Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan Solusinya

Oleh :

Deni Aulia, S.Tr.Pi, S.P

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Taruna Mandiri 47Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wiratama 47

Kualitas air tambak terkait erat dengan kondisi kesehatan udang, kualitas air tambak yang baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan udang vaname secara optimal. Oleh karena itu, kualitas air tambak perlu diperiksa dengan seksama karena hal ini berhubungan dengan faktor stress udang akibat perubahan parameter kualitas air di tambak.

Udang yang stres, daya tahan tubuhnya akan menurun sehingga mudah terserang penyakit. Perubahan parameter – parameter kualitas air akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh udang seperti keaktifan mencari pakan, proses pencernaan dan pertumbuhan udang.

Deni Aulia

Pemeliharaan kualitas air adalah faktor yang sangat penting untuk mencapai angka kehidupan yang tinggi. Masalah pemeliharaan kualitas air tambak sering kali timbul seiring berjalannya waktu pemeliharaan.

Terkadang masalah – masalah tersebut timbul karena pengontrolan dan penanganan kualitas air yang kurang baik. Dalam praktiknya sering kali petambak tidak menyadari perubahan kualitas air karena minimnya pengetahuan petambak tentang pengelolaan kualitas air yang benar. Hal ini menyebabkan terganggunya siklus hidup udang yang dibudidayakan.

Kestabilan lingkungan di dalam tambak merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh petambak untuk memperoleh kesuksesan dalam membudidayakan udang vaname. Pemeliharaan kualitas air dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi kuat tentang kestabilan lingkungan di dalam tambak.

Menjaga kualitas air tambak secara langsung akan berdampak terhadap tingkat kelangsungan hidup organisme yang berada di dalamnya. Untuk dapat tumbuh dengan optimal udang vaname memerlukan kondisi lingkungan yang stabil. Kondisi tersebut dapat diperoleh dengan menjaga kualitas air tambak yang digunakan sebagai media tumbuh udang.

Kualitas air yang terjaga akan membuat nyaman udang vaname yang dipelihara di dalam tambak, sehingga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan yang positif. Udang vaname akan tumbuh dengan baik apabila kualitas air yang ada di dalam kolam sebagai media budidaya udang sesuai dengan persyaratan kualitas air udang vaname.

Perubahan Parameter Kualitas Air

Musim kemarau akan mengakibatkan perubahan parameter kualitas air seperti peningkatan suhu dalam air, peningkatan salinitas, peningkatan amonia, semakin padatnya plankton serta kurangnya intensitas cahaya yang masuk kedalam air kolam.

Perubahan parameter kualitas air ini akan berpengaruh pada kondisi udang yang dibudidayakan. Untuk itu, perlu dilakukan upaya – upaya pencegahan dan penanganan dalam melakukan usaha budidaya udang Vaname di musim kemarau.

Suhu optimal untuk pertumbuhan udang berkisar antara 28,5 – 31,5 oC. Jika suhu lebih dari angka optimal maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat, imbasnya kebutuhan oksigen terlarut akan meningkat.

Artikel Populer:  Pacu Pertumbuhan Ikan Sidat

Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penambahan jumlah kincir untuk meningkatkan suplay oksigen terlarut di dalam air kolam namun harus disesuaikan dengan kondisi sarana serta biaya yang ada, sebab penambahan jumlah kincir tentunya juga akan menambah biaya produksi.

Kualitas air yang baik harus mampu mensuplai oksigen yang dibutuhkan oleh udang, plankton dan mikroorganisme. Salinitas merupakan salah satu aspek kualitas air yang memegang peranan penting karena mempengaruhi pertumbuhan udang. Udang akan tumbuh dengan baik pada kisaran salinitas 15 – 25 ppt.

Pada kondisi musim kemarau, kondisi air tambak akan menjadi hipersalin atau berkadar garam tinggi. Pada salinitas tinggi, pertumbuhan udang menjadi lambat karena proses osmoregulasi terganggu. Osmoregulasi merupakan proses pengaturan dan penyeimbang tekanan osmosis antara di dalam dan diluar tubuh udang.

