Waspada Serangan EHP Pada Udang

Waspada Serangan EHP Pada Udang

Oleh:

Rudy Kusharyanto

Kepala Divisi IPTEK FKPA Lampung

Waspada Serangan EHP Pada Udang
Rudy Kusharyanto

Tahun 2019 ini para petambak udang serta seluruh komponen yang terlibat di dalamnya kembali disibukkan oleh serangan berbagai penyakit yang terus mendera, Selain penyakit kotoran putih atau yang biasa dikenal white feces disease (WFD) yang sampai saat inipun masih terus menghantui pembudidaya udang, penyakit enterocytozoon hepatopenaei (EHP)  menjadi salah satu momok pembudidaya saat ini.

Bagaimana tidak menjadi momok, serangan EHP kali ini banyak petambak merasakan dampak yang ditimbulkan mempunyai efek yang lebih masif, tidak hanya kematian yang terjadi namun hal utama dari serangan penyakit ini adalah udang yang dibudidayakan tidak ingin besar meski sudah diberikan pakan yang sesuai, sehingga mengakibatkan FCR makin membengkak.

Dengan tidak adanya pertumbuhan tentu hal ini akan berimbas terhadap nilai profit yang didapatkan dalam berbudidaya udang menjadi terkoreksi atau bahkan menyebabkan kerugian akibat produktivitas tambak merosot. Penyakit EHP adalah penyakit yang disebabkan oleh mikrosporadia dan saat ini sudah banyak menyerang dan menjadi endemi di berbagai sentra tambak udang.

Gejala utama udang yang terserang EHP adalah pertumbuhan yang tiba-tiba menjadi lambat, serta adanya perbedaan mencolok pada ukuran udang dalam satu kolam yang sama. Pada beberapa kasus tertentu, punggung udang mengalami perubahan warna putih khususnya di bagian pencernaannya seperti pada berak putih.

Biasanya terjadinya nekrosis atau kerusakan jaringan otot pada tubuh udang dengan ciri warna putih pada otot yang terserang. Namun memang ciri-ciri tersebut tidak tampak nyata secara visual, petambak bisa memeriksakan udang yang diindikasikan mengalami penyakit EHP tersebut ke laboratorium yang memiliki fasilitas pengecekan penyakit EHP melalui alat Polymerase Chain Reaction (PCR).

Pencegahan serta Penanggulangan Udang yang Terinfeksi penyakit EHP:

  1. Bijak dalam memilih bibit yang berkualitas, artinya bahwa benur yang kita tebar di kolam setidaknya mempunyai record pengecekan baik secara pcr maupun screening yang ketat, hal ini menjadi salah satu upaya dalam pencegahan dini serangan penyakit IMNV yang berasal dari induk yang kurang berkualitas.
  2. Mengurangi kepadatan penebaran, merupakan keputusan yang bijak saat dilihat faktor penyakit sedang mewabah atau outbreak di tempat lain.
  3. Pengetatan biosecurity, artinya bahwa penguatan biosecurity menjadi hal yang sangat penting terutama untuk mencegah penularan penyakit IMNV yang lebih luas.
  4. Rutin melakukan pengecekan dasar tambak, hal ini bermanfaat untuk kita mengetahui secara dini bila ada serangan EHP di tambak.
  5. Penggunaan probiotik serta vitamin sangat di sarankan untuk mempertahankan atau mengelola kualitas air di tambak, serta menambah daya tahan di udang.
  6. Management pakan yang baik, terutama saat penyakit EHP sudah masuk agar terhindar dari loss pakan yang berlebihan mengakibatkan fcr tinggi.
  7. Management kualitas air terutama menentukan saat penambahan dan pergantian air agar mengurangi goncangan atau fluktuasi di water parameter quality, yang menyebabkan makin tidak nyamannya udang di kolam terutama saat penyakit sudah masuk ke system budidaya. Serta menjaga dominansi plankton agar tidak terlalu blooming sehingga transparansi bisa di pertahankan di kisaran 40 cm.

Langkah-langkah di atas memang harus di ambil untuk mengurangi resiko yang terlalu tinggi dalam penanganan serangan penyakit tersebut, karena untuk Pengobatan masih belum ada pengobatan yang baku dalam serangan parasit ini.

Beberapa review yang penulis sampaikan di atas adalah merupakan resume atau rangkuman berbagai diskusi dan seminar yang coba penulis paparkan kembali, agar kita bisa saling mengingatkan akan bahaya serangan penyakit EHP ini, serta bagaimana meminimalkan resiko kejadian ini di tambak.

Artinya bahwa dengan saling mengingatkan bahaya penyakit EHP ini serta apa yang sebaiknya bisa di lakukan bila penyakit ini sudah menyerang bisa sedikit mengurangi, atau memberikan keyakinan kepada petambak bahwa apa yang dilakukan atau treatment apa yang sedang dilakukan sudah pada jalur yang tepat, karena kembali lagi bahwa EHP ini belum ada obatnya dan pencegahan penyakit ini masuk ke tambak adalah solusi yang terbaik.

Semoga dengan persatuan dan saling terbuka informasi mengenai hal-hal yang bisa menanggulangi penyakit EHP, bisa memberikan dampak yang positif bagi pengetahuan petambak untuk lebih siap dalam menghadapi serangan penyakit EHP ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.