Gudang Beku Perkuat Industri Rakyat

Industri gudang beku, ujung tombak ekspor udang ke mancanegara

Pemasaran ekspor udang ke mancanegara tidak terlepas dari peran industri penyedia jasa gudang beku (cold storage). Dengan demikian, peningkatan volume ekspor udang Indonesia juga harus seiring dengan ketersediaan industri gudang beku.

Gudang beku berperan dalam pengumpulan produk perikanan dan udang hasil panen. Kegiatan ini juga berperan sebagai bentuk hilirisasi kegiatan tambak dan perikanan tangkap. Pembagunan gudang beku bertujuan untuk menampung produk udang dan ikan sebelum dilakukan pengiriman.

Hal ini untuk mencegah kerusakan produk lebih lanjut sebelum kegiatan transportasi. Tidak hanya itu, keberadaan gudang beku di sentra-sentra udang dan ikan akan menciptakan efek ganda, di antaranya penyediaan lapangan kerja. Di samping itu, dengan kehadiran gudang beku, hal ini akan meningkatkan skala usaha nelayan dan petambak.

Kegiatan gudang beku, perlu dukungan pemerintah

Berdasarkan pengakuan Bagyo Ariyantono, Technical Support Manager Jawa Bali, PT Newhope Aquafeed Indonesia, pemerintah mendukung dan mengayomi untuk ekspor udang di beberapa negara. Diperlukan kebijakan pemerintah yang mengagendakan pameran produk perikanan dengan mengundang negara negara yang dituju.

Misalnya, dengan sering mengadakan pameran minimal per kuartal dalam setahun. “Otomatis negara kita yang akan dituju kalau ada kegiatan-kegiatan dunia yang berdampak pada cold storage Indonesia,” lanjut Bagyo.

Tantangan industri gudang beku

Di lain pihak, Dedy Safari, Commercial and Technical Manager, Benchmark Genetics, mengungkapkan, perusahaan cold storage mempunyai prospek yang baik dalam mendukung kebijakan pemerintah.

“Perlu adanya usaha lebih keras dalam mencari pasar-pasar ekspor baru produk udang sehingga produk udang dari tambak bisa seluruhnya terserap oleh perusahaan-perusahaan cold storage,” papar Dedy.

Selain itu, diperlukan strategi dalam peningkatan mutu dan jenis produk hasil olahan udang perusahaan cold storage, sehingga produk bisa lebih diminati pasar.

Kendala transportasi ekspor udang

Beberapa kendala dalam ekspor produk perikanan, terutama udang ke mancanegara di antaranya adalah transportasi. Terlebih lagi di masa pandemi, kendala transportasi menjadi lebih terasa. Sehingga, ketika masa awal pandemi, banyak pasokan udang yang tertahan di gudang beku karena kendala transportasi.

Menurut Bagyo, prospek pemasaran hasil udang waktu pandemi untuk Indonesia masih stabil harganya, terutama ukuran besar yaitu 25 – 30 gram ke atas (harga Rp. 85.000 – Rp. 96.000). “Yang menjadi kendala ketika ekspor adalah ketersediaan kontainer yang terbatas,” ungkap Bagyo.

Perusahaan cold storage perlu advokasi petambak

Menurut Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV BIO Indonesia dan PT Invendo Akuakultur Konsultan, berharap, perusahaan cold storage dapat menyiapkan strategi dalam menghadapi tantangan yang ada, misalnya ikut membantu advokasi petambak memproduksi udang yang baik sesuai permintaan pasar internasional/domestik.

Selain itu, kata Nadjib, pihak perusahaan gudang beku terbuka dalam menginformasikan analisis harga/pasar udang secara berkala kepada seluruh stakeholder untuk menciptakan kekompakan. Ia juga berharap agar perusahaan dapat meningkatkan kemampuan lobi di pasar internasional.

Menurut Edison Saade, Wakil Ketua 1 Masyarakat Akuakultur Indonesia, Universitas Hasanuddin, Makassar, perusahaan cold storage memegang peranan yang sangat penting dalam pemasaran produk perikanan. Produk perikanan cepat membusuk sehingga harus disimpan di dalam peti beku agar dapat tahan lama.

Cold storage berperan sebagai gudang penyimpanan sebelum produk perikanan dipasarkan. “Jadi mirip fungsinya dengan gudang beras di sektor pertanian,” ungkap Edison.

Tambahnya, prospek bisnis cold storage sangat cerah. Sehingga, cold storage harus tersedia pada setiap kawasan perikanan di seluruh Indonesia, misalnya setiap satu kampung akuakultur memiliki sebuah cold storage.

