Asal Buang Limbah Bisa Buat Susah

Awal Juni 2016, nelayan di Laguna Trisik, Kulon Progo, Yogyakarta, geger. Pasalnya, ribuan ikan dengan taksiran berat lebih dari 1 ton ditemukan mati. Jenis ikan yang mati, yaitu nila hitam, petik, keting, dan berberapa jenis ikan lainnya.

 “Sampai saat ini, ikan yang mati lebih dari 1 ton. Kami menduga ikan mati disebabkan limbah tambak laguna di sekitarnya,” kata Sugiharto, Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil DKP Kulon Progo dilansir dari Antara.

Dugaan tersebut didasarkan fakta bahwa para petambak udang membuang limbah tambaknya ke laguna. Akibatnya, ketika air menyusut di musim kemarau, konsentrasi kandungan bahan organik meningkat. Dari sampel air yang diambil DKP Kulon Progo diperoleh data bahwa pH air di Laguna Trisik mencapai 9,33. Sementara pH normal air 7.

“Hal ini dapat menyebabkan ikan mati dan seluruh biota dalam laguna juga mati,” ujar Kasi Kesehatan Ikan dan Lingkungan DKP Kulon Progo Siti Khoiriyah.

Pihak DKP Kulon Progo pun menghimbau petambak udang untuk membuat bak penampungan pembuangan. “Kami sampaikan imbauan kepada mereka, tolong buatkan bak penampungan supaya air yang keluar ke laguna sudah bersih. Jangan dibuang langsung, yang kotorannya masih sangat tinggi,” katanya.

Mengukur dampak limbah

Secara harfiah, limbah tambak udang merupakan akumulasi buangan atau material sisa yang dihasilkan dari satu siklus produksi dan memiliki dampak negatif tertentu jika dibuang ke lingkungan terbuka tanpa ada penanganan khusus. Demikian ungkap Romi Novriadi, Director Elect World Aquaculture Society – Asia Pacific Chapter.

Menurutnya, secara karakteristik, limbah tambak udang terdiri atas limbah organik—baik terlarut maupun tersuspensi dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, limbah kimia, dan limbah mikroorganisme patogen; yang secara keseluruhan bisa berdampak pada keseimbangan ekosistem lingkungan dan kesehatan manusia.

Air sungai atau laut memiliki kemampuan untuk melarutkan dan mengurangi konsentrasi buangan limbah tambak. Namun, limbah tetaplah limbah, dan limbah akan terus mengalir tanpa mengenal batas wilayah. Limbah kimia terlarut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk diuraikan. “Adanya trigger parameter lingkungan tertentu akan dapat membangkitkan kembali sifat toksik bahan dimaksud,” papar Romi, yang juga sebagai Staf Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP.

Artikel Populer:  Inovasi Teknologi Perikanan Budidaya

Pendapat senada juga diungkapkan Deni Aulia, Penyusun Rencana Ketenagaan, Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan KKP. Menurutnya, limbah budidaya udang akan mengganggu ekosistem jika dibuang ke dalam perairan. Limbah ini merupakan kumpulan bahan organik yang dihasilkan dari pakan udang yang tidak termakan, hasil metabolisme seperti feses,  cangkang dari proses molting atau pergantian kulit, dan bahan terlarut lainnya.

Laut dapat menetralkan cemaran limbah budidaya udang melalui pergerakan air karena adanya ombak dan ombak akan membawa bahan organik semakin menjauh dari garis pantai. Dengan semakin banyaknya volume air dan semakin jauh dari pesisir, konsentrasi bahan organik akan semakin terurai sehingga parameter kualitas air pada limbah dapat terurai.

Namun, bukan berarti limbah bisa sembarangan dibuang ke laut. Limbah tambak udang yang dibuang tanpa dilakukan perlakuan atau treatment mengandung bahan organik yang sangat tinggi.  Bahan organik tersebut akan dimanfaatkan oleh alga atau plankton untuk tumbuh. Semakin banyak bahan organik, pertumbuhan plankton menjadi tidak terkendali dan terjadi blooming plankton.

“Kondisi blooming plankton membutuhkan oksigen yang tinggi dan mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam badan air. Kandungan oksigen pun semakin rendah. Akibatnya, terjadi kematian ikan maupun organisme lain karena kekurangan oksigen.

Kematian organisme dalam air—misalnya ikan—akibat keracunan limbah mengakibatkan berkurangnya pendapatan masyarakat, contohnya nelayan. Limbah beracun ini juga pastinya bisa berdampak pada pembudidaya ikan yang mengunakan keramba jaring apung. Begitu pula dengan ikan atau udang di tambak akibat mengambil air di tempat yang sama dengan pembuangan limbah, terutama pada tambak tradisional yang tidak menerapkan perlakuan pada air yang masuk.

