Waspada Perubahan Suhu, Kenali Waktu Tepat Budidaya

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam meraih sukses budidaya udang, mulai dari persiapan tambak, pemberian pupuk, pengisian air, kepadatan algae, perawatan kesehatan lingkungan, hingga pemberian pakan dan obat-obatan/probiotik.

Tidak kalah pentingnya, petambak juga harus mempelajari perubahan iklim dan cuaca yang menjadi sebab temperatur atau suhu tidak stabil. Temperatur atau suhu adalah salah satu indikator yang perlu diwaspadai oleh para petambak, karena lonjakan suhu yang terjadi dengan tiba-tiba dan berlangsung dalam waktu yang singkat dapat membuat udang kaget yang akhirnya dapat menghambat pertubuhan udang atau malah dapat mematikan bagi udang.

Pengaruh secara langsung perubahan iklim salah satunya adalah pemanasan global yang menyebabkan naiknya suhu perairan. Naik dan turunnya suhu perairan atau udara dapat berakibat pada air media budidaya udang yang dapat mempengaruhi terhadap populasi plankton, timbulnya penyakit yang akhirnya hasil panennya tidak sesuai dengan target.

Meningkatnya suhu ekstrim juga berpengaruh terhadap perkembangbiakan berbagai jenis plankton terutama plankton yang merugikan seperti bule green algae dan dapat mempengaruhi pertumbuhan udang bahkan dapat memicu timbulnya penyakit udang seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), dan Infectious Myonecrosis Virus (IMNV).

Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan pada 2016 melakukan Ekspedisi Oseanografi Indonesia Bagian Timur dengan menerjunkan lebih dari 25 peneliti di bidang oseanografi. Jalur ekspedisi meliputi Laut Banda, Laut Maluku, Selat Makasar dan Selat Lombok yang merupakan salah satu basin (lembah) laut dalam di perairan Indonesia bagian Timur. Dimana basin tersebut memiliki peranan penting dalam pertukaran massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia.

Ekspedisi ini merupakan langkah untuk menghadapi fenomena perubahan iklim secara ekstrim (monsun) di tenggara yang terjadi pada Juli hingga September. Pada periode itu, angin permukaan di Laut Banda, Laut Maluku, Selat Makassar dan Selat Lombok berhembus ke arah barat laut yang menyebabkan suhu permukaan air laut lebih dingin dan terjadinya upwelling. Sebaliknya, pada saat monsun barat (November – Maret) angin permukaan berhembus ke tenggara, suhu permukaan air laut lebih hangat dan mengurangi transpot arus lintas Indonesia (Arlindo).

Oseanografi sendiri, menurut Perekayasa Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Andi Eka Sakya, adalah ilmu tentang semua aspek lautan. Oseanografi mencakup berbagai topik, mulai dari kehidupan laut dan ekosistem, hingga arus dan gelombang, pergerakan sedimen, dan geologi dasar laut.

 “Aspek laut tidak lepas dari pengaruh cuaca,” ujar Andi.

Andi menjelaskan, paparan panas, tekanan dan perubahan gerak angin mempengaruhi proses penguapan, arah gerak angin dan gesekannnya terhadap muka lautan, yang pada gilirannya berpengaruh pada sifat-sifat lautan dan ekosistem lautan ecara keseluruan. Tidak terkecuali udang vaname, yang sangat sensitif terhadap suhu, salinitas, jumlah oksigen – untuk menyebut beberapa variabel.

Pemanasan global telah mempengaruhi terutama suhu dan salinitas lautan. Pada tataran petambak, kata Andi, pengaruh ini sering tidak dirasakan, tetapi secara mendadak berdampak pada produksi, dan juga besar fisik jenis yang di tambak.

Pengaruh Pemanasan Global

Pemanasan global telah mempengaruhi dapur cuaca dan berdampak secara langsung pada sushu dan salinitas, sementara secara tidak langsung pada pola cuaca sehari-harinya. Keteraturan pola iklim yang terjadi bergeser, dan pola cuaca sering terganggu oleh peristiwa ekstrim (badai, tekanan tinggi, dan lain sebagainya.

“Intinya, keterjadian ekstrim ini berpengaruh pada ekosisteim laut dan tidak terkecuali udang vaname yang peka terhadap suhu, salinitas dan kandungan oksigen,” pungkas Andi.

Seperti telah diindikasikan, Andi memaparkan, bahwa pemanasan global, memperluas dapur cuaca. Dampaknya pada cuaca menjadi semakin tidak pasti, pola iklim bergeser (climate change) dan keharmonisasn/kesetimbangan ekosistem laut terganggu. Pada sisi lautan, ketidakpastian ini sering berimbas pada semakin meningkatnya frekuensi kejadian ekstrim yang meningkatkan potensio ocean hazards.

Pada budidaya tradisional, Andi mengungkapkan, tentu akan terganggu dengan berubahnya sifat-sifat fisis lautan. Sistem monitoring perubahan parameter lautan ini menjadi sangat penting untuk mengkompensasi agar tidak terjadi kerugian yang semakin besar. Pada tambak, perbedaan suhun 0.5oC telah meningkatkan kematian benih hingga lebih dari 60%. Belum lagi faktor salinitas dan berkurangnya oksigen.

