Seminar Outlook Penyakit Ikan dan Udang Ingatkan Pelaku Usaha Waspada Ancaman Penyakit

Seminar Outlook Penyakit Ikan dan Udang Ingatkan Pelaku Usaha Waspada Ancaman Penyakit
Suasana acara Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2020

Ancaman penyakit pada budidaya ikan dan udang semakin nyata dirasakan para pembudidaya. Agar ancaman itu tidak menjadi nyata, berbagai pihak melakukan berbagai tindakan penanggulangan serta memutus mata rantai penyebaran penyakit.

Indonesia terus berupaya untuk mencegah masuknya penyakit ikan pada udang yang memiliki resiko besar dan bisa menurunkan kualitas serta kuantitas produksi budidaya udang di Nusantara.

Untuk menyikapi hal tersebut, INFHEM bersama Majalah Info Akuakultur kembali menggelar Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang dengan tema “Tantangan Penyakit Baru pada Budidya Ikan dan Udang” di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta Selatan, (30/2).

Seminar Outlook Penyakit Ikan dan Udang Ingatkan Pelaku Usaha Waspada Ancaman Penyakit
Kiri ke kanan: Sukenda, Maskur, Heni Budi Utari, dan Taukhid

Dalam seminar tersebut menghadirkan 3 pemateri yang berkompeten di bidangnya, yaitu Dr. Ir. Sukenda, M.Sc (Pakar Institut Pertanian Bogor/IPB), Ir. Taukhid, MSc (Pakar INFHEM) dan Dr. Heni Budi Utari (Ahli Penyakit Udang PT. Central Proteina Prima). Diharapkan dari terselenggaranya seminar ini akan membuka ruang diskusi baru.

Seminar dipandu langsung oleh Ir. Maskur, M.Si (Ketua Umum INFHEM) dihadiri tidak kurang 50 peserta dari para pelaku usaha budidaya ikan dan udang di berbagai wilayah di Indonesia.

Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Tinggal Hermawan

Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan Tinggal Hermawan dalam sambutannya menyampaikan, tugas KKP seperti yang dikatakan Menteri Edhie Prabowo yaitu menjalin kerjasama dengan seluruh stakeholder dan meningkatkan produksi budidaya perikanan.

“Fokus KKP adalah terus lakukan peningkatan produksi perikanan budidaya. Penanggulangan penyakit sangat penting karena menyangkut target ekspor 250% budidaya perikanan empat tahun kedepan,” ujar Tinggal.

Tinggal menyampaikan, sebagaimana arahan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, bahwa ada dua tugas penting yang harus segera dilakukan oleh KKP dalam pembangunan kelautan dan perikanan yaitu: 1) memperbaiki hubungan dengan stakeholders, dan 2) penguatan sektor perikanan budidaya. Perikanan budidaya diharapkan tidak hanya menjadi leading sector bagi pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga harus mampu menjadi industri yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

Berkaitan dengan hal tersebut, kata Tinggal, kedepan DJPB akan melakukan transformasi terhadap arah kebijakan pembangunan, dimana sebelumnya berorientasi pada peningkatan produksi, menjadi fokus pada “Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya yang Berkelanjutan.

Transformasi tersebut dilakukan melalui 4 aspek, yaitu: (i) teknologi, melalui inovasi teknologi untuk meningkatkan nilai produksi dan nilai tambah; (ii) sosial ekonomi, melalui keterlibatan semua stakeholder dalam meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha; (iii) aspek lingkungan, melalui aktivitas perikanan budidaya ramah lingkungan yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan; (iv) orientasi pasar, artinya perikanan budidaya memproduksi komoditas unggulan yang berorientasi pada permintaan pasar.

Kedepan kebijakan pembangunan perikanan budidaya di Indonesia  harus mengedepankan budidaya yang ramah lingkungan melalui pengembangan kawasan budidaya perikanan berbentuk kluster secara terpadu dan terintegrasi dalam satu kesatuan pengelolaan, baik lingkungan, teknologi, input produksi dan pemasaran.

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Berbicara mengenai Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya yang Berkelanjutan, Tinggal menyebut, tidak akan terlepas dari peranan sistem pengelolaan kesehatan Ikan yang didukung oleh upaya penataan kawasan yang terintegrasi dan penerapan biosekuriti yang ketat dan konsisten.

Sistem pengelolaan kesehatan Ikan harus mampu mengatasi berbagai permasalahan perikanan budidaya, khususnya permasalahan serangan penyakit ikan yang saat ini dirasakan semakin kompleks dan meresahkan.

“Beberapa penyakit penting di Indonesia yang masih menjadi ancaman dan perlu mendapatkan perhatian serta penanganan secara serius antara lain serangan penyakit WSSV, IMNV, WFD, dan EHP pada budidaya udang, serta penyakit MAS, KHV, dan Megalocytivirus pada budidaya ikan,” papar Tinggal.

