Teropong Geliat Tambak Udang di Lampung Timur

Dengan panjang pesisir 62 kilometer, Lampung Timur memiliki potensi perikanan budidaya air payau cukup besar. Tercatat, potensi luas tambak yang dimiliki kabupaten ini sekira 8.271 hektar.

“Dari potensi luas tersebut telah tercetak tambak seluas  5.865 hektar, terdiri dari tambak intensif 1.095 hektar, semi-intensif  970 hektar, dan  tradisional plus  3.800 hektar,” ungkap Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur.

Menurutnya, jenis udang yang dibudidayakan oleh petambak di Lampung Timur adalah udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Sementara jenis udang yang lebih disukai petambak saat ini adalah udang vaname karena bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, permintaaan pasarnya tinggi, lebih tahan penyakit, dan harganya lebih tinggi pada size kecil.

Perkembangan budidaya udang di Lampung Timur, terutama udang vaname, diawali dengan Program Demfarm Udang Vannamei pada tahun 2014. Program kegiatan Tugas Perbantuan (TP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan—melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur—di kelompok Mina Purwa I, Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai itu dirasa menguntungkan.

“Selanjutnya, program dilanjutkan dengan kegiatan Demfarm pada tahun 2015 di kelompok Sido Makmur dan kelompok Lestari Gemilang di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Program menunjukkan hasil yang baik dan tumbuh hingga saat ini,” papar Dardjono.

Keberhasilan kegiatan Demfarm Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada tahun 2014 dan tahun 2015 membangkitkan kembali semangat petambak untuk membudidayakan udang. Setelah melihat budidaya udang vaname dengan penerapan teknologi dan CBIB ternyata berhasil dan menguntungkan, masyarakat yang sebelumnya awam serta pembudidaya udang windu, bandeng, dan nila secara tradisional pun menjadi tertarik.

Keberhasilan ini tidak lepas dari ketersediaan sumberdaya manusia yang mendukung. Dengan tutupnya dua perusahaan tambak udang yang ada di Lampung (PT. CPB dan PT. DCD), arah  pasar pakan yang semula ke tambak inti perusahaan beralih ke pasar tambak rakyat, yang dibarengi dengan pendampingan oleh teknisi berpengalaman dalam budidaya dan alih teknologi. Apalagi harga udang vaname yang tinggi di pasaran membuat petambak bergairah untuk berbudidaya.

Potensi Usaha dan Terobosan Teknologi

Teknologi selalu berkembang, untuk saat ini, teknologi yang digunakan pembudidaya udang vaname di Kabupaten Lampung Timur adalah tambak mulsa. Selain itu, ada tambak semimulsa—yang hanya menggunakan mulsa pada dinding dan kaki tanggulnya—dan tambak tanah. Adapun luasannya berkisar 1.000 m2 sampai 5.000 m2.

“Penerapan teknologinya menggunakan tandon dan sumur bor; menggunakan aerasi kincir; memanfaatkan bioremediasi untuk pengolahan limbah tambak, baik aerob maupun anaerob; dan sebagian besar telah menggunakan SOP dengan kaidah CBIB,” jelas Dardjono.

Kepala UPTD Perikanan Budidaya Lampung Timur ini juga menjelaskan bahwa ke depan, dengan semakin kompleknya masalah yang dihadapi dalam budidaya udang, perlu penerapan teknologi terobosan seperti busmetik dan budidaya salinitas rendah.

Meskipun terkategori teknologi lama besutan Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) STP Serang, Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dengan luasan antara 600 m2 hingga 1.000 m2 dan menggunakan plastik HDPE penuh diharapkan memiliki biosekuriti lebih bagus.

Selain hemat air dan mudah pembersihannya, ukuran kolam yang mini juga membutuhkan modal relatif kecil, mengingat di Lampung Timur hampir 100% adalah tambak rakyat. Ukurannya yang mini juga memudahkan penanganan saat terjadi masalah.

Adapun budidaya udang pada salinitas rendah sudah dicoba tebar pada salinitas 0 0/00 di Dempond atau percontohan Labuhan Maringgai pada tahun 2015. Menurut Dardjono, hasilnya baik dan sudah diaplikasikan di  beberapa pembudidaya. Ke depan sangat baik dikembangkan, apalagi sebagian besar potensi lahan adalah lahan tambak yang sekarang menjadi lahan pertanian.

Menurut Rudy Kusharyanto, Head of Sales & Marketing, PU & PI Regional Sumatera PT Matahari Sakti, terobosan yang bisa di lakukan oleh pabrik pakan untuk membantu meningkatkan produktivitas lahan adalah antara lain dengan terus mengadakan sharing budidaya ke semua petambak Lampung Timur agar pola-pola budidaya yang sustainable bisa di jalankan oleh petambak, dari pabrik pakan juga bisa me-support pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi perairan Lampung Timur.

“Potensi tambak sekarang lebih menjanjikan dibandingkan dulu,” ujar M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri. Ia pun memberikan gambaran bahwa penghasilannya dari mengelola tambak seluas 3 hektar dulu hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Mau menguliahkan anak masih mikir-mikir. Beda jauh dengan sekarang, mengolah tambak 4 kolam dengan ukuran 1.500 meter persegi per kolam, penghasilannya lebih dari cukup dan bisa untuk menguliahkan anak,” imbuhnya.

