Membenahi Wadah Budidaya Ikan

“Pancuran awi, caina ngagenclang lauk ting siriwik di balong. Ngabageakeun nu datang. Duh mani wararaas, lembur abdi nu tebih ti dieu”.

Kalimat di atas adalah sepenggal bait lagu sunda Lembur Abdi yang memiliki arti, Talang bambu, berair bening, ikan dikolam saling berkecipak, mempersiapkan yang akan tiba/datang, demikian mempesonanya kampungku yang jauh disana. Lagu tersebut pernah populer di tahun 60-an, menggambarkan betapa kampung halaman di tatar Sunda tempo dahulu, dihiasi kehadiran kolam berair jernih.

Pancuran awi, lengkap dengan tampian/bagbagan. Selain berperan memenuhi berbagai keperluan masyarakat sekitar (mandi, mencuci dan sebagainya) sekaligus bertindak sebagai media suplayer makanan ikan. Lauk ting siriwik  menunjukkan bukti adanya kehidupan ikan di kolam walau pertanda tingkat hunian/kepadatan populasinya rendah.

Menjamurnya kolam di tatar Pasundan tempo dulu, menumbuhkan inspirasi  C VAN DER GEISEN, Kepala Jawatan Penyelidikan Pertanian 1949 untuk mengingatkan seluruh penduduk Jawa agar senantiasa memelihara ikan selain penting untuk kehidupan juga berkeyakinan mampu menyumbangkan zat putih telur.

Alasannya setelah mengalami peperangan, rerata kebutuhan zat tersebut di Indonesia susut sampai 50 prosen dari keadaan sebelum perang bahkan tingkat konsumsinya menempati urutan  terbawah dibandingkan dengan Negara Asia lainnya. Prakarsa Ir. Gunung Iskandar, kala itu beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementrian Pertanian telah menjadikan kolam sebagai sumber produksi bahan makanan yang mengandung zat putih telur, telah memasukkannya dalam Rancangan Kesejahteraan Departemen Pertanian.

Itulah sebagian gambaran budidaya ikan air tawar serta kisah kebijakan pemerintah tentang bagaimana budidaya ikan diperankan masa lalu, saat awal kemerdekaan Republik Indonesia. Namun setelah 75 tahun merdeka secara kasat mata sering dijumpai sejumlah kolam telah berubah fungsi. Jangankan ngagenclang, memperoleh air yang memenuhi persyaratan perikanan saja sangatlah sulit.

Selain pencemaran menjadi-jadi, sumber air seperti halnya cai nyusu (umbulan) terasa berkurang ketersediaannya. Bahkan isu rawan pangan ataupun menderita gizi buruk karena kenyang perut lapar gizi ataupun stunting akibat sedikit mengkonsumsi protein masih juga sering terdengar. Padahal lebih dari itu budidaya ikan sebagai salah satu kegiatan ekonomi bukan saja berperan dalam menyediakan pangan protein tetapi juga dalam pengentasan kemiskinan, menyediakan lapangan kerja serta memberikan pertumbuhan ekonomi.

Ekstra Fooding

Jika menelusuri budidaya ikan masa lampau, wadah budidaya hanya berupa kolam tanah/kolam air tenang (KAT) serta sawah juga keramba dan parit kolektif di sungai. Tingkatan teknologinya cukup mengandalkan temuan-temuan kultural namun bila dicermati memiliki derajat ilmiah cukup tinggi. Penempatan pancuran awi mendorong difusi oksigen semakin besar karena masa air terjun bebas ke permukaan kolam. Pemberian makanan sebatas dedak halus – bakatul ataupun sisa-sisa dapur untuk menstimulasi ikan tidak selalu mengandalkan makanan alami. Demikian pula tampian/bagbagan, dimanfaatkan sebagai tempat BAB, walau dari kacamata higienis kurang diterima tetapi faktanya bermakna ekstra fooding ataupun menjadi bagian dalam siklus makanan suatu ekosistem.

Selanjutnya pada dekade tujuh puluhan intensifikasi budidaya ikan mulai semarak tatkala inovasi makanan buatan berupa pellet diterima masyarakat. Wadah budidaya pun bervariasi sejak kolam air deras (KAD), kemudian menyusul keramba jaring apung (KJA) di waduk. Walau kedua wadah itupun kini mulai terasa redup keberadaannya.

