Potensi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Windu pada Sistem Mina Padi Air Payau (Studi Kasus: Pilot Project Riset PANDU)

Potensi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Windu  pada Sistem Mina Padi Air Payau (Studi Kasus: Pilot Project Riset PANDU)

Oleh: Angkasa Putra, S.Tr.Pi., IPP., CPGAM (Research Assistant of PANDU Project)

Menindaklanjuti upaya pemanfaatan lahan tidur pada beberapa lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, maka dilakukan Riset PANDU, yakni Implementasi Budidaya Udang Windu pada Sistem Mina Padi Air Payau. Pilot project ini sebagai penerapan riset melalui optimalisasi metode tumpang sari pada lahan yang terintrusi air laut sehingga dijadikan kegiatan budidaya perikanan dan pertanian. Melalui program tersebut, diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatkan lahan marginal yang potensial secara nyata,
meminimalisir alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan meningkatkan produksi perikanan.

Profit Margin
Varietas padi yang digunakan adalah INPARI 34 Salin Agritan dan INPARI 35 Salin Agritan serta komoditas udang windu. Jumlah petakan PANDU yang diamati adalah 2 dari 6 petakan yaitu petak 1 dan petak 2. Luas petak 1 yaitu 2.300 m2 (1.610 m2 lahan padi dan 690 m2 lahan caren) sedangkan petak 2 seluas 1.200 m2 (840 m2 lahan padi dan 360 m2 lahan caren) dengan ketinggian air 50 cm. Perbaikan atau intervensi manajemen terus dilakukan sebagai upaya meningkatkan produktivitas PANDU. Keberhasilan perbaikan berdasarkan intervensi yang dilakukan dapat dilihat pada aspek ekonominya. Perhitungan nilai ekonomi tahun 2019 saat dilaksanakan riset ini menggunakan asumsi harga udang windu size 63 dan 100 pada bulan Mei 2019, masing-masing Rp90.000,00/kg dan Rp75.000,00/kg serta harga gabah Rp4.500,00/kg. Biomassa yang didapatkan, yaitu 0,27 kg (petak 1) dan 8,32 kg (petak 2) dengan hasil gabah pada masing-masing petak adalah 1.300 kg (petak 1) dan 1.145 kg (petak 2). Sehingga hasil yang didapatkan senilai Rp5.870.250,00 (petak 1) dan Rp5.901.300,00 (petak 2). Sebelumnya di periode pertama tahun 2018, total biomassa udang yang didapatkan, masing-masing 0 kg (SR 0%) dan hasil gabah yaitu 1.200 kg (petak 1) dan 600 kg (petak 2). Harga gabah/kg di tahun 2018 lebih rendah yaitu Rp4.000,00/kg, karena produksi padi pada kegiatan PANDU dilaksanakan di musim kemarau. Sehingga hasil yang didapatkan senilai Rp4.800.000,00 (petak 1) dan Rp2.400.000,00 (petak 2), dapat disimpulkan bahwa selisih keuntungan dari sebelum intervensi dan setelah dilakukan intervensi adalah Rp1.070.250,00 (petak 1) dan Rp3.501.300,00 (petak 2) atau meningkat sebesar Rp4.571.500,00 dari Rp7.200.000,00 (2018) menjadi Rp11.771.550,00 (2019) (Gambar 1).

Potensi Kelayakan Usaha
Adapun perbandingan perhitungan potensi kelayakan usaha pada lokasi Riset PANDU disajikan pada Gambar 2. Perbandingan tersebut meliputi perhitungan keuntungan monokultur padi, budidaya udang dan konsep PANDU. Perhitungan nilai produktivitas berdasarkan acuan dari hasil tertinggi yang didapatkan pada hasil panen padi dan udang.

Monokultur Padi
Hasil panen padi dengan nilai tertinggi didapatkan di petak 1 yaitu 1.300 kg pada luasan 1.610 m2 dengan nilai produktivitas 0,81 kg/m2. Jika dikonversi dalam luasan PANDU 9.200 m2 dengan asumsi harga gabah Rp4.500,00/kg, maka hasil yang didapatkan sebesar 7,4 ton atau senilai Rp33.428.571,00.

