Dinamika Pasar Komoditas Udang Di Tengah Pandemik Covid-19

Atikah Nurhayati

Dosen Sosial Ekonomi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Padjadjaran 

Pandemi Covid-19 di sejumlah wilayah menyebabkan perubahan perilaku konsumen pada beberapa aspek kehidupan. Hal ini karena dampak adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)  dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memberikan kewenangan kepada daerah Kabupaten/Kota untuk menentukan kebijakan di wilayah  dan harus meminta persetujuan dari Menteri Kesehatan sedangkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dimana pemerintah pusat langsung menetapkan daerah-daerah yang wajib menerapakan PPKM. Terdapat berbagai aturan pembatasan yang berlaku di sejumlah sektor.

Sektor perikanan dan kelautan terkena imbas kondisi pandemik Covid-19 yang meluluhlantahkan daya beli masyarakat dan ketidakpastian di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik pada masyarakat, sehingga harus dilakukan perbaikan sistem kelembagaan disegala bidang berdasarkan kondisi aktual. (Nurhayati.,A.,2021)

Keadaan pandemi covid- 19 yang membuat konsumen lebih banyak beraktivitas di rumah, sedangkan pelaku usaha perikanan yang meliputi nelayan, pembudidaya ikan, pengolah dan pemasar produk perikanan tetap melakukan aktivitas perdagangan untuk memenuhi kebutuhan pasokan pangan protein hewani dengan menerapkan protokol kesehatan, salah satunya perdagangan komoditas Udang.

Pemenuhan kebutuhan protein hewani seperti udang dimana terkandung kalsium, potassium dan fosfor yang merupakan sumber vitamin A dan E, asam lemak omega 3 yang berfungsi mengurangi peradangan dan risiko penyakit jantung merupakan salah satu faktor yanng menentukan permintaan terhadap komoditas udang. Permintaan ini akan menentukan titik keseimbangan pasar (equilibrium) adalah kondisi bertemunya antara harga (H) dan jumlah barang yang diminta/ demand (Qd) dengan harga (H) dan jumlah barang yang ditawarkan/ supply (Qs) pada komoditas udang.

Kurva permintaan komoditas udang merupakan gambaran dari hukum permintaan yang bersifat berbanding terbalik, yakni: “Jika harga udang tinggi, maka jumlah barang komoditas udang yang diminta akan rendah dan sebaliknya. Hukum ini berlaku dengan asumsi “cateris paribus”, artinya bahwa hukum ini berlaku jika yang mempengaruhi hanya faktor (variabel) harga, sedang variabel lain dianggap tetap atau tidak mempengaruhi, misal: pendapatan masyarakat, harga barang subsitusi, harga barang komplementer, selera, dan lain-lain.

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) memiliki karakteristik yang  spesifik, diantaranya mampu bertahan hidup pada kisaran salinitas yang luas, memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan bersuhu rendah, memiliki tingkat keberlangsungan hidup yang tinggi, dan memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap penyakit sehingga sesuai untuk dibudidayakan di tambak.

Hukum penawaran pada  komoditas udang  yaitu: “Jika harga udang tinggi, maka jumlah barang komoditas udang yang ditawarkan tinggi dan sebaliknya. Hukum ini berlaku dengan asumsi “cateris paribus”, jika variabel lain mempengaruhi jumlah barang komoditas udang yang ditawarkan, ini membuat hukum penawaran tidak berlaku, misalnya: harga input produksi,  teknologi yang digunakan pada budidaya tambak udang, dan lain-lain.

Jika harga komoditas udang di atas harga keseimbangan, maka jumlah komoditas udang yang ditawarkan lebih besar (excess supply) sehingga akan terjadi dimana petambak udang menurunkan harga. Jika harga dibawah harga keseimbangan, maka jumlah yang diminta lebih besar (excess demand) sehingga petambak udang akan menaikkan harga.

Mekanisme pasar tersebut cenderung akan terbentuk secara otomatis keseimbangan pasar komoditas udang juga dipengaruhi oleh variabel kelestarian ekosistem dan menjaga kualitas lingkungan yang menjadi faktor paling utama melalui pengelolaan limbah yang efektif selama proses budidaya udang di tambak.

Harga komoditas udang vaname di Indonesia sangat bervariasi misalnya: (1) Kota Makasar pada tahun 2020 dengan kisaran Rp 50.000 ,00 – 125.000,00/ Kg. (2) Kabupaten Pasuran Rp 50.000,00 – 75.000,00/ kg, (3) Kota Bitung Rp 120.000,00 – 150.000,00/ kg. Tahun 2021 harga udang vaname di Indonesia berkisar Rp 80.000,00 – Rp 120.000,00/ kg, hal ini tergantung pada size dan kualitas (Statistik KKP, 2021).

Produksi udang di Indonesia mengalami fluktuatif  dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 di beberapa daerah yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sumatera Selatan. Berikut produksi udang di Indonesia:Ekspor udang dari Indonesia merupakan urutan ketiga terbesar pengekspor udang di pasar dunia setelah Thailand dan India. Adapun  jenis udang yang diekspor oleh Indonesia di antaranya adalah udang windu, udang vaname, dan jenis udang lainnya. Berikut data ekspor udang di Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2020.

Permintaan komoditas udang di tengah pandemik covid-19, mengalami kontraksi terhadap pertumbuhan ekonomi secara regional dan nasional, di dasarkan pada kepercayaan dan efektivitas mekanisme pasar bebas dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Udang merupakan komoditas perikanan yang paling banyak di minati pasar regional dan internasional.

Ekspor udang dipasarkan ke pasar Amerika Serikat, Jepang dan China dalam bentuk shrimp warm-water peeled frozen (udang kupas beku), shrimp breaded frozen (udang tepung beku), dan shrimp warm-water shell-on frozen (udang utuh beku).

Untuk meningkatkan ekspor udang diperlukan pengembangan lahan tambak secara intensifikasi dan peningkatan inovasi teknologi budidaya udang sehingga mampu bersaing dengan negara kompetitor serta birokrasi perijinan yang perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk memberikan pelayanan prima kepada para petambak udang, sehingga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di tingkat regional dan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.