Diagnosa Cepat, Tepat dan Akurat Red Seabream Iridovirus Disease Pada Ikan Kerapu

Indonesia merupakan ekspotir ikan kerapu terbesar di dunia, Negara tujuan ekspor: Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina dan Hongkong. Ikan kerapu merupakan protogynous hermaphrodite (hermaprodit protogoni), dimana kerapu betina akan mengalami perubahan kelamin menjadi jantan.

Siklus virus Red Seabream Iridovirus Disease

Tiap jenis kerapu mengalami kematangan gonad pada ukuran dan umur yang berbeda, misalnya pada jenis kerapu lumpur, transisi dari betina dan jantan terjadi setelah ikan mencapai ukuran panjang badan 660-720 mm. Testis mulai matang pada ukuran tubuh 740 mm atau berat 11 kg.

Transformasi dari betina ke jantan memerlukan waktu yang cukup lama dan dalam kondisi alami. Kebutuhan ikan kerapu untuk konsumsi di pasaran semakin banyak sejalan dengan jumlah budidaya yang semakin meningkat.

Budidaya ikan kerapu dipengaruhi oleh penyakit menular yang disebabkan beberapa faktor salah satunya stres akibat kepadatan populasi dalam kolam pemeliharaan. Penyakit infeksius menjadi salah satu ancaman utama terhadap keberhasilan budidaya perikanan di Indonesia.

Beberapa kendala diantaranya morbiditas dan motalitas tinggi akibat penyakit Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD). Gejala klinis kerapu yang terinfeksi RSVID; ikan berenang lemah atau diam di dasar air, sehingga disebut juga penyakit tidur.

Perubahan makroskopis ascites, petechiae di insang, dan pembesaran limpa. Penularanya yang cepat dengan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, RSIVD menjadi ancaman serius perkembangan perikanan budidaya di Indonesia.

Penularan dan penyebaran Iridovirus pada ikan dalam suatu populasi terjadi melalui air yang terkontaminasi virus. Diperlukan diagnosa yang cepat dan akurat untuk deteksi dini serangan penyakit,

Hasil Kit rapid test

sehingga dapat dilakukan langkah penanganan untuk meminimalisir dampak kerugian yang lebih besar.

Limpa merupakan salah satu organ hematopoietik, berfungsi sebagai lokasi penyaringan antigen, penyimpanan dan penghancuran eritrosit. Limpa terlibat dalam proses keradangan yang bersifat sistemik, gangguan hematopoietik dan metabolisme.

Limpa sehat bewarna merah tua atau hitam dengan tepi tajam yang terletak di antara lengkungan lambung dan usus. Limpa ikan berbeda dengan mamalia, pulpa putih dan merah yang menyebar dan tidak beraturan serta kerangka jaringan ikat yang tidak menonjol.

Limpa juga merupakan tempat berkumpulnya limfosit-limfosit aktif yang masuk ke dalam darah. Limpa memberi reaksi dengan cepat terhadap antigen yang terdapat dalam darah dan merupakan organ penting dalam proses aktivasi sistem imun adaptif.

Limpa merupakan organ filter imunologik dari sistem sirkulasi. Limpa ikan kerapu pada infeksi RSIVD terlihat beberapa sel limfoid pada pulpa putih membesar dan berisi badan inklusi (inclusion bodybearing cells: IBC) basofilik intrasitoplasma dan beberapa sel limfoid juga terlihat mengalami nekrosis (piknosis, karyorheksis dan karyolisis).

Pengembangan Diagnosa Cepat

Pada 30 November 2017, pengelola program Pasca sarjana Sain Veteriner FKH UGM   mengadakan seminar hasil penelitian yang berbasis inovasi dan teknologi. Dwi Sulistiyono mahasiswa pasca sarjana Sain Veteriner mempresentasikan hasil penelitian yang sangat menarik dengan tema Rapid Diagnostic Test Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD) Pada Ikan Kerapu  (Epinephelus. sp) Dengan Kit Ko-Aglutinasi dan Studi Molekuler.

Penelitian ini dibimbing oleh Dr. drh. Surya Amanu, SU dan Prof. drh. Kurniasih M.V.Sc, Ph.D yang menjadi pioner pengujian Rapid Diagnostic Test penyakit di Ikan di Indonesia. Kedua ahli dari FKH UGM tersebut merupakan supervisor yang sangat ahli dibidang penyakit ikan di Indonesia.

Kit ko-aglutinasi dipersiapkan dengan beberapa tahapan yang memmbutuhkan kejelian dan ketelitian dalam proses pembuatanya. Produksi antibodi RSIVD dari kelinci dengan penyuntikan antigen atau vaksin RSIVD.

Panen antibodi dilakukan setelah titer antibody mencapai level yang dipersyaratkan. Antibodi yang telah dipanen kemudian dipurifikasi untuk mendapatkan immunoglobulin G (IgG). Immunoglobulin G dicampurkan dengan volume sama dengan protein A yang diproduksi oleh Staphylococcus aureus.