Apabila salinitas meningkat maka pertumbuhan udang akan melambat karena energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan dengan untuk pertumbuhan. Selain itu salinitas air yang terlalu tinggi menyebabkan udang mengalami kesulitan berganti kulit karena kulit cenderung keras sulit dilepaskan, bahkan ada kalanya terdapat lumutan pada karapas serta mudah terserang white spot.

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan salinitas air yaitu dengan melakukan penambahan air tawar yang berasal dari sumur bor tau sumber air tawar lainnya. Peningkatan amonia juga akan terjadi pada musim kemarau. Amonia merupakan hasil eksresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Amonia juga berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air.

Amonia akan mengalami proses nitrifikasi dan denitrifikasi sesuai dengan siklus nitrogen dalam air. Proses ini akan berjalan lancar apabila tersedia bakteri niftrifikasi dan denitrifikasi dalam jumlah yang cukup yaitu bakteri Nitrobakter dan Nitrosomonas.

Nitrobakter berperan mengubah amonia menjadi nitrit, sementara Nitrosomonas mengubah nitrit menjadi nitrat. Amonia dan nitrit merupakan senyawa beracun sehingga harus diubah menjadi senyawa yang tidak berbahaya yaitu nitrat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah bakteri dalam air tambak yaitu dengan melakukan aplikasi probiotik yang mengandung bakteri Nitrobakter dan Nitrosomonas.

Penggunaan Probiotik

Probiotik adalah mikroorganisme yang dikembangkan dan diaplikasikan melalui pakan maupun lingkungan yang bertujuan untuk memperkuat daya tahun tubuh udang serta memperbaiki kualitas air tambak. Probiotik bersifat non patogenik dan dikembangkan secara massal pada media kultur sesuai tujuannya.

Jenis mikroba ini berkembang dan menghasilkan endo dan ekto-enzyme yang berfungsi merombak senyawa beracun dan bahan organik. Aplikasi probitoik yang benar akan membantu menstabilkan kualitas air tambak.

Artikel Populer:  Kembangkan si Daging Putih

Usaha budidaya udang pola intensif, memiliki unsur hara yang sangat tinggi yang dimanfaatkan oleh plankton untuk tumbuh. Sumber utama unsur hara adalah dari sisa pakan, karena selama masa pemeliharaan, pakan yang dimasukkan dalam jumlah yang besar. Sisa pakan dan kotoran udang memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan plankton dan mikroorganisme.

Namun, terlalu banyak kandungan bahan organik akan mengakibatkan pertumbuhan plankton dan bakteria (baik yang menguntungkan maupun yang merugikan) terlalu pesat sehingga harus diwaspadai dengan melakukan pengukuran dan mengamatan kualitas air. Kualitas air yang baik biasanya mengandung bahan organik dari sisa pakan, kotoran udang dan plankton mati dalam jumlah terbatas.

Plankton seperti fitoplankton yang menguntungkan sangat dibutuhkan dalam usaha budidaya udang. Plankton berfungsi sebagai pakan alami, peyangga terhadap intensitas cahaya matahari serta sebagai bioindikator kestabilan lingkungan air media budidaya udang.

Pada musim kemarau, salinitas air dalam kolam relatif lebih tinggi yang mengakibatkan pertumbuhan plankton terhambat sehingga populasi plankton tidak stabil. Plankton warna hijau lebih mudah dipelihara kestabilannya dibandingkan plankton warna cokelat sehingga disarankan untuk menumbuhkan plankton yang berwarna hijau.

Pada beberapa kondisi, plankton hijau akan berubah menjadi berwarna cokelat karena umur plankton yang semakin tua.  Pada salinitas <20 permil plankton yang tumbuh di kolam lebih banyak jenisnya dan biasanya berwarna hijau, sementara pada salinitas >25 permil plankton yang hidup di kolam cenderung lebih sedikit jenisnya dan berwarna cokelat.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan planton yaitu dengan melakukan penambahan air yang berasal dari tandon air. Pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan pembuangan air tambak melalui pergantian air, sebaiknya hanya dilakukan penambahan air untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan.

