“Pembenih (hatchery) merupakan salah satu lini pendukung di lingkar budidaya yang berperan besar terhadap keberhasilan budidaya udang. Dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah menjadikan suatu tantangan, sekaligus harapan bagi pembenih itu sendiri. Dan optimis akan tercapai bila semua pembenih dapat menjalankan dan menghasilkan benur yang berkualitas kepada semua petambak,” kata Iwan Basuki, Senior Marketing PT Windu Alam Sentosa.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Sudiarnoto Soegito, Aquaculture Division Head PT Golden Westindo. Menurutnya, dari pihak pembenihan (hatchery) tentu sangat siap mendukung kebutuhan benur.

“Jika dilihat kapasitas produksi benur di hatchery yang ada, sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan benur dari target 2 juta ton tahun 2024. Hanya masalahnya, bagaimana kesiapan infrastruktur tambak dan pendukung lainnya?”
Ada beberapa hal terkait yang menurut Sudiarnoto perlu diperhatikan, yaitu perlunya merevitalisasi tambak yang ada sehingga produtifitasnya meningkat, membangun tambak atau klaster tambak baru, jumlah kebutuhan induk, serta jumlah pakan induk yang dibutuhkan. Saat ini, makanan utama induk udang adalah cacing laut dan pembenih sangat tergantung pada cacing tangkapan alam.
Selain itu, perlu dipertimbangkan biaya pengiriman induk jika hendak melakukan ekspansi pertambakan ke area Sulawesi dan Kalimantan. Hal itu disebabkan sekira 80% pembenih berada di Pulau Jawa dan Sumatera. “Hal-hal tersebut harus disinkronisasi agar semua mesin penggerak mencapai target 2 juta ton berjalan simultan dan harmonis,” terangnya.
Induk dan pembenih berkualitas
“Secara matematika, untuk 2 juta ton per tahun diperlukan induk sekira 60.000—100.000 pasang,” ujar Iwan Hermawan, Manajer Produksi PT Windu Alam Sentosa, menanggapi target produksi dari Menteri Kelautan dan Perikanan. Menurutnya, konsistensi regulasi pemerintah selalu berubah-ubah, meskipun pihak pemerintah sekarang sudah lebih proaktif dalam membantu proses permohonan impor. Diperlukan koordinasi dengan instansi terkait untuk memperlancar proses masuknya impor induk seperti dengan pihak bea cukai, karantina, Deperindag, dan pihak lainnya.
Terkait kriteria indukan yang baik sebagai ‘mesin’ produksi benur berkualitas, Sudiarnoto menerangkan beberapa ciri dan parameternya. Setidaknya, terdapat enam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, memiliki rekam jejak genetik yang baik. Oleh sebab itu, penyuplai induk harus memiliki reputasi yang baik. Kedua, induk memiliki sertifikat SPF atau SPR. Ketiga, memiliki ukuran seragam, baik jantan maupun betina. Keempat, organ tubuhnya lengkap, sempurna, tidak cacat, dan tidak ada nekrosis. Kelima, menghasilkan produktivitas naupli yang tinggi. Keenam, daya tahan atau survival rate yang tinggi selama pemeliharaan di panti benih.
Berbicara soal kualitas pembenih, Iwan Basuki menuturkan bahwa salah satu syarat hatchery untuk layak dinyatakan sebagai produsen benur yang berkualitas yaitu adanya Sertifikat Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB).
“CPIB dan CKIB adalah standar yang harus ada dalam suatu proses budidaya, baik di hatchery dan tambak atau pun usaha perikanan lainnya sebagai ukuran traceability suatu produk yang akan dituntut oleh pelanggan,” tuturnya.

Pilih induk lokal atau impor?
Terkait perbandingan induk lokal dan impor, Iwan Hermawan beranggapan bahwa primadona induk di tahun 2023 adalah Konabay dan Benchmark. Hal tersebut disebabkan kualitas dan kuantitasnya masih stabil, terutama Konabay Indonesia, yang sudah memiliki Broodstock Multiplikatif Center (BMC) di Indonesia dan sesuai dengan kualifikasi induk yang diusungnya, yaitu balance.
