Percepat Pematangan Gonad dengan Ablasi Mata

Dalam usaha pembiakan udang, pematangan gonad sangat penting sebelum dilakukan pemijahan pada induk. Proses mempercepat pematangan gonad dilakukan agar proses menghasilkan benih udang tidak memakan waktu yang lama.

Deni Aulia

Secara alami, induk udang yang telah dewasa akan mengalami pematangan gonad dengan sendirinya. Ketika kondisi ini terjadi, sel telur udang sudah siap dibuahi oleh sperma jantan. Pada usaha pembenihan, induk harus dipisahkan dari kolam pemeliharaan induk untuk dilakukan perkawinan. 

Ablasi Mata, Teknik Pematangan Gonad Buatan

Teknik yang digunakan dalam merangsang perkembangan gonad udang adalah memanfaatkan sistem syaraf yang terdapat dalam tubuh udang sendiri. Dalam tubuh krustasea termasuk udang terdapat sistem syaraf yang khas yang sangat berbeda dengan organisme lainnya, salah satunya yaitu organ mata.

Selain berfungsi sebagai indera penglihatan, organ mata pada udang juga berperan dalam proses reproduksi. Menurut salah seorang peneliti perikanan, dari Pusat Pendidikan Perikanan dan Kelautan, Deni Aulia, untuk proses percepatan pematangan gonad, oleh karena itu, banyak menggunakan teknik ablasi mata, teknik yang sering digunakan di Indonesia.

Ablasi mata adalah salah satu cara untuk merangsang perkembangan telur pada udang. “Prinsipnya adalah merusak sistem syaraf tertentu yang terdapat dalam tubuh udang, dalam hal ini memanfaatkan sistem hormonal dalam tubuh udang dengan merusak salah satu tangkai mata’” papar Deni.

Di dalam tangkai mata terdapat suatu tempat yang memproduksi dan menyimpan hormon penghambat ovari yang mencegah tingkat kedewasaan dari ovari atau kandungan telur. Ablasi mata bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi hormon penghambat kematangan gonad. Selain itu juga dapat merangsang perkembangan telur pada krustasea, akibat dihilangkannya kelenjar sinus.

Ablasi merupakan proses pemotongan tangkai mata udang yang terdapat organ X sebagai penghasil hormon perkembangan dan pematangan gonad (Gonade Inhibiting Hormone/GIH) serta penghambat pergantian kulit (Moulty Inhibiting Hormone/MIH). Apabila organ X sudah tidak ada maka organ Y yang terletak di kepala dapat menghasilkan hormon perangsang pembentukan gonad (Gonade Stimulating Hormone/GSH) sehingga proses pematangan gonad dapat berlangsung cepat.

Teknik Ablasi Mata pada Udang

Deni melanjutkan, proses ablasi mata pada induk betina dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti menggunting tangkai mata, atau memencet bola mata, atau memencet tangkai mata dengan pinset panas, dan ada juga yang menggunakan benang untuk memutuskan tangkai mata.

Proses abiasa mata udang

Namun, teknik yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunting tangkai mata. Peralatan yang digunakan dalam ablasi mata antara lain yaitu baskom kapasitas 20 liter, gunting, larutan iodin, gas pembakar, pembatas pangkal mata. Tahapan melakukan ablasi dengan menggunting tangkai mata adalah sebagai berikut:

  • Siapkan baskom dan dan isi dengan air sebanyak 15 liter. Tambahkan 1 ml iodin ke dalam wadah tersebut dan aduk secara merata. Masukkan gunting dan rendam dalam larutan tersebut;
  • Siapkan gas pembakar dan panaskah gunting di atas bara api;
  • Ambil induk betina yang akan diablasi, celupkan terlebih dahulu ke dalam larutan iodin dan beri batas antara pangkal mata
  • Potong mata bagian kanan induk
  • Celupkan induk yang telah diablasi ke dalam larutan iodin dan setelah itu masukkan kembali ke dalam bak pemeliharaan induk.

Tingkatkan Kualitas Pakan untuk Pematangan Gonad

Di samping ablasi mata, pematangan gonad udang juga dapat dipacu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas pakan, yaitu dengan memberikan pakan yang mengandung protein tinggi.

Papar Deni, yang juga menjabat sebagai Ketua KUB Taruna Mandiri. Pakan segar yang dapat memacu perkembangan gonad udang Vaname adalah cacing laut (Nereis sp) atau cacing tanah (Lumbricus sp), dapat juga diberikan kerang-kerangan dengan jumlah 9% untuk pakan cacing dan 16% untuk kerang-kerangan dari total biomassa per hari.

Perkembangan gonad ditandai dengan perkembangan ovari yang terletak di bagian dorsal tubuh udang dan berwarna orange, sedangkan pada udang jantan kematangan gonad terlihat jelas pada kantong sperma yang berwarna putih penuh berisi sperma.

Periksa Pematangan Gonad pada Udang

Lebih lanjut, Deni menerangkan, untuk mengetahui tingkat kematangan gonad pada induk, dapat dilakukan pengambilan induk udang betina dengan menggunakan seser. Selanjutnya bagian atas tubuh udang disinari dengan senter.

