Pasca Covid-19, Vaname Nasional Harus Bangkit

Udang vaname

Wabah penyakit Covid-19 memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap laju produksi dan volume ekspor komoditas vaname nasional dan juga global. Di beberapa daerah, nilai udang mengalami penurunan, sementara dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah di masa pendemik, pakan sebagai komponen produksi paling besar dan beberapa komponen produksi mengalami kenaikan. Perlu inovasi khusus untuk menggerakkan kembali industri vaname pasca pendemik.

Terhitung sejak tanggal 11 Maret 2020, ketika WHO (World Health Organization) mengumumkan wabah Covid-19 ini sebagai wabah pendemik, seluruh pihak mulai konsisten melakukan strategi Social distancing, Soft locked down hingga kepada Hard locked down untuk memutus rantai penyebaran virus yang dapat menyebar dari person ke person yang berada dalam jarak dekat (1 – 2 m) atau melalui cairan/lendir yang diproduksi ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin dan “mendarat” di mulut atau hidung orang yang sehat dan memiliki kemungkinan untuk membawa cairan ini ke paru-paru.

Di beberapa negara yang sudah menerapkan strategi ini jauh sebelum WHO mengumumkan kondisi pendemik, langkah ini terbilang cukup efektif. Pemerintah China yang sudah memulai implementasi strategi Locked down ini sejak 23 Januari di provinsi Hubei, termasuk Wuhan – kota dengan populasi 11 juta orang dimana wabah ini dimulai – mengumumkan tidak ada kasus baru yang dilaporkan di wilayah ini terhitung sejak tanggal 19 Maret 2020.

Namun bagaimana dampak dari Social distancing dan Locked down ini terhadap ekonomi pangan, khususnya untuk komoditas Vannamei? Potensi kerugian sudah terlihat di awal Maret 2020 dikarenakan sebagaian besar negara importir udang, seperti China, Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa, mulai memberlakukan trade restrictions yang berakibat kepada menurunnya permintaan terhadap komoditas vaname.

Seafood Source melaporkan nilai ekspor udang vaname di Jambi jatuh hingga 95.7% menjadi hanya 1 miliar rupiah (USD 69,800, EUR 63,300) di bulan Februari 2020, dibandingkan dengan nilai ekspor sebesar 23 miliar rupiah (USD 1.61 million, EUR 1.46 million) di bulan Desember 2019 sebelum wabah Covid-19 semakin meluas.

Nilai jual domestik di beberapa daerah juga dilaporkan mengalami penurunan dan beberapa cold storage juga membatasi pembelian akibat supply yang lebih besar dibandingkan permintaan. Akibatnya, beberapa pembudidaya melakukan penundaan panen untuk melihat kondisi yang lebih baik. Namun langkah ini terbilang tidak efektif karna biaya produksi dan resiko mortality yang dihadapi akan semakin meningkat.

Bagaimana di tingkat global? Volume ekspor India diperkirakan mengalami penurunan sekitar 10 – 15%, mengingat China dan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar udang India mengalami penurunan permintaan (business-standard.com). Vietnam juga mengalami kondisi yang serupa, namun disetujuinya Free Trade Agreement antara Vietnam dan negara-negara Uni Eropa memberikan harapan untuk peningkatan volume ekspor di masa mendatang karena Uni Eropa memberlakukan pembebasan bea masuk untuk produk-produk Seafood dari Vietnam menjadi 0% setelah sebelumnya sekitar 12 – 20% selama 7 tahun sejak perjanjian dagang ini ditandatangani. Di hari-hari kedepan, situasi ini bisa menjadi lebih buruk jika wabah COVID-19 ini terus berlanjut dan kebijakan “pengamanan” batas wilayah internasional semakin ditingkatkan.

Indonesia memiliki target besar yang harus dicapai di tahun 2024 melalui peningkatan volume ekspor udang Vannamei hingga mencapai 250%. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai sarana introspeksi dan mulai melakukan “perbaikan” kualitas produksi untuk merebut pasar yang lebih luas. Intervensi pemerintah melalui relaksasi restrukturisasi pembayaran kredit, validasi data jumnlah produksi, penekanan terhadap aplikasi biosecurity untuk menjaga kepercayaan buyer hingga kepada himbauan untuk tidak menaikkan harga komponen produksi memang baik.

Tapi akan lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan inovasi untuk perbaikan dan optimalisasi efisiensi produksi udang vaname. Ada beberapa titik inovasi yang dapat dilakukan, utamanya di sektor: (1) pakan dan (2) genetik. Kedua sektor ini juga memiliki keterkaitan satu dan lainnya, karna benur yang dihasilkan melalui program genetic improvement yang baik akan menghasilkan udang dengan tingkat efisiensi konsumsi pakan yang juga lebih baik dan pada akhirnya dapat mengurangi biaya produksi.

Pakan menjadi sektor yang paling penting karna selain sebagai komponen terbesar biaya produksi, juga memegang peranan penting untuk mendukung laju pertumbuhan dan tingkat kesehatan serta fisiologis udang. Kita tentu sudah mafhum kalau hingga saat ini Indonesia belum mandiri di bidang pakan, khusus untuk pakan udang vaname, bahan baku yang digunakan masih > 80% berstatus bahan import.

Bahan baku lokal yang diharapkan untuk menjadi bahan subtitusi masih memerlukan penelitian lebih lanjut, utamanya untuk tingkat daya cerna dan profil nutrisi dari bahan baku yang akan digunakan. Saat ini, beberapa pembudidaya cenderung menggunakan pakan low protein dengan harapan dapat meminimalisasi dampak akumulasi unsur Nitrogen yang bersifat toksik bagi vaname, seperti ammonia (NH3-N) dan Nitrit (NO2-N).