“Sekedar saran buat pemerintah, optimalkan Karang Asem dalam memproduksi induk yang unggul sehingga bisa memikat kepercayaan pengguna dalam negeri,” sarannya.
Adapun Sudiarnoto beranggapan bahwa induk lokal atau impor tidak menjadi masalah. Poin pentingnya adalah induk harus SPF, produktivitas naupli-nya tinggi, serta kualitas naupli dan benur yang dihasilkan harus baik. Hal tersebut akan terlihat dari performa benur saat di tambak (growth out ponds).
“Oleh sebab itu, jika kualitas indukan lokal sudah sama baiknya dengan induk impor, hatchery dan tambak tentu akan lebih memilih induk lokal. Karena membeli indukan lokal bisa menekan biaya produksi secara keseluruhan,” terangnya.
Senada dengan Sudiarnoto, Iwan Basuki mengatakan bahwa pada dasarnya semua indukan vaname yang beredar di hatchery pada awalnya berasal dari induk impor lansung. Namun, sekarang sudah ada penyuplai induk yang mampu mengembangkan secara domestik. Dengan begitu, ketersediaan induk secara impor langsung bisa dikurangi.
Naik-turun prospek pasar benur
“Pemasaran benur naik-turun sepanjang tahun sangatlah biasa. Pada saat musim hujan tinggi, biasanya permintaan benur akan menurun seiring dengan banyaknya permasalahan di tambak seperti wabah penyakit, penurunan kualitas air baku, dan masalah lainnya,” aku Sudiarnoto.
Soal harga, ia mengatakan bahwa harga benur di lapangan sangat bervariasi. Hatchery dengan reputasi baik dan kualitas produksi benur yang tinggi tentu dapat menjual benur dengan harga yang menguntungkan. Hatchery seperti ini biasanya sudah memiliki petambak langganan yang masuk daftar tunggu sebelum berproduksi. Dengan begitu, kasus kelebihan produksi bisa dihindari.
“Golden size atau golden market benur hanya 3 hari saja, yaitu stadia PL 8—PL 10. Di luar stadia tersebut, biasanya petambak mencari alternatif lain. Bayangkan jika hatchery belum mempunyai pasar ketika sedang memproduksi benur dan tidak dapat pelanggan saat golden size?” terang Sudiarnoto.
Pendapat senada juga diutarakan Iwan Basuki. Menurutnya, harga benur sangat berbeda dengan harga udang besar. Untuk harga benur, semakin besar ukuran PL belum tentu harganya semakin tinggi. Justru kelebihan ukuran PL akan membuat kualitasnya menurun, biaya produksi membengkak, dan menghasilkan kerugian bagi hatchery,” terangnya.
Terkait pasar, Iwan mengatakan bahwa pasar benur sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di area tertentu, terkait harga udang saat budidaya, tren petambak menggunakan benur tertentu, dan hatchery pesaing yang ada. “Hatchery WAS Rembang, secara kapasitas mampu menyediakan PL sebanyak 150—200 juta ekor per bulan. Namun, saat ini, rata-rata produksi antara 90—110 juta ekor PL per bulan untuk pasar domestik,” ungkapnya.
Sementara itu, Abdul Waris Mawardi, Ketua Pokdakan Cempae, Kabupaten Pinrang, berpendapat bahwa hatchery akan selalu siap berproduksi jika ada kebutuhan pasar benur dan ketersediaan indukan. Masalah yang dihadapi yaitu pengaruh iklim yang sangat ekstrem sehingga produksi cenderung turun. Berbicara tentang kapasitas produksi, ia mengatakan sekira 5 juta ekor dalam satu kali produksi dan melayani permintaan lokal.
