Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang

Udang yang sehat mampu tumbuh sesuai target pertumbuhan serta dapat dipanen pada umur budidaya yang telah ditetapkan. Ingin udang sehat? Lakukan langkah-langkah berikut.

Kesehatan udang ditentukan oleh pengelolaan lingkungan yang baik. Hal ini disebabkan media budidaya yang baik mampu menunjang pertumbuhan udang yang dibudidayakan. Monitoring kesehatan yang dilakukan secara kontinu serta upaya mencegah timbulnya hama dan penyakit dalam usaha budidaya merupakan kunci menciptakan serta mempertahakan kesehatan udang. Selama lingkungan masih mampu mentolelir beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi (pupuk,obat, pakan dan feses udang), udang akan tetap dalam kondisi sehat.

Pada umumnya, serangan penyakit mulai terjadi pada bulan kedua pemeliharaan. Kunci manajemen kesehatan udang adalah pencegahan. Terapi udang dengan menggunakan obat-obatan merupakan langkah pencegahan dini agar virulensi penyakit dapat dihambat bahkan rantai penyebaran dan serangan penyakit dapat dimusnahkan. Kemampuan mengendalikan faktor penyebab stres dan antisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit tersebut menentukan kualitas dan kuantitas udang hingga masa panen.

Monitoring kesehatan udang

Pengamatan kesehatan udang sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya setiap hari. Pengamatan dilakukan dengan mengontrol udang di anco, yang bisa dianggap mewakili kondisi keseluruhan udang di dalam kolam. Pengamatan dilakukan secara visual, baik terhadap udang maupun anco. Hal ini disebabkan anco merupakan miniatur dari lingkungan kolam. Selama pengecekan diharapkan tidak terdapat udang yang mati di dalam anco. Banyaknya feses udang di anco menunjukkan bahwa udang melakukan metabolisme dengan baik. Selain itu, pakan yang diberikan di anco termakan oleh udang dengan indikator bahwa jumlah pakan yang terdapat di anco berkurang atau habis pada saat pengecekan.

Pengamatan terhadap kondisi organ-organ tubuh udang juga perlu dilakukan secara berkala, seperti kelengkapan antena, ekor, kaki renang, rostrum, dan warna tubuh. Sekecil apapun perubahan tubuh seperti adanya kaki yang patah, ekor gripis, antena patah, penyimpangan warna, atau warna yang tidak lazim dengan adanya titik-titik warna lain; segera lakukan antisipasi.

Udang yang sehat dicirikan dengan gerakan aktif mengelilingi petakan tambak dan meloncat bila anco diangkat serta memberikan respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan pada malam hari. Setelah berumur lebih dari 50 hari udang sering meloncat keluar petakan; tubuh berwarna putih cerah atau mengkilap dan titik-titik hitam yang jelas; tubuh bersih dan tidak ada kotoran atau lumut yang menempel; tubuh tidak lembek dan keropos; anggota tubuh tidak ada yang cacat; ujung ekor, kaki renang, kaki jalan tidak geripis dan tidak bengkok; ekor membuka dan lebar seperti kipas; insang jernih, bersih, dan terdapat gerakan seperti aliran air; dan kondisi isi usus terlihat penuh di bawah sinar, tidak terputus-putus.

Artikel Populer:  Maternal Imunnity, Tingkatkan SR Hingga 72%!

Hasil dari pengamatan udang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk memberikan perlakuan pada udang maupun media budidaya. Jika pakan di anco tidak habis, tidak terdapat feses udang, serta isi usus udang terlihat putus-putus atau tidak penuh; lakukan evaluasi jumlah pakan berupa pengurangan jumlah pakan. Jika terdapat udang yang mati, anggota tubuh udang tidak lengkap, dan gerakan udang lambat; lakukan pengamatan dasar kolam. Dasar kolam yang kotor karena tumpukan bahan organik sisa metabolisme atau dari sumber lain dapat dibersihkan dengan cara disifon atau dibuang melalui central drain. Jika karapas udang lembek, lakukan perlakuan pada air, misalnya melakukan pergantian air, pengapuran, atau penambahan bahan aditif lainnya.

