Antisipasi WFD, Tetap Waspada!

Spores WFD (Deny Mulyono)

Meskipun telah terdapat upaya antisipatif, sampai saat ini, white feses disease (WFD) masih menjadi momok di kalangan pembudidaya udang. Selalu waspada memang menjadi tuntutan dalam menghadapi serangan WFD, yang memang tidak bisa dianggap enteng.

“Kerugian yang ditimbulkan seringkali hanya sanggup panen dengan hasil BEP, bahkan sampai minus 25%,” ungkap Ujang Komarudin, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BP BAP) Situbondo.

Ujang telah menggeluti budidaya vaname sejak tahun 2003. Dengan sistem intensif, lahan tambak seluas 2,5 hektar miliknya ditebari benur sebanyak 3,5 juta ekor. Hasilnya antara 20—60 ton. Hasil terbaik tentu saja jika tidak mengalami serangan penyakit, salah satunya WFD.

Menurut Ujang, serangan WFD mulai muncul sejak 2015. Gejala awalnya ditandai dengan ditemukannya kotoran putih yang mengambang, nafsu makan udang menurun, hepatopankreas tampak pucat, udang keropos, pertumbuhan terhambat, dan terjadi kematian sebagian.

Hal senada juga diungkapkan oleh Harli Setiawan, Teknisi PT Maju Tambak Sumur Lampung. Tambak intensif udang vaname seluas 4 hektar di Pesawaran yang dikelolanya sejak 2000 biasa ditebar benur sebanyak 4,8 juta ekor dengan padat tebar 120 ekor per meter persegi. Menurutnya, serangan WFD di Pesawaran mulai terdeteksi pada tahun 2006. Gejala awalnya diketahui dari menurunnya nafsu makan udang, adanya kotoran putih yang mengambang, dan pertumbuhan harian tidak maksimal. Akibatnya, SR menjadi rendah, ukuran udang kecil, dan produktifitas menurun. “Dari yang semula 20 ton/hektar menjadi tinggal 12—14 ton/hektar,” ungkapnya.

Cerita Lain

Ada cerita lain dari petambak udang, yang belum pernah terdampak serangan WFD. Tentunya, cerita ini diharapkan bisa dijadikan sebagai informasi pembanding. Salah satunya Penyuluh Perikanan Abdul Salam Atjo, Penyuluh Perikanan dan Pelaku Utama budidaya udang asal Pinrang, Sulawesi Selatan. Ia sudah memulai usaha budidaya udang windu sejak 1999 hingga sekarang. Dari 2 hektar tambaknya, Atjo biasa menebar 30.000 ekor benur/hektar/siklus dan panen 125 kg/hektar/siklus.

WFD Infected (Deny Mulyono)

Meskipun menggunakan sistem tradisional, tambak Atjo aman dari WFD. Berdasarkan penuturannya, kunci kesehatan tambak terletak pada aplikasi pakan dan kualitas lingkungan. Untuk menjaga kualitas air tambak, Atjo menggunakan kolam tandon untuk menampung dan mengendapkan air sungai yang bercampur air laut pasang. Di samping itu, ia tidak menggunakan pakan buatan, melainkan pakan alami berdasarkan permintaan pembeli udang windu dari ecoshrimp farm.

Artikel Populer:  Tambak RtVe, Modal Kecil Untung Berlipat

Cerita lain datang dari Bobby Indra, sebagai Pengelola Tambak Dewi Laut Aquaculture. Ia mulai bertambak udang sejak 2015. Dari 4 hektar lahan tambaknya, benur yang ditebar sebanyak 7—9 juta benur per siklus dengan hasil panen antara 110—140 ton per siklus. Dengan sistem intensif, Bobby menggunakan tandon sedimentasi, tandon perlakuan (treatment pond) sebelum air masuk petak tambak, dan IPAL sebelum air tambak di buang ke laut.

Ditanya soal WFD, ia menjawab, “Sedikit-banyak tahu. Kita hanya bisa mencegah. Jika sudah terinfeksi, tidak bisa sembuh,” ujarnya.

Ada pula cerita senada dari Nunk Noor Daman, Teknisi CV. Jaya Kota Pontianak.Bertambak sejak 1992, kini Nunk memiliki 20 petak tambak dengan luas 4.200 meter persegi per petak. Setiap siklus, ia menebar benur sebanyak 420.000 ekor/petak dan menghasilkan udang sebanyak 12 ton/petak. Sistem budidaya yang dipakai adalah sistem intensif dilengkapi tandon dengan biofilter.

Ditanya soal WFT, Nunk mengaku sedikit mengetahuinya dengan tanda-tanda mengeluarkan kotoran berwarna putih seperti benang dan terapung di permukaan air petakan budidaya. Hal ini disebabkan infeksi bakteri Vibrio sp pada saluran pencernaan dan kualitas air yang memburuk akibat blooming dan drop-nya plankton.

“Solusinya adalah perbaikan kualitas air petakan dan plankton, juga pencampuran herbal pada pakan. Pencegahannya dengan rutin aplikasi probiotik dan ramuan mineral,” ungkapnya.

Memahami WFD

“Sampai saat ini, belum ada laporan pasti terkait ‘faktor utama’ penyebab WFD. Abibatnya, para pembudidaya udang kesulitan untuk mencegah serangan WFD,” ujar Arif Faisal S, dari Behn Meyer Chemicals.

