Ikan Sebagai Ikon

Ikan Sebagai Ikon

Oleh:

Muhammad Husen

Penulis adalah Pengurus Masyarakat Akuakultur Indonesia Komda Jabar

Ikan Sebagai Ikon
Muhammad Husen

Orang tua di Tatar Sunda menyebut ikan air tawar “Lauk Cai”. Ikan bagi masyarakat Pasundan telah menjadi bagian kehidupan. Hal ini dimungkinkan karena sumber daya alam di Jawa Barat pada umumnya memiliki sumber daya air yang memadai bagi tumbuh dan berkembangnya ikan. Keberadaan balong tetenong (kolam comberan) di seputar rumah banyak ditemui di pelosok perkampungan.

Budaya memelihara ikan di tanah Pasundan sudah tertanam sejak para petinggi Kerajaan Galuh-lebih kurang 300 tahun lalu mulai menggali sebagian bantaran sungai sebagai tempat menyimpan ikan. Setelah itu, mereka berangsur-angsur memelihara ikan di kolam atau di sawah. Pengalaman turun-menurun memelihara ikan akhirnya tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja, tetapi berubah menjadi ladang usaha memperoleh penghasilan.

Seorang tokoh perikanan, Odjoh Ardiwinata (alm), pada 1955-1960 menerbitkan serial buku yang menceritakan seluk-beluk memelihara ikan tempo dulu. Ditemukannya berbagai cara spesifik memelihara ikan oleh masyarakat menjadi bukti, masyarakat Pasundan memiliki keterampilan dan keahlian berbudidaya ikan.

Bukti empiris lain kepiawaian masyarakat Pasundan membudidayakan ikan juga pernah dimuat Majalah Bamidgeh terbitan Israel sekitar tahun 1950-an atau pada buku-buku tulisan ahli perikanan manca negara, seperti Dr. Alikunhi dan Dr. Chauduri (India), Dr. Bardach dan Dr. Meske (Israel), Dr. Huet (Perancis), atau Dr. Vaas Van Oven (Belanda). Pada 1950-an mereka pernah mengunjungi wilayah Priangan, tepatnya Kampung Ciseda-Cipakat-Singaparna, yang dikenal sebagai daerah pembenihan ikan mas di Tasikmalaya.

Buku-buku tersebut banyak mengupas istilah perikanan berbau bahasa Sunda, seperti kereneng, buleng, oblok, kakaban, panglembangan, gomblangan, panyabetan, palet, surumbung, sistem Galunggung, sistem kantong, sistem Rancapaku dan lain sebagainya. Peran dan fungsi peristilahan tersebut diterangkan secara rinci berdasarkan kajian ilmiah.

Dua pakar perikanan Tiongkok, Prof. Choong Lin (alm) dan Prof. Wu Ting Ting, memperkenalkan penggunaan “kakaban” sebagai salah satu tempat menempel telur ikan mas khas Jawa Barat, saat peserta pelatihan dari NACA/FAO mengunjungi Lembaga Riset Perikanan di Guangzhou dan Wuxi. Dr. Scott dan Dr. Warner, keduanya ahli genetika ikan dari Reading University Inggris, sempat terpesona ketika memerhatikan proses pembenihan ikan “sistem Galunggung” di Kampung Saladah-Leuwisari, Tasikmalaya.

Keunggulan

Kepopuleran Jawa Barat membudidayakan ikan tidak disangsikan. Munculnya teknologi kolam air deras, teknologi longyam (integrasi antara balong dan ayam), teknologi keramba jaring apung di Waduk, termasuk teknologi Sariban di era 1970-an, telah menambah semarak khazanah budidaya ikan sehingga tidak disangsikan lagi ikan telah menjadi ikon Jawa Barat.

Namun, kini gaung lauk cai di Tanah Pasundan seolah nyaris tidak terdengar. Pasalnya, perikanan budidaya air tawar yang berlangsung selama ini masih banyak bertumpu pada cara2 tradisional. Padahal, peran teknologi dalam perkembangan budidaya ikan merupakan kunci keberhasilan.

Untuk membedah potensi budida ya yang dimiliki, para pelaku usaha seyogyanya sudah memulai menggunakan kaidah- kaidah “sciencetific based”, artinya peran iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dijadikan andalan. Apalagi dalam era globalisasi, jangan terjebak dalam kondisi yang selamanya tradisional dan primitif.

