Isu Resesi 2023, Tetap Tegak atau Mangkrak?

Tak hanya komoditas vaname, harga komoditas udang windu pun merosot. Dampak sisa Covid yang masih terasa, perang Rusia—Ukraina, krisis energi, serta resesi di Amerika dan Uni Eropa ditengarai jadi biang keladinya. Apalagi kini beredar isu terjadinya resesi dunia pada 2023. Bagaimana kabar tambak Indonesia, tetap lanjut dan tegak atau surut dan mangkrak?

“Budidaya saat ini menuntut banyak efisiensi. Pasalnya, biaya produksi yang biasanya Rp40.000,00 naik menjadi Rp45.000,00—Rp48.000. Sementara marjin keuntungan yang biasanya Rp40.000,00 tinggal Rp20.000,00,” ungkap Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa.

Ia mengutarakan bahwa harga udang untuk udang size 20 hanya dibandrol Rp95.000,00. Sementara bahan bakar solar menyumbang kenaikan 60% dan biaya pakan naik antara Rp2.000,00—Rp3.000,00/kg. Selain itu, tantangan yang dihadapi petambak masih terkait serangan IMNV dan AHPND yang sulit dikendalikan pada musim dan kawasan budidaya tertentu. Keberadaan negara produsen kompetitor juga perlu mendapat perhatian, misalnya India dan Ekuador.

Efisiensi dan panen parsial

Gambaran tantangan yang dihadapi industri udang Indonesia saat ini juga dituturkan Paian Tampubolon dari PT Thai Union Kharisma Lestari. Menurutnya, kondisi penggiat budidaya belakangan ini mengalami shock akibat anjloknya harga jual udang. Kondisi harga yang tidak diprediksi ini membuat para pelaku budidaya melakukan panen pada ukuran lebih kecil dan DOC (day of culture) lebih cepat. Kini kegiatan usaha budidaya sudah mulai bergelora kembali setelah petambak mengambil keputusan untuk segera panen. Petambak mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menekan biaya produksi, meskipun ada sebagian yang mengambil langkah wait and see dengan memberhentikan sementara kegiatan budidaya sambil melihat trendpeningkatan harga udang.

“Meskipun diterpa isu resesi ekonomi pada tahun 2023 mendatang, prospek tambak udang masih baik. Pelaku budidaya telah mempersiapkan strategi seperti meningkatkan densitas tebar dan panen pada usia pertengahan, penggunaan pakan ekonomis, serta selektif untuk menggunakan beragam bahan lain yang kurang mendukung dalam kegiatan budidaya,” terang Paian.

Keputusan efisiensi biaya produksi dan panen parsial ini juga diamini Catur Supriyantoro, teknisi di PT Dua Putra Perkasa. Menurutnya, panen secara parsial merupakan kelebihan tersendiri. Petambak bisa mengamati tren harga udang dan melakukan panen parsial pada saat harga terbaik. “Untuk menjaga marjin keuntungan agar optimal, kita harus menekan biaya pakan dan energi yang porsinya hampir 75% dari total biaya produksi. Untuk penghematan biaya energi, kincir tambak bisa dimatikan sebagian saat siang hari ketika cuaca cerah,” jelas Catur.

 “Sebagai pelaku usaha di tambak udang, kita wajib optimis menghadapi resesi yang akan terjadi. Kita diuntungkan karena udang termasuk sektor konsumtif  pangan nonprimer yang tetap dibutuhkan. Namun, kendala biasanya terjadi disebabkan harga udang tidak stabil sehingga usaha budidaya menjadi kurang menarik di saat resesi,’ ungkap Iwan Basuki Marketing PT Windu Alam Sentosa.

Menurutnya, petambak harus bisa mengefesiensikan dan menekan biaya dalam budidaya. Produk lokal harus semakin diperbanyak, misalnya obat-obatan, pakan, dan produk lainnya. Pemakaian listrik harus segera dicarikan alternatif dengan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Begitu pula dengan pemakaian induk yang selama ini impor harus segera diupayakan genetik F1 dari rekayasa genetik induk sendiri. Pola tebar dan masa panen udang juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Di samping itu, kreatif membuka pasar lokal juga menjadi salah satu cara menekan kerugian petambak di masa resesi mendatang. Semoga resesi ekonomi yang terjadi tidak menjadikan tambak mangkrak, tetapi justru meningkat produktivitasnya bila kita mampu mensiasatinya,” harap Iwan.

