Cegah AHPND dengan Salinitas Rendah

Oleh:

Mochammad Heri Edy

Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Pemeliharaan udang vaname dapat menghindari penyakit AHPND atau EMS dikarenakan air yang dipakai kurang dari 10 permil (Salinitas rendah).

Udang vaname merupakan salah satu jenis udang yang pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap penyakit sehingga  komoditas vaname bertumbuh pesat , dan menjadi varitas udang unggul.  Udang Vaname juga tumbuh subur pada salinitas rendah  yakni pada salinitas  6 – 8 permil.

Dalam budidaya udang vaname saat ini  muncul penyakit  yaitu AHPND atau yang dikenal EMS (Early Mortality Syndrome) . Pengalaman Penulis tambak  kotak dengan berlapis HDPE  dan bundar juga dengan dinding HDPE.

Selama pemeliharaannya  tidak pernah terkena penyakit AHPND karena penulis menggunakan salinitas rendah karena kondisi lingkunanya hanya dapat air  bersalinitas rendah antara 6 sampai dengan 8 permil.

Penyakit  AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Diseases) atau EMS (Early Mortality Syndrome) menyerang udang berukuran kecil, kematian akan sangat cepat, dan kematian dini biasanya pada DOC 1-30.

Penyebab penyakit ini adalah Vibrio parahaemolitycus dimana jenis bakteri vibrio ini tidak hanya dalam air, tetapi juga masuk di dalam tubuh udang, jenis vibrio ini masuk ke dalam tubuh udang melalui plankton yang dimakan udang, pakan yang dimakan udang, maka vibrio parahaemolitycus juga sangat cepat berkembang dan menimbulkan kematian.

Untuk ciri-ciri udang yang terkena AHPND akan berwarna putih kapas dan sedikit kemerahan.  Hepatopankreas membengkak, berwarna putih dan kekuningan, hepatopáncreas  mengecil dan keras, pada saat udang masih dikolam, biasanya berenang di tepi kolam, makan kurang dan pada usus ada gelembung dan kemerahan.

Penyakit EMS  atau AHPND biasa juga muncul pada saat udang mulai terkena WFD (White Feses Disease) dan ketika gejala sudah muncul maka 2-3 hari udang akan drop.  Untuk mencegah serangan AHPND tsb selain Air bersalinitas rendah juga dipastikan Air tambak steril dari bakteri pathogen sebelum benur  ditebar, dan memilih benur SPF dan F1 yang dijamin kualitasnya baik.

Benur yang di pilih biasanya oleh hatchery  melewati uji tes PCR dan harus negatif dari penyakit seperti AHPND, IMNV dll.   Sederhananya sebelum tebar juga harus mencoba di air kolam yang akan ditebari selama 24  jam , jika dicoba sedikit benur lincah dan tahan maka baru dibeli untuk ditebar di kolam atau tambak yang kita miliki.

Mengapa Harus salinitas rendah

Udang Vaname dapat hidup pada salinitas atau kadar garam 0,5 – 45 permil, pada salinitas rendah selama 7 siklus pemeliharaan udang vaname  belum pernah terserang AHPND, hal ini digambarkan airnya tidak banyak mengandung bakteri Vibrio.

Vibrio total tidak lebih dari 4 persen dimana kondisi tersebut termasuk aman.  Lebih lanjut dikatakan bahwa kemelimpahan vibrio 102 – 103 CFU/ml merupakan level aman, 103 – 104 CFU/ml merupakan level stress dan > 104 CFU/ml merupakan level kritis, dengan dominasi vibrio bakteri adalah < 5% level aman, 6 – 10% adalah level stress dan > 10 % adalah level kritis.

Selain itu,  bakteri  vibrio tetap harus diwaspadai yang berada di kolom air dan dasar sedimen tanah, juga ditubuh organisme (udang) perlu diperhatikan kemelimpahannya. Di Tubuh udang kandungan bakteri  Vibrio masih dibawah 3 x  103 CFU  per ml. Pada air yang bersalinitas rendah kehidupan bakteri Vibrio penyebab penyakit udang akan tertekan sehingga mengurangi kepadatan Vibrio tersebut.

Untuk mencegah inveksi  Vibrio parahaemolitycus dapat dilakukan sterilisasi air yang tepat diantaranya dimatikan dengan sterilisator yang mengandung zat yang dapat menghancurkan membran Citoplasma  susuai dosis yang dianjurkan,  setengah jam kemudian dilakukan penambahan kaporit dengan dosis 30 ppm.

Air yang ada dipetakan tambak dilakukan pemberian kincir secara merata agar sterilisator tersebut merata. Dengan adanya sterilisasi terserbut dapat mematikan semua jenis bakteri termasuk yang bersifat pathogen tersebut.  Dengan adanya sterilisasi tersebut dapat dipastikan air steril dan dapat dilakukan penebaran benur yang bebas dari penyakit.

Benur yang ditebar ke tambak harus dijamin bersertifikat.

Benur udang Vaname yang ditebar harus bersertifikat yang sudah dijamin bermutu baik, dan bebas dari penyakit atau SPF (Spesific Pathogen Free).  Karakteristik benur yang paling dicari oleh petambak adalah yang SPF (Spesific Pathogen Free) atau bebas penyakit terutama terhadap penyakit yang mematikan yang telah kita kenal.