Penambahan air sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dengan jumlah berkisar antara 5 – 20% disesuaikan dengan kondisi volume air dalam kolam yang hilang. Sebaiknya penambahan air dilakukan satu jam setelah pemberian pakan untuk menghindari tingkat stres yang tinggi pada udang.

Penambahan air dapat dilakukan dengan menggunakan pompa submersible atau dengan sistem gravitasi. Air yang digunakan dalam penambahan air merupakan air dari tandon yang telah disterilkan.

Peran Tandon

Pada budidaya udang, tandon berfungsi untuk memperbaiki kualitas air sebelum dimasukkan ke dalam kolam budidaya. Tandon dapat digunakan untuk mengendapkan suspensi terlarut, disamping itu juga dapat dilakukan perlakuan air untuk mengurangi pathogen yang merugikan.

Artikel Populer:  Panen, Indikator Evaluasi Usaha Budidaya

Kebutuhan tandon bervariasi bergantung dari lokasi dan sumber air yang digunakan. Pada daerah dimana potensi pencemaran tinggi dan wilayahnya banyak dikelilingi oleh petambak, kebutuhan tandon lebih banyak dan disarankan untuk menggunakan 30% dari petakannya untuk tandon sementara daerah yang potensi pencemarannya rendah cukup menggunakan 20%.

Tandon memiliki peranan penting khusunya pada usaha budidaya udang di musim kemarau. Tandon dapat dijadikan sebagai wadah penyimpanan air sementara atau air cadangan yang akan digunakan untuk penambahan air selama masa budidaya.

Budidaya udang pada musim kemarau sangat rentan karena udang sangat mudah megalami stres akibat senyawa beracun yang ada di dalam kolam. Selama proses budidaya udang pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan penyiponan karena selama penyiponan maka akan mengakibatkan berkurangnya volume air dalam kolam.

Selain itu karena volume air dalam kolam relatif berkurang maka kemungkinan akan teraduknya bahan organik dalam kolam akibat kegiatan penyiponan sangat tinggi, untuk itu sebaiknya dihindari. Pembuangan bahan organik dapat dilakukan jika kontruksi kolam memiliki central drain yaitu dengan membuka central drain dengan waktu yang tidak terlalu lama.

Pembuangan bahan organik juga dapat dilakukan dengan membuang plankton mati yang muncul ke permukaan air tambak dengan menggunakan serok. Penambahan air dapat dilakukan setelah pembuangan bahan organik baik melalui central drain maupun menggunakan serok.

Pengaturan pola tanam juga dapat dilakukan sebagai salah satu solusi dalam melakukan budidaya udang pada musim kemarau. Petambak tentunya sudah mengetahui kapan terjadinya musim kemarau berbekal pada pengalaman pada siklus budidaya sebelumnya.

Pengalaman ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam menentukan pola tanam. Pembudidaya dapat mengatur penebaran benih udang maksimal dua bulan sebelum terjadinya musim kemarau, hal ini bertujuan agar pada saat terjadi musim kemarau udang telah berumur paling tidak 60 hari.

Udang dalam umur tersebut sudah memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan parameter kualitas air. Berbeda dengan udang yang masih berumur kecil, mudah mengalami stres akibat guncangan parameter kualitas air. (Adit)

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Dengan panjang pesisir 62 kilometer, Lampung Timur memiliki potensi perikanan budidaya air payau cukup besar.
Oleh: Abdul Salam Atjo – Penyuluh Perikanan Madya Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks) masih menjadi komoditas andalan pembudidaya
Oleh : Dr. Tarunamulia, ST., MSc. (Peneliti Madya BRPBAP3-Maros) Pada era tahun 1980-an hingga awal
Udang merupakan hewan yang berdarah dingin, jika terjadi perubahan suhu yang drastis akan menyebabkan turunnya
Udang merupakan komoditas unggulan di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang terus dimaksimalkan potensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.