Dukungan pakan
“Pakan induk dan benur udang masih mengandalkan pakan alami, yang merupakan hasil tangkapan dari alam. Untuk mencari pakan alami yang SPF masih menjadi kendala. Jika tidak menggunakan pakan alami yang SPF, pakan akan menjadi pembawa (carrier) penyakit bagi induk atau benur udang itu sendiri,” kata Ujang Komarudin, Direktur Pakan dan Obat Ikan, DJPB-KKP.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa pakan induk udang yang banyak digunakan adalah cumi-cumi, kerang-kerangan, dan—paling diyakini bagus—sejenis cacing nereis. Nereis merupakan hasil tangkapan yang ternyata terkena WSV, menjadi pembawa penyakit ke induk. Hanya Nereis dari Belanda yang merupakan hasil budidaya dan bebas WSV. Indonesia juga sudah dapat membudidayakan nereis. Namun, produksinya belum mencukupi kebutuhan hatchery yang ada.
Sementara pakan benur udang masih impor disebabkan dalam pengolahan pakan alami dengan ukuran nano membutuhkan teknologi yang mahal, sedangkan pangsa pasarnya kecil. Selain itu, bahan baku harus kontinu, sedangkan ketersediaannya di Indonesia sangat terbatas sehingga para investor enggan berinvestasi.
“Secara ekonomis pakan impor lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri yang biaya produksinya lebih tinggi. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan pakan induk dan benur yaitu ketersediaan dan harga bahan baku yang tinggi,” terang Ujang.
Hal yang sama juga diunkapkan Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV Bio Indonesia & Invendo Akuakultur Konsultan. Menurut dugaannya, kendala utama belum tertariknya perusahaan besar karena nilai komersialnya kurang menarik. Selanjutnya, mengenai kesiapan suplai bahan baku yang kontinu dan bermutu standar-stabil pada akhirnya akan menuntut perusahaan harus melakukan pengembangan sendiri. Tentu beban investasinya lebih berat lagi.
“Untuk regulasi, pada prinsipnya tidak masalah. Begitu pula dengan teknologi, saya pikir kita sudah mulai menguasai dan SDM kita sudah memadai. Sementara mesin tinggal beli sesuai spesifikasi yang dibutuhkan,” terangnya.
Lebih lanjut, Nadjib menjelaskan bahwa teknologi pakan yang sedang hangat dan akan terus hangat yaitu dari segi nutrisi dan aditif. Sementara dari teknologi mesin masih akan bergerak lamban karena memang sudah terlalu tinggi saat ini.
Teknologi nutrisi, terutama terkait dengan bahan baku, yaitu sebagai penyedia protein dan akan mengarah kepada insek dan nabati. Terkait aditif, perkembangan teknologinya juga sangat cepat, baik dari sumber alami seperti herbal dan bahan anorganik.
Pakan yang sedang tren adalah pakan udang spesial terkait menghadapi tantangan penyakit, tantangan lingkungan, atau berhubungan dengan strain induk. Dalam hal pakan benur/pembenihan, saat ini sedang tren artemia enrichment, yaitu artemia yang telah diperkaya dengan berbagai kebutuhan untuk meningkatkan imunitas dan pertumbuhan benur. Bahkan saat ini sedang diciptakan pengayaan yang spesifik, yang disesuaikan dan akan dipelihara di tambak benur tersebut.
Soal aditif, pendapat Nadjib juga diamini Dany Yukasano, National Technical Service Manager, PT Grobest Indomakmur. Menurutnya, pakan dan obat yang saat ini dicoba untuk diimplementasikan dalam pakan adalah aditif. Sementara pabrik pakan mencoba meramu pencampuran aditif dan pakan dengan lebih baik secara langsung di pabrik, yang disebut sebagai functional feed. “Mengingat perkembangan penyakit yang terus meningkat, functional feed ini akan menjadi tren sebagai metode dalam pencegahan penyakit,’ jelas Dany.
Disebutkan KKP bahwa selain induk udang, yang juga menjadi perhatian adalah soal pakan. Pengembangan terus dilakukan melalui balai-balai budidaya KKP untuk mendorong kemandirian perikanan budidaya di dalam negeri, mulai dari induk, pakan, serta teknologi pendukung produktivitas lainnya.
“Jadi bukan hanya soal pembesarannya saja atau produksinya saja, tapi juga bagaimana pakan yang paling penting. Bagaimana membangun induk yang baik sampai akhirnya kita memiliki kemandirian,” beber Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono. (Rch/Adit/Resti)