Teknologi tradisional yang dimiliki memang telah menjadi inspirasi para ahli perikanan dari luar. Mereka senantiasa mengkaji kemudian memperbaiki kisi-kisinya. Israel berhasil mengembangkan teknologi perkolaman intensif sehingga memiliki tingkat produktivitas kolam cukup tinggi. Hungaria berhasil memanfaatkan jerami padi dan cincangan kol guna memproduksi “rotatoria” (makanan larva) cukup signifikan. China melesat menjadi negara yang memiliki produksi akuakultur nomor wahid di dunia berkat keterpaduan mengelola wadah budidaya (integrated farming).

Dari konteks tersebut, dapat diinti sarikan bahwa teknologi di manapun senantiasa harus terus dikembangkan, tidak berjalan di tempat walau bukan berasal dari negerinya sendiri.

Peran Teknologi Mutakhir

Kehadiran teknologi mutakhir termasuk di dalamnya bioteknologi dalam pembenihan ikan, telah memberikan dampak positif. Sistem kegiatannya tidak lagi menggantungkan pada ketersediaan air melimpah atau lahan luas maupun  pengaruh cuaca seperti halnya pada budidaya tradisional, akan tetapi semuanya di kelola secara modern.

Pengaturan air dirancang serba otomatik dan diberlakukan biosecurity sehingga masalah penyakit bisa dikontrol secara tepat. Padat tanam larva bisa lebih tinggi karena kelarutan oksigen dan ketersediaan pakan alami mudah di monitor.

Cahaya maupun suhu semuanya diatur sesuai prinsip-prinsip efisiensi. Frekuensi maturasi dan ovulasi bisa di tentukan bahkan penetapan jenis kelamin pun bisa di utak-atik sejak dini. Penyediaan pakan alami serba teratur pula. Diawali dengan kultur monospesifik species yakni melakukan isolasi kemudian dikembangkan sedikit demi sedikit secara bertingkat.

Aplikasi teknologi pembenihan ikan dengan metoda “artificial propagation” telah banyak diterapkan, walau pemanfaatannya tidak merata di kalangan pembudidaya. Teknologi “manipulasi kromosom” pada sex reversal ataupun pada proses gino/androgenesis, maupun teknologi poliploidi untuk mendapatkan ikan “mandul”, serta teknologi “implantasi” untuk mempercepat kematangan gonad sepertinya sudah tidak ada kendala.

Demikian pula teknologi “nannobuble” untuk memperkaya oksigen pada perairan sudah mulai diaplikasikan. Namun, kenyataannya teknologi-teknologi tersebut masih jarang ditemui pemakaiannya dilapangan. Terlebih teknologi mengutak-atik DNA untuk menghasilkan “ikan transgenik” masih jauh dari jangkauan.

Teknologi lain yang belum termanfaatkan adalah “sperma beku” (frozen sperm), teknologi ini sangat dibutuhkan layak dikembangkan, apalagi saat ini Jawa Barat “paceklik” induk ikan. Demikian pula RAS (Recirculation Aquaculture System) sebagai teknologi memanfaatkan hemat lahan dan air, sejatinya lebih banyak diadopsi masyarakat. Bentuk VRKT (Volume Rendah Kepadatan Tinggi) mesti terus diaplikasikan.  Namun semua perlakuan2 tersebut tentunya tidak terlepas dari kaidah-kaidah BAP (Best Aquiaculture Practices) sebagai bagian memperkuat daya saing.

Penguasaan teknologi mutakhir adalah upaya yang luar biasa. Hal itu bisa dimengerti karena teknologi-teknologi tersebut layaknya akan menjadi pilar-pilar kemajuan bangsa. Hanya kadang-kadang sering muncul pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian masyarakat yakni apakah proses teknologi mutakhir itu efektif dan efisien.

Efektif artinya memilih sistem kontrol yang cukup sehingga tujuan besar itu pada akhirnya dapat tercapai. Efisien artinya apakah proses pertumbuhannya cost effective, kompetitif dan dapat segera memberikan keuntungan. Semuanya itu baru bisa terjawab manakala melihat sebagian fakta yang terjadi di lapangan. Sejatinya teknologi-teknologi di atas sudah layak diaplikasikan di kalangan pembudidaya. Agar “ikan” yang menjadi Ikon Jawa Barat tidak hanya menjadi “tembang kenangan”, tetapi juga dapat membawa Jawa Barat sebagai provinsi termaju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.