Sementara Bang Jack, Teknisi Budidaya SP. Community Forum Informasi Budidaya (FIB), mengatakan, “Jika resesi benar-benar terjadi, hal itu berpotensi menaikkan biaya pengadaan sarana produksi industri udang di Indonesia di semua subsektor sehingga meningkatkan biaya produksi dan harga pokok produksi (HPP) udang.”

Menurutnya, kerugian bisa diminimalkan dengan menghindari mortalitas dan tingginya FCR dengan kepadatan tebar rendah, tidak terlalu mengejar keuntungan besar, serta menggunakan produk alternatif yang lebih murah. Selain itu, petambak perlu memanfaatkan teknologi yang mampu menekan biaya produksi seperti teknologi desinfeksi UV—yang meskipun besar di investasi, tetapi sangat hemat biaya operasionalnya untuk jangka panjang; terobosan feed additive; serta mencari sistem budidaya yang paling hemat biaya dan efektif.

Bijak dalam budidaya

Secara teknis, prospek budidaya udang di negara kita masih cukup baik. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kesempatan produksi di sepanjang tahun. Sementara di beberapa negara lain ada musim tertentu yang budidaya tidak bisa dilakukan akibat musim dingin.  Di Ekuador, petambak berkomitmen dengan densitas tebar mengacu pada carring capacity. Saat musim dingin tiba, biasanya saat kemarau, densitas tebar akan mereka turunkan sesuai kondisi musim.

“Tapi sayang potensi dukungan geografis tersebut terkalahkan oleh sikap pelaku budidaya kita yang mengabaikan prinsip keberlanjutan (sustainable) usaha, tebar tinggi tanpa memikirkan dampak buangan,” keluh Sukri Y. Jambak, Manajer Tambak Udang Saung Naga Soedirman.

Limbah bebas mencemari  perairan yang kemudian digunakan kembali sebagai air baku budidaya siklus berikutnya. Pada titik jenuh, ekosistem tak lagi mampu menanggung beban limbah budidaya dan kegagalan beruntun pun dimulai. Akibatnya, beberapa tambak dengan program densitas tebar tinggi untuk  mengejar produktivitas per Ha yang tergolong wah hanya bertahan beberapa siklus, lalu tutup dan berhenti berproduksi. Tambak menjadi mangkrak dan dibiarkan terlantar menunggu pemulihan daya dukung agar bisa berproduksi kembali.

Terjadinya buka-tutup usaha tambak di negeri ini akibat nafsu berproduksi tinggi untuk sesaat. Jika budidaya berorientasi pada produksi yang berkesinambungan—dengan padat tebar berdasarkan daya dukung  lahan dan lingkungan, Indonesia masih sangat prospek.

Low cost adalah salah satu prinsip dasar yang harus dilakukan dalam budiaya agar bisa bersaing di pasar ekspor. Sementara mortalitas yang tinggi dalam proses budidaya adalah salah satu penyebab tingginya biaya operasional tambak. Salah satu solusi yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi densitas tebar,” jelas Sukri.

Pendapat senada juga dilontarkan Dian Rahmadhani, AM PT Matahari Sakti area Jabar, Jateng, dan Kalimantan. Menurutnya, kendala penyakit dan lingkungan masih sebagai isu utama dalam budidaya udang. Penyakit udang terutama AHPND masih menjadi momok bagi para petambak ketika masih banyak teori yang belum bisa memastikan asal-muasal timbulnya penyakit tersebut serta penanganannya secara baik dan benar. Kendala dan tantangan dalam budidaya udang bisa kita sikapi secara bijak dengan cara mengevaluasi sistem yang dikembangkan secara internal dan eksternal.

