3 Faktor Kunci Manajemen Kesehatan Udang

3 Faktor Kunci Manajemen Kesehatan Udang

Berbicara soal keberhasilan budidaya memang tak ada habisnya. Pasalnya, keberhasilan budidaya udang dipengaruhi banyak faktor. Selain kualitas benih dan manajemen pakan yang baik, manajemen kesehatan udang memegang peran penting dalam menyukseskan budidaya.

Penyakit utama yang menyerang udang di daerah Takalar, Sulawesi Selatan, sampai saat ini yaitu vibriosis, EHP, dan WSSV. Peningkatan penyakit terlihat lebih tinggi terjadi pada musim peralihan dibandingkan waktu lainnya. Pengetahuan tentang penyakit menjadi sangat penting untuk diketahui oleh pembudidaya. Jika cepat mengetahui—minimal—gejala klinis dari penyakit yang menyerang, perlakuan yang tepat untuk mengatasi serangan tersebut pun bisa diambil.

Sebagai contoh, pada vibriosis, terdiri 3 fase perkembangan tingkat serangan penyakit, yaitu inisial, akut, dan terminal. Jika tingkat serangan masih berada pada fase inisial, udang masih bisa diselamatkan dengan perlakuan yang tepat. Namun, jika sudah masuk fase akut, udang sulit diselamatkan.

Demikian juga dengan EHP dengan tingkat reproduksi dan penyebaran yang cepat. Gejala serangan awal sulit terdeteksi sehingga terjadi pertumbuhan yang lambat (slow growth) dan berlanjut pada kematian. Prinsip utama dari penanganan EHP adalah meminimalisasi spora dengan cara sterilisasi menggunakan oksidator kuat, menghilangkan filter feeder, serta membatasi mekanisme adesif antara EHP dan hepatopankreas.

“Manajemen kesehatan udang yang baik harus memperhatikan 3 faktor, yaitu penanganan udang, lingkungan, dan patogen. Pengelolaan ketiga faktor ini menjadi dasar keberhasilan budidaya,” ungkap Guno Gumelar, Pengawas Perikanan/Budidaya Udang Intensif dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar.

Penanganan udang
Menurut Guno, udang harus dipastikan berasal dari panti benih (hatchery) bersertifikat dan SPF. Tes PCR dan fisik sebelum penebaran sangat penting dilakukan, terutama pada penyakit yang sering terjadi dan berpotensi menyerang area budidaya. Sementara tes fisik bertujuan untuk melihat ketahanan benur sehingga untuk ditebar.

Pada proses aklimatisasi saat penebaran benur, sistem tangki sangat diajurkan dibandingkan cara konvensional dengan plastik langsung ke tambak. Selanjutnya, monitoring kesehatan udang harus rutin dilakukan dengan pengamatan visual setiap hari. Dengan begitu, gejala penyakit cepat diketahui serta dilakukan tes dan perlakuan sehingga penyakit bisa diatasi.

Pengelolaan lingkungan
Adapun pengelolaan lingkungan meliputi pengelolaan air masuk, air budidaya, dan limbah. “Pada air masuk kami tidak lagi menggunakan kaporit, tetapi menggunakan kapur bakar sampai pH min 9,” terang Guno.

Manajemen kualitas air dan dasar kolam sangat penting karena pakan, input terbesar dalam tambak, memiliki retensi nitrogen sekitar 22%. Dengan begitu, nitrogen yang terbuang dalam lingkungan perairan sekitar 78%. Konsumsi pakan akan selalu meningkat seiring waktu budidaya sehingga jumlah limbah yang akan dihasilkan bisa diperkirakan.

Agar bisa mengolah limbah yang berpotensi menurunkan kualitas air, ada beberapa langkah rutin yang dilakukan, yaitu: (1) membuat perkiraan jumlah limbah yang dihasilkan pakan dan (2) memproses limbah.

Perkiraan atau estimasi limbah pakan dilakukan dengan cara menghitung jumlah Total Ammonia Nitrogen (TAN) pakan yang dihasilkan, sesuai jumlah pakan dan kandungan proteinnya. TAN yang dilepas di air sekitar 0,576 dari TAN pakan karena proses asimilasi, eksresi, dan proses lain. Dengan mengetahui jumlah TAN yang dilepas di air, jenis pengolah dan caranya mengolah nitrogen bisa diprediksi.

Pengolah nitrogen yang utama berasal dari dua golongan bakteri, yaitu heterotrof dan nitrifikasi. Pemahaman tentang kebutuhan dan hasil proses oleh kedua golongan bakteri tersebut perlu dipahami untuk menjaga kestabilan air.

“Di awal budidaya, kami mengembangkan bakteri heterotrof dengan penambahan molase terukur sesuai dengan perhitungan TAN. Hal ini disebabkan bakteri nitrifikasi memerlukan waktu lebih lama untuk berkembang,” terang Guno.

Memasuki bulan kedua, penggunaan molase dikurangi secara bertahap hingga dihentikan ketika telah tercapai kestabilan bakteri. Umumnya, penambahan molase atau sumber karbon lainnya dilakukan hingga 60 hari dan setelahnya tidak diberikan lagi.

Pengolahan dasar kolam pada budidaya intensif pun sangat penting. Konstruksi tambak yang baik memudahkan proses pengeluaran kotoran. Begitu pula dengan pembuatan central drain yang tepat. Pada saat budidaya, lumpur tambak harus dikeluarkan secara rutin secara bijak sesuai dengan kondisi tambak. Setelah 30 hari. Lumpur dikeluarkan secara rutin setiap hari melalui pembuangan tanpa sipon sampai panen.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sangat penting bagi budidaya intensif dan sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan sehingga tidak terjadi penurunan kualitas air lingkungan dan menjaga keberlanjutan usaha budidaya udang.

Penanganan patogen
Dalam hal penanganan patogen, biosekuriti merupakan kunci utama mencegah masuknya patogen dalam lingkungan budidaya. Jika tidak ditangani dengan baik, keberadaan patogen bisa menyebar dan mewabah. “Menurut data laboratorium kami, terlihat adanya peningkatan positive rate vibriosis dari tahun 2018—2021, baik pada golongan ikan liar, tanah, maupun air,” ungkap Guno.

Adapun tahap biosekuriti dimulai dari entry level, internal, dan exit level. Dengan mengetahui tahapan, detil, dan peluang masuknya penyakit, petambak bisa mengambil tindakan dan prosedur yang tepat dalam penerapan biosekuriti.

Mitigasi risiko penyakit udang dilakukan dengan meminimalkan faktor masuknya penyakit pada udang dan meningkatkan imunitas pada udang. Upaya meminimalkan masuknya penyakit dilakukan saat penanganan udang.

Sebagai bentuk pencegahan, diperlukan peningkatan imunitas. Salah satunya upaya pengayaan pakan.  Tahun lalu, Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar melakukan percobaan pengayaan pakan dengan kombinasi beberapa jenis bakteri dan mineral terhadap serangan vibriosis pada udang vaname. “Dengan menggunakan kombinasi bakteri tersebut, bakteri patogen dan virus bisa ditekan, kecernaan dan kesehatan udang meningkat, begitu pula dengan kualitas air juga ikut meningkat,” pungkas Guno. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.