Bawal Bintang, Laris Manis di Pasar Lokal dan Mancanegara

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) merupakan komoditas budidaya laut yang bernilai ekonomi tinggi mengingat banyak diminati pasar. Ikan bawal mudah dibudidayakan dan budidayanya membutuhkan waktu yang relatif singkat. Sementara itu, harganya relatif tinggi baik di pasar lokal maupun mancanegara.

Laris manis ekspor bawal bintang

Ikan bawal bintang banyak diminati tidak hanya pasar domestik, tetapi juga pasar mancanegara. Untuk pasar internasional, prospek pemasaran ikan laut ini mencakup Amerika Serikat, Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan untuk pasar domestik, khususnya di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, dapat dilakukan baik di dalam pulau maupun antar pulau.

Menurut pengakuan Dikrurahman, Pengawas Perikanan Madya, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, bawal bintang mempunyai peluang pasar yang sangat bagus. Di tingkat pengepul, saat ini harga ikan dipatok pada kisaran Rp 95–110 ribu per kg dalam kondisi hidup. Saat ini, kondisi permintaan sangat tinggi dan sering terjadi kekurangan pasokan terutama untuk ikan ukuran konsumsi (500 gram). Tidak hanya pasar internasional, bawal bintang juga banyak digemari konsumen dalam negeri. Tujuan pasar domestik ini antara lain untuk memasok restoran, hotel, dan supermarket.

Peluang terbuka lebar

Melihat tingginya permintaan pasar, baik local maupun internasional, peluang budidaya pengembangan bawal bintang sangat terbuka lebar. Tidak hanya itu, menurut pengakuan Dikrurahman prospek dan pengembangan usahanya tidak hanya pada segmen budidaya, akan tetapi di berbagai skala usaha, mulai dari pembenihan (memproduksi benih) hingga pembesaran (memproduksi ikan konsumsi).

Ia mengungkapkan, selain di Kepulauan Riau, di antaranya Kota Batam sebagai sentranya, jenis ikan ini dapat dikembangkankan budidayanya di seluruh wilayah Indonesia. “Beberapa daerah yang sudah mengembangkan budidaya Bawal Bintang diantaranya adalah Riau, Sumatera Utara, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku,” papar Dikrurahman.

Teknologi pembesaran bawal bintang

Menurut pengakuan Dikrurahman, teknologi budidaya, baik pembenihan maupun pembesaran ikan Bawal Bintang di BPBL Batam dan UPT DJPB lainnya sudah dapat dikuasai dengan baik. Teknologi sederhana dan aplikatif dalam pembesaran Bawal Bintang memudahkan pelaku usaha, baik masyarakat dan swasta untuk dapat melakukannya.

Faktor penting dalam usaha pembesaran bawal bintang adalah memastikan kondisi perairan sehingga hasil produksinya baik, dapat mengantisipasi terjadinya kematian dan kerugian akibat serangan penyakit pada musim-musim tertentu. Di laut, metode pembesaran bawal bintang dapat dilakukan dengan menggunakan keramba jarring apung (KJA). Mata jarring pada setiap keramba disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibesarkan. Selain itu, pembesaran juga dapat dilakukan di tambak, sebagai alternatif lokasi pemeliharaan. Lama pemeliharaan ikan sampai mencapai ukuran konsumsi membutuhkan waktu sekitar 6 – 7 bulan.

Serangan penyakit jadi kendala

Seperti halnya kegiatan budidaya ikan laut lainnya, kendala yang paling umum terjadi adalah serangan penyakit. Penyakit yang biasa menyerang ikan bawal bintang dapat disebabkan oleh serangan bakteri, parasit, maupun virus. Untuk mengatasi serangan penyakit, langkah pencegahan lebih diprioritaskan daripada langkah pengobatan. Langkah pencegahan dilakukan dengan cara menjaga kebersihan lingkungan budidaya dengan membersihkan jaring keramba. Caranya dilakukan dengan mengganti jaring yang kotor dan mencuci jaring yang kotor setiap satu bulan.