Induk betina matang gonad

Induk yang matang gonad memiliki gumpalan warna orange agak gelap di sepanjang bagian dorsal tubuh induk dari chepalothorax sampai dengan bagian pangkal ekor. Induk betina yang telah matang gonad dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan induk jantan.

Proses Pemijahan Udang

Proses perkawinan/pemijahan pada udang penaeus secara umum terjadi saat udang sedang mengalami molting dan udang betina belum berkembang ovarinya. Akan tetapi, pada udang vaname, perkawinan terjadi setelah udang betina matang ovarinya yang terlihat berwarna jingga.

Hal ini akan merangsang udang jantan terangsang dan mendekati betina. Sperma yang dikeluarkan/ditempelkan pada thelicum bagian luar. Setelah 1 – 2 jam kemudian, udang betina akan segera mengeluarkan telur dan terjadi pembuahan.

Proses pemijahan udang dilakukan di dalam bak pemijahan. Bak pemeliharan induk betina terpisah dengan induk jantan. Seleksi induk betina matang gonad dilakukan pada pukul 15.00 – 17.00. Induk betina matang gonad dipindahkan ke bak induk jantan, perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:1 dengan kepadatan 8 ekor/m2, suhu pada bak pematangan dan perkawinan yang paling optimal adalah 27 – 28oC dengan kondisi stabil sehingga disarankan menggunakan sistem resirkulasi air.

Selama proses perkawinan berlangsung, aerasi dalam bak dikecilkan agar tidak mengganggu terjadinya pemijahan. Aerasi yang besar dikhawatirkan menyebabkan hormon feromon yang dikeluarkan induk betina tidak tercium oleh induk jantan, ungkap Deni.

Udang vaname bersifat nocturnal, yaitu banyak melakukan aktivitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat melompat tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur dan pada saat bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma hingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit. Sepasang udang vaname berukuran 30 – 45 g dapat menghasilkan 100.000 – 250.000 butir telur.

Bak Pelepasan Telur untuk Induk Betina

Induk betina yang telah kawin harussegera diambil dan dipindah ke bak pelepasan telur yang lebih kecil volumenya pada pukul 20.00 – 22.00. Bak pelepasan telur ini juga merupakan bak penetasan. Bak pelepasan telur berbentuk bulat terbuat dari fiberglass dapat juga dijadikan sebagai bak penetasan telur.

Pemilihan induk yang sudah dibuahi dilakukan secara visual yaitu melalui bantuan cahaya lampu yang telah tersedia di atas setiap bak induk. Induk yang sudah dibuahi dapat dilihat dengan adanya spermatophora yang menempel pada bagian thelicum, induk segera dipindahkan ke bak pelepasan telur dengan menggunakan seser. Sedangkan induk yang matang gonad namun tidak terdapat spermatophora pada thelicum nya dimasukkan kembali ke dalam bak pemeliharaan induk betina.

Bak pelepasan telur diisi air sebanyak 1200 liter dan diberi EDTA 20 ppm. Sebelum dimasukkan ke dalam bak spawning, terlebih dahulu induk dicelupkan ke dalam styrofoam yang berisi air laut bersih yang mengalir kemudian di dipping pada baskom yang berisi larutan iodine 10% dengan dosis 7,5 ppm.

\Tujuan dicelupkan (dipping) terlebih dahulu adalah sebagai desinfeksi. Setelah itu induk langsung dimasukkan ke dalam bak penetasan dengan kepadatan per bak adalah 8-10 ekor/m3. Pelaksanaan pemilihan induk yang sudah dibuahi tidak boleh terlambat, karena bila terjadi induk yang telah mating akan spent (mengeluarkan telur) dalam bak maturasi dan akhirnya telur akan terbuang percuma.

Proses Penetasan Telur

Induk betina akan melepaskaan telur 1 – 2 jam setelah induk dipindahkan dari bak pemijahan ke bak pelepasan telur. Keesokan harinya induk diangkat dan dikembalikan ke bak pemeliharaan induk, sedangkan telurnya diberi aerasi merata dan dibersihkan dari kotoran dan lendir-lendir yang tertinggal.

Suhu air bak penetasan berkisar antara 29-30oC. Untuk mencegah telur mengendap di dasar bak sehingga tidak mendapat oksigen yang cukup, maka selama proses penetasan telur dilakukan pengadukan menggunakan alat yang telah tersedia. Alat pengaduk manual terbuat dari pipa PVC yang dengan lempeng PVC di bagian ujungnya. Selain itu juga terdapat alat pengaduk otomatis yang terbuat dari lembaran plat pipa yang diberi satu buah aerasi di dalam botol yang akan mengaduk secara otomatis. Pengadukan telur dilakukan setiap 15 menit sekali. Sebelas jam di dalam hatching tank, telur telah menetas menjadi naupli. Agar naupli mendapatkan air yang baru, naupli yang baru menetas tersebut dipindahkan ke bak penampungan naupli (holding tank). Derajat penetasan atau hatching rate (HR) telur udang vaname berkisar 70 – 80%, sedangkan untuk fekunditas yang dapat dihasilkan oleh satu ekor induk vaname betina berkisar antara 100.000 – 1.000.000 butir. (noerhidajat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *