INVE Gelar Seminar Penyakit Udang

Komitmen dukung budidaya udang berkelanjutan, Inve Aquacultur gelar seminar ke para petambak di Banyuwangi

PT Inve Aquacultur berkomitmen mendukung kemajuan dan produktivitas budidaya udang menggelar seminar bertajuk “Pencegahan Penyakit di Tambak Udang” di Jala Shrimp Hub, Banyuwangi (30/5). Kegiatan ini dihadiri oleh pelaku usaha hatchery (pembenihan) udang, dan para petambak.

Menurut Area Manager Inve Aquacultur, Ester Rumantiningsih,  tujuan acara ini meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan serangan berbagai penyakit udang. Mengingat penyakit yang masih menghantui proses budidaya udang dalam negeri.

Seminar kali ini menghadirkan narasumber dari Inve Aquacultur Thailand yakni  Arfindee Abru, Technichal Inve Thailand, yang juga merupakan seorang praktisi, tentu saja membawa wawasan baru, namun tetap berfokus pada masalah pertambakan udang terutama di Banyuwangi, Jawa Timur.

Apalagi Thailand sudah lebih dulu memiliki pengalaman terutama paska merebaknya masalah penyakit udang dari virus seperti IMNV (Infectious Myonecrosis) atau Myo, EMS (Early Mortality Syndrome) maupun AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), maka dari itu pada seminar kali ini juga membahas strategi dan sistem yang diperbaiki petambak di Thailand dalam menanggulangi masalah tersebut.

Lebih lanjut, Arfindee menjelaskan ada 2 (dua) jenis penyakit, yaitu virus dan bakteri. Kedepannya mungkin akan ada penyakit baru seperti EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) yang sekarang sedang melanda beberapa negara seperti Thailand dan Vietnam.

Kemungkinan besar juga akan menyerang Indonesia, kata Arfindee karena penyakit ini sudah ada di lingkungan, hanya menunggu waktu untuk menyebar. Selain itu, penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti AHPND juga sedang menjadi masalah saat ini.

Hal ini menjadikan penyakit udang lebih kompleks, karena bisa muncul 2 (dua) penyakit di saat yang bersamaan. Contohnya  udang bisa terkena penyakit AHPND dan virus white spot atau virus taura.

“Kedepannya mungkin Indonesia akan mirip seperti Thailand atau Vietnam yang sekarang sedang melakukan tebar dengan densitas yang cukup tinggi, menggunakan kolam HDPE on ground seperti kolam bundar yang sekarang sedang digemari oleh beberapa petambak, dan mulai ada sistem two phase atau multi phase dengan menggunakan less nursery supaya mengefisiensikan produktivitas di lapangan,” ungkap Arfindee.

Arfindee melanjutkan, tapi di sisi lain penyakitnya akan semakin susah. Karena kemungkinan besar akan menemukan masalah lain dari penyakit yang di masa depan akan menyebar. Seperti EHP dan penyakit vibrio jenis lain atau vibrio sendiri akan merusak lingkungan dan mempersulit pembudidaya di Indonesia.

Udang akan terkena bakteri dan akan membuat kondisinya melemah, pada saat itu udang juga terjangkit virus. Ini menyebabkan udang mengalami penyakit yang kompleks.

Ester menambahkan, semoga seminar ini dapat mengedukasi petambak terkait apa saja yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang untuk mencegah penyakit masuk. Dengan harapan petambak dapat meraih produktivitas yang maksimal.    

Mudah-mudahan informasi pada seminar ini bermanfaat untuk para petambak terus belajar dan untuk adaptasi di lapangan, supaya masalah atau resiko di lapangan berkurang,”pungkasnya.

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.