Dimulai pada tahun 1998,  usaha tambak Ansori menggunakan pola polikultur antara udang windu dengan ikan bandeng secara tradisional. Pada akhir tahun 2015, LIPI bekerja sama dengan Unila mengadakan program budidaya udang vaname salinitas rendah. “Berangkat dari kegiatan ini, saya termotivasi untuk beralih komoditas, dari udang windu ke udang vaname dengan pola monokultur dan teknologi semi-intensif,” kenang Ansori.

Dengan beralih teknologi, tambak milik Ansori bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan ikan bandeng sekitar 3 kuintal per hektar.

Cerita senada juga diungkapkan H. Suparman, salah satu petambak udang di Lampung Timur. Ia memulai usaha budidaya udang windu dengan tambak tradisional sejak tahun 1987. “Kalau dulu, udang dibiarkan saja, kita bisa panen. Kalau sekarang harus melalui serangkaian SOP pengolahan air sebelum budidaya. Kalau dilihat dari tonase per hektar lebih menguntungkan sekarang, tetapi dengan syarat SOP sesuai CBIB,” ulasnya.

Dilansir dari Lampungpro.com, usaha budidaya udang vaname menjadi usaha paling menggiurkan. Meskipun berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pembudidaya udang pemula yang tidak jeli dalam merawat udang. Hal ini disampaikan Marsan, warga Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai.

Jika dilakukan dengan tekun dan telaten, satu hektar lahan tambak bisa menghasilkan keuntungan Rp380 juta per 90 hari. Untuk menghasilkan keuntungan tersebut, diperlukan modal setidaknya Rp250 juta untuk pembelian benur, pakan, biaya perawatan, dan listrik. Dengan penebaran benur menjelang musim kemarau, hasil panennya akan lebih banyak. Pasalnya, udang tidak mudah terserang virus dibandingkan musim hujan.

Potensi usaha budidaya udang vaname yang menggiurkan ini berdampak pada kenaikan harga lahan yang bergandengan dengan laut. Jika dulu harga tanah di lokasi dekat laut seperti tak ada harganya, kini banyak orang yang mencari untuk dijadikan sebagai lokasi bertambak udang.

“Jangankan membeli, disuruh garap sama pemilik lahan saja banyak yang tidak mau. Sebab, lahan terlalu becek ditanami apa pun susah. Tapi, sekarang orang pada berebut sewa. Dalam satu hektar mereka berani menyewa Rp100 juta. Per tahunnya, dua kali musim udang,” kata Marsan. 

Sinergi Peningkatan Produksi

Sebagai salah satu daerah yang diharapkan bisa menjadi lumbung udang di Provinsi Lampung, geliat usaha budidaya udang vaname perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dari pihak Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur, beberapa langkah diupayakan dalam membantu peningkatan produksi udang. Sebagai contoh, penetapan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan.

Kawasan budidaya di kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai merupakan kawasan Minapolitan sesuai keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan (KKP), dengan Nomor KEP.32/MEN/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Selanjutnya, keputusan tersebut diperbarui dengan KEP.35/MEN/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan keputusan Bupati Lampung Timur Nomor: B.324/04/SK/2010 tentang Penetapan Kecamatan Pasir sakti dan Kecamatan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan Kabupaten Lampung timur.

Pengelolaan paskapenetapan kedua wilayah tersebut menjadi kawasan Minapolitan menjadi tanggung jawab lintas sektoral. Kegiatan normalisasi saluran primer dan sekunder dikerjakan oleh Kementrian PUPR melalui Balai Besar Pengelolaan Sungai Mesuji Sekampung dan sudah berjalan mulai tahun 2016. Ketersediaan listrik oleh PLN, yang ditandai dengan masuknya listrik ke tambak pada tahun 2018.

Normalisasi saluran tersier melalui program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) sudah dilakukan sejak tahun 2015 dan revitalisasi saluran dari Kementrian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2015. Pengecekan hama dan penyakit Ikan oleh BKIPM Lampung dan sertifikasi CBIB oleh DKP Propinsi Lampung.

“Adapun penyuluhan budidaya udang diselenggarakan melalui kerjasama KKN Unila, MAI Korda Lampung, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur. Kami bersinergi untuk mensukseskannya,” ungkap Dardjono.

Kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur dengan Universitas Lampung dan Dikti lewat Program Hi-Ling, dengan dibuatnya Tambak Pembelajaran Masyarakat  tahun 2015 di  desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Tak ketinggalan pula peran serta penyuluh swadaya atau teknisi dari perusahaan pakan (CP Prima) yang mendampingi petambak dalam berbudidaya udang vaname.

Melalui dana TP dari KKP, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur melaksanakan program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) sejak tahun 2014 sampai 2016. Sementara untuk tahun 2017 sampai 2018, Program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dilaksanakan dengan dana APBD untuk menyosialisasikan bahwa budidaya udang masih menguntungkan jika dilakukan dengan penerapan teknologi dan CBIB, apalagi jika diikuti dengan harga jual di pasaran yang tinggi.

Kegiatan pembinaan dan pengembangan perikanan dilakukan secara rutin. Juga pemberian apresiasi penerapan Cara Berbudidaya Ikan Yang Baik (CBIB), yang didalamnya menekankan untuk penerapan SOP pada budidaya udang, penyuluhan di lapangan, dan  bantuan sarana prasarana budidaya seperti kincir air, plastik mulsa tambak, Plastik HDPE, pompa submersibel, genset listrik, pompa sedot lumpur untuk sipon, hingga pemberian benur dan pakan udang.

Lampung Timur adalah salah satu sentra pertambakan di lampung yang sejauh ini perkembangannya menunjukkan peningkatan terutama untuk produksi udang vaname. Namun, menurut Rudy, dengan semakin banyaknya penyakit yang baru-baru ini menjadi tren yang kurang baik bagi perkembangan budidaya khususnya udang vaname.

“Maka harapan untuk Lampung Timur di butuhkan koordinasi dan saling support semua penggerak budidaya udang agar bisa berbudidaya secara baik dengan mengikuti langkah-langkah SOP yang benar sesuai dengan perhitungan carrying capacity-nya sehingga budidaya udang di sana terus di tingkatkan serta berkesinambungan,” tutur Rudy. (Rochim/Adit/Resti)

Tabel 1. Produksi Udang di Kabupaten Lampung Timur

NO PRODUKSI TAHUN
  (Ton)   2014 2015 2016 2017   2018
1 Udang Vaname 507,3 974,05 1481,27 6.448,78 15.000
2 Udang Windu 318,38 384,47 382,22 467,02 346 

   Sumber: Statistik Perikanan Budidaya 2018

Tabel 2. Potensi Tambak dan Tambak tercetak di Kabupaten Lampung Timur

      LUAS TAMBAK TERCETAK (Ha)
NO KECAMATAN/ DESA POTENSI INTENSIF SEMI INTENSIF TRADISIONAL PLUS
1 2 3 4 5 6
1 LABUHAN MARINGGAI 2.974,00 335 210 2.702
  1. Margasari 330,00 30 10 265
  2. Sriminosari 357,00 50 20 240
  3. Muara Gading Mas 460,00 75 30 235
  4. Bandar Negeri 539,00 100 50 449
  5. Karya Makmur 431,00 50 50 210
  6. Karya Tani 857,00 30 50 640
2 PASIR SAKTI 5.801,00 760 760 2.516
  1. Pasir Sakti 920,00 50 30 334
  2. Mekar Sari 3,00 0 0
  3. Mulyosari 923,00 50 30 435
  4. Rejomulyo 5,00 0 0
  5. Kedung Ringin 3,00 0 0
  6. Purworejo 1.578,00 500 200 316
  7. Labuhan Ratu 1.369,00 150 100 426
  8. Sumur Kucing 1.000,00 10 20 250
    8.775,00 1.095 970 3.800

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya tahun 2018

Bahu-membahu Hadapi Penyakit

Mengenal lebih jauh potensi perudangan di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Explore perudangan Lampung Timur di awali dari Jakarta, tim redaksi Info Akuakultur memulai perjalanan dan menyeberangi  Selat Sunda dari Merak ke Bakaheuni.

Akses menuju ke Maringgai terbilang ekstrim dengan jalan berbatu yang mengharuskan mobil tidak lebih berjalan 30 kilimeter/jam, dari pusat kota Bandar Lampung waktu yang ditempuh mencapai 3 – jam perjalanan.

Cuaca terik dan panas menemani perjalanan, tepat matahari berada di atas kepala kami tiba dan di sambut ramah dengan Muhyar (petambak). Cuaca yang membakar kulit tidak menahan laju kaki para petambak untuk datang ke kediaman Muhyar untuk menghadiri temu petambak sekaligus sharing informasi langsung dengan para teknisi lapangan dari perusahaan yang hadir.

Antusiasme petambak yang hadir sungguh luar biasa, mereka aktif bertanya langsung dengan Joko Waluyo (Technical Support Behn Meyer) terkait penyebaran dan penanganan penyakit udang yang saat ini sedang menyerang tambak-tambak mereka.

Selain itu, Muhammad Fitri (Teknisi Pakan Gold Coin) dibanjiri pertanyaan-pertanyaan dari petambak seputar kandungan dan manajemen pemberian pakan yang baik dan tepat guna meminimalisir terjadinya over feeding yang dapat merusak lingkungan tambak.

Seperti yang sudah diketahui, terjadi penurunan produksi budidaya udang semenjak adanya serangan penyakit yang diduga disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV). Segala upaya terus dilakukan petambak untuk terhindar atau paling tidak meminimalisir kerugian akibat ulah penyakit yang meyerang tambak udang mereka.

Penuturan petambak di sana, serangan penyakit mempengaruhi pendapatan dari hasil panen. Sebelum adanya serangan penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

Saat ini, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Saat merugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis, jika tidak ada kontrol pada udangnya, dari modal Rp40 juta, bisa rugi hingga Rp20 juta.