Dalam presentasinya, Dwi menjelaskan bahwa metode diagnostik berbasis serologi yang memiliki kelebihan cepat, akurat dan  murah, memanfaatkan Antibodi (Ig) yang mempunyai sifat reaktifitas yang sangat spesifik terhadap antigen yang menstimulir terbentuknya antibodi tersebut, diikatkan pada protein A Staphylococcus aureus yang memiliki kemampuan unik untuk mengikat bagian Fc dari IgG meninggalkan Fab bagian imunoglobulin bebas untuk mengikat antigen.

Uji Laboratorium

Uji laboratorium menggunakan Kit rapid test untuk mengetahui adanya reaksi terhadap antigen RSIVD dalam vaksin. Antigen yang digunakan dari virus vaksin RSIVD. Satu vial vaksin RSIVD 1000 dosis diencerkan dengan NaCl fisiologis sampai 5 ml, sebanyak 0,5 ml larutan diambil kemudian ditambahkan NaCl fisiologis hingga 10 ml. Kit diteteskan di atas slide glass atau objek gelas sebanyak 50 µl ditambah antigen dalam vaksin dengan volume yang sama.

Uji reaksi silang dilakukan dengan menguji antigen yang sering menjadi penyebab penyakit pada ikan yaitu Viral Nervous Necrosa, Koi Herpes Virus, Streptococcus iniae, Edwarsiela tarda, E. ectaluri, Aeromonas salmonicida.

Uji ini untuk mengetahui apakah ada reaksi silang Kit dengan antigen lainya. Hasil positif pada uji reaksi silang akan terjadi aglutinasi ditunjukkan dengan adanya debris pasir.  Hasil negatif uji ditunjukkan tidak ada perubahan reaksi.

Uji Lapangan

Sampel ikan kerapu sakit dari tambak atau keramba diambil sampel berupa Limfa. Limfa diekstraksi dengan cara digerus dan ditambahkan PBS pH 7.2 kemudian dilakukan sentrifugasi 8000 rpm selama 20 menit.

Supernanatan diambil dan digunakan sebagai sampel antigen. Sampel antigen lapangan diteteskan di atas objek gelas sebanyak 50 µl dan ditambahkan Kit rapid test RSIVD dengan perbandingan 1:1.

Kontrol positif menggunakan antigen dari vaksin RSIVD, kontrol negatif digunakan PBS. Hasil positif RSIVD akan terbentuk aglutinasi dan terlihat adanya debris pasir. Hasil negatif tidak menunjukan perubahan. Uji ini memerlukan waktu kurang lebih 15 menit untuk melihat terjadinya reaksi ko-aglutinasi kamar.

Uji ko-aglutinasi sangat cocok dikembangkan untuk deteksi penyakit dilapangan karena cepat, murah, mudah ditafsirkan, spesifik, sensitif, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Batas sensitivitas uji ko-aglutinasi 106 PFU/ml dalam pengujian virus pada sel kultur dan ikan yang terinfeksi dan 103 CFU/ml dalam pengujian bakteri, ko-aglutinasi sangat sederhana, cepat dan ekonomis dapat digunakan untuk deteksi langsung dari jaringan ikan yang sakit, tanpa harus mengkultur patogen terlebih dahulu dalam media.

Ko-aglutinasi merupakan metode serologi yang lebih sensitif jika dibandingkan  dengan iFAT maupun PAP, tidak memerlukan mikroskop fluoresens yang mahal sebagaimana dalam pengujian iFAT, sehingga lebih cocok digunakan untuk deteksi penyakit dilapangan. Hasil pengujian yang dapat diketahui dengan cepat memungkinkan pemilik tambak atau keramba dapat segera melakukan langkah antisipasi dan mengurangi resiko kerugian yang lebih besar.

Pengujian dengan ko-aglutinasi tidak hanya dikembangkan dalam deteksi pada penyakit ikan dan hewan, karena sensitivitas dan spesifitas yang tinggi ko-aglutinasi banyak juga dikembangkan dalam deteksi agen penyebab penyakit pada manusia, diantaranya deteksi antigen pneumococcus dalam dahak pasien pneumonia, deteksi antigen Salmonella typhi dalam penderita deman tifoid pada manusia dan pengembangan ko-aglutinasi sebagai rapid test dalam deteksi Vibrio cholerae penyebab diare langsung.

Pengujian dengan kit ko-glutinasi tidak bisa dilakukan dengan mengumpulkan beberapa sampel dalam sekali uji (pooling) karena dapat terjadi positif palsu maupun negatif palsu. Pengujian dengan Pooling dapat menyebabkan pengenceran antigen manakala sampel yang dilakukan pooling tidak semuanya positif atau mengandung antigen (virus).

Sehingga dapat menyebabkan kosentrasi antigen terlarut pada sampel tidak equivalen. Kosentrasi optimum untuk reaksi yang terlihat baik pada pengujian dengan kit ko-aglutinasi adalah 50 µl kit ko-aglutinasi dan 50 µl antigen (supernatan  sampel).

Pengujian cepat, tepat dan akurat sangat membantu menemukan permasalahan penyakit, mengurangi resiko kerugian yang lebih besar dan mementukan tindakan penanganan penyakit yang lebih cepat. (Joko Susilo)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *