Mengenal “Pestisida” Alami untuk Atasa Penyakit Ikan

Oleh:

Rifqi Dhiemas Aji

(Konsultan Peternakan dan Perikanan PT. Naturan Nusantara)

Rifqi Dhiemas Aji

Pembudidaya harus bisa atasi penyakit ikan, sebab salah satu sumber andalan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia yaitu dalam penyediaan pangan yang berasal dari ikan. Produksi dari budidaya perikanan sendiri secara keseluruhan diproyeksikan akan terus meningkat. Namun, berbagai permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut seperti halnya dengan mahluk hidup lainnya, ikan juga akan mengalami permasalahan yang akan menurunkan produktivitasnya.

Permasalahan tersebut antara lain kegagalan produksi akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik baik dari golongan parasit, jamur, bakteri, dan virus sehingga tidak mencapai target produksi sesuai dengan yang diharapkan.

Permasalahan lainnya adalah berkaitan dengan mutu lingkungan budidaya yang semakin buruk, yang disebabkan oleh kegiatan budidaya itu sendiri maupun dari luar lingkungan budidaya.

Adanya serangan wabah penyakit tersebut pada dasarnya sebagai akibat terjadinya gangguan keseimbangan dan interaksi antara ikan, lingkungan yang tidak menguntungkan ikan dan berkembangnya bakteri patogen penyebab penyakit. Kemungkinan lainnya adalah adanya agen penyakit ikan yang masuk dari luar yang terbawa oleh ikan baru, pembudidaya ataupun terbawa melalui udara. Hal ini akan menimbulkan penyakit meskipun kondisi lingkungannya relatif baik.

Untuk mengatasi permasalahan akibat serangan agen patogenik pada ikan, para petani maupun pengusaha ikan banyak menggunakan berbagai bahan-bahan kimia maupun antibiotika dalam pengendalian penyakit tersebut. Namun di lain pihak pemakaian bahan kimia dan antibiotik secara terus menerus dengan dosis atau konsentrasi yang kurang tepat, sehingga akan menimbulkan masalah baru berupa meningkatnya resistensi mikroorganisme terhadap bahan tersebut. Masalah lainnya yang timbul adalah bahaya yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitarnya, ikan itu sendiri dan manusia yang mengonsumsinya.

Dalam usaha budidaya ikan diperlukan terobosan baru untuk meningkatkan produksi. Namun, teknik itu harus tetap memperhatikan lingkungan. Beberapa alternatifnya adalah dengan menggunakan pupuk organik, suplemen organik, probiotik yang tangguh, maupun tumbuhan tradisional yang bersifat anti parasit, anti jamur dan anti bakteri.

Budidaya secara alami dengan memberikan tanaman sebagai pakan sekaligus mengendalikan penyakit secara alami dapat menjadi alternatif. Beberapa keuntungan antara lain relatif lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak menimbulkan resistensi, dan relatif tidak berbahaya terhadap ingkungan sekitarnya. Adapun beberapa tanaman yang dapat berperan sebagai pestisida alami yaitu:

Beberapa Tanaman untuk Mengobati Penyakit Ikan

Kamboja

Dalam akar dan daun kamboja mengandung saponin, flavonoid dan polifenol. Daun mengandung alkaloid. Getah daun dan batang dapat mengobati koreng ikan akibat serangan jamur Saprolegnia sp. Dosis untuk kolam dengan kolam dengan luas dasar 100 m2 membutuhkan daun sebanyak 10 kg. Bila hanya 2-3 ekor saja, perlakuan menyesuaikan di wadah.

Pulai

Kandungan kimia di kulit batang antara lain alkaloid ekitamina, ekitenina, alsonina, akiserina, ekitina, ditamina, ektamidina dan ekiterina. Kandungan kimia yang ada kaitannya dengan pengobatan penyakit kulit belum jelas diketahui.

Randa Nunut

Untuk pengobatan ikan, daun tanaman ini bisa digunakan sebagai obat antijamur. Caranya, ambil 5-10 lembar daun untuk 30 liter air. Remas daun kemudian diperas dan ampas daun diangkat. Setelah ampas diangkat masukkan ikan sakit selama 60 menit.

Beberapa Tanaman untuk Mengendalikan Hama

Akar Tuba/Akar Jenu

Akar tuba mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, tanin dan polifenol. Salah satu produksi metabolit sekunder yang dikandung oleh tanaman tuba adalah rotenon. Kandungan rotenon tertinggi terdapat pada akar, yaitu 0,3-12%. Rotenon merupakan racun perut dan kontak, tetapi bersifat sistemik. Akar tuba berfungsi sebagai racun serangga. Akar ini berguna untuk membunuh predator di kolam sebelum pendederan atau pembesaran.

Ketepeng

Kulit kayu dan daun mengandung aloe-emodin, asam krosofanat, resin, krisofanol dan seng. Sementara asam oleat terkandung dalam biji. Secara tradisional daun dapat bermanfaat untuk membunuh predator di kolam.

Gamal/Liridiyah

Tanaman ini banyak ditemui tumbuh liar di pekarangan rumah atau di lahan yang tidak terurus. Daun mengandung saponin, flavonoid dan polifenol.

Nanas

Berdasarkan pengalaman peternak, nanas dapat memberantas kepiting. Hewan itu sering merusak tunggul kolam. Caranya, nanas dicacah sampai lembut, lalu cacahan diaduk adukkan ke tanah dengan radius 0,5 m di sekitar lubang kepiting. Selain itu, dengan menanam nanas di tanggul kolam dapat mencegah kepiting datang.

Tefrosia dan Sembung

Komponen aktif tefrosia adalah tephorosin dan deguelin yang merupakan senyawa isomer dan rotenon. Penilitian dari filipina mengungkapkan bahwa daun mengandung 5% rotenon. Daun sembung mengandung buneol, sineol, limonen dan dimetil eter floroasetofenon. Tefrosia dan Sembung sangat beracun terhadap keong mas. Keong mas sebenarnya bukan predator, tapi keberadaannya menjengkelkan peternak karena mempu menyerap fitoplankton.

Tembakau

Daun tembakau mengandung bahan beracun yang disebut nikotin. Konsentrasi tertinggi terdapat pada ranting dan tulang daun. Kandungan lain adalah saponin, alkaloid, flavanoid dan polifenol. Penggunaan tembakau ternyata efektif untuk memberantas hama, seperti ikan, cacing polychaeta atau trisipan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.