Oleh sebab itu, dibutuhkan peran segala stakeholder mulai dari pemeintah, perusahaan swasta dan petambak itu sendiri untuk terbuka dan sharing informasi guna mencari solusi terbaik mengatasi serangan penyakit yang menyebabkan kerugian. (Adit)

INOI: Panduan Tepat Memilih Obat Ikan

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia

Peranan obat ikan dalam aktifitas budidaya perikanan sangatlah penting, namun jangan sembarangan memilih obat karena dapat berakibat fatal terlebih menggunakan obat hewan illegal yang belum terdaftar resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia (INOI) adalah panduan yang tepat bagi siapapun pelaku usaha budidaya perikanan yang ingin memilih dan menggunakan obat ikan yang legal atau terdaftar resmi.

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia
Buku Indeks Obat Ikan Indonesia

Kini telah terbit Buku INOI Edisi IV 2019, buku ini berisi produk obat ikan yang beredar di Indonesia yang sudah resmi mendapatkan nomor pendaftaran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sajian informasi obat ikan dalam buku ini meliputi sediaan kategori Farmasetik, Premiks, Probiotik, Biologik, Herbal (Obat Alami). Masing masing produk dijelaskan bentuk sediaan,  komposisi, indikasi, dosis dan cara pemakaian, kemasan, dan klasifikasi obat ikan.

Buku juga dilengkapi daftar produsen dan importir obat ikan yang sudah mendapatkan izin usaha. Tak kalah menariknya, khusus edisi IV ini buku dilengkapi dengan Peraturan Menteri KKP no 1/2019 tentang obat ikan.

Ini adalah peraturan menteri terbaru yang ruang lingkupnya sangat lengkap meliputi aturan tentang penyediaan dan peredaran obat ikan, layanan sertifikasi dan surat keterangan, pelaporan dan pengawasan.

Merupakan hal yang wajib bagi para pelaku usaha budidaya perikanan memiliki buku ini, dengan harga yang sangat terjangkau anda akan mendapatkan segudang manfaat seputar obat ikan.

Tambak RtVe, Modal Kecil Untung Berlipat

Selama ini, yang terbayang di benak masyarakat umum, budidaya udang identik dengan sistem bisnis padat modal, memerlukan lahan yang cukup luas, dan prosedur pemeliharaan yang rumit. Benarkah anggapan demikian?

Udang merupakan salah satu komoditas akuakultur ekspor andalan dengan raupan keuntungan yang tidak sedikit. Pasalnya, dengan harga komoditas yang tinggi dibanding dengan komoditas tambak lainnya, udang menjadi komoditas dollar bagi para pembudidaya.

Sebanding dengan tingkat keuntungan yang didapat, budidaya udang merupakan salah satu bisnis yang membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itulah kenapa, budidaya udang ini menjadi salah satu andalan bisnis yang banyak dilirik para investor berkantong tebal. Lantas, benarkah budidaya udang mensyaratkan modal yang besar dan benarkah asumsi umum tersebut?

Sebenarnya, asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, dengan mengikuti program kemitraan petambak yang digagas dan dirintis oleh PT Central Proteina Prima, petambak atau praktisi yang tertarik dengan usaha budidaya udang dapat membuka usaha budidaya udang dengan skala kecil dengan modal yang relatif tidak terlalu besar.

Petambak yang mengikuti program ini akan mendapat pendampingan teknis agar memperoleh hasil yang lebih baik. Tim yang mendampingi petambak tidak main-main, mereka terdiri dari ahli nutrisi udang dan ikan hingga pakar di industri akuakultur yang siap memberikan pelatihan dalam hal manajemen pemberian pakan, pengecekan kualitas air, dan pengawasan proses budidaya untuk meraih produk ikan dan udang dengan kualitas yang baik. Saat ini, program kemitraan petambak telah bermitra dengan para petambak yang berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara.

Revitalisasi Lahan Kurang Produktif

Latar belakang dilakukannya program kampung vaname (KaVe) dan rumah tangga vaname (RtVe), adalah berdasarkan temuan di lapangan. Di antaranya adalah masih banyaknya ribuan hektar lahan untuk budidaya yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh petambak mengingat kendala keterbatasan pengetahuan dan dukungan yang mereka miliki.

Sehingga, tujuan dari dilakukannya program kampung dan rumah tangga vaname adalah untuk merevitalisasi para petambak dengan memperkenalkan program budidaya udang vaname.

Program RtVe yang umum dikenal sebagai budidaya skala rumah tangga, kini berkembang pesat disentra-sentra tambak di Indonesia sebagai alternatif peluang usaha dengan skala mini dan modal relatif kecil. Melalui proses budidaya udang yang benar dengan mengenalkan prosedur operasi baku (SOP) dan biosekuriti budidaya udang akan membuat program RtVe ini lebih efisien, efektif dan produktif.

Lebih jauh, program ini juga untuk membuat konsep kerja yang terintegrasi dan terkonsolidasi untuk memantau semua proses, dengan tujuan untuk menghasilkan produk udang yang lebih baik.

