atmosfer bumi, menjebak energi matahari dalam bumi, dan meningkatkan suhu bumi. Tentunya, hal ini dapat berdampak langsung dengan suhu permukaan dan suhu air laut. Terjadilah perubahan dan dinamika berbagai parameter air, baik secara fisika (suhu, kecerahan, kelarutan partikel dan kekeruhan), kimia (penurunan kelarutan gas oksigen, peningkatan kelarutan gas ammonia, dan senyawa gas lain) dan biologi (bakteri patogen, non-patogen, plankton, cendawan) beserta dinamika kelimpahan dan keragamannya.

Perubahan iklim global yang secara langsung berpengaruh terhadap kondisi permukaan bumi juga berpengaruh secara langsung terhadap kualitas air laut dan kualitas air tambak. Tingginya dinamika perubahan lingkungan dan pengaruhnya terhadap kelarutan gas dalam perairan dapat berpengaruh terhadap kualitas air secara keseluruhan di lingkungan tambak. Dinamika parameter lingkungan ini secara langsung dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan daya tahan tubuh biota budidaya (udang). Adapun secara tidak langsung berpengaruh terhadap biotik lainnya seperti bakteri, plankton dan organisme lainnya. Proses fotosintesis dapat terganggu dengan dinamika suhu-kecerahan yang tidak menentu.

“Hal tersebut juga akan berdampak pada kurang sesuainya jalur rantai makanan yang terjadi dalam suatu ekosistem dan produktivitas tambak,” terang Yuni.
Hal senada juga disampakan Maono. Menurutnya, dampak peningkatan suhu dan curah hujan yang tidak teratur adalah terjadinya fluktuasi suhu itu sendiri, terjadinya fluktuasi pH perairan yang sangat tinggi, dan terjadinya fluktuasi DO. Akibatnya, terjadi peningkatan toksisitas dari proses dekomposisi bahan organik. Hal ini sangat berbahaya, jika manajemen kualitas air buruk, manajemen dasar tambak buruk, dan manajemen pakan juga buruk. Adanya curah hujan yang tidak teratur dapat berdampak pada perubahan suhu perairan, yang tentunya berdampak terhadap fluktuasi suhu, pH, dan DO. Kesimbangan lingkungan juga terganggu dan memicu crash plankton yang tentunya berakibat fatal terhadap keseimbangan ekosistem tambak.

“Dengan kondisi seperti ini, otomatis udang akan terganggu, lemah, mudah terserang penyakit, dan muncul mortalitas. Tentu saja akan berdampak terhadap produktifitas,” terang Maono.

Tak hanya berpengaruh pada kesehatan udang, cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan siklon tropis dapat merusak infrastruktur tambak, seperti tanggul dan saluran distribusi air. Menurut Rizki, banjir dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air tambak oleh bahan kimia. Limbah dari luar kolam dapat masuk ke kolam dari rembesnya tanggul. Sementara kekeringan dapat membuat peralatan tambak lebih cepat masa pakainya.

Adapun musim panas yang hebat membuat kondisi ekosistem tidak stabil. Sebagai contoh, proses nitrifikasi akan terjadi dengan cepat. Kondisi tersebut membuat limbah N di perairan cepat menurun. BGA yang tidak menguntungkan memiliki kemampuan mengambil N bebas dari udara sehingga terjadi blooming alga secara cepat. Sementara badai siklon tropis dapat menghancurkan tambak dan mengganggu ekosistem perairan tambak.

Siasati dampak iklim yang tidak menguntungkan

Untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang ekstrem, Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo menyarankan beberapa hal. Pertama, kualitas air awal yang baik. Jika kualitas air awal tambak sudah sangat baik, tambak akan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Kedua, sistem biosekuriti yang ketat. Penerapan biosekuriti yang ketat dapat mencegah masuknya patogen dari luar.

