Monitoring Kesehatan Udang

Tingkat kesehatan udang menentukan hasil produksi suatu tambak, karena udang yang sehat tentu memiliki ketahanan hidup yang tinggi hingga waktu panen tiba.

Manajamen kesehatan udang merupakan bagian dari biosekuriti untuk keberlanjutan produksi perikanan khusunya pada budidaya udang vaname. Pemahaman mengenai lingkungan, biota, biologi spesies, penyakit, patogen, perkembangan penyakit, diagnosa, epidemiologi, dan pengendalian adalah faktor penting dalam manajamen penyakit udang.

Manajemen kesehatan udang ditekankan pada titik-titik kritis produksi untuk menurunkan resiko penyakit yang dapat berdampak terhadap kerugian ekonomi. Manajemen kesehatan udang yang didasarkan pada pemeriksaan penyakit dan pencegahan lebih baik dikembangkan daripada menyiapkan diri untuk melakukan penanggulangan penyakit.

Pengalaman terkait penarapan manajemen kesehatan udang vaname yang baik adalah melalui “Pendekatan Ekologi” dan penerapan SOP manajemen Kesehatan udang secara ketat. “Ekosistem pembudidayaan udang adalah ekosistem buatan yang terbentuk dari 3 komponen utama yaitu biota, air, dan wadah,” ujar Moch Nurhuda, Dosen Sekolah Tinggi Perikanan (STP).

Moch Nurhuda

Huda melanjutkan, dalam kegiatan manajemen kesehatan udang harus diupayakan semaksimum mungkin bahwa ketiganya tersebut selalau dalam kondisi kesetimbangan (equilibrium). Keseimbangan ekosistem tersebut harus sudah diciptakan sejak kegiatan persiapan produksi hingga panen dan berlanjut ke siklus pembudidayaan berikutnya.

Di dalam manajemen Kesehatan udang, kata Huda, keseimbangan mikroorganisme memainkan peranan penting terhadap kesehatan udang yang dipelihara. Disamping itu, tambah Huda, aspek fisika dan kimia air sebagai media pemeliharaan juga akan menentukan dalam pemebntukan kesetimbangan ekosistem pembudidayaan.

Tambak udang yang memiliki kesetimbangan eksositem baik dimungkinkan untuk menghasilkan produksi udang yang maksimum. Pendekatan ekologi tersebut selanjutnya harus bisa diterjemahkan secara teknis dan dilaksanakan secara ketat dalam kegiatan budidaya udang di tambak.

Huda menjelaskan, berdasarkan pengalaman dan pendampingan terhadap pembudidaya udang yang kami lakukan di Bengkulu, Sumbawa Besar, dan Bulukumba, pendekatan dan penerapan ekologi tersebut telah sukses terhindarkan dari penyakit, pertumbuhan optimum, SR tinggi, FCR rendah, dan dapat sukses panen.

Salah satu capaian yang cukup sukses adalah tidak berjangkitnya AHPND dan juga penyakit lain. Di ketiga lokasi tersebut, Huda menjelaskan, dengan padat tebar bervariasi antara 150 sd 250 ekor/m2 telah beberapa siklus sukses panen hingga DOC sekitar 100. Beberapa performan budidaya yang cukup baik yaitu SR rata-rata 80% (dengan kisaran 80% sd 94%), FCR rata-rata 1,38 (dengan kisaran 1,37 sd 1,39), dengan size panen rata-rata 35 (dengan kisaran 31 sd 40). Grafik berat badan rata-rata udang di 3 blok selama periode pemeliharaan tampak memiliki kencenderungan terus meningkat bahkan di sepuluh hari terakhir.

Gambar Grafik berat badan rata-rata udang di 3 blok selama periode pemeliharaan tampak memiliki kencenderungan terus meningkat bahkan di sepuluh hari terakhir

“Performan budidaya yang baik di atas karena SDM di tambak mampu menterjemahkan secara teknis pendekatan yang ditetapkan ‘Pendekatan Ekologi – Equilibrium ecosystem’ dalam setiap jenis kegiatan budidayanya,” ujarnya.

Langkah  Pencegahan
Huda mengatakan, pencegahan yang selama ini dilakukan merupakan penterjemahan secara teknis dari pendekatan ekologis dalam kegiatan budidaya udang di tambak. Menurutnya, langkah-langkah yang dilakukan adalah seperti menyusun berbagai SOP budidaya udang yang terkait dengan manajemen kesehatan udang. Kemudian Menyiapkan sarana prasarana untuk pelaksanaan SOP secara tepat. “Ketersediaan SDM yang kompeten juga merupakan hal penting untuk memudahkan pengorganisasian, pemantauan dan pengawasan yang tersistem,” kata Huda.

Langkah-langkah pencegahan tersebut dilakukan sejak persiapan produksi, pemilihan dan pembelian serta transportasi benur, penebaran masa pemeliharaan (termasuk manajemen air dan manajemen pakan).

Beberapa paremeter fisika, kimia, dan biologi secara rutin selalu diamati. Aspek biologi yang diamati meliputi udangnya dan mikroorganismenya termasuk plankton. Untuk udang diamati populasi dan pertumbuhan serta secara visual diamati ususnya.

Terkait udang, papar Huda, juga dilakukan pengamatan terhadap benur yang akan dibeli (di Hatchery) untuk memastikan bahwa benur bebas dari mikroba penyebab penyakit. Sementara mikroorganismenya yang diamati adalah total bakteria dan vibrionya, adapun plankton adalah memantau beberapa jenis yang membahayakan Kesehatan udang.

Parameter fisika kimia media, diamati secara rutin dan cukup lengkap terkait dengan parameter kunci yang merupakan faktor pembatas (limiting factor) kehidupan udang. Adapun nilai setiap parameter diharuskan dalam kisaran yang dipersyaratkan bagi udang dan tidak terjadi fluktuasi yang ekstrim.

Kualitas Air
Huda menuturkan, manajemen kualitas air dan dasar kolam memegang peranan penting dalam manajemen kesehatan udang. Lanjutnya, penggunaan probiotik saat persiapan media untuk pembentukan kesetimbangan mikrooganisme pasca sterilisasi air – untuk menghindari dominasi mikroorganisme pathogen. Penggunaan beberapa produk untuk mempertahankan kualitas air selalu dalam kisaran persyaratan kehidupan udang dan mencegah fluktuasi parameter kunci kualitas air.

Meminimalisasi penumpukan bahan organik di dasar tambak melalui manajemen pakan yang teliti, sampling populasi yang akurat, dan penyiponan secara rutin. “Mempertahankan kesetimbangan plankton baik jenis dan kepadatannya. Selalau memantau kawasan sekitar lokasi tambak untuk mencegah kontaminasi saat melakukan pergantian air,” pungkas Huda. (Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.