Profil Sukses Pelaku Program KaVe dan RtVe

Salah satu profil pebisnis yang berhasil menerapkan program  rumah tangga vaname adalah berasal dari Pazi Udang Jaya, yang awalnya di gagas oleh Sri Yuliastuti. Dia bersama rekan-rekan lainnya, membentuk konsorsium dan merintis usahanya dengan bergabung di program RtVe, budidaya udang skala rumah tangga.

Lokasi pertambakannya terletak di daerah Jawa Timur. Menurut Yuli, usaha budidaya udang ini berawal dari keinginan untuk berkumpul silaturahmi alumni IPA 1 SMABA 83 dengan harapan menciptakan usaha yang bermanfaat dan berkah.

Mereka pun bertekad, usaha yang dipilih adalah budidaya udang vaname melalui program Rumah Tangga Vaname di bawah binaan Nonot Triwaluyo, sebagai pendiri program KaVe dan RtVe.

Kawasan yang dipilih untuk lahan tambak adalah Jember, yang dilewati oleh jalur lintas selatan. Menurut pengakuan Yuli, Pazi Udang Jaya bukan merupakan usaha budidaya udang pertama di Getem, Jember.

Akan tetapi, lanjutnya, yang membedakan tambak mereka dengan yang lainnya adalah bahwa tambak tersebut merupakan lahan pasir yang pada awalnya tidak produktif. Dengan demikian, program revitalisasi lahan melalui progam KaVe di daerah tersebut mampu untuk memanfaatkan lahan yang kurang produktif menjadi lebih menguntungkan.

“Mengingat tekstur tanahnya didominasi oleh pasir, dinding tambak yang mereka bangun dilapisi dengan menggunakan membran HDPE untuk mencegah kebocoran air,” ujar Nonot yang juga GM Shrimp Feed CPPrima.

Tidak Ada Persyaratan Khusus

Menurut Yuli yang juga sealumni SMA dengan Nonot, tidak ada persyaratan khusus untuk mengikuti program Kampung Vaname dan Rumah tangga Vaname, yang terpenting, menurutnya, adalah bagaimana turut serta menjaga kelestarian lingkungan pada saat yang bersamaan dengan usaha budidaya.

“Pesan kami, perlu dijaga lingkungan kawasan sepanjang pantai, mengingat kebutuhan air laut sangat vital bagi usaha budidaya tambak. Hal ini untuk keperluan agar usaha tambak berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tuturnya.

Pazi Udang Jaya, menurut pengakuan Yuli, dimotori oleh beberapa anggota yang berjumlah 30 orang. Lokasi budidaya terletak di di Getem Jember, Jawa Timur. Yuli menuturkan, banyak kelebihan atau manfaat yang didapat dari ikut serta program Kampung Vaname.

Salah satunya adalah mulai tumbuh berkembang pembukaan lahan baru untuk budidaya. Secara teknis, lahan yang tidak produktif bukan menjadi halangan untuk program ini. Sebagai contoh, budidaya udang Pazi Udang Jaya dilakukan di atas lahan yang tidak produktif secara ekonomi.

Di samping itu, lahan merupakan tanah dengan tekstur berpasir yang pada dasarnya tidak cocok untuk tambak. Untuk itulah, dasar tambak dilapisi dengan plastik HDPE untuk mencegah terjadinya kebocoran air.

Sistem Bagi Hasil, Lebih Menguntungkan

Seperti gagasan awal dalam merancang program KaVe, modal yang diperlukan untuk budidaya udang metode ini sangat terjangkau. Demikian juga yang dilakukan oleh Pazi Udang Jaya, modal awal usaha mereka berasal dari iuran anggota dengan jumlah sukarela.

Harapannya, untuk tahap awal kata Yuli, mereka dapat membeli dua petak lahan tambak. Itu pun dalam perjalanannya, kegiatan survey lahan cukup menyita tenaga. Dengan jerih payah, lahan didapat dengan sistem bagi hasil, bukan sistem jual beli.

Sistem bagi hasil ini sangat menguntungkan bagi pemilik atau penggarap lahan karena akan mendapatkan hasil sesuai keberhasilan lahan tambak yang dikelola, pun, hal ini tentu saja menjadi berkah tersendiri bagi Pazi Udang Jaya karena tidak perlu merogok saku untuk membeli lahan. “Ini sangat menguntungkan bagi kami karena modal bisa kami gunakan untuk belanja investasi kebutuhan tambak yang tidak sedikit. Modal kami per akhir Januari 2019 sebesar Rp. 1 M yang terdiri dari modal perorangan 30 juta per anggota dan nantinya dana ini dihimpun untuk digunakan sebagai biaya operasional 5 petak lahan tambak yang mereka miliki,” ungkapnya.

Mengingat Pazi Udang Jaya merupakan konsorsium, maka usaha ini merupakan usaha tertutup. Namun tetap dapat mengembangkan bisnis dengan ekstensifikasi pembukaan lahan baru  untuk bekerjasama dengan sistem bagi hasil.

