Ekspor Udang Tetap Menjanjikan Kala Pandemi

Pandemi akibat wabah covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Banyak sektor ekonomi, termasuk perikanan yang terkena getahnya. Meskipun begitu, pasar udang, khususnya luar negeri, masih menjanjikan. Hal ini terlihat dari masih tingginya permintaan dari pasar mancanegara.

Di tahun silam, sektor perikanan sebenarnya tidak signifikan terdampak akibat wabah covid-19. Hal ini terutama terjadi di sektor perikanan khususnya udang. “Terbukti dengan tidak adanya  PHK untuk tenaga kerja, demikian pula juga didukung data yang dikeluarkan oleh Kementerian Perikanan, yang memberikan peningkatan angka ekspor,” papar Bagyo Ari Yantono,Manager Tehnical Servis Jawa Timur & Jawa Tengah, PT New Hope AquaFeed Indonesia.

Ia menambahkan, penurunan budidaya saat ini disebabkan oleh adanyan AHPND mulai bulan Februari tahun silam, bukan akibat covid-19. Dampak yang paling mencolok yaitu tidak berperannya tambak karena menunggu memontum yang tepat. Para petambak juga masih menunggu hingga musim La Nina berlalu terlebih dahulu.

Bagyo menjelaskan, penurunan pasar tahun 2021 sebenarnya disebabkan kurangnya benur yang beredar, yang disebabkan cuaca yang ekstrem, sehingga berdampak pada kualitas dan kuantitas benur. Sebagai tambahan, tingkat kelulusan hidup (SR) di panti benih (hachery) saat ini mengalami penurunan. Kondisi ini disebabkan oleh  dinginnya suhu akibat hujan yang turun setiap hari sebagai dampak dari La Nina.

Selanjutnya, Bagyo memprediksi, di tahun 2021, kinerja bisnis perikanan, paling tidak sama dengan tahun 2020. Ia memprediksikan banyak pemain baru dalam budidaya udang vaname. Faktor pembatas saat ini adalah kelangkaan  benur  dan penyakit AHPND. Jadi untuk covid-19 menurut pendangan  saya tidak berdampak terhadap produksi.

Senada dengan Bagyo, Suprapto Tim Teknis Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, mengatakan tidak berdampak covid-19 bagi usaha perikanan, khususnya untuk udang jadi usaha perudangan tetap mempunyai prospek dan menjadi andalan pemulihan ekonomi nasional.

Suprapto yang juga menjabat sebagai konsultan budidaya (Senior Advisor Aquaculture) menambahkan untuk perikanan tawar, konsumsi lokal memang ada dampak terutama saat penerapan PSBB di kota kota tertentu, utamanya kota besar. Mengingat pasar tujuan adalah kota besar yang banyak konsumennya.

 

Di lain pihak, Muhdi, pemilik Tambak Mandiri, mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, permintaan terhadap komoditas udang masih cukup tinggi. “Belum ada penurunan permintaan, tetapi ada penurunan permintaan udang besar/ untuk ukuran kecil, yaitu < 40 ekor/kg). Pasar ekspor cenderung menyukai udang berukuran kecil karena harganya lebih murah,” papar Muhdi.

Ia memprediksi, di tahun 2021, produksi udang masih dibayangi oleh penyakit AHPND dibanding covid-19. Sehingga, para petambak masih tetap berjuang untuk mengendalikan AHPND. Melihat hal tersebut, ia memperkirakan produksi udang pada tahun 2021 tampaknya masih belum meningkat dibanding 2020.

Harga udang sementara turun

Meskipun permintaan terhadap komoditas udang tidak terdampak signifikan oleh pandemi, terjadi penurunan harga akhir-akhir ini. Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa mengatakan, harga udang semakin menurun dibanding 3 bulan yang lalu. Namun, ia mengatakan, pasar lokal masih stabil. Sementara itu, pasar ekspor menurun 10% sampai dengan 20%.

Untuk tahun 2021, ia memperkirakan, awal tahun sehingga pertengahan, harga udang masih belum beranjak membaik. Pasalnya, pasar Jepang masih lemah. Di samping itu, berdasarkan informasi, gudang beku (cold storage) udang tengah melimpah dengan harga murah dari negara  Ekuador.