Limbah beracun bukan saja menurunkan kesehatan ikan dan mengakibatkan kematian secara langsung, tetapi juga menjadikan air lingkungan di sekitar tambak menjadi media berkembangnya penyakit yang berpotensi mengancam udang yang dibudidayakan di tambak. “Semua jenis penyakit udang dapat muncul akibat pencemaran sumber air yang berasal dari limbah, khusunya dari jenis virus seperti Taura Syndrome Virus atau White Spot Syndrome Virus. Serangan virus akan mengakibatkan kematian yang sangat cepat pada udang yang dibudidayakan serta belum dapat ditangani dengan mudah,” ujar Deni, yang juga merangkap Ketua KUB Taruna Mandiri 47, mengingatkan.

Artikel Populer:  2019: Teropong Peluang Indonesia dalam Pasar Ekspor Udang Dunia

“Masyarakat kita kurang care terhadap ‘dampak lingkungan’ sehingga kasus-kasus pencemaran seringkali tidak terungkap dan tidak diungkap,” aku Ujang Komarudin.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo tersebut mengungkapkan bahwa cukup atau mungkin sangat banyak kasus-kasus pencemaran akibat buangan limbah tambak udang, terutama dari tambak-tambak udang intensif yang berlokasi di lahan atau kawasan sempit, pasang-surut rendah, dan saluran pembuangan minim. Bahkan sering pula terjadi pencemaran berupa intrusi air asin atau garam ke kawasan lahan air tawar.

Menurutnya, beberapa dampak buruk akibat pembuangan limbah yang serampangan, yaitu sedimentasi lumpur tambak di wilayah pantai, yang menyebabkan perubahan/kerusakan flora dan fauna yang hidup di dasar perairan, termasuk karang. Terjadi eutrofikasi atau peningkatan kesuburan perairan yang tidak terkendali dan menyebabkan blooming alga yang beracun. Selain itu, muncul bau yang mengganggu akibat timbulnya gas dari limbah tambak yang bersumber dari amoniak/N, sulfida/S, dan senyawa lain.

Menurut Ujang, limbah tambak terdiri atas 2 bagian, yaitu padatan dan terlarut. Limbah padatan merupakan sisa pakan, feses, dan koloni bakteri dan biasanya akan tersuspensi. Sementara limbah terlarut berupa amoniak, urea, CO2, fosfor, dan hidrogen sulfida. Mengutip pendapat Fahrur ( 2016), Ujang menjelaskan bahwa nutrien yang terbuang dari tambak udang vaname ke lingkungan perairan terdiri atas 77,73 % nitrogen dan 90,21% fosfor. Keberadaan fosfat dan nitrogen (amoniak, nitrat, nitrit) berlebihan inilah yang bisa memacu ledakan pertumbuhan alga di perairan (algae blooming).

Artikel Populer:  Ujian Tsunami Bagi Perikanan di Pesisir Banten

Bijak mengendalikan limbah

“Limbah adalah hasil proses produksi yang bisa bernilai ekonomis dan non-ekonomis. Untuk itu, limbah harus dikelola agar mendapatkan nilai ekomoni,” ujar Ita Yunita, Dosen Lingkungan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta.

Pendapat Ita tersebut dikuatkan pernyataan Iwan Soemantri.  Perekayasa Muda BBPBAP Jepara. Menurutnya, secara esensi limbah tambak masih mengandung nutrien kesuburan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan ikan lain, bahkan bisa meningkatkan produktifitas heterotrof suatu ekosistem. Asalkan, jumlah limbah masih dalam ambang yang bisa dinetralisir oleh perairan di sekitarnya.

Iwan menambahkan bahwa dalam budidaya udang Kementrian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan Permen Pengelolaan lingkungan. Sesuai Permen KP No. 75 Tahun 2016 tentang pengelolaan lingkungan budidaya udang, setiap orang yang melakukan kegiatan pembesaran udang dengan teknologi intensif dan superintensif, harus: (1) menyediakan daerah penyangga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; (2) memelihara tanaman mangrove atau tanaman pantai lainnya yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) di area pembesaran udang; dan (3) menanam mangrove pada saluran pengeluaran yang dipengaruhi oleh pasang-surut dan aliran nutrien.

Adapun pengelolaan air buangan tambak (effluent) pada pembesaran udang dengan teknologi super intensif dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, mengendapkan limbah pada petak atau saluran pengendapan sebelum dibuang ke perairan umum. Kedua, endapan bahan organik (sisa pakan dan kotoran udang) dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik atau bahan baku pakan ikan herbivora. Ketiga, mutu air buangan tambak tidak melampaui rata-rata kadar mutu air lingkungan tempat pembuangan effluent atau sesuai dengan standar baku mutu lingkungan. (Rochim/Adit/Resti)

Similar Posts:

    None Found
Artikel Sedang Trending
Meskipun udang asli Indonesia ini telah kehilangan dominasinya di ranah budidaya dalam negeri, bukan berarti
Banyak hal yang harus diperhatikan dalam meraih sukses budidaya udang, mulai dari persiapan tambak, pemberian
Kilat dan petir berlangsung terus-menerus selama 3 malam paska-tsunami. Jalanan sepi, hanya suara-suara sirine ambulan
Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi,
KJA Bundar di Gondol, Bali Adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.