Budidaya Udang
Hasil panen udang dengan nilai biomassa tertinggi didapatkan pada petak 2 yaitu 8,32 kg pada luasan 360 m2 dengan nilai produktivitas 0,02 kg/m2. Jika dikonversi dalam luasan PANDU 9.200 m2 dengan asumsi harga udang size 63 sebesar Rp90.000,00/kg, maka hasil yang didapatkan sebesar 213 kg atau senilai Rp19.136.000,00.

Konsep PANDU
Nilai produktivitas padi (0,81 kg/m2), jika dikonversi dalam luasan lahan padi 6.440 m2 dengan asumsi harga gabah yang sama, maka hasil yang didapatkan sebesar 5,2 ton atau senilai Rp23.473.800,00 sedangkan nilai produktivitas udang (0,02 kg/m2), jika dikonversi dalam luasan caren 2.760 m2 dengan asumsi harga udang yang sama, maka hasil yang didapatkan sebesar 55,2 kg atau senilai Rp4.968.000,00. Jadi, total yang didapatkan sebesar Rp28.441.800,00.

Berdasarkan gambar di atas, potensi usaha monokultur padi lebih menguntungkan dibandingkan budidaya udang dan konsep PANDU. Adanya selisih antara monokultur padi sebesar Rp14.292.571,00 pada budidaya udang atau Rp4.287.791,00 pada konsep PANDU. Sehingga, untuk mendapatkan nilai kelayakan pada usaha budidaya udang windu di lokasi Riset PANDU atau untuk mendapatkan nilai yang lebih menguntungkan dari monokultur padi, maka nilai biomassa yang harus didapatkan minimal 14,8-27,9 kg. Biomassa 14,8 kg pada luasan 360 m2 atau 27,9 kg pada luasan 690 m2, dengan demikian nilai produktivitas yang didapatkan sebesar 0,04 kg/m2. Jika dikonversi dalam luasan PANDU 9.200 m2 dengan asumsi harga udang yang sama, maka hasil yang didapatkan sebesar 378,2 kg atau 372 kg. Nilai keuntungan yang didapatkan sebesar Rp34.040.000,00 atau Rp33.480.000,00, dengan selisih keuntungan pada monokultur padi sebesar Rp611.429,00 atau Rp51.429,00.

Analisis Finansial
Analisis finansial pada Program Riset PANDU di tahun 2019, khususnya petak 1 dan 2 dapat dilihat pada tabel berikut.

Total biaya produksi Rp11.268.795,00, didapatkan dari jumlah biaya tetap Rp6.474.333,00 dan biaya tidak tetap Rp4.792.462,00. Laba bersih yang diterima selama masa pemeliharaan sebesar Rp502.755,00. Nilai R/C Ratio adalah 1,04 berarti setiap Rp100,00 biaya yang dikeluarkan, maka diperoleh penerimaan
sebesar Rp104,00. Perhitungan yang diperoleh dari BEP unit (padi) sebesar 2.549 kg dan BEP harga Rp10.973.446,00. Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan PANDU akan mengalami titik impas (tidak untung dan tidak rugi) pada penjualan padi sebanyak 2.549 kg dengan harga jual Rp4.305,00/kg. Hasil perhitungan PP diperoleh angka 3,1. Jadi, jangka waktu untuk dapat mengembalikan biaya investasi selama 3,1 tahun atau sama dengan 37 bulan. Perhitungan ROI yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam Rp100,00 modal yang diinvestasikan akan menghasilkan keuntungan sebesar 6,2%.

Pustaka:
Putra, A. 2019. Peningkatan Produktivitas Mina Padi Air Payau dan Udang Windu (PANDU) di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Sulawesi Selatan. KIPA Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. 73 pg.

Putra, A., Ilham, Hapsari, F., Sahabuddin, Aini, S., Larasati, R. F., Ramadhanty, N. R., Septiningsih, E., Suwoyo, H. S., Suriadin, H., Sahrijanna, A., Hendarajat, E. A., Nawang, A. 2022. Improving Productivity of PANDU (Integrated Rice and Shrimp Farming System) towards Sustainable Aquaculture of Indonesia. The International Journal of Business Management and Technology. 6 (1) : 139-147.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.