Di lain pihak, Ardi Budiono, Head of Aquaculture Division JAPFA Group, mengungkapkan, sektor perikanan termasuk yang terkena dampak covid-19. Akan tetapi, ini hanya terasa di kuartal ke-2 tahun 2020. Selanjutnya, bisnis berjalan mulus hingga akhir tahun. Ekspor udang berjalan normal bahkan, menurut informasi yang beredar, terjadi kenaikan harga untuk ekspor ke pasar AS.

Terkait dengan prospek bisnis di tahun 2021, ia berharap terjadi tren positif dan pasar secara perlahan meningkat. Akan tetapi, ia tidak memungkiri jika tahun ini, iklim tidak bisa diprediksi.

Menurut Ardi, kondisi bisnis ikan dan udang cukup bagus. Masalahnya, kendala yang dihadapi dalam bisnis sektor akuakultur ini adalah terkait dengan penyakit. Meskipun begitu, masalah ini dapat diatasi. Untuk ikan, ketersediaan benih menjadi tantangan tersendiri.

Pasar ekspor cukup signifikan

Masih menggeliatnya pasar perikanan ekspor juga diungkapkan oleh Harry Yuli Susanto, Direktur, PT Alter Trade Indonesia. Menurutnya, ekspor sektor perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai 5,2 miliar atau naik 5,4% dari 2019. Komoditas utamanya masih didominasi udang sebesar 2,040 juta USD atau sekitar 39% dari total komoditas utama produk perikanan.

Ia memprediksi, di tahun 2021, ada peningkatan ekspor produk perikanan terutama sektor udang yang juga ditunjang dengan produk olahan yang tingkat kenaikannya cukup tinggi pada tahun 2020.

Senada dengan Harry, Haris Muhtadi, Direktur Pemasaran PT CJ Feed juga mengungkapkan hal yang sama. Pasar ekspor masih cukup signifikan dengan melihat kenaikan konsumsi pakan. “Maksudnya, konsumsi pakan udang nasional yang tetap naik 4–5% meskipun di tengah pandemi. Sementara itu, ia memperkirakan pasar ekspor udang tahun 2021 akan naik pada kisaran 15%.

Sebagai gambaran ekspor  produk perikanan dari Lampung, malah mengalami kenaikan di tahun 2020. Menurut Rusnanto, S.Pi., M.Si, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Provinsi Lampung. Ekspor komoditas perikanan Lampung di tahun 2020 mencapai 2,303 triliun. Nilai ini naik 12,9% dari tahun sebelumnya, yang membukukan nilai ekspor sebesar Rp. 2,040 triliun.

Dilihat dari aspek volume, ekspor di tahun 2020 juga mengalami kenaikan 9,1%, atau sebesar 16.279 ton dari tahun sebelumnya 14.917 ton. Komoditas utama yang diekspor meliputi udang, daging rajungan, cumi-cumi, rumput laut dan ikan segar. Sementara itu, ada 10 negara tujuan ekspor utama di antaranya yaitu Amerika Serikat, Belanda, Kanada, Jerman, China, Jepang, Singapura, Prancis, Hongkong, dan Inggris.

Menurut Budhi Wibowo, Ketua AP5I (Asosiasi Produsen Pengolahan &Pemasaran Produk Perikanan Indonesia), berdasarkan data KKP, nilai ekspor produk perikanan meningkat sekitar 5%, dengan peningkatan volume 6%. Khusus untuk komoditas udang, volume mengalami peningkatan sekitar 15 %, dengan peningkatan nilai sekitar 19% .

Peningkatan ekspor udang Tahun 2020 terjadi selain karena adanya peningkatan supplai bahan baku udang, banyak UPI udang yang berhasil melakukan switching pasar dengan merubah pasar dari food service (Rumah makan, cafe, katering)  mengalihkan dan memperbesar penjualan pada pasar langsung ke konsumen akhir (retail).

“Kami berharap tahun 2021  untuk ekspor produk perikanan keseluruhan meningkat  sekitar 10%. Khusus komoditas udang, diharapkan meningkat sekitar 20%,”papar Budhi. (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.