Langkah Holistik Cegah Penyakit Udang

Udang vaname Litopenaeus vannamei adalah salah satu spesies budidaya  unggulan  yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi komoditas ekspor utama Indonesia di pasar internasional(Ditjen PDSPKP 2021).  Udang vaname menjadi spesies yang paling banyak diproduksi dan tingkat produksinya secara globalmencapai 5,2 Juta ton per tahun (FAO 2022). Hasil survei menunjukkan bahwa serangan penyakit masih menjadi kendala utama dalam budidaya udang vaname, hal ini dapat dilihat dari peringkat tantangan dalam budidaya udang yang ditampilkan padaGambar 1 (Anderson et al. 2019).

Hasil monitoring penyakit pada tahun 2022 yang ditabulasi dalam aplikasiDirektorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan menunjukkan bahwa penyakit pada budidaya udang  di Indonesia pada tahun 2022 masih didominasi oleh penyakit viral yaitu penyakit White Spot Disease (WSD) yang disebabkan oleh infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV)(OIE 2019) dan Infectious myonecrosis (IMN) yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV)(OIE 2009), selain itu juga ada penyakit yang disebabkan oleh parasit uniseluler seperti Enterocytozoon hepatopenaei (EHP)(OIE et al. 2021).Jumlah kasus infeksi penyakit pada budidaya udang ditampilkan pada Gambar 2. Serangan penyakit tersebut terjadi sepanjang tahun dan kasus terbanyak terjadi pada bulan Maret dan Oktober Tahun 2022, grafik serangan penyakit setiap bulannya dapat dilihat pada Gambar 3. Hasil monitoring penyakit tersebut menunjukkan bahwa kasus penyakit WSD pada udang masih menjadi ancaman utama dalam budidaya udang.

Infeksi WSSV menimbulkan gejala berupa munculnya bintik putih pada eksoskeleton dan mengakibatkan kematian massal hingga mencapai100% dalam waktu yang singkat (Bir et al. 2017; OIE 2019; Satheesh Kumar et al. 2019).Secara global, kerugian ekonomi akibat infeksi WSSV diprediksi mencapai US$ 6 milyar per tahun(Satheesh Kumar et al. 2019) dan masih belum ada tindakan pengobatan serta pencegahan yang efektif hingga saat ini (OIE 2019; Robinson et al. 2022). Deteksi infeksi WSSV yang umum dilakukan di laboratorium adalah menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Infeksi WSSV dapat ditularkan secara horizontal melalui kanibalisme udang yang terinfeksi dan melalui air budidaya (water-borne), maupun secara vertikal dari induk udang ke- benih yang dihasilkan, namun penularan secara vertikal sejati (intra-ovum) masih belum terbukti (OIE 2019). Infeksi WSSV terjadi saat virus memasuki sel inang melalui jalur clathrin-mediated endocytosis. Jalur clathrinmediated endocytosis diawali dengan terbentuknya ikatan antara reseptor sel dengan komponen envelope dan mengantarkan WSSV ke dalam sel inang yang diikuti masuknya genom WSSV pada inti sel, melakukan replikasi dan akhirnyamenginfeksi sel yang lain (Huang et al. 2015; Zheng et al. 2019; Meng et al. 2020; Kumar et al. 2022). Infeksi WSSV menimbulkan gejala klinis berupa bintik putih pada eksoskeleton, lethargy, perubahan warna menjadi pink kemerahan, penurunan nafsu makan dan terjadi kematian masal (Lo dan Kou 1998).

Marka molekuler yang dikembangkan oleh BPIU2K dan tim, memanfaatkan adanya Single Nucleotide Polymorphism (SNP) pada genanti-lipopolysaccharide factor (ALF) yang memungkinkan udang memiliki sistim pertahanan tubuh innate immune yang didominasi oleh hemositdalam melawaninfeksi patogen. Besar kemungkinan udang yang memiliki marka molekuler tersebut akan memiliki ketahanan yang sama terhadap jenis infeksi yang lain namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut.

Oleh: Bagus Rahmat Basuki, Pengawas Hama dan Penyakit Ikan Muda, Balai Produksi Induk Udang Unggul dan kekerangan Karangasem Bali

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.