Namun, aktivitas ini justru menjadikan durasi pemeliharaan sedikit lebih lama akibat laju pertumbuhan yang kurang optimal. Kita setuju bahwa protein tidak seharusnya menjadi patokan utama, namun pakan dengan komposisi nutrisi spesifik untuk pertumbuhan udang vaname yang sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha.

Di bawah ini disajikan data pertumbuhan udang vaname yang diberikan pakan dengan komposisi protein yang sama (32%) namun dengan profil asam amino essensial Methionine yang berbeda.

 

Tabel 1. Formulasi pakan udang vaname dengan target protein sama (Iso nitrogenous) 32% dan lipid 6% namun dengan penambahan konsentrasi Methionine dengan level berbeda.

Bahan Kontrol Dl-met 0.05 Dl-met 0.10 Cu-met 0.04 Cu-met 0.08 Cu-met 0.12
Poultry byproduct meal 1 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00
Soybean meal 2 44.60 44.60 44.60 44.60 44.60 44.60
Menhaden fish oil 3 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00
Wheat starch 4 34.01 34.00 34.00 34.00 33.99 33.98
Trace mineral pre-mix 5 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50
Vitamin pre-mix 6 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00
Stay-c (250 mg/kg) 7 0.07 0.07 0.07 0.07 0.07 0.07
Dicalcium phosphate 4 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00
Lecithin 4 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50
Methionine 0.00 0.05 0.10 0.04 0.08 0.12
Glycine 4 0.12 0.08 0.03 0.09 0.06 0.03
Gelatin 4 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00
Cholesterol 4 0.20 0.20 0.20 0.20 0.20 0.20

 

Tabel 2. Laju pertumbuhan udang dengan komposisi Methionine yang berbeda.

Diet Final weight (g) Weight gain (%) Biomass gain (%) Survival (%) FCR
Basal 5.78 860.7 660.5 88.3 1.96
Dl-met (0.5) 5.72 862.8 733.6 96.7 1.91
Dl-met (1.0) 5.89 893.5 701.2 90.0 1.91
Cu-met (0.04) 5.72 843.0 700.8 95.0 1.95
Cu-met (0.08) 5.80 872.2 656.3 86.7 2.04
Cu-met (0.12) 5.75 846.6 676.1 91.7 1.96
PSE 1 0.034 19.9 28.7 2.96 0.061
P-value 0.0499 0.5315 0.4201 0.1872 0.7375

 

Pada penelitian di atas, digunakan dua jenis Methionine, yakni DL-Methionine dan Cu-Methionine dalam formulasi pakan. Secara umum, kajian menunjukkan bahwa walaupun Vannamei diberikan pakan dengan level protein yang sama (32%), namun memberikan hasil laju pertumbuhan yang berbeda.

Faktor pembeda adalah adanya penambahan unsur Methionine pada pakan. Jika kita fokus kepada data DL- Methionine (tabel merah), terlihat bahwa penambahan Methionine pada konsentrasi optimum dapat meningkatkan laju pertumbuhan udang dibandingkan pakan kontrol dengan konsentrasi Methionine dibawah kisaran konsentrasi optimum.

Data ini menunjukkan bahwa keberadaan Methionine – yang memiliki fungsi utama untuk mendukung sistem metabolisme udang – bila ditambahkan dalam konsentrasi optimum akan mendukung optimalisasi pertumbuhan udang. Hasil kajian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk formulasi dan produksi pakan yang efisien dan efektif. Sehingga level protein sebagai komponen paling mahal dalam produksi pakan dapat direvisi dengan lebih baik.

Inovasi lain yang dapat dilakukan untuk bidang pakan adalah dengan meningkatkan profil nutrisi dan daya cerna bahan baku lokal melalui berbagai proses lanjutan, seperti proses fermentasi dan enzimisasi. Inovasi yang konsisten ini diharapkan dapat menjadikan Indonesia mandiri dalam produksi pakan dan mampu bangkit dari situasi yang tidak menguntungkan saat ini.

Genetik menjadi faktor kedua yang menjadi concern penulis untuk membangkitkan industri vaname nasional pasca Covid-19. Hal ini mengingat ketergantungan yang kuat terhadap terhadap penggunaan induk dari luar untuk produksi benur di Indonesia. Inovasi harus diperkuat di program breeding yang kita miliki untuk menghasilkan benur yang resisten/memiliki toleran yang tinggi terhadap penyakit dan memiliki laju pertumbuhan yang baik.

Fasilitas yang dimiliki juga harus di Scale up agar dapat memenuhi kebutuhan produksi vaname nasional. Untuk ini, kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dan akademisi serta melibatkan banyak perusahaan hatchery yang beroperasi di Indonesia akan saling memperkuat sinergitas produksi vaname. Tujuan program yang dituangkan dalam road map yang jelas dan komprehensif akan dapat mengawal program ini agar berjalan baik dan optimal.

Pemerintah dengan kekuatan politik yang besar juga dapat memperluas target pasar untuk menciptakan pasar baru dan menumbuhkan industri. Peningkatan konsumsi udang per kapita secara nasional dan lobby-lobby perdagangan dengan (calon) konsumen baru harus ditingkatkan .

Dengan kampanye global yang begitu masif tentang konsumsi makanan sehat untuk memperkuat sistem ketahanan tubuh harus dijadikan kendaraan untuk tujuan melebarkan wilayah pemasaran ini. Semoga dengan langkah-langkah strategis yang disertai dengan inovasi yang tepat dapat membangkitkan industri Vannamei nasional pasca Covid-19.

Dr. Romi Novriadi, M.Sc, Penulis adalah Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.