Selain itu, tambahnya, hampir setiap tahun terdapat jenis penyakit eksotik yang mengancam usaha perikanan budidaya seperti Tilapia Lake Virus (TiLV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), Covert Mortality Noda Virus (CMNV) dan Shrimp Hemocyte Iridescent Virus (SHIV);

Sebagai negara yang memiliki potensi perikanan budidaya yang besar, maka Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan agar penyakit tersebut tidak masuk dan menyebar ke dalam wilayah RI.

Terkait dengan hal tersebut, jelasnya, maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait pengendalian penyakit Ikan seperti: 1) Permen KP No. 13 Tahun 2019 tentang Pengendalian Penyakit Ikan, 2) Peraturan Dirjen PB No. 165/Per-DJPB/2019 tentang Pencegahan AHPND. Selain itu juga penyebaran informasi berupa sosialisasi dan leaflet, serta upaya-upaya pencegahan lainnya melalui penerapan budidaya ikan/udang yang baik.

“Upaya pengendalian penyakit ikan dan lingkungan harus dilakukan secara sinergis dan bersama-sama antara Pemerintah dan seluruh stakeholder,” himbaunya.

Diakhir sambutannya, Tinggal memberikan apresiasi kepada Indonesian Network on Fish Health Management (INFHEM), serta Majalah Info Akuakultur yang telah bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta dalam penyelenggaraan seminar ini.

Hal ini telah membuktikan sinergitas yang baik antara Pemerintah dan stakeholder dalam upaya pengendalian penyakit ikan dan lingkungan. Tentunya seminar ini juga dapat mejadi solusi penanganan serta antisipasi penyakit ikan di Indonesia kedepan, sehingga produksi perikanan budidaya akan semakin meningkat dan mampu bersaing di pasar lokal maupun internasional,” pungkasnya.

Sukenda dalam paparannya mengatakan, Indonesia saat ini tidak termasuk dalam 10 besar negara pengekspor produksi perikanan budidaya salah satunya disebabkan oleh penyebaran penyakit.

Namun demikian, tambah Sukenda, Indonesia masih stabil untuk pasar ekspor udang di USA di bawah India. Menurutnya salah satu penyebab penyebaran penyakit juga dari ekspansi akuakultur secara global (memungkinkan resiko penyebaran penyakit baru di tempat lain), meningkatkan diversifikasi jenis komoditas budidaya, dan perubahan iklim.

Oleh sebab itu, Sukenda menegaskan, harus ada langkah mitigasi untuk penanggulangan penyakit seperti mengembangkan metode diagnostik baru terhadap dugaan penyakit baru.

Kerugian produksi akibat penyakit sangat signifikan, kata Sukenda, sebelum terkena EMS, Thailand menguasai pasar ekspor udang vaname di pasar USA, namun setelah terkena EMS merosot ke peringkat 7 akibat penyakit yang menyerang tambak-tambak udang di sana.

Menyambung dengan Sukenda, Heni menghimbau agar para pelaku usaha budidaya udang di Indonesia tetap waspada. Hal tersebut beralasan dari prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut iklim cuaca di tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2019 lalu, yakni curah hujan akan lebih panjang dan musim kemarau akan lebih kering dari tahun sebelumnya.

Heni mengatakan, Lampung menjadi tempat penyebaran IMNV tertinggi namun juga penurunannya tingkat IMNV cukup tinggi dibanding daerah lainnya.

EHP tidak akan pernah hilang, kata Heni, sedangkan WFS di area Jawa tengah dan Sulawesi masih ada, di daerah-daerah lain di Indonesia sudah mulai turun.

“Penyakit pada udang yang teta perlu diwaspadai tahun ini diantaranya EMS/AHPND,” ujar Heni.

Kemudian di sektor budidaya ikan, kata Taukhid, kasus penyakit pada budidaya ikan air tawar masih ditemukan sepanjang tahun 2018-2019 di Indonesia. Penyakit ikan (terutama infeksius) berkaitan dengan sistem manajemen budidaya dan kondisi iklim makro yang berpengaruh determinan terhadap mutu kualitas air.

“Hal terpenting dalam budidaya ikan adalah ikannya sehat dulu, selanjutnya adalah soal kesehatan air dan lingkungan. Keberpihakan pemerintah pada perikanan budidaya harus dibarengi dengan komitmen pelaksanaan sistem pengelolaan kesehatan ikan secar utuh, kosnsisten dan peningkatan berkelanjutan,” tutur Taukhid.

Suksesnya seminar kali ini tidak lepas dari dukungan sponsor Central Proteina Prima (CPP), Matahari Sakti (MS), Zoetis Animal Health, dan DSM Nutritional Product Manufacturing Indonesia, serta Sekolah Tinggi Perikanan (STP). (Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.