Kadar H2S yang Masih Bisa Ditoleransi Oleh Udang

Oleh:

Arief Taslihan

Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara

Reduksi sulfur merupakan suatu proses yang dapat memicu kehadiran Hidrogen sulfida atau H2S pada tambak. Senyawa ini diketahui memiliki sifat beracun bagi udang, sehingga jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan kematian udang secara massal.

Karakteristik dari senyawa ini ialah tidak berwarna sehingga sering sekali mengecoh pembudidaya, lebih berat dari udara sehingga cenderung mengumpul pada dasar tambak, serta sangat korosif atau dapat menyebabkan karatan pada semua logam.

Cara dalam menandai kemunculan senyawa ini ialah timbulnya bau telur busuk pada tambak. Bau ini menjadi penanda bahwa telah terjadi proses reduksi sulfur oleh bakteri anaerob di dasar tambak.

Dalam keadaan tersebut, biasanya kadar H2S pada tambak udang masih berada pada angka 0,0047 ppm. Namun, pada tingkatan tersebut, udang masih dapat mentoleransinya, sehingga H2S masih belum meracuni udang.

Tapi, pembudidaya harus tetap waspada, karena udang tidak selamanya dapat menahan gempuran H2S. Kadar maksimal H2S yang dapat ditoleransi udang  ialah 0,12 ppm.

Maka dari itu, sebelum H2S muncul pada tambak dan meracuni udang sebaiknya pembudidaya dapat mencegahnya dengan menggunakan alas tambak, penggunaan kincir air untuk mengoptimalkan aerasi, serta memberikan probiotik pada tambak untuk menumbuhkan plankton.

Potensi Udang di Indonesia

Tren Produksi udang di 2022 seiring dengan kondisi pandemi yang makin menurun, permintaan pasar dunia terhadap udang akan meningkat, tentunya harga juga naik. Dunia usaha makin bangkit, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat tidak ada lagi, masyarakat bebas bergerak sehingga akan memacu pertumbuhan ekonomi serta budidaya otomatis bangkit.

Pemerintah memberikan beberapa program seperti Shrimp Estate di wilayah Kebumen. Dengan adanya Shrimp Estate yang akan dibangun di atas lahan 100 hektar ini, tambak milenial ini diharapkan menjadi pemicu peningkatan produksi.

Ancaman AHPND perlu diwaspadai, sekarang mulai merebak di beberapa wilayah seperti Lampung. Decapod Iridescent Virus 1 (DIV 1) juga bisa menjadi ancaman, karena dapat menyerang udang vaname seperti yang terjadi di Cina dengan mortality rate mencapai 80 sampai dengan 100%.

Kiat antisipasi, importasi induk vaname harus lebih berhati-hati, penerapan biosekuriri lebih diperketat karena program biosekuriti ini sudah diserukan oleh Food and Agriculture Organization (FAO). Benih harus bebas dari White Spot Syndrome Virus (WSSV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease, Decapod Iridescent Virus 1 (DIV 1), dan pengelolaan tambak harus lebih baik.

Tambak perlu menerapkan biosekuriti, tambak tradisional semi intensive dalam berbudidaya sistem klaster untuk antisipasi serangan penyakit. Penggunaan benih Specific Pathogen Free (SPF) dan menggunakan pakan bermutu baik. (Ed: Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.