Inovasi Teknologi Akuakultur, Solusi Perubahan Iklim

Inovasi Teknologi Akuakultur, Solusi Perubahan Iklim

Fenomena perubahan iklim dan lingkungan global saat ini diprediksi akan menjadi tantangan utama bagi  sektor-sektor berbasis pangan termasuk perikanan budidaya. terang Pemimpin Redaksi Majalah Info Akuakultur, Ir. Bambang Suharno saat membuka acara webinar Tropical Aquaculture Innovation Conference dengan tema Dampak Perubahan Iklim Terhadap Akuakultur Tropis yang diselenggarakan oleh Info Akuakultur dan Himperindo (20/10).

Inovasi Teknologi Akuakultur, Solusi Perubahan Iklim
Hammam Riza

Peserta yang hadir di Webinar ini lebih dari 140 orang, yang terdiri dari kalangan pemerintah, swasta, petambak, asosiasi, akademisi dan stakeholder perikanan.
Menurut Ketua Umum Himperindo, I. Nyoman Jujur penting untuk membuat semacam peta jalan (road map) pengembangan perikanan budidaya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan lingkungan global. Hal ini akan menjadi acuan semua pelaku dalam melakukan langkah-langkah antisipatif menghadapi tantangan tersebut.

Dikesempatan yang sama, Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia yang tentunya memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang luar biasa sehingga menjadikan laut Indonesia sebagai lumbung pangan nasional yang tentu saja dibangun untuk memakmurkan bangsa.

Dengan adanya pandemi ini lanjut Hammam, kegiatan perikanan termasuk di dalamnya kegiatan akuakultur atau budidaya perikanan sangat rentan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut sudah di sampaikan oleh banyak ilmuan melalui hasil-hasil riset di sektor perikanan yang memiliki risiko seperti menekan hasil tangkapan ikan di laut serta kelangsungan produksi perikanan dari akuakultur.

Seperti sekarang sedang menghadapi lanina yang dapat merusak lingkungan termasuk kegiatan produksi perikanan akuakultur. Karenanya perlu mengembangkan inovasi teknologi akuakultur yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan teknologi ramah lingkungan, ujarnya.

Oleh sebab itu, Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Himperindo menyelenggarakan Tropical Aquaculture Innovation Conference dengan tema Dampak Perubahan Iklim Terhadap Akuakultur Tropis.

Bambang PS Brodjonegoro

Potensi produksi perikanan Indonesia tentunya bukan rahasia lagi, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menghasilkan produksi dan kiloton perikanan yang paling terbesar di dunia dan sebagai negara kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, demikian kata Menteri Riset Teknologi/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro.

Dengan produksi yang begitu besar maka meningkatan juga nilai ekspor setiap tahunnya. Demikian juga komoditas yang potensial di Indonesia adalah rumput laut, ini perlu diidentifikasi lagi, mengingat lebih mudah untuk ditangani dan mempunyai pasar yang cukup besar

Seperti negara Jepang dan Korea yang selalu menggunakan rumput laut terutama untuk kebutuhan pangannya sehingga konsekuensi dari peningkatan nilai ekspor dan aktivitas pertanian tentunya adalah pada pendapatan jangka panjang, ujarnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edy Prabowo yang diwakili oleh Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, prediksi peran akuakultur ke depan, sudah saatnya kita melakukan inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan yang berbasis mitigasi perubahan iklim. Berbagai teknologi akuakultur yang mulai berkembang tersebut antara lain penerapan integrated multitrophic aquaculture (IMTA). Kemudian pengembangan teknologi bioflok, pengembangan minapadi, pengembangan recirculating aquaculture system (RAS).

Slamet Soebjakto

Strategi kebijakan dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan lingkungan global terhadap usaha akuakultur, Slamet membeberkan bahwa ada (empat) poin penting yang perlu dilakukan, yakni : Pertama, pengelolaan akuakultur melalui pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach for Aquaculture); Kedua, Asuransi pembudidaya ikan sebagai bagian dari langkah adaftif dari sisi ekonomi; Ketiga, pengembangan teknologi akuakultur yang adaptif dan berbasis mitigasi; Keempat, penentuan zonasi akuakultur yang tepat sebagai  langkah adaptasi yang penting dalam mengantisipasi perubahan iklim.

Tropical Aquaculture Innovation Conference, menghadirkan narasumber yang ahli dibidangnya diantaranya Dewan Pakar Himperindo Bidang Kelautan, Perikanan dan Lingkungan, Prof. Dr. Ir. Suhendar I. Sachoemar., MSi yang membahas “Sato Umi: Konsep Pembangunan Akuakultur Berkelanjutan Masa Depan”. Kemudian Head of Shrimp Health Section PT. Suri Tani Pemuka/ Japfa Group, Drh. Narendra Santika Hartana yang menjelaskan Industri Perikanan Menyikapi Dampak Perubahan Iklim/Sharing Pengalaman. Serta Kepala BMKG 2007 – 2013, Dr. Andi Eka Sakya M.Eng, mengupas Dampak Perubahan Iklim Terhadap Akuakultur di Wilayah Tropis. Dan webinar ini di komandoi oleh Ketua Indonesia Network on Fish Health Management (Infhem), Ir. Maskur, M.Si.

Bicara peluang, dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, Indonesia justru diuntungkan karena disuguhi karunia potensi sumberdaya yang melimpah serta dukungan pola iklim yang baik, sehingga sangat potensial untuk pengembangan berbagai varian jenis komoditas sesuai kebutuhan. Maskur menyimpulkan untuk meng-create kegiatan budidaya dengan mengedepankan prinsip “eko-efisiensi” berbasis mitigasi dan konservasi yaitu dengan mendorong produktivitas tinggi, lebih efisien dengan tetap menjaga kualitas lingkungan perlu terus didorong.

Sebagai Informasi, BPPT sejak 42 tahun yang lalu, ditujukan untuk meningkatkan kontribusi iptek dan  produktifitas ekonomi dengan melakukan inovasi yang berbasis pada kebutuhan guna mengejar ketertinggalan malalui ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi  sebagai landasan ilmiah didalam seluruh kebijakan pembangunan nasional.

Para narasumber saat persentasi

BPPT terus berkomitmen guna mencapai tujuan tersebut melalui penguatan kelembagaan mengembangkan sumber daya manusia sebagai human capital yang mumpuni dengan memberdayakan aspek sumber daya manusia perekayasa, peneliti serta seluruh jabatan fungsional lainnya.

Diakhir Webinar juga ada persentasi makalah oleh Dr. Sudarto mengenai  Rumput Laut dengan Integrasi Proses untuk Multi Produk Industri.Terselenggaranya acara ini berkat dukungan PT. Suri Tani Pemuka/Japfa Group, WWF Indonesia, KKP, RISTEK-BRIN, BPPT, Minapoli, GITA dan Agribiz Network. (Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.