Gudang beku dapat dikelola BUMD

Masih menurut Edison, tantangan industri cold storage adalah pasokan produk perikanan yang akan disimpan dalam cold storage tidak berkesinambungan. Sementara itu, cold storage membutuhkan pasokan listrik yang tidak sedikit serta dukungan SDM. Kadang manajemen dan pengelolaan cold storage tidak siap menghadapi masalah tersebut.

Strateginya adalah semua produk perikanan disimpan sementara di cold storage sebelum dipasarkan baik produk akuakultur maupun produk perikanan tangkap. “Bila produk perikanan masih kurang, produk peternakan dan pertanian pun bisa menggunakan cold storage. Jadi idealnya, setiap kampung memiliki cold storage yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMD),” papar Edison.

Gudang beku sebagai tempat olahan

Edison melanjutkan, setiap cold storage di kawasan perikanan di kampung di samping digunakan sebagai gudang penyimpanan, diharapkan juga sebagai tempat pengolahan dan pengemasan produk perikanan sehingga yang siap ekspor. “Manfaatnya adalah meningkatkan peran tenaga kerja di kampung, meminimilisasi limbah hasil perikanan masuk kota,” paparnya.

Di samping itu, kegiatan yang dilakukan di kampung dapat mengurangi laju penurunan kualitas nutrisi udang/ikan, dan meningkatkan efisiensi penanganan bahan ekspor serta mengurangi urbanisasi.

Edison menuturkan, Indonesia sudah terbiasa menghadapi persaingan pemasaran udang global. Salah satu hal yang terpenting dalam menghadapi negara produsen udang dunia adalah tetap menjaga kualitas mutu produk udang nasional. Masyarakat penikmat udang dunia hanya menginginkan udang bermutu tinggi dengan tingkat kesegaran yang tinggi dan kandungan nutrisi yang masih komplit dan maksimal.

Kualitas dan kuantitas makro dan mikro nutrient yang dikandung udang akan menentukan cita rasa udang. Bila hal cita rasa udang bisa dioptimalkan, masyarakat penikmat udang dunia akan tetap mencari udang produk Indonesia.

Fokus pada kualitas produk

Dalam persaingan pemasaran udang global, sebaiknya menghindari pemikiran bagaimana menjegal produk udang negara lain memasuki suatu negara tujuan ekspor. “Terutama bila negara tujuan ekspor yang sama dengan tujuan ekspor Indonesia,” tutur Edison.

Menurutnya, negara tujuan ekspor sendiri yang berhak menentukan udang mana yang mereka sukai. Sudah tentu, mereka membeli udang yang bermutu tinggi. Oleh karena itu, Indonesia fokus pada menghasilkan udang kuantitas dan kualitas yang tinggi.

“Insya Allah produk udang kita yang dilirik konsumen dunia.  Namun demikian, ada beberapa faktor lain yang menentukan volume ekspor udang yang tidak boleh diabaikan,” ungkap Edison.

Strategi menghadapi tantangan saat ini adalah mengoptimalkan produktivitas udang serta tetap menjaga kuantitas (jumlah setiap nutrien) dan kualitas (jenis nurien lengkap) makro dan mikro nutrient.

Optimalisasi produk usaha akuakultur udang melalui budidaya di tambak dan kolam (beton, plastik/terpal, karamba) terus ditingkatkan. Disamping itu, perlu meningkatkan jumlah investor  agar mau berinvestasi di bidang akuakultur.

Tingkatkan pemasaran udang di luar negeri

Pasokan udang dunia masih lebih rendah dibandingkan dengan permintaannya. Oleh karena itu, pelaku akuakultur Indonesia harus bersatu padu meningkatkan kuantitas dan kualitas produk udang nasional, termasuk bersatu menyehatkan jaringan pemasarannya. Jaringan pemasaran luar negeri yang sehat akan meningkatkan penghasilan negara.

Edison melanjutkan, pemerintah harus mengayomi pemasaran udang nasional dengan memberikan jaminan dan kemudahan pemasaran, merintis dan memperkuat jaringan pemasaran yang sudah ada.

Kemudian, “mendorong atase perdagangan di kedutaan besar Indonesia di setiap negara tujuan ekspor serta orang Indonesia yang berdomisili di luar negeri untuk meningkatkan pemasaran udang di negara tempat tinggal/bertugas masing-masing,”pungkasnya. (noerhidajat/resti/adit).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.