Panen raya tambak Pazi Udang Jaya pada tanggal 16 Maret 2019, dengan DOC 112 mendapatkan size 31-33, FCR 1,17 dan SR 96% dan dari 3 petak @ 800-1.000m2 didapat udang total 7,5 ton atau dengan produktifitas 27 ton/ha, “ Kita masih menunggu 2 petak berikutnya yang masih umur 32 hari,” tambah Nonot

Dalam menjalankan bisnisnya, Yuli beserta anggota lainnya memiliki semboyan, ‘Program 4 Sukses Bersama yaitu sukses anggota, sukses konsorsium, sukses sosial dan masyarakat sekitar, sukses akuakultur”.

Kontribusi Untuk Masyarakat Sekitar

Yuli memaparkan, dengan dibukanya program tersebut, mereka dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap masyarakat sekitar. Hal itu bisa dilihat dengan adanya usaha produktif komoditas ekspor.

Hal ini dapat mendorong masyarakat daerah sekitar untuk meningkatkan ekonomi dengan usaha yang serupa atau kerjasama dengan pemilik lahan melalui sistem bagi hasil. Di samping itu, keuntungan hasil budidaya dapat dinikmati oleh para penanam modal melalui proporsi bagi hasil sesuai dengan jumlah modal yang mereka investasikan.

Tidak hanya itu, Yuli mengungkapkan, bahwa usaha yang mereka rintis dan lakukan sesuai dengan kaidah budidaya berkelanjutan, ramah lingkungan sehingga tidak merusak lingkungan sekitar. (Noerhidajat/Resti)

Siap Berperan di Sektor Budidaya Udang Indonesia

Di sela-sela rapat yang digelar selama dua hari, 27-28 Maret 2019 di Hotel Santika BSD City, Himpunan Perekayasa Indonesia (Himperindo) memanfaatkan waktu untuk diskusi majalah Info Akuakultur guna membahas kerjasama terkait banyak informasi yang belum terinformasikan kepada masyarakat budidaya perikanan mengenai teknologi perikanan budidaya terkini. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MOU majalah Info Akuakultur dengan Himperindo pada saat seminar nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang akhir tahun 2018 lalu.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Himperindo Prof I Nyoman Jujur dan para pengurus Himperindo yang merupakan pakar dari berbagai instansi, antara lain Prof Dr Ir Suhendar I Sachoemar (Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan BPPT), Dr. Andi Eka Sakya (Presiden WMO RA V), Ir. Maskur MSi (mantan Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan KKP, sekaligus Ketua
Indonesian Network on Fish Health Management /INFHEM) dan lain-lain.

Menurut Ketua Himperindo I Nyoman Jujur, kerja sama ini diharapkan bisa terjalin solid karena banyak informasi dari anggota Himperindo yang juga merupakan perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) belum banyak terpublikasikan. “Dengan adanya kerja sama dengan majalah Info Akuakultur diharapkan informasi dari hasil-hasil temuan teknologi yang aplikatif dapat diterima oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya,” tambah Nyoman.

Diskusi berlangsung hangat dan santai , tidak hanya membahas soal publikasi informasi teknologi perikanan budidaya saja, namun juga ide lainnya antara lain rencana diadakannya seminar tematik serta seminar udang skala nasional.

Di mana seminar tersebut nantinya akan mengangkat isu-isu perudangan Indonesia baik soal teknologi buddidaya, penyakit terkini, hingga persoalan kesehatan dan lingkungan.

Pemimpin Redaksi majalah Info Akuakultur Bambang Suharno menilai pertemuan dan diskusi ini sangat positif, sebab akan melahirkan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat dalam hal informasi seputar budidaya perikanan khususnya udang. Ia menambahkan, dalam penerbitan Info Akuakultur yang akan datang porsi artikel seputar teknologi dan bisnis udang akan lebih dominan sesuai dengan permintaan market.

“Majalah Info Akuakultur sebagai media yang posisinya berada di tengah, siap menjembatani informasi dan komunikasi dari stakeholder perikanan budidaya serta tentunya akan mendukung terselenggaranya setiap acara kegiatan,”. pungkas Bambang.

Budidaya Alga, Untuk Tingkatkan Nutrisi Pakan Ikan

Mikroalga, alga mikroskopis kaya nutrisi untuk kegiatan budidaya perikanan

Mikroalga, di samping kehadirannya menjadi ancaman bagi kegiatan akuakultur, beberapa jenis di antaranya justru menjadi berkah bagi perikanan. Pasalnya, kandungan nutrisinya dibutuhkan beberapa jenis ikan budidaya, terutama jenis herbivora.

Alga kerap kali dituding sebagai penyebab munculnya berbagai serangan penyakit dan kematian massal pada ikan maupun udang. Awalnya, terjadi ketidakseimbangan alga di dalam lingkungan perairan.

Selanjutnya, akibat dari komposisi jenis alga yang tidak seimbang, kualitas perairan munurun, tingkat kandungan oksigen dalam air berkurang. Bahkan, sejumlah jenis alga ditengarai mengeluarkan bahan toksik.

Daya tahan tubuh ikan dan udang menurun. Tidak dapat dihindari, penyakit pun merebak ketika daya tahan tubuh turun dan kondisi lingkungan memburuk. Pada akhirnya, terjadi kerugian telak akibat kematian massal pada ikan dan udang budidaya yang tak terhindarkan.

