Berhasil kembangkan varietas unggul udang jenis vaname, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, yakin bahwa Indonesia bisa menjadi juara di sektor budidaya udang. Tak hanya itu, ia pun optimis bahwa dengan luasan yang dimiliki sebagai negara maritim, Indonesia mampu menguasai pasar udang dunia.
Hal tersebut disampaikan Sang Menteri saat konferensi pers beberapa waktu lalu di hadapan awak media setelah peluncuran Program Induk Udang Unggul Vaname Nusa Dewa di Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangsem, Bali. Nusa Dewa sendiri merupakan akronim dari Nusantara Sakti Dewata, yang menunjukkan induk udang unggul ini berasal dari Pulau Dewata.

Jalan panjang mengukir sejarah
Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun 2022 lalu, Peluncuran Program Induk Unggul Udang unggul Vaname Nusa Dewa menjadi peristiwa yang sangat penting bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda yang sudah 94 tahun, kemudian KKP baru 23 tahun. Jadi, KKP betul-betul masih muda, yang masih lincah dan sudah mampu menciptakan sejarah membuat indukan udang vaname,” ujar Sakti.
Saat menjelaskan program, pihak BPIU2K Karangasem menjelaskan kepada Menteri KKP bahwa tujuan pengadaan program ini yaitu untuk menghasilkan sumberdaya genetik udang vaname yang adaptif, sesuai dengan kondisi lokal Indonesia. Harapannya, Indonesia bisa mencapai kemandirian udang vaname secara nasional.
Tak main-main, untuk mewujudkan harapan tersebut, KKP menggandeng dua ahli pemuliaan genetika di bidang perikanan, yaitu Alimuddin dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Asep Anang dari Universitas Padjajaran (Unpad). Asep Anang juga seorang ahli genetika di perusahaan global pembenihan udang Shrimp Improvement System (SIS), yang berbasis di Hawaii dan Florida, Amerika Serikat.
Setelah mendengar testimoni dari para petambak yang telah mengikuti uji multilokasi, Sakti semakin yakin bahwa Indonesia sudah tidak perlu lagi impor induk dan menjadi juara dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Pasalnya, dari uji coba pembesaran yang dilakukan di Situbondo, Jawa Timur, diperoleh nilai SR antara 86%—95%. Sementara uji coba di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diperoleh SR antara 70%—80%.
“Saya kira, kalau penelitian ini terus dilakukan dan kemudian akan tumbuh investor yang bergerak di bidang indukan, Saya yakin luasan Indonesia sebagai negara maritim, Kita akan menguasai pasar udang dunia,” ujarnya penuh keyakinan.
Upaya menghasilkan induk unggul udang vaname memang menghabiskan waktu yang tidak singkat. Pada 2009, KKP pernah meminta impor induk udang vaname dihentikan. Hal tersebut disebabkan broodstock center milik pemerintah dinilai telah berhasil memproduksi induk udang vaname berkualitas, yaitu vaname nusantara I atau VN1. Penghentian impor ini juga diyakini akan meningkatkan permintaan induk udang nasional dan pada akhirnya meningkatkan swasembada induk udang.

Hanya saja seperti yang sudah diketahui, kualitas indukan VN1 dinilai masih sedikit dibawah indukan impor, yang biasa disebut F1. Sudah ada perbaikan untuk VN1. Namun, masih di bawah F1. Kita terus melakukan percepatan untuk perbaikan mutu kala itu.
Sementara Alimuddin, ahli genetika ikan dari IPB yang didapuk sebagai tenaga ahli pendamping broodstock Situbondo juga ikut buka suara. Menurutnya, penurunan kualitas indukan VN1 yang dihasilkan akibat produksi jumlah induk yang dipaksakan. Ia mencontohkan, hanya tersedia 100 pasang indukan yang berkualitas baik, sedangkan target produksi indukan harus 300 pasang. Akibatnya, para pengguna mengklaim hasilnya jelek.
“Belum lagi pemberian pakan di hatchery (pembenihan) kadang kurang, menambah turunnya kualitas PL yang dihasilkan,” tambahnya.
Pada 2017, BPIU2K Karangasem, Bali, telah mampu menghasilkan induk unggul udang vaname nusantara generasi ke-5 atau (VN-G5) melalui perbaikan breeding program. Seperti sudah diketahui, performa induk dan benih yang dihasilkan menunjukkan tren yang lebih baik. Survival rate (SR) benih yang awalnya hanya berada di kisaran 3%—5%, kini telah mencapai kisaran 30%—50%. Bahkan, induk dan benih yang dihasilkan telah bebas virus, terlihat respon dari para pembudidaya pengguna pun positif.
BPIU2K telah mendistribusikan 9,5 juta benih untuk memenuhi kebutuhan berbagai daerah seperti Bali, Madura, Sumbawa, Kendari, Papua, Makassar, dan Takalar. Bahkan, sudah ada permintaan ekspor dari Timor Leste. Adapun jumlah indukan yang telah terdistribusikan sebanyak 41.468 ekor untuk memenuhi kebutuhan panti benih di Situbondo, Probolinggo, Tuban, Cilacap, Jepara, Makassar, Gorontalo, dan Lampung.
