Lebih Dekat Melihat Budidaya Kakap Putih Di Thailand

Oleh:

Yuli Andriani

Staf Pengajar Departemen Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (UNPAD)

 

Seabass atau kakap putih (Lates calcarifer) merupakan komoditas yang disukai masyarakat Thailand. Meskipun permintaan pasar terhadap kakap putih sangat tinggi, namun produksinya masih terbatas dan hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal. Budidaya kakap putih masih dihadapkan pada banyak kendala dalam pembudidayaannya salah satunya sintasannya yang rendah. Diantara farm yang bergerak dalam budidaya ikan kakap putih, beberapa tahun yang lalu penulis berkesempatan mengunjungi dua farm besar di Thailand, yaitu Boomsawang Farm dan Pramote Farm, di daerah Bangren Thailand.

Produk yang dihasilkan oleh farm adalah benih kakap putih ukuran 1,5 cm – 4 inch, serta  ikan konsumsi ukuran 800 gram -1 kg dan ukuran 2-3 kg. Ikan dipelihara dalam air yang memiliki salinitas 4-10 ppt, dengan kepadatan 100.000/kolam untuk benih, serta 2 ekor ikan/m2 untuk pemeliharaan ukuran 4 inch-800 gram.

Produksi kakap putih diawali dengan proses pemijahan, pemijahan kakap putih dilakukan dengan penyuntikan hormon seperti halnya pada ikan patin atau bawal. Induk betina dan jantan dengan perbandingan 1 : 2 dimasukkan ke dalam kolam pemijahan sepanjang malam. Keesokan harinya telur ikan kakap putih yang sifatnya mengapung di permukaan air akan terlihat.

Cara pengumpulan telur dilakukan dengan memasang jaring di pintu outlet kolam, kemudian air dialirkan keluar bersama dengan telur-telur yang telah dibuahi. Telur yang tidak dibuahi akan terpisah dengan yang dibuahi, karena telur yang tidak terbuahi akan tenggelam. Untuk mempertahankan kualitas benih yang dihasilkan, induk kakap putih diganti setiap dua tahun sekali dengan induk yang lebih muda. Setiap memijah telur yang dihasilkan sekitar  1.000.000 ekor, dan akan menetas setelah 24 jam.

Di alam, ikan kakap putih memiliki food habit memakan ikan kecil, sehingga dalam proses budidaya pakan yang digunakan berupa ikan rucah. Dalam perjalanannya, budidaya ikan kakap putih “dilatih” untuk menerima pakan pellet kering jenis terapung. Untuk mengefisienkan penyediaan pakan dan meningkatkan produksi, budidaya ikan kakap putih di Thailand merubah pola food habit ikan dari 100% pakan ikan rucah  30% pelet kering dan 70% ikan rucah.

Pramote Farm merupakan farm pertama yang berhasil membudidayakan ikan seabass dengan pemberian pellet kering, sementara Boomsawang adalah salah satu farm besar produsen kakap putih di Thailand.

Pasca menetasnya telur, larva ikan diberi pakan pada hari kedua menggunakan pakan Rotifera selama dua hari, dilanjutkan dengan pakan Artemia sampai umur 15 hari. Pada umur 15 hari (ukuran 1 inch), benih seabass akan diberi pakan pellet kering dan ikan rucah secara kombinasi, kemudian setelah ukuran 3 inch diberi pakan 100% pellet kering.

Perubahan food habit dari pemakan ikan rucah menjadi pemakan pellet kering  mengakibatkan  survival rate akan mengalami penurunan dari sekitar 50-60% menjadi 40%. Hal ini merupakan hal yang wajar karena pada saat menerima pakan baru, pencernaan ikan akan beradaptasi dan menyesuaikan dengan karakter pakan baru. Menurut Effendie (1997), ikan memiliki kemampuan untuk memodifikasi organ-organ pencernaannya disesuaikan dengan cara pengambilan makanan dari lingkungannya.

Merubah food habit kakap putih menjadi pemakan pellet kering secara signifikan akan meningkatkan produksi. Pertama, biaya transportasi penyediaan pakan akan minimal, demikian juga dengan sarana penyimpanan pakan ikan akan semakin mudah dan murah karena tidak lagi memerlukan mesin pendingin. Kedua, penggunaan pelet kering juga ternyata menekan kasus serangan penyakit yang biasa timbul akibat penyakit yang disebarkan melalui penggunaan ikan rucah.

Efisiensi juga dilakukan dengan mengatur tatacara pemberian pakan (feeding methods). Untuk mengurangi kehilangan pakan dalam kolam budidaya yang luas, pemberian pakan dilakukan dalam area tertentu yang dibatasi dengan jala (feeding area), sehingga pada saat pemberian pakan ikan akan berkumpul dan hanya makan di area tersebut.

Waktu makan ditandai dengan cara memberikan stimulan suara dari pakan yang jatuh ke permukaan air atau memukul dinding jaring dengan tutup kaleng pakan. Pakan pun tidak akan menyebar karena hanya akan terapung di sekitar jala yang telah dipasang. Selanjutnya sisa pakan yang tak termakan akan jatuh ke jarring dan akan dikeringkan lagi sebagai pakan tambahan yang akan diberikan pada jadwal makan esok hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.