Meskipun begitu, Arif mengungkapkan bahwa WFD terkait erat dengan keberadaan bakteri Vibrio. Tambak yang terserang WFD umumnya memiliki jumlah bakteri Vibrio koloni hijau yang lebih tinggi dibandingkan tambak normal.

Artikel Populer:  Pesisir Barat, Primadona Baru Petambak Udang Lampung

Selain bakteri Vibrio, terdapat mikrosporidia Enterytozoon hepatopenaei (EHP) yang diduga menjadi penyebab WFD. EHP seringkali ditemukan pada udang yang terpapar WFD. EHP berkaitan erat dengan WFD meskipun keparahan infeksi EHP inilah yang dapat memperburuk kasus WFD.

WFD juga dipicu oleh blooming blue green algae (BGA), yang menghasilkan racun hepatotoksin. Racun tersebut menyebabkan rusaknya hepatopankreas udang sehingga fesesnya berwarna putih. Selain itu, dilaporkan pula adanya endoparasit jenis protozoa gregarine, yang terdapat pada midgut udang.

“Meskipun tidak menimbulkan kerusakan yang berbahaya, keberadaan gregarine dalam jumlah besar mampu menyebabkan kerusakan tepi lambung dan menjadi perantara infeksi mikroorganisme patogen,” terang Arif.

Agnes Heratri, Direktur CV Pradipta Paramita juga memberikan pandangan yang serupa. Menurutnya, serangan WFD disebabkan adanya bakteri Vibrio spp dan mikrosporidia (kelompok Enterocytozoon) pada organ pencernaan hepatopankreas dan usus. Cara kerja penyakit WFD yaitu meng-injeksi udang. Caranya diawali dengan interaksi bakteri Vibrio spp dan Enterocytozoon yang ada di air kolam budidayadengan udang. Bakteri dan mikrosporidia tersebut kemudian menempel pada sel inang, lalu masuk ke dalam sel tubuh udang. Selanjutnya, bakteri patogen menyebar dan merusak organ pencernaan, dari hepatopankreas ke usus.

Munculnya masalah WFD juga bisa disebabkan manajemen tambak yang tidak baik. Kualitas air yang tidak terjaga, sedimentasi di dasar perairan akibat sisa pakan, atau sisa bahan organik seperti feses yang berlebihan mengakibatkan munculnya bakteri patogen di dalam kolam budidaya.

Kolam tambak yang bermasalah biasa ditandai dengan warna air yang cenderung hijau tua (pekat); kecerahan air budidaya cenderung pekat (transparansi sekitar 20 cm); alkalinitas terlalu tinggi, lebih dari 200 mg/l); pH air cenderung tinggi, lebih dari 8,5; Total Vibrio Count (TVC) dalam air lebih dari 102 CFU/ml; bahan organik (TOM) tinggi, lebih dari 100; dan Total Amoniak Nitrogen (TAN) tinggi.

“Seringkali WFD mulai menyerang udang pada umur sekitar 40—60 hari dengan tanda tinja (feses) berwarna putih, lengket, bau, dan mengambang di permukaan air. Karapas udang menjadi lembek atau mengerut dan keropos. Selain itu, terjadi penurunan nafsu makan sehingga kelangsungan hidup udang (SR) mengalami penurunan sekitar 20—30%,” terang Agnes.

Artikel Populer:  Usaha Diversifikasi pada Budidaya Kerapu dan Bubara

Masalah kualitas air budidaya yang buruk juga menjadi sorotan Deny Mulyono, Ketua di Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Menurutnya, kombinasi infeksi parasit berspora EHP dengan Vibrio dipicu oleh buruknya lingkungan dalam tambak, seperti tingginya bahan organik. Masalah umum yang dihadapi para petambak adalah sulitnya menjaga parameter kualitas air akibat bertambahnya bahan organik (organic load) dari kematian plankton (plankton crash), kelebihan pakan (over feeding), dan implementasi bahan tertentu yang menyebabkan plankton crash.

“Solusinya umumnya dengan cara menjaga kestabilan plankton dan mengurangi asupan bahan organik (organic load). Persiapan lahan adalah salah satu solusi saat awal untuk mengurangi spora EHP dan Vibrio. Sebagai contoh, pengapuran lebih dari 2,5 ton/hektar untuk kolam dengan dasar plastik dan 6 ton/hektar dengan dasar tanah. Pengeringan sempurna dapat mengurangi dampak EHP,” saran Deny.

Lalu, Bagaimana dengan Pakan Modifikasi?

“Tentang pakan yang sudah dimodifikasi, saya belum ada informasi. Pada dasarnya bisa saja menambahkan organic acid, yang dimasukkan atau ditambahkan pada bahan pakan. Namun, yang terpenting adalah manajemen budidayanya. Tanpa manajemen yang baik, sebaik apapun pakan yang diberikan menjadi kurang efektif,” pungkasnya. (Rochim/Resti/Adit)

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Meskipun udang asli Indonesia ini telah kehilangan dominasinya di ranah budidaya dalam negeri, bukan berarti
Banyak hal yang harus diperhatikan dalam meraih sukses budidaya udang, mulai dari persiapan tambak, pemberian
Kilat dan petir berlangsung terus-menerus selama 3 malam paska-tsunami. Jalanan sepi, hanya suara-suara sirine ambulan
Useful information for Korean Dating Adopt these advise for gorgeous brides and you will probably
Manufactured I Lost My Virginity There are a number how to define known as advisors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.