Pentingnya Nursery dalam Budidaya Udang

Penggunaan nursery pond (kolam pendederan) dapat mencegah terjadinya kegagalan budidaya di awal. Sehingga peluang usaha budidaya udang lebih besar dan mendapatkan hasil panen yang optimal.

 

Metode oslah, cikal bakal sistem nursery

Bukan hanya sudah akrab di kalangan para pembudidaya, masih menurut Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Indonesia merupakan negara pionir di Asia Tenggara dalam pemanfaatan sistem nursery ini. Hanya saja, aplikasi teknologi dan dukungan eksternal menyebabkan peralatan teknologi nursery Indonesia kalah dari Thailand dan Vietnam dalam budidaya udang.

Di lain pihak, Kasan Sentosa, Direktur Pengembangan Bisnis PT Grobest Indomakmur, pada dasarnya, pengelolaan sistem nursery hampir sama dengan  konsep budidaya di hatchery. Pada sistemnursery, konsep utamanya yaitu harus tepat dalam memperhitungkan nutrisi. Dalam hal ini, termasuk penambahan feed additive yang sangat berguna untuk pertumbuhan dan daya tahan udang.

Di samping itu, perlu untuk memastikan kadar oksigen terlarut tercukupi. Masih menurut Kasan, terkait peralatan yang digunakan, banyak pembudidaya yang sesuai dengan konsep yang akan dipakai, misalnya memakai kolam bundar, atau bak semen atau bak fiber, dan lain-lain.

Peluang keberhasilan lebih besar

Menurut Kasan, ke depan, konsep nursery ini harus dijalankan dan dipelajari dengan benar. Pasalnya, peluang keberhasilan dengan menggunakan sistem ini lebih besar. Hal ini terbukti di negara Thailand dan Vietnam yang menjalankan konsep nursery. Di negara tersebut, praktik ini menjadi sangat populer dalam budidaya udang, terutama sebagai salah satu solusi untuk menekan penyakit AHPND yang menyerang udang DOC 20 sampai 40 hari.

Jadi, dengan menerapkan konsep nursery, daya tahan udang lebih diperhatikan dan terjaga. Selain itu, petambak dapat mengestimasi biomassa udang dengan lebih tepat.

Senada dengan Kasan, Riana Soesilo, Head Marketing Geosynthetics, PT Kencana Tiara Gemilang, berpendapat hal serupa. Ia berpandangan, sistem nursery sangat bagus karena dapat mencegah kegagalan di awal budidaya.

Meskipun berbagai keuntungan yang didapatkan dari sistem nursery, pembudidaya harus siap untuk mengeluarkan biaya tambahan di awal budidaya. Hal ini diungkapkan oleh Uus sofyan Anshiry, Headline TS, I and V Bio Indonesia. Ia juga menambahkan terkait pentingnya dilakukan pengawasan  lebih ketat.

Cegah infeksi penyakit

Menurut Agus Subagyo, Sales Engineer, PT Inve Indonesia, budidaya udang sistem nursery sangat cocok untuk diterapkan baik untuk mengurangi risiko menjangkitnya penyakit AHPND serta kerugian budidaya di awal periode.

Di lain pihak, Rudy menambahkan, pola budidaya dengan menggunakan sistem nursery sebenarnya adalah untuk meminimalisasi kemungkinan masuknya penyakit saat awal-awal budidaya. Sehingga, diharapkan dengan menggunakan sistem kolam nursery, risiko terjangkitnya penyakit pada udang budidaya dapat dikurangi.

Faktanya, sistem nursery sudah banyak diterapkan di berbagai negara, terutama di negara yang sudah terkena penyakit EMS (early mortality syndrome) atau AHPND, antara lain Thailand, Vietnam, China dll. Meskipun terbilang belum berkembang, secara teknologi, Indonesia tidak kalah dalam penerapan teknologi kolam nursery.

Tantangan dan kendala sistem nursery

Ikhsan melanjutkan, tantangan dan kendala dalam penerapan sistem ini di Indonesia adalah terkait dengan alokasi khusus untuk lokasi pendederan yang terpisah dari pembesaran serta penerapan biosekuriti yang ketat. Di samping itu, adanya jeda dalam waktu pemeliharaan yang terputus dengan banyaknya pemindahan benur dari satu phase ke phase lain.