Pengelolaan hama dan penyakit udang

Pengelolaan hama dan penyakit dilakukan dengan tindakan pencegahan dan pengendalian. Tindakan pencegahan dilakukan agar hama dan penyakit tidak timbul dalam kegiatan usaha budidaya. Sementara tindakan pengendalian merupakan serangkaian usaha untuk menghilangkan hama dan penyakit ikan yang muncul dalam kegiatan usaha. Kehadiran hama dan penyakit ikan akan mengganggu bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang besar serta mengancam keberlanjutan usaha budidaya udang.

Pengendalian hama harus dilakukan sejak awal sampai akhir kegiatan budidaya, mulai dari tahap persiapan wadah sampai pemanenan. Pengendalian dilakukan dengan cara mencegah dan memeriksa udang secara berkala.

Hama adalah segala hewan (organisme) yang ada di dalam tambak selain yang dibudidayakan dan dianggap merugikan, biasanya mengakibatkan hilangnya hewan budidaya karena proses makan-memakan (predasi), terjadi persaingan (kompetisi) dalam pemanfaatan ruang dan makanan, atau menimbulkan kerugian di bidang fasilitas. Dalam budidaya udang, hama ditambak digolongkan menjadi empat, yaitu pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), perusak sarana, dan pencuri. Hama predator akan memangsa udang yang dibudidayakan sehingga mengakibatkan turunnya populasi udang. Sementara hama penyaing akan menyaingi udang dalam hal ruang gerak, perolehan oksigen, serta konsumsi pakan yang diberikan.

Teknik pencegahan dan pemberantasan hama dimulai sejak persiapan pemeliharaan sampai panen. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu melakukan persiapan pemeliharaan dengan baik; pemberantasan manual dengan melakukan patroli keliling; penyaringan air yang masuk (filter); penggunaan tandon pengendapan dan tandon perlakuan sebelum digunakan; pemasangan penghalau burung dengan tali senar yang melintang di atas permukaan air tambak atau dengan suara kincir angin atau alat lain yang dapat menimbulkan bunyi; pemasangan pagar keliling areal tambak untuk untuk membatasi pergerakan manusia dan pengaruh hewan lain dari luar lingkungan budidaya; serta penggunaan obat-obatan organik, misalnya saponin 15 mg/liter untuk membunuh hama ikan dalam tambak.

Artikel Populer:  Peran Probiotik Sukseskan Budidaya Vaname

Penyakit yang timbul pada udang vaname dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan protozoa. Umumnya, penyakit tersebut memiliki virulensi yang berbeda tergantung dari lingkungan dan ketahanan udang itu sendiri. Penyakit pada udang ada yang bersifat patogenik dan non-patogenik. Penyakit yang bersifat patogenik umumnya memiliki sifat patogen dengan tingkat kematian tinggi. Contoh penyakit patogenik antara lain Taura Syndrome Virus (TSV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), IHHNV (Infection Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus), NHPB (Necrotizing Hepato Pancreatitis Bacteria), dan vibriosis. Sementara penyakit non-patogenik antara lain penyakit keropos pada udang, penyakit udang kram, usus dan hepatopankres abnormal, serta udang berenang abnormal.

Selama proses budidaya, pengelolaan air perlu dilakukan dengan baik sehingga udang dapat hidup dengan baik dan tidak mengalami stres. Stres menyebabkan pembentukan antibodi pada udang terganggu. Jika pembentukan antibodi udang berlangsung dengan baik dan air media budidaya tetap dalam kondisi optimal sesuai kebutuhan udang, penyakit tidak akan timbul. Timbulnya penyakit disebabkan adanya interaksi antara inang, patogen dan lingkungan budidaya. Jika udang dalam kondisi lemah, terdapat patogen yang ganas, serta kondisi lingkungan budidaya buruk; udang akan bisa mengalami kematian.