Kemudian kualitas dari performa terkait pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, dan sifat adaptif terhadap lingkungan VN-G5 sudah bisa dikatakan sejajar dengan produk dari induk impor. Jika tren permintaan induk maupun benih meningkat di tingkat pengguna, artinya kualitas induk dan benih yang kita hasilkan sudah baik.
Pembenih dan pembudidaya pun diminta agar jeli menggunakan sumber induk dan benih. Pencegahan penggunaan induk yang bukan hasil breeding program pun dilakukan lewat pengawasan dan aturan. Untuk merangsang pemahaman pembenih dan pembudidaya, DJPB memberikan bantuan induk ke hatchery milik masyarakat dengan syarat menerapkan standar operasi prosedur (SOP) dengan baik secara konsisten. Di antara SOP tersebut yaitu ketepatan maturasi induk, penerapan biosekuriti yang ketat, serta penggunaan pakan dan obat-obatan.
Hal senada disampaikan Hasanuddin Atjo, Ketua Ispikani Sulteng. Menurutnya, penyakit udang di tambak bisa terjadi melalui tranformasi vertikal dan horisontal. Dengan begitu, keduanya harus mampu dieleminsai.
“Karena itu, induk udang harus dijamin sebagai induk specific phatogen free (SPF). Tentunya melalui pengujian laboratorium. Selanjutnya, dalam proses produksi benur, lingkungan harus memenuhi standar biosekuriti tinggi serta menggunakan nutrisi prima dan standar. Dalam proses pengemasan dan transportasi juga menjaga biosekuriti,” sarannya.
Sinergi pemerintah dan swasta bertaraf global
Selain dilakukan oleh pihak pemerintah, dalam hal ini DJPB KKP, upaya menghasilkan induk unggul dari dalam negeri juga telah dilakukan oleh pihak swasta. Salah satunya adalah PT Kona Bay Indonesia (KBI), yang merupakan perusahaan joint venture antara PT Suri Tani Pemuka dan Hendrix Genetics.
Dalam acara peresmian Pusat Pembesaran Induk Udang PT Kona Bay (broodstock multiplication center), Bali, yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, General Manager PT Kona Bay Indonesia, Ari Setiardhi, mengatakan bahwa KBI akan fokus meningkatkan pangsa pasar domestik dari 60% ke 70%. Jika saat ini permintaan pasar untuk indukan sebesar 120 ribu ekor per tahun, pihaknya menargetkan produksi sebanyak 80.000 ekor indukan per tahun di pusat pembesaran udang Tejakula, Buleleng, Bali.
Ari mengungkapkan bahwa sejak didirikan pada tahun 2021 hingga awal tahun 2023, KBI telah melakukan ekspor induk udang vaname sebanyak tiga kali dengan nilai total US$62.384. Adapun ekspor ketiga dilakukan ke Malaysia pada awal tahun 2023.
Chief Business Devolopment Office Management Hendrix Genetics, Rafael Jocubs Henri General Beeren, mengatakan bahwa pusat pembesaran induk udang vaname di Tejakula, Bali, diharapkan mampu memotong rantai distrubusi. Hal itu, terutama, pada kondisi pandemi yang menghambat proses distribusi bibit udang dari Hawai ke Indonesia.
”Seperti halnya kantor pusat kami yang terletak di Hawai, produk indukan yang kami hasilkan di Tejakula ini memiliki kualitas yang sama dengan indukan kami di sana,” ujar Rafael.
Tak hanya KBI, ternyata ada perusahaan produsen induk unggul vaname lokal yang produksi indukannya telah melanglang buana, yaitu Global Gen atau PT Bibit Unggul. Perusahaan ini terletak di Gangga, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Sejak 2008, Global Gen telah terakreditasi SPF oleh pemerintah dan OIE.
Di lokasi seluas 7,5 hektar, fasilitas Global Gen ini sepenuhnya bio-secure yang terdiri dari Nucleus Breeding Center (NBC) dan Pusat Perbanyakan Induk (BMC). Kapasitas produksi BMC Global Gen lebih dari 80.000 pasang per tahun. Adapun pasar ekspor indukan udang vanamenya meliputi China, India, Malaysia, dan telah mengantongi ijin ekspor ke negara lain di Asia dan Timur Tengah.
Di China, Global Gen telah memasarkan induk SPF-nya sejak 2009 dan menjadi satu dari sedikit perusahaan pemasok indukan SPF yang diberi ijin. Setiap tahun, jumlah impor indukan udang yang diijinkan dan dikendalikan oleh pemerintah China hanya 160.000 pasang.
Dalam program Naupli Center Vaname, DJPB KKP telah bekerja sama dengan Global Gen. Sebanyak 600 pasang induk udang vaname dari Global Gen dihibahkan kepada BBPBAP Jepara pada awal Maret 2022. Sementara pada awal Juni 2022, Global Gen menghibahkan induk udang vanamenya kepada BPBAP Situbondo dan BPBAP Takalar masing-masing sebanyak 400 pasang induk.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa di tahun 2024 produksi udang nasional ditargetkan sebanyak 2 juta ton. “Saya mengharapkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa,” ungkapnya. (Rch/Adit/Resti)

