Terjebak dengan biaya operasional tambak yang terus membengkak? Untuk meningkatkan efisiensi usaha dan profitabilitas tambak, sangat penting menyeimbangkan antara factor ketahanan dan tingkat pertumbuhan benih.
Andy Solomon menjabat sebagai Farm Manager Anugerah Berjaya Kraksaan Farm (ABK Farm) Probolinggo, Indonesia, berbagi cerita dalam melewati tantangan budidaya udang di Indonesia saat ini. ABK Farm adalah tambak udang tradisional yang baru saja direnovasi, menggunakan sistem budidaya semi-bioflok. Semua dinding tambaknya dilapisi dengan lapisan HDPE.

Kendalikan input dan siklus produksi
Selama bertahun-tahun, lingkungan produksi udang telah berubah. Biaya listrik, tenaga kerja, pakan, vitamin dan bahan kimia semuanya meningkat. Factor-faktor tersebut adalah masukan yang ada untuk genetika, pembenihan, peternakan, dan pengolah. Jadi, apa yang bisa kita kendalikan? Menurut pemaparan Andy, semuanya tergantung pada tingkat pertumbuhan dan rasio konversi pakan (FCR) benur yang ada.
“Semakin cepat udang tumbuh, semakin sedikit biaya yang harus kita bayar” papar Andy.
Andy melanjutkan, di tambak ABK, rasio konversi pakan (FCR) tercatat pada angka 0,1. Kegiatan usahanya menelan biaya sekitar Rp 1.500 per kilogram udang, dengan keuntungan yang diraih sekitar Rp 20.000 untuk setiap 1 kilogram udang hidup. “Kalau FCR naik 0,1 saja, kita rugi Rp 1.500 per kilogram udang”, terang Andy.
Setelah berbicara dengan rekan-rekan sesama praktisi di industri ini, Andy menceritakan bahwa pembudidaya saat ini tidak menghasilkan keuntungan yang ditargetkan saat memanen dengan ukuran 20 – 30 hitungan. Sebelum adanya kenaikan biaya, seperti yang kita ketahui selama ini, petambak akan mendapat keuntungan besar dari udang ukuran sebesar ini. Dengan fakta tersebut, sudah saatnya mempersingkat siklus produksi menjadi lebih efisien.
Pilih benur udang yang tepat
Harga udang di tingkat tambak saat ini tidak bisa dikendalikan. Sehingga, upaya untuk mengelola masukan (input) produksi dengan hati-hati untuk mengurangi waktu produksi menjadi pilihan yang rasional. Masukan tersebut salah satunya yaitu memilih benih udang (benur) yang sangat kecil untuk dibudidayakan di tambak. Pada awalnya, Andy berjibaku untuk membesarkan udang dari benih yang tingkat pertumbuhannya lambat yang ia peroleh dari supplier benih yang ada. Sebelum akhirnya, tahun lalu ia memutuskan untuk menjatuhkan pilihan ke benih udang Benchmark Genetics, BMK YIELD®.

“Dibandingkan dengan pemasok genetik lainnya, benih Benchmark memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dengan memberikan FCR yang lebih rendah. Di samping itu, daya tahan yang baik terhadap penyakit”, tambah Andy.
Mengukur tingkat keberhasilan
We cannot manage what we cannot measure. Begitu kata pepatah manajemen. Sehingga, untuk mengukur tingkat keberhasilan, data adalah kuncinya. Data adalah kunci untuk mengukur tingkat keberhasilan dari nilai masukan yang kita pilih.
Pengakuan Andy mengungkapkan, ABK telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam tingkat pertumbuhan dan volume produksi. Kondisi ini dialami sejak menggunakan Benchmark Genetics BMK Yield® PLs. Selanjutnya, perusahaan tambak telah meningkatkan produksi dari 12 menjadi 23 ton/hektar, dengan padat tebar mencapai 150 ekor/m2.
Dari kisah keberhasilan Andy dalam mengelola tambaknya, ada pelajaran berharga yang dapat dipetik semua petambak. Genetika menjadi ujung tombak penting untuk dalam memulai kegiatan produksi. Sebagai catatan, titik balik modal untuk ABK di Jawa Timur pada kisaran 19 ton/hektar. Sementara itu, angka 21 ton/hektar adalah titik balik modal untuk ABK di Sumbawa dan Jawa Timur. “Itu artinya, bukan hanya factor pertumbuhan benih yang dipandang penting, tetapi juga factor ketahanannya terhadap penyakit,” Andy menyimpulkan (Ed: Noerhidajat/Resti)