Mensikapi kondisi wadah budidaya, setidaknya memberikan sinyal ancaman usaha pemeliharaan ikan akan semakin tergeser kedudukannya. Akankah budidaya ikan saat sekarang juga kedepan masih diperankan seperti halnya tempo dulu? Alternatif jawabannya bahwa model budidaya seperti yang sekarang berjalan harus segera dibenahi melalui pemanfaatan lahan secara optimal. Cerminan lauk ting siriwik beralih ke pola lauk pajejel-jejel (crowded). dengan menerapkan teknologi bercirikan Volume Rendah Kepadatan Tinggi (VRKT).

Bagai Cendol

VRKT merupakan model budidaya dimana dalam suatu wadah tidak lagi lauk ting siriwik – karena populasi ikan sedikit, akan tetapi  utey, berjubel,  bagai cendol karena jumlahnya banyak. Wadah berukuran kecil berbahan fiber glass/tembok ataupun monofilamen/nylon merupakan media paling sesuai untuk VRKT. Teknologi ini sebenarnya tidak tergolong baru, telah lama diintroduksikan terutama pada KJA maupun KAD walau belum optimal.

Statistik perikanan 2005 mencatat kepadatan akhir kedua wadah budidaya tersebut masing-masing sebanyak 5,7 Kg/meter kubik dan 4,7 Kg/meter kubik. Masih jauh lebih rendah jika dibandingkan hasil kajian Hr. Schmittou dari Auburn University yang melakukan riset di Indonesia, untuk KJA berukuran 49 meter persegi diperoleh 20 Kg/meter kubik bahkan KJA mini mencapai 200 Kg/meter kubik (dalam setiap liter air diisi ikan seberat 200 gram).

Sedangkan KAD, pengalaman pembudidaya di Majalaya-Bandung berkisar 27 Kg/meter kubik. Bahkan pembudidaya di Pantura Jawa Barat telah mengkombinasikan VRKT  dengan RAS (Recirculation Aquaculture System) – teknologi hemat lahan dan air,  bagi pendederan Patin dan Lele. Kepadatan yang digunakan antara 17.000 – 20.000 ekor setiap meter kubik air.  Ataupun sistem bioflok yang kini banyak bermunculan sekitar 15-20 Kg/ton air. Tetapi lain halnya kolam tanah yang umumnya berukuran relatif luas, sebagian besar masih menjiplak pola tebar lama sehingga kepadatan pun  rendah 0,236 Kg/meter kubik. Kepadatan tinggi terjadi juga pada proses penetasan Nilem sistim kantong yakni sekitar 400 ekor per liter untuk ukuran larva – lempung.

Fakta selama ini kolam tanah masih mendominasi baik luas maupun struktur produksi dibandingkan wadah budidaya lainnya. Dengan ketinggian air sekitar 0,75 meter sebenarnya padat tebar masih memungkinkan ditingkatkan. Guna mengoptimalkan wadah, semestinya ketinggian air dinaikkan dengan memperdalam kolam agar volume air jauh lebih banyak sehingga kepadatan tebar pun bisa lebih tinggi lagi.  Kolam berukuran di atas 1000 meter persegi, seyogyanya ditempati beberapa KJA mini (ukuran satu meter persegi) layaknya menempatkan KJA pada badan waduk. Dengan demikian kepadatan ikan dalam suatu wadah bisa jauh lebih banyak.

Dengan demikian manakala seluruh kolam yang ada diupayakan diperdalam, dapat diperhitungkan seberapa besar penambahan produksi mampu ditingkatkan dibanding sebelumnya. Kunci keberhasilan Cina meningkatkan produksi, karena ketinggian air kolam umumnya minimal sekitar dua meteran.

Singkat kata ancaman terhadap budidaya telah nampak nyata, tatkala ikan semakin dibutuhkan untuk mempertahankan ketahanan pangan, pembenahan mengoptimalkan wadah budidaya memang sudah saatnya diberlakukan.

Muhammad Husen, Penulis adalah Pengurus Masyarakat Akuakultur Indonesia Komda Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.