Rekomendasi untuk meminimalkan infeksi hama dan penyakit pada budidaya udang yaitu menggunakan benih udang yang berkualitas, baik SPF atau SPR; mendeteksi serta memonitor kesehatan udang secara rutin dan teratur; menjaga kualitas air tetap stabil sehingga udang tidak mengalami stres; mengaplikasikan probiotik dan immunostimulan untuk meningkatkan imunitas udang terhadap serangan penyakit; serta menerapkan biosecurity.

Biosecurity adalah pengelolaan kawasan budidaya yang dilakukan sebagai upaya proteksi pada setiap tahapan budidaya untuk mencegah dan mengurangi penyakit masuk ke dalam kawasan budidaya serta mencegah penyebarannya ke tempat lain. Dengan begitu, biota yang dipelihara dapat tumbuh dengan optimal. Manfaat biosecurity adalah memperkecil kerugian dalam operasional budidaya karena terinfeksi penyakit, mengetahui secara dini adanya wabah penyakit, sehingga kegiatan selanjutnya dapat lebih cepat diantisipasi dan menekan kerugian yang lebih besar, apabila terjadi kasus wabah penyakit.

Artikel Populer:  Langkah Praktis Budidaya Udang Berkelanjutan

Prinsip penerapan biosecurity di pertambakan udang adalah mencegah masuknya penyakit atau jasad patogen ke dalam wilayah budidaya udang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun cara masuk patogen bisa lewat manusia, hewan, dan peralatan yang digunakan selama proses budidaya.

Untuk meminimalkan masuknya patogen tersebut perlu dibuat beberapa sarana penunjang, misalnya alat pengusir burung (bird screening device) yang mampu menghasilkan bunyi–bunyian tertentu. Contoh lain adalah pagar penghambat kepiting masuk ke tambak (crab screening device),yang dibuat dari bahan plastik setinggi 40—50 cm, dibuat berjarak 1 meter dari pematang dan mengelilingi tambak. Tempat cuci kaki dan tangan juga perlu disediakan di pintu masuk untuk meminimalkan patogen yang mungkin terbawa manusia yang akan masuk ke wilayah tambak. Air tempat cuci kaki disterilkan dengan chlorine cair atau kaporit dengan dosis 20—50 mg/l serta menyaring air masuk menggunakan saringan 3 lapis.

Tindakan biosecurity pada air media dilakukan dengan menyaring air yang masuk dengan saringan multiple screening ukuran 200—250 mikron, dengan tujuan mencegah masuknya karier penyakit dan predator. Pengelolaan air tambak dimulai ketika memasukkan air untuk pertama kalinya dalam infrastruktur budidaya, yaitu treatment pond (tandon), kanal sub-inlet, kanal distribusi, dan culture pond (tambak budidaya).

Kualitas air yang akan digunakan untuk budidaya harus diperhatikan; baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Setelah masuk ke dalam fasilitas budidaya, air disterilisasi dengan crustacide, yaitu bahan kimia untuk membunuh larva crustacea yang lolos dari multiple screening. Selanjutnya, air didiamkan selama 72 jam (aging) untuk mencegah free living virus menemukan sel inang baru. Air siap digunakan setelah selesai aging dan tetap harus melalui multiple screening. (Ed: Rch)

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Biasa menyerang udang di usia 60 hari, kini WFD terdeteksi menyerang di usia 40 hari.
Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan
Hari pertama Pelatihan Vaksinator Ikan Bersertifikat di gelar di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar
Beberapa tahun belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus (TiLV) yang
Indonesia diakui berhasil menangani berbagai macam penyakit ikan dan udang. Namun janganlah terlena dengan keberhasilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.