Ikan yang terserang penyakit diobati dengan aplikasi obat melalui pakan, perendaman, maupun penyuntikan. Menurut Dikrurahman, upaya pencegahan dilakukan untuk menekan serangan penyakit melalui pemberian pakan dan suplemen yang tepat dan sesuai. Tak kalah penting, ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan wadah pemeliharaan sehingga pertumbuhan ikan dapat optimal.

Sesuaikan dengan tata ruang

Kelayakan lokasi untuk kegiatan budidaya (pembesaran) disesuaikan dengan tata ruang dan peruntukkan budidaya perikanan, letaknya di tepi pantai atau di laut yang mudah dijangkau. Selanjutnya dasar perairan tidak berlumpur, air cenderung bersih/jernih, tidak tercemar, tingkat kedalaman air minimal 7 meter saat surut terendah dengan kecepatan arus maksimal 50 cm/detik.  Dikrurahman berpendapat, salinitas yang optimal berada pada kisaran 28 – 33 ppt. Ia menambahkan, parameter lainnya terkait persyaratan untuk budidaya ikan ini sesuai dengan SNI tentang Bawal Bintang.

Tentukan waktu yang tepat

Waktu yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya. Secara teknis, agar kegiatan budidaya atau pembesaran Bawal Bintang berhasil baik di antaranya yaitu faktor waktu. Dalam hal ini, penentuan waktu yang tepat untuk melakukan penebaran benih, termasuk di antaranya dengan mempertimbangkan kondisi perairan, cuaca, waktu panen, dan pengamatan pasar.

Menurut Dikrurahman, faktor keberhasilan berikutnya yaitu memilih benih yang sehat dan berkualitas sebagai benih awal, penanganan benih pada saat awal penebaran, penggunaan pakan yang tepat nutrisi, ukuran, dosis, cara dan waktu pemberian pakan, cara penanganan/pemeliharaan yang tepat (misalnya menjaga kebersihan wadah pemeliharaan, penanganan yang cepat dan tepat bila ada ikan yang terserang penyakit); memastikan tersedianya pasar hasil produksi; dan hal-hal teknis lainnya.

Kendala ketersediaan pakan

Tidak hanya penyakit, pengelolaan pakan yang tidak tepat bisa menjadi batu sandungan dalam kegiatan budidaya. Kendala ketersediaan pakan dapat disebabkan karena kondisi aksesibilitas lokasi budidaya yang sulit dijangkau sarana transportasi. Dikrurahman melanjutkan, bawal bintang yang pakannya berupa pelet komersial, mungkin saja dapat menyulitkan pembudidaya dalam mengakses terhadap pakan. Hal ini terutama bagi mereka yang berlokasi budidaya di daerah-daerah terpencil yang jauh dari pusat kota. Kendala yang mereka hadapi di antaranya adalah terkait transportasi pakan yang sulit menjangkau daerahnya.

Gunakan pakan yang tepat

Selain pakan buatan, pemberian pakan dapat dilakukan dengan menyediakan pakan alami berupa rotifer. Kelebihannya, pakan ini dapat memberikan kebutuhan nutrisi larva. Sehingga, diharapkan pertumbuhan ikan dapat lebih cepat. Spesies laut, seperti bawal bintang membutuhkan pakan dengan kandungan protein dan lemak yang lebih tinggi daripada ikan air tawar. Kisarannya, kandungan protein pakan yang ideal untuk ikan air laut paling tidak mencapai 45 – 55%.

Jenis pakan berupa pakan buatan (pellet) dengan kadar protein minimal 37%, dosis pemberian pakan/FCR 1:2, tipe pakan sinking (tenggelam), ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Teknis pemberian pakan dilakukan sesuai dosis, diberikan 2-3 kali sehari, secara perlahan (sedikit demi sedikit).

Berikutnya, dalam aspek pemilihan pakan, pemilihan sumber protein sebaiknya berasal dari protein hewani. Penggunaan protein nabati, seperti dari tepung kedelai, mengandung sejumlah permasalahan. Misalnya, kandungan asam fitat dalam tepung protein nabati dapat menghambat penyerapan sejumlah mineral dalam tubuh, antara lain kalsium, magnesium, besi, dan seng. Asam ini membentuk senyawa kompleks dengan mineral sehingga sukar diserap tubuh. (noerhidajat/adit/resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.