Benarkah alga menjadi biang dari malapetaka tersebut? jawabannya iya. Akan tetapi, kabar baiknya, alga tidak hanya melulu menimbulkan efek negatif bagi budidaya perikanan. Sejumlah alga diketahui berpengaruh positif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk industri farmasi, kosmetika, pangan, dan industri lainnya.

Beberapa di antaranya diperlukan dalam kegiatan akuakultur sebagai sumber pakan untuk ikan. Sebut saja misalnya Chlorella vulgaris, Porphyridium cruentum, Dunaliella salina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jenis-jenis mikroalga tersebut dipandang menguntungkan karena dapat menyediakan nutrisi yang berlimpah bagi ikan budidaya. Bahkan, karena kandungan nutrisinya yang kaya, tidak sedikit jenis mikroalga tersebut banyak dibudidayakan secara massal mengingat nilai ekonominya yang tinggi.

Mengenal Alga Lebih Dekat

Menurut klasifikasi dalam ilmu biologi, alga merupakan sejenis organisma fotosintesis yang mengandung klorofil, menghasilkan O2 dan merupakan suatu thallus (jaringan vegetatif) yang tidak terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Jadi, organisme ini berbeda dengan lumut atau jenis tanaman lainnya.

Pada kerajaan tumbuhan (kingdom plantae), organisme sudah jelas diklasifikasikan berdasarkan organ daun, batang dan akar, sementara pada alga tidak demikian. Meskipun begitu, alga dan tumbuhan sama-sama mempunyai klorofil sehingga mempunyai kemampuan melakukan proses fotosintesis, yaitu mampu menyintesis makanannya sendiri dari sinar matahari dan sumber karbon.

Dengan demikian, seperti halnya tumbuhan, alga pun dapat menghasilkan zat asam (oksigen) sebagai produk samping dari proses fotosintesisnya dan karbohidrat (karbon) sebagai produk utamanya.

Menurut pemaparan Rahmania Admirasari, dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alga sendiri diklasifikan menjadi dua berdasarkan ukurannya, yaitu:

Rahmania Admirasari
  • Makroalga, alga yang berukuran besar, sehingga dapat dilihat dan diamati oleh mata telanjang;
  • Mikroalga atau alga yang berukuran kecil (mikroskopis) dan bakteria fotosintetik oksigenik (Cyanobacteria).

Produk Bernilai Ekonomis Tinggi dari Mikroalga

Saat ini, di dunia sudah dikenal luas beragam jenis alga dengan produk utama yang bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja misalnya spirulina. Jenis mikroalga ini menjadi salah satu bahan baku suplemen kesehatan bagi manusia karena kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan beragam vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, serta kandungan mineral dan asam lemaknya.

Di samping itu, masih banyak jenis alga lain yang bermanfaat dan menjadi komoditas penting. Berikut ini beberapa jenis mikroalga dan berbagai jenis produk yang dihasilkan.

  • Spirulina plantesis, Phycocyanin, produk yang dihasilkan berupa biomassa dan suplemen makanan kesehatan, serta bahan dasar kosmetika
  • Chlorella vulgaris, produk yang dihasilkan berupa biomassa, suplemen kesehatan, dan sumber pakan
  • Dunaliella salina, produk yang dihasilkan Carotenoids, ß-carotene, suplemen makanan, sumber pakan.
  • Haematococcus plavialis produk yang dihasilkan adalah Carotenoids, astaxanthin, yang digunakan dalam suplemen makanan, industri farmasi, dan pakan
  • Odontella aurita sebagai sumber asam lemak, dan bahan baku farmasi, kosmetika, dan sumber makanan.
  • Porphyridium cruentum, produk yang dihasilkan di antaranya adalah polisakarida untuk industri farmasi, kosmetika, dan pakan hewan
  • Isochrysis galbana, produk yang dihasilkan di antaranya adalah asam lemak untuk pakan ternak,
  • Phaeodactylum tricornutum, bahan yang dihasilkan di antaranya adalah lemak, asam lemak, nutrisi asam, serta bahan baku untuk bahan bakar.

Mikroalga, Bahan Bernutrisi Tinggi Bagi Ikan

Alga berperan tak kalah penting dalam kegiatan akuakultur. Beberapa jenis alga sudah dikenal luas sebagai sumber pakan alami bagi ikan jenis herbivora, seperti ikan bandeng, mas, dan lain-lain.

Menurut Rahmania, aplikasinya dalam bidang akuakultur dapat berupa pakan langsung pada fase pembesaran larva, juvenile, atau pun untuk sebagai pakan zooplankton yang pada akhirnya menjadi pakan alami bagi ikan.