Ketiga, penggunaan probiotik. Probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam air dan meningkatkan daya tahan udang. Keempat, pakan berkualitas. Pakan yang bergizi akan meningkatkan daya tahan tubuh udang. Tidak hanya pakan berkualitas, pemberian vitamin juga dapat menjaga kesehatan udang.
Kelima, manajemen stres. Usaha untuk mengurangi stres pada udang seperti menghindari perubahan suhu yang drastis dan kepadatan yang terlalu tinggi. Hal ini juga dapat meningkatkan ketahanan udang terhadap penyakit. Menurut pangalaman Edy, penebaran benur maksimal untuk kolam kotak hanya 150 ekor/m2, sedangkan kolam bundar 200 ekor/m2. Keenam, keberuntungan.

“Terkadang, keberuntungan juga berperan dalam keberhasilan budidaya,” ujar Edy.
Selain beberapa hal di atas, Edy menyarankan agar petambak udang melakukan pemantauan kualitas air secara rutin dan berkala untuk mendeteksi perubahan dini. Petambak juga perlu memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan informasi cuaca terkini dan mengambil tindakan pencegahan. Sistem aerasi yang memadai juga berguna untuk menjaga kadar oksigen terlarut dalam air agar tetap optimal.

Senada dengan Edy, Rizki juga melihat perlunya pengelolaan air baku yang lebih baik. Hal ini dilakukan dengan membuat tandon rekondisi, yang membuat kondisi air tandon hampir menyerupai kolam. Tidak hanya menyegarkan air baru, langkah ini juga meminimalkan guncangan ekosistem kolam tambak. Begitu juga dengan penggunaan teknologi pemantauan kualitas air dan sistem otomatisasi untuk mengontrol kondisi tambak. Pada masa perubahan iklim yang paling dicermati adalah perubahan dan dapat disiasati dengan pengukuran yang semutakhir mungkin (real time).

Rizki menambahkan perlunya diversifikasi usaha, yaitu dengan menggabungkan budidaya udang dengan komoditas lain untuk mengurangi risiko ekonomi.

“Budidaya udang memang memiliki tagline: high risk high return. Dari sini, kita dapat melihat pentingnya buffer modal atau operasional untuk keberlajutan. Dari dulu, banyak peneliti menggaungkan IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture). Hal ini harusnya dapat diterapkan dengan membuat kolam-kolam budidaya, kolam tandon, atau kolam IPAL mampu menampung jalannya sistem rantai makanan secara buatan dari budidaya udang itu sendiri. Untuk model dan sistemnya agar peneliti yang mencarinya,” tutur Rizki.

Tak jauh berbeda, Yuni mengutarakan strategi adaptasi yang dapat diterapkan oleh petambak udang, yaitu dengan meningkatkan infrastruktur tambak seperti penguatan tanggul untuk melindungi tambak dari luapan air laut. Selain itu, pengelolaan kualitas air yang lebih baik serta penyesuaian siklus dan jadwal budidaya dapat dilakukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim di Indonesia. Petambak perlu menyesuaikan siklus budidaya udang sesuai dengan perubahan pola cuaca. Rotasi budidaya juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko penumpukan patogen dan memperbaiki kualitas tanah tambak udang.

Adapun Widyatmoko berpendapat bahwa untuk menyiasati dan mengurangi dampak negatif dari heat shock, para teknisi perlu mengurangi tekanan berlebih pada kondisi lingkungan, misalnya dengan mengurangi dampak buangan sisa metabolisme yang dihasikan oleh udang. Pakan harus diberikan secukupnya sehingga tidak berlebih. Pakan diberi atraktan tambahan agar lebih menarik bagi udang dan terkadang disubstitusi dengan pakan segar.

“Kualitas air harus tetap dijaga agar oksigen tetap tinggi agar udang tetap sehat dan sisa metabolisme dapat dibuang segera dari tambak. Pada musim heat pressure ini sebaiknya tekanan terhadap produktifitas tidak terlalu tinggi. Produktifitas udang sebaiknya dipertahankan moderat saja,” pungkas Widyatmoko. (RA/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.