Oleh: Rezi Hidayat
Peneliti di Rokhmin Dahuri Institute

Sudahsetahun lebih pandemi COVID-19 merebak,krisis ekonomi masih terus saja membayangi Indonesia seiring dinamika ketidakpastianakanberakhirnya pandemi.Tahun lalu, ekonomi Indonesia jatuh ke jurang resesi dengan kontraksihingga -2,07%.Kontraksiterjadi termasuk di sektor-sektorutama penyokong ekonomiIndonesia seperti Industri Pengolahan (-2,93%), Perdagangan (-3,72%), Konstruksi (-3,26%), dan Pertambangan (-1,95%). Beruntungnya,sektor perikanan termasuk akuakultur mampu bertahan positif ditengah krisisakibat pandemi.
Dari sisi supply,usaha akuakultur di masa pandemimasih tetap bisa berjalan, karena aktivitas pembudidaya ikanumumnyabersifat soliter dan jauh dari kerumunan. Namun dari sisi demand, pasar produk akuakulturdiawal masa pandemi sempat menurun akibat terganggunya sistem dan aliran logistik. Alhasil, harga ikan saat itu turun hingga sebagian pembudidaya ikan menghentikan produksinya.
Meskipun demikian, sepanjang tahun lalukinerja akuakulturdan sektor perikanan secara umum menunjukkancapaian yang positif.Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan tahun 2020 tumbuh positif sebesar 0,73% atau mencapai Rp. 431,5 triliun (BPS, 2021).Nilai ekspor perikanan punmeningkat5,33% dibanding tahun 2019 atau mencapai USD 5,20 miliar. Kontribusi terbesardisumbangkan komoditas udang sebesar 39,68% yang dominan dihasilkan dari kegiatan akuakultur. Nilai ekspor udang tahun lalu melesathingga 20,09% atau mencapai USD 2,06 miliar(KKP, 2021).
Selain itu, nilai tukar pembudidayaikan sepanjang tahun lalu rata-ratamencapai 100,58, meski sempat turun dibawah 100 pada bulan April hingga Juni.Artinya, pemasukkan pembudidaya ikan masih lebih besar dibanding pengeluaran.Dariaspek kesehatan, ikan juga merupakan sumber pangan kaya nutrisi yang diyakini mampu meningkatkan daya tahan tubuh agar tak mudah terserang penyakit termasuk COVID-19.
Oleh karena itu, peluang menggarap usahaakuakulturdi masa pandemi sangatlah potensial dalam membantu pemulihan ekonomi nasional.Terlebih lagi potensi lahan akuakultur di Indonesia masih sangat leluasauntuk dikembangkan, hanya sekitar 7% saja yang sudah tergarap (KKP, 2018).
Sebagai gambaran, jika kita garap usaha tambak udang vanamei skala intensif saja seluas50.000 Ha (1,7% dari total potensi lahan tambak Indonesia),denganestimasi produktivitas rata-rata 40 ton/ha/tahun, akandihasilkan2 juta ton udang/tahun. Bila harga jual pasaran udang rata-rata Rp. 50.000,-/kg, maka nilai ekonomiyang diperoleh hingga Rp. 100triliun/tahun. Manfaatlainnya,jika dalam 1 Ha usaha tambak udang vanamei skala intensif diperlukan 4 orang tenaga kerja langsung, maka pengembangan usaha diatas bisamenyerap tenaga kerja hingga 400.000 orang.
Strategi Pengembangan
Guna mengoptimalkan potensi usaha akuakulturIndonesia dalam rangka pemulihan ekonomi di masa pandemi,setidaknya sejumlah langkah strategis yang mesti segera dilakukan, antara lain. Pertama, menyusun peta jalanpengembanganakuakulturdengan prioritaspada komoditas yang bernilai ekonomis tinggi dan berorientasi ekspor, seperti udang, lobster, kerapu, nila, dan rumput laut.

Kedua, mengembangkan program usaha akuakulturberbasis masyarakat dengan skala ekonomi yang menguntungkan terutama bagi tenaga kerja yang terdampak pandemi, misalnya melalui klaster usaha budidaya udangkolam bundar, usaha budidaya dengan teknologi bioflok untuk komoditas pasar domestik (seperti lele, nila, dan patin), serta budidaya rumput laut terintegrasi dengan pabrik pengolahan. Ketiga, menarik investasi secara signifikan guna mengembangkan usaha akuakultur skala intensifyang berkelanjutan, melalui kemudahan perizinan dan persyaratan usaha berdasarimplementasi UU Cipta Kerja.
Keempat, merelaksasi kredit usaha akuakultur dari hulu hingga hilir, terutama bagi skala UMKM yang terkena imbas pandemi.Kelima, merevitalisasi industri pengolahan hasil akuakultur terutama pada komoditas yang berorientasi ekspor, seperti udang, lobster, nila, dan rumput laut, sesuai dengan trend pasar saat ini yang cenderung memilih produk olahan.Keenam memperluas pasar ekspor maupun domestik, diantaranya melalui sertifikasi produk akuakultur,pemasaran digital, kampanye makan ikan sehat, dll.DanKetujuh, menjaga sistem logistik hasil akuakultur agar lebih produktif, efisien, dan berdaya saing.
Melalui sejumlah langkah strategis diatas, diharapkan usaha akuakulturmampumembantu pemulihan ekonomi nasional di masa krisis pandemi. Lebih jauh lagi bisameningkatkanpertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, menyeraptenaga kerja dalam jumlah signifikan, danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat.