Ketua harian Shrimp Club Indonesia (SCI), Hardi Pitoyo mengatakan, suhu udara yang dingin pada giliranya mendinginkan suhu air tambak, hal ini membuat metabolisme tubuh udang melambat, sehingga nafsu makan dan pertumbuhan juga bisa melambat.

Suhu udara yang dingin bisa menyebakan up welling di laut sehingga bisa menyebakan menurunkan mutu air laut dan meningkatnya vibrio. “Demikian pula dengan adanya musim gelombang besar di pantai yang dapat mengaduk-aduk endapan kotoran di wilayah pesisir dan efeknya menurunkan mutu air laut yang digunakan untuk budidaya udang,” ungkap Pitoyo.

Ketua SCI Lombok Suriadi Adinata menuturkan, suhu yang beberapa waktu lalu cukup dingin akibat dampak musim di belahan selatan (Australia) sangat mempengaruhi pertumbuhan vaname sehingga terjadi perlambatan tumbuh. “Sedangkan gelombang laut tidak terlalu signifikan pengaruhnya sebab kondisi pesisir Lombok tidak berlumpur, hanya saja dapat menimbulkan pipa lepas atauu patah. Untuk menghadapi semua kendala, harus dengan pola budidaya yang ketat dan kontrol pakan tepat,” kata Suriadi.

Waktu yang Tepat

Saat ini, kebanyakan petambak udang vaname belum memahami secara menyeluruh ilmu oseanografi, namun mengetahui sedikit dari ilmu ini akan sangat bermanfaat. Sebab 70% permukaan bumi adalah laut, dan cuaca atau iklim yang terjadi di darat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di laut.

Oleh karena itu pengetahuan tentang oceanografi dan perubahan cuaca ekstrim ini sangat penting untuk diketahui oleh para petambak atau para pelaku usaha budidaya udang di pesisir pantai dan diharapkan petambak dapat mengetahui kapan saja waktu yang tepat untuk menebar benur dan kapan waktu ‘libur’ budidaya udang.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Ujang Komaruddin menuturkan, pengaruh suhu cukup besar terhadap udang vaname, pada musim suhu rendah (dingin – disebut musim bediding) seperti di bulan Juli-Agustus ini, nafsu makan udang biasanya rendah/turun, sehingga berpengaruh terhadap asupan makanan.

Jika udang kurang makan, kata Ujang, biasanya mudah sakit atau pertumbuhannya terganggu (lambat).  Biasanya, para petambak menghindari pemeliharaan udang pada musim bediding ini, karena nafsu makan udang rendah pertumbuhan lambat dan rentan terserang penyakit.

Senada dengan Ujang, Petambak Muda Indonesia Rizki Darmawan menjelaskan, jika metabolisme menurun akibat suhu akan menyebabkan nafsu makan berkurang otomatis pertumbuhan terhambat. Sebab, tambah Rizki, udang merupakan hewan “berdarah dingin” yang sangat dipengaruhi oleh suhu, khususnya akhir-akhir ini di mana suhu lumayan dingin membuat metabolisme udang menururun.

“Mengatur pakan mengikuti nafsu makan udang agar FCR tidak jebol bisa menjadi solusi, kemudian beri pakan lebih banyak di jam-jam siang atau saat cuaca sedikit hangat,” ucap Rizki.

Perhatikan dampak lingkungan agar membuat petak pengolah air buangan/air limbah dari tambak, agar budidaya bisa berkelanjutan dan olah lah air masuk agar menjadi ideal untuk pemeliharaan udang. Ujang menghimbau, gunakan benih yang benar-benar sehat/bebas penyakit, serta tidak boleh lupa adalah selalu lakukan cara budidaya udang yang baik dan terus up date perkembangan budidaya udang karena teknologi yang terus berkembang pesat.

Oleh sebab itu, menurut Andi, dibutuhkan sistem pengamatan mulai dari tinggi muka air laut, angin, tekanan, suhu, dan lain sebagainya dapat dilakukan pengamatannya. Jika setiap faktor ini diketahui, serta para petambak diberi informasi tentang masing-masing pengaruh peubah tersebut terhadap udang yang dibudidaya, maka akan bisa dilakukan mitigasi sejak awal.

Tidak jauh berbeda dengan Andi. Pitoyo menambahkan, perlu ada fasilitas laboratorium yang selalu memantau dinamika mutu air sumber atau laut di kawasan budidaya udang dan di-expose hasilnya sebagai bahan pengetahuan pembudidaya. “Penggunaan tandon air masuk juga sangatlah penting untuk perbaikan mutu air dan mengukur parameter 2 fisika kimia dan biologi, untuk melihat dinamika air sumber,” tambahnya.

Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai Oseanografi dalam budidaya udang, nantinya Himpunan Perekayasa Indonesia (Himperindo) bekerjasama dengan majalah Info Akuakultur akan menyelenggarakan  Seminar Nasional tentang Dampak Perubahan Iklim Terhadap Budidaya Udang di Indonesia. Seminar ini akan menghadirkan narasumber yang kompeten dari Himperindo dan dihadiri oleh para pelaku budidaya udang, serta kalangan industri  perudangan serta para peneliti, perekayasa dan pemerintah. (Adit/Resti) j�5�l�

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.