  • Sumber pakan alami pada fase pembesaran larva dan juvenilles dari moluksa, crustacea dan ikan.
  • Sumber pakan bagi zooplankton (rotifer, copepoda, dll) yang pada akhirnya menjadi sumber pakan alami bagi ikan.
  • Sumber pakan bagi Ikan herbivore

Tabel 1. Beberapa jenis mikroalga dan manfaatnya bagi jenis hewan akuakultur

Alga Organisma Akuakultur
Chlorella Brachionus
Scenedesmus Artemia, Ikan mas
Skeletonema Tiram dan kerang
Nitzschia Tiram dan kerang
Chaetoceros Tiram dan kerang

Budidaya Mikroalga Skala Massal

Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, tak sedikit praktisi yang sudah melakukan budidaya mikroalga secara massal. Jenis alga yang dibudidayakan tertentu untuk yang bernilai nutrisi tinggi atau digunakan untuk keperluan lainnya.

Selain itu, jenis yang dibudidayakan tersebut haruslah yang tidak beracun baik bagi hewan maupun manusia. Rahmania mengungkapkan, beberapa persyaratan budidaya mikroalga untuk kegiatan akuakultur harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya adalah:

  • Non toksik atau tidak beracun;
  • Ukuran tubuhnya tepat untuk dikonsumsi oleh organisma yang akan dibudidayakan;
  • Dinding sel alga mudah dicerna;
  • Kandungan nutrisi cukup baik.

Pada dasarnya, dalam kegiatan budidaya mikroalga, ada beberapa komponen wajib yang harus ada, yaitu cahaya matahari, karbondioksida (CO2), air, nutrisi, dan peralatan pendukung. Gas karbondioksida dibutuhkan sebagai sumber karbon bagi alga.

Kehadiran air mutlak diperlukan sebagai sumber hydrogen dalam sintesis karbohidrat yang terdiri dari unsur Karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sementara itu, kebutuhan nutrisi lainnya, di antaranya unsur Nitrogen, Fosfor, dan unsur-unsur mineral lainnya dapat dipenuhi dari pasokan air limbah budidaya perikanan.

Seperti diketahui, air limbah yang berasal dari budidaya perikanan banyak mengandung sisa-sisa pakan dan zat-zat eksresi ikan, misalnya ammonia, nitrat, nitrit, dan fosfat. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur hara bagi mikroalga sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk kultivasi mikroalga.

Gambar 1. Metode budidaya mikroalga secara umum

            Gambar 2. Alur budidaya mikroalga dan waktu pemanenan yang tepat

Kultivasi mikroalga dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sistem terbuka dan sistem fotobioreactor (sistem tertutup). Pada metode terbuka, budidaya mikroalga dilakukan pada kolam/ bak-bak terbuka dengan ukuran yang luas.

Sementara itu, budidaya dengan metode fotobioreactor dilakukan di dalam reaktor-reaktor tertutup yang biasanya terbuat dari kaca/plastik transparan. Hal ini agar permukaan dapat ditembus cahaya matahari yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri. Sebagai contoh, pada metode tertutup (fotobioreaktor), kelebihannya adalah terjaga dari kontaminasi, produktivitas lebih tinggi, serta tidak membutuhkan lahan yang relative luas. Meskipun demikian, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah biaya investasi awal yang mahal.

Di lain pihak, jika budidaya dilakukan pada kolam terbuka, kelebihannya antara lain biaya investasi awal yang relatif rendah dan perawatan mudah. Akan tetapi, kelemahan yang ditimbulkan di antaranya adalah membutuhkan luas lahan yang besar, mudah terkontaminasi oleh mikroalga yang lain, sehingga dapat memicu terjadinya kompetisi. (Noerhidajat/Resti)

Tangkal TiLV Pada Ikan Nila Sejak Dini

Beberapa tahun belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus (TiLV) yang diderita oleh beberapa negara produsen ikan tersebut membuat Indonesia menyetop stok impor. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) kemudian mengeluarkan surat edaran nomor 3975/DJPB/VII/2017 pada 14 Juli lalu.

Surat edaran tersebut berisi tentang pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV pada ikan nila. Setidaknya, ada lima langkah yang dapat dilakukan agar Indonesia terhindar dari TiLV, dan hal tersebut terus dilakukan secara sinergis dan koordinatif oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya, mulai dari pelaku, peneliti/akademisi, dan pengambil kebijakan.

Dalam edarannya, DJPB mengatakan kelima langkah tersebut, pertama, melarang pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang terkena wabah TiLV yaitu Israel, Kolombia, Ekuador, Mesir, dan Thailand.

Kedua, pemerintah membatasi pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang tidak terkena wabah dengan memenuhi ketentuan wajib melampirkan izin pemasukan ikan hidup, melampirkan sertifikat kesehatan ikan dan uji hasil mutu.

Ketiga, Indonesia untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum. Keempat, akan dilakukan pengujian laboratorium di pintu pemasukan dan pengeluaran antar daerah untuk Nila.

Kemudian, kelima, pemerintah meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring terhadap penyakit TiLV.

Hingga saat ini belum ada wabah dan atau laporan kasus penyakit TiLV di Indonesia yang menimbulkan kematian sangat tinggi dan atau kerugian ekonomi yang signifikan, seperti halnya yang terjadi di beberapa Negara terdampak.

Meskipun demikian, Taukhid mengatakan, “potensi kemunculan dan dampak negatif dari penