Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Maros, 14 Juni 2015

Saat ini, bertambak menjadi peluang untuk pemenuhan produksi pangan, khususnya pemenuhan protein dari hewan akuatik, seperti udang dan ikan. Prinsip sustainable development harus mendasari proses produksi dalam tambak, tidak hanya fokus pada peningkatan produksi semata tetapi juga pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. “Sudah bukan jamannya lagi mengkonversi hutan mangrove untuk menjadi tambak produksi, justru saatnya kita replanting bakau untuk memperbaiki ekosistem pesisir,” ungkap Prof Rachman Syah, peneliti utama Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) di Takalar, 14 Juni 2015.
Rachman Syah menjelaskan prinsip-prinsip budidaya udang vaname teknologi super intensif kepada peserta techno park magang teknologi yang diselenggarakan dari tanggal 10 – 16 Juni 2015 di Instalasi Tambak Percobaan BPPBAP di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Sulsel. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Barru, Pinrang Sulsel, Kabupaten Berau Kaltim, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pakar lingkungan akuakultur tersebut menitikberatkan pada efisiensi penggunaan input akuakultur, termasuk lahan dan air. “Dengan teknologi super intensif, penggunaan air yang dibutuhkan untuk produksi 1 kg udang hanya sebesar 2 m3 dan lahan kecil seluas 1.000 m2 dengan kedalaman 2 meter mampu menampung satu juta benur udang”, lanjut Rachman Syah.
Padat tebar yang tinggi perlu diikuti dengan penggunaan kincir dan blower sebagai aerasi untuk pemenuhan oksigen bagi biota budidaya. Selain itu, penambahan bahan lain, seperti probiotik, molase diperlukan untuk memperbaiki kualitas perairan. Lebih detail dijelaskan mengenai prinsip pengolahan air limbah budidaya yang menjadi fokus penelitian beliau tahun 2015. “Sub sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mutlak diperlukan dalam sistem budidaya ini. Konsep IPAL ini telah diwujudkan di tambak percobaan BPPBAP dengan adanya bangunan kolam pengolahan yaitu kolam sedimentasi, kolam oksigenasi, dan kolam biokonversi,” jelas alumni pascasarjana IPB ini.
Adanya IPAL ini dapat meningkatkan nilai tambah berupa fresh product berupa udang dengan dampak lingkungan yang minimal dan adanya co product berupa rumput laut, kekerangan, ikan nila yang dapat dipelihara di kolam biokonversi. “komoditas ini merupakan organisme pada trophic level yang memanfaatkan rantai makanan level awal, sehingga mampu mengkonversi bahan organik dari limbah budidaya udang,” lanjut beliau. Dukungan litbang perikanan budidaya ini diharapkan mampu mendorong efisiensi dalam akuakultur dengan prinsip sustainable sebagai faktor pendorong meningkatnya daya saing produk akuakultur Indonesia.
Contact Person:
Ir. Andi Parenrengi, M.Sc

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau
Sms: 0813 1533 4215
Indra Jaya Asaad, S.Pi, M.Sc
Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Sarana BPPBAP
Sms: 0852 5533 5676
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
BUDIDAYA AIR PAYAU
JALAN MAKMUR DG.SITAKKA NO.129 MAROS 90512
TELEPON (0411) 371544, FAKSIMILI (0411) 371545
LAMAN: www.litbang.kkp.go.id/rica-maros POS ELEKTRONIK: litkanta@indosat.net.id





Ada tiga pilar dalam pprinsip sustainablle development yaitu ekologi, sosial dan ekonomi. Dimensi ekologi menjadi hal mendasar yg merubah paradigma pendekatan pembangunan ke arah sustainable development.
Dalam konteks sustainable aquaculture maka prinsip diatas hrs menjadi dasar. Prinsip sustainable akuakultur adalah bagaimana melakukan pengelolaan sumberdaya secara bertanggungjawab, menjamin kualitas lingkungan dan konservasi sunberdaya alam.
Mengomentari paradigma sustainable development dalam teknologi supra intensif di atas tentunya pas jika hanya mengacu pada dimensi sosial dann ekonomi. Namun dalam diimensi lingkungan teknologi supra intensif kurang pas jika dikaitkan dengan prinsip sustainability kecuali (1) ada jaminan bahwa daya dukung dan daya tampung lingkungan bisa terukur; (2) pengelolaan limbah yang efektif; (3) penggunaan input produksi dan energi yang bisa diminimalisir. Perlu diingat bahwa dalam dimensi lingkungan, industri akuakultur turut memberikan share terhadap dampak lingkungan global terutama melalui penggunaan energi dan input produksi yang tidak terkontrol. Dalam prinsip sustainable developmen sebuah pengelolaan sumberdaya yang masih mengandalkan energi fosil maka tidak dapat dikatakan sustain (berkelanjutan), pertanyaannya dalam teknologi supra intensif berapa input produksi dan energi yang dikeluarkan? sy hanya khawatir penggunaan teknologi tinggi dan high density justru akan memcicu penggunaan energi dan input produksi yang besar, disis lain daya dukung dan daya tampunng tidak benar2 dipertimbangkan dg matang.
Dalam konteks sustainable akuakultur pengelolaan harus dilakukan berbasis pada ekosistem, itulah makna sebenarnya.