Faktor internal lebih cenderung pada evaluasi sistem budidaya, yang mengacu pada manajemen budidaya, manajemen pemberian pakan, manajemen lingkungan dan kualitas air, manajemen kesehatan udang, serta sistem dan teknologi yang digunakan. Sementara kendala dan tantangan secara eksternal terutama dari sisi harga, kualitas udang yang diterima pasar, serta kebijakan yang ada.

“Tantangan pada 2023 bisa kita sikapi dengan tetap selalu mengupayakan yang terbaik dalam budidaya, terobosan baru, serta inovasi untuk mencapai efisiensi untuk bersaing dengan negara lain,” ujar Dian.

 “Prospek usaha tambak udang di tahun 2023 masih tetap menjanjikan, terutama jika dilakukan dengan metode budidaya yang tepat sesuai prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB),” ungkap Nur Muflich Juniyanto. Menurut Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar ini, budidaya udang intensif harus dilakukan berdasarkan dua prinsip utama, yaitu “terukur” dan “berkelanjutan”. Apalagi dalam menghadapi isu resesi ekonomi 2023.

Budidaya secara terukur dilakukan dengan menerapkan upaya meminimalkan risiko kegagalan disertai efisiensi secara baik. Sementara budidaya berkelanjutan dilakukan dengan menerapkan upaya menjaga lingkungan sehingga bisa memberikan dampak positif. Bukan hanya pada lingkungan sekitar, tetapi juga pada keberlanjutan usaha budidaya udang itu sendiri. 

Penyesuaian padat tebar di bawah carrying capacity tambak sangat penting diperhatikan untuk meminimalkan kegagalan budidaya. Penerapan padat tebar yang sesuai akan mempermudah menjaga kualitas air. Jika limbah terkontrol, risiko serangan penyakit menjadi lebih rendah dan berdampak positif pada peningkatan pertumbuhan udang. Sementara tuntutan peningkatan produksi dengan mengabaikan carrying capacity akan berdampak negatif bagi keberlanjutan usaha dan bisa meningkatkan risiko  kegagalan budidaya.

Pentingnya kolaburasi semua pihak

Menghadapi resesi ekonomi 2023, petambak udang Indonesia harus meningkatkan daya saing dan nilai tawar (bargaining position) yang baik. Dengan begitu, diperlukan kekompakan untuk ikut berperan dalam tata niaga udang, baik tujuan pasar ekspor maupun domestik.

“Selama ini, disparitas harga antara farm gate dengan harga eceran terlalu tinggi. Akibatnya, marjin keuntungan lebih banyak dinikmati middle man. Mata rantai distribusi menjadi terlalu panjang,” ungkap Muhibbudin Koto, Ketua Forum Marikultur Nasional.

Sebagai solusinya, Koto menyarankan agar petambak berkoperasi. Menurutnya, koperasi membantu pengadaan kebutuhan petambak, seperti sarana budidaya, pakan, bibit, obat-obatan, dsb. “Saatnya petambak udang Indonesia belajar dari pembudidaya salmon Norwegia atau peternak susu sapi di Selandia Baru. Koperasi di sektor ini sudah sangat maju dan kuat. Mari kita bahas bersama asosiasi perudangan Indonesia. Saya siap hadirkan pakar koperasi untuk ikut membahas dan menyusun strategi untuk ini. Dengan begitu, petambak Indonesia siap menghadapi resesi tahun  2023,” ajak Koto.

Ajakan untuk bersatu juga datang dari Rudy Kusharyanto, Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA). Rudi berpandangan bahwa prospek tambak udang ke depan masih akan terus berjalan.

“Meskipun beberapa bulan ini industri udang diguncang wabah penyakit dan penurunan harga, kita berharap kondisi ini tidak terjadi dalam jangka waktu yang lama. Pasalnya, beban biaya produksi akan semakin meningkat. Di tengah isu kelesuan dalam berbudidaya, pasti ada jalan keluarnya. Tinggal kita, seluruh stake holder, bersatu untuk melewati riak-riak dalam isu resesi ini. Tetap optimis dalam berbudidaya ke depannya karena bagaimana pun kincir harus tetap berputar,” ujar Rudy bersemangat.

Sementara itu, Denny Sapto, Business Development Manager Symrise Aquafeeds, menjabarkan bahwa tantangan bagi para peternak udang dalam menghadapi resesi adalah ketersediaan bahan baku (harga terus naik), nilai tukar mata uang (Rupiah Vs Dolar), serta  kompetisi pasar udang didunia. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik secara efisien dan efektif dengan penggunaan pakan bernutrisi, atraktan dalam komposisi pakan, serta kualitas air yang baik akan membantu peningkatan produktivitas udang dengan sangat baik.

“Oleh karena itu, diperlukan adanya peran pemerintah untuk membantu pembudidaya udang dalam pembinaan. Di samping itu, penyediaan bahan baku pakan dengan mudah serta pengaturan harga yang baik akan memudahkan para produsen industri pakan udang memaksimalkan produksinya. Regulasi pengaturan harga udang di pasar pun akan membantu pembudidaya udang,” jelas Denny.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Agus Suryadi, Technical Support Manager Kemin Aquascience. Menurutnya, udang sebagai sumber protein hewani akan tetap diperlukan sejalan dengan pertambahan populasi penduduk global setiap tahunnya. Refleksi dari kebutuhan ini sejalan dengan terus meningkatnya produksi udang dunia dari hasil budidaya. Secara nasional, peningkatan ini didorong tekad pemerintah untuk bisa mencapai produksi 2.000.000 ton pada tahun 2024. “Tentunya, hal ini harus dibarengi dengan kemudahan segala macam regulasi dalam pelaksanaan budidaya tersebut,” ujar Agus.

Tetap tegak, pantang menyerah

Wiwik Winarti, seorang petambak menyatakan bahwa resesi merupakan gejala global, termasuk di negara importir udang Indonesia. Antisipasi yang bisa dilakukan pembudidaya adalah menyesuaikan diri dengan harga jual udang di tambak, yaitu dengan melakukan efisiensi biaya produksi dengan cara meningkatkan SR, memperkecil FCR, dan memperpendek usia budidaya.

“Oleh sebab itu, petambak harus terus meningkatkan keterampilan dan inovasi. Sebagai petambak, kita tidak punya alternatif lain dan tidak mungkin menghentikan budidaya karena investasi tambak itu mahal dan sudah terlanjur dijalankan. Saya pribadi yakin, problem dan kesulitan ini akan segera berlalu dan industri udang nasional kita akan tetap survive,” ujar Wiwik optimis.

Adapun Afit Prakuntoro, Senior Sales Manager PT Behn Meyer Chemical mengatakan bahwa tantangan budidaya di masa sulit adalah menerapkan efisiensi biaya produksi tanpa mengurangi produktivitas panen. Pemilihan produk yang berkualitas akan sangat membantu proses budidaya. Ia menambahkan, “Pada tahun 2023 masih terbuka celah untuk tambak udang meskipun diterpa isu resesi ekonomi. Sekadar mengingat kembali bahwa pandemi tahun 2020 dan 2021 bisa dilalui oleh petambak. Terbukti, petambak selalu punya jurus untuk menghadapi situasi yang ada. Bahkan, muncul inovasi baru dalam cara budidaya serta cara mengatasi masalah.”

Pendapat senada juga dituturkan Dany Yukasano, National Technical Manager PT Grobest Indomakmur. Menurutnya, industri tambak udang tetap menarik dan menantang dalam situasi resesi ekonomi. Disebabkan udang merupakan salah satu komoditas perikanan (sea food) unggulan dibandingkan jenis spesies lain, permintaan pasarnya selalu di atas pasokan yang ada. Dengan begitu, resesi tidak akan berpengaruh terlalu banyak. Diperlukan inovasi dalam manajemen operasional, budidaya, dan orientasi pasar agar pembudidaya survive dalam menghadapi resesi ekonomi.  “Jika di tahun 1998 kita mampu menghadapi krisis yang lebih besar saat itu, tentunya kita akan mampu menghadapi isu resesi di tahun 2023. Diperlukan daya adaptasi yang kuat terhadap gejolak yang mungkin terjadi. Sebagaimana dikatakan bahwa “The most survival one is the most adaptive one,” pungkasnya. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.