Optimalisasi Zonasi untuk Budidaya Udang Berkelanjutan

Optimalisasi Zonasi untuk Budidaya Udang Berkelanjutan

Jakarta, Infoakuakultur.com. Ekspor udang di Indonesia terus mengalami peningkatan, namun di tahun 2021 peningkatannya tidak setinggi di tahun 2020. Menurut Ir. Budi Wibowo, Ketua Umum Forum Udang Indonesia, hal ini disebabkan karena maraknya penyakit udang di Indonesia. Tidak ada aturan tentang zonasi yang jelas, sehingga terjadi penyebaran penyakit dari suatu wilayah ke wilayah lain.

Oleh karena itu, FKPUI (Forum Komunikasi Pembenih Udang Indonesia) dan FUI (Forum Udang Indonesia) bersama dengan Minapoli mengadakan BincangUdang #3 dengan tema  “Optimalisasi Zonasi untuk Budidaya Udang Berkelanjutan” untuk membahas pentingnya zonasi bagi pembudidaya udang. Webinar ini diadakan pada Kamis, 12 Mei 2022 via Zoom Meeting.

Terdapat tiga narasumber dengan tiga perspektif yang berbeda. Narasumber tersebut adalah Christina Retna Handayani perwakilan dari Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan DJPB – KKP, Prof. Dr. Bambang Widigdo yang merupakan akademisi dan penggiat akuakultur Indonesia, dan Ir. H. Hardi Pitoyo, ketua harian Shrimp Club Indonesia. Webinar ini dipandu oleh Rully Setia Purnama, CEO Minapoli dan turut menghadirkan keynote speaker Mohamad Rahmat Mulianda S.Pi., M.Mar., Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budi Daya, Kemenko Marves.

Christina Retna Handayani menyatakan, bahwa penyakit merupakan permasalahan nomor satu dalam budidaya udang, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Penyakit potensial pada budidaya udang diantaranya WSSV, IMNV, EHP, dan AHPND. Pengendalian penyakit ini diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13 Tahun 2021 tentang Tindakan Tanggap Darurat dan Pengendalian Penyakit Ikan.

Menurut Prof. Dr. Bambang Widigdo, masuknya penyakit tidak hanya melalui saluran air, namun juga bisa melalui udara. Bangkai udang dari tempat berpenyakit yang jatuh di tambak karena terbawa oleh burung, bisa menularkan penyakit ke tambak tersebut. Saat penyakit masuk ke tambak intensif, peluang untuk mendapatkan inang yang baru jauh lebih besar dibandingkan dengan perairan luar. Alhasil, konsentrasi penyakit dalam tambak itu akan berkembang lebih cepat dibandingkan perairan luar. Diperlukan kecermatan mengatur pergantian air dan probiotik untuk mencegah penyakit dalam tambak berkembang.

Indonesia termasuk empat produsen udang terbesar dunia. Komoditi udang merupakan sumber devisa negara dan merupakan komoditi andalan di sektor perikanan, menurut Ir. H. Hardi Pitoyo. Oleh karena itu, Indonesia harus bertindak tegas terkait zonasi dalam budidaya udang. Hal yang sama disampaikannya terkait penyakit udang sebagai faktor utama penghambat produksi. Faktor munculnya penyakit harus diidentifikasi sebagai salah satu cara meminimalisasi kehadiran penyakit. Perlunya pembagian kawasan menjadi kawasan sumber induk, kawasan pembenihan, dan kawasan pembesaran diharapkan dapat mencegah terjadinya penyebaran penyakit. (ayu)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.