Antara lain IMNV (Infectious Myonecrosis Virus), WSSV (White Spot Syndrome Virus), IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoitic Necrosis Virus), Taura Syndrome, AHPND, kotoran putih, serta yang memiliki pertumbuhan yang lambat dan berukuran tidak seragam.

Pentingnya penerapan biosekuriti terkait kesehatan udang. Benur SPF dikeluaran oleh hatchery yang juga kompeten, diantaranya dalam penerapan biosekuritinya. Sehingga biosekuriti harus dijaga agar jaminan bahwa benur yang dihasilkan tidak mengandung beberapa penyakit yang mematikan.

Beberapa faktor mendasar yang perlu dipraktikkan dalam menjaga kualitas induk dan benur di hatchery. Contohnya, random checking juga diperlukan untuk memastikan kualitas induk. Kemudian selama operasional di dalam hatchery itu sendiri harus juga mengikuti kaidah yang baik dan benar dengan mendeteksi simpul-simpul pada rantai produksi yang memungkinkan penyakit masuk dalam sistem pembenihan.

 

Jika terdeteksi adanya simpul yang memungkinan, baru melakukan langkah penanganan agar penyakit tidak masuk melalui simpul-simpul tersebut.  Misalnya, sebelum telur ditetaskan, dicek dulu ada tidaknya berbagai jenis penyakit. Jika terbukti secara laboratoris bebas,baru batch tersebut ditetaskan.

Demikian juga pada stadia Nauplii dan PL, cek penyakit harus tetap dilakukan. Bak dengan hasil positif penyakit harus dimusnahkan dengan memastikan penyakit terbunuh baru air bisa dibuang.

Jika penerapan biosekuriti tidak dilakukan dengan baik, maka dikhawatirkan benur yang telah mengandung penyakit akan tersebar ke petambak, dan itu merupakan ancaman yang fatal juga.

Kemudian, disamping memperhatikan biosekuriti  tersebut, pembenih juga harus memperhatikan mutu induk secara genetis, apakah merupakan keturunan yang dapat menghasilkan benur unggul (cepat tumbuh dan tahan perubahan lingkungan dan lain-lain) atau tidak. Tujuannya, agar hasil panen nantinya tidak terlalu bervariasi ukurannya.

Pembesaran udang Vaname  yang baik

Pembesaran udang vaname yang diperlukan adalah agar media budidaya tetap baik sepanjang pembesaran, sehingga dalam pemberian pakannya harus menjamin dilakukan secara baik tidak malah merusak air media pemeliharaan.  Oleh karena itu pemberian pakan harus berkualitas baik dan dalam jumlah yang cukup.

Pakan yang berlebih akan merusak  air media dan menyebabkan pathogen banyak di air media sehingga harus terkendali dan tidak merusak air media.  Beberapa penyakit udang seperti berak putih, AHPND dan WSSV, dan IMMV  atau mio sering kali menyerang tambak udang vaname karena kualitas air yang menurun.

Selama pemeliharaan air harus diganti secara terus menerus kira-kira 15 % perhari,  oleh karena itu harus dijamin air yang dipakai untuk mengganti dijamin berkualitas baik dan mengandung mineral yang cukup.

Algae selama pemeliharaan dijaga stabil tidak mudah berubah sehingga phytoplankton yang dominan dijaga agar diatomnya tumbuh dominan  melalui penyediaan mineral yang cukup seperti silikat, kapur baik kalsit maupun dolomit dan lain sebagainya. Menjaga dominansi diatom menyebabkan air berwarna coklat, apabila didominansi oleh algae hijau atau biasanya air berwarna hijau.

Air coklat biasanya pertumbuhan udang lebih baik dibandingkan air berwarna hijau.  Yang harus tidak terjadi apabila  air berwarna hijau kebiruan ,biasanya banyak didominasi algae biru atau blue green algae  yang menandung racun yang mematikan udang.

Pada pembesaran udang vaname didalam media butuh bakteri termasuk probiotik, Phytoplankton, Zooplankton, mineral, dan senyawa kimia serta udangnya sendiri butuh oksigen terlarut  untuk proses metabolismenya, oleh karena itu kita harus bijaksana menggunakan probiotik yang bakterinya juga membutuhkan oksigen terlarut  terutama bakteri yang aerobic dan fakultatif.

Sehingga harus dipastikan oksigen terlarut  perairan media cukup untuk kebutuhan metabolisme, pensuplai osigen berupa kincir,  blower,  aerator lainya cukup tersedia baik dipermukaan maupun didasar kolam/tambak.  Apabila oksigen cukup dan kualitas air lain mencukupi untuk metabolisme udang , maka udang memiliki imunostimulan yang cukup dan tahan terhadap penyakit

Pemeliharaan udang vaname dapat menghindari penyakit AHPND atau EMS dikarenakan air yang dipakai kurang dari 10 permil (Salinitas rendah) dengan sterilisasi yang baik dengan menggunakan senyawa yang dapat mennghancurkan membrane citoplasma dan kaporit 30 ppm.

Penggunaan benur sehat dan kualitas baik (SPF dan F1) dan manajemen pembesaran udang vaname yang baik juga mendukung imunitas udang yang baik agar udang bebas penyakit AHPND atau EMS. (Ed: Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.