Konsekuensi dari penerapan sistem nursery ini, menurut Ikhsan adalah teknologi yang harus terus diikuti dalam penerapan biosecurity sistem nursery ini. Tidak kalah penting, perlu dukungan kuat dari pemerintah untuk menjamin kelancaran kegiatan sistem sehingga dapat bersaing dengan negara lain.

Menurut Kasan, tantangan dan masalah dalam penerapan sistem nursery adalah proses transfer. Masalah terbesar adalah sewaktu transfer udang dari kolam nursery ke kolam pembesara grow out (GO). Pasalnya, Ketika tidak hati-hati, ini akan menyebabkan tingkat kematian udang menjadi tinggi atau survival rate (SR) yang rendah.

Hal ini juga diungkapkan oleh Menurut Ondang, Technical Advisor, CV Riz Samudera. Ia juga menambahkan, tantangan yang dihadapi dalam sistem nursery adalah dalam proses panen, transportasi, dan menjaga ukuran benur di kolam nursery.

Rudy menambahkan, tantangan dan kendala dalam penerapan sistem nursery adalah terkait dengan padat tebar. “Semakin tinggi padat tebar udang di kolam nursery, semakin besar risiko yang harus dihadapi, terutama perubahan kualitas air, tingkat stress pada udang,” papar Rudy.

Selain itu, lanjutnya, titik krusial dalam penerapan sistem nursery adalah proses transfer udang dari kolam nurseri ke tambak besar (growout pond). Ringkasnya, semakin lama budidaya di kolam nursery, semakin tinggi pula risiko dalam proses transfer udang tersebut.

Hati-hati cangkang lunak pada udang

Menurut Suprapto Marcel (PM), Manager TS Shrimp Feed, De Heus Indonesia, terlepas dari keutungan serta berbagai manfaatnya, sistem nursery memiliki beberapa tantangan tersendiri, di antaranya yaitu dalam penanganan dan pemindahan benur. Jika tidak dilakukan secara hati-hati, proses ini dapat mengakibatkan tingkat mortalitas yang tinggi.

Yang tidak kalah penting, yaitu terjadinya cangkang lunak (soft shell) atau kulit tipis pada udang budidaya. Hal ini dapat terjadi pada fase pemeliharaan di kolam nursery. Menurut Suprapto, kondisi ini disebabkan karena kebutuhan mineralnya yang tidak tercukupi. Mortalitas karena penyakit IMNV karena dipicu oleh goncangan parameter yang tidak standar.

Ketersediaan lahan jadi kendala

Menurut Agus, tantangan penerapan system nursery dalam budidaya udang adalah terkait dengan ketersediaan lahan. Berkurangnya ketersediaan lahan ini karena lahan digunakan untuk kolam nursery. Menurutnya, kolam tambak untuk keperluan ini umumnya di atas 2000 m2. Angka ini cukup luas jika digunakan untuk kolam pembesaran (PGO).

Sebaliknya, penerapan sistem nursery juga terkendala karena tidak tersedia lahan pada kondisi yang sudah ada. Pada umumnya, lahan sudah tidak tersedia karena sudah habis digunakan untuk kolam budidaya (pembesaran). Akan tetapi, ia memberikan alternatif lain, yaitu dengan membangun fasilitas baru model nursery dalam ruangan (indoor).

Sistem nursery, perlu SDM mumpuni

Menurut Rina Hesti Utami, PPB Pesisir Barat Lampung, Dinas Perikanan Kab. Pesisir Barat, sistem nursery sangat prospektif karena sampai saat ini masih sedikit yang membuka usaha di bidang nursery. Sementara, kebutuhan benih udang selalu meningkat seiring meningkatnya jumlah usaha tambak udang intensif.

Dalam aspek peralatan, Indonesia masih menghadapi keterbatasan peralatan dalam sistem nursery. Selain itu, kendala dalam penerapan sistemnursery yaitu kurangnya ketersediaan teknologi dan tenaga ahli tidak seperti di negara maju.

Oleh karena itu, Rina menyarankan perlu peningkatan sumberdaya manusia sebagai ahli nursery udang. Hal ini mengingat banyak sekali SDM di Indonesia yang memiliki keahlian namun tidak direkrut oleh perusahaan dalam negeri karena lebih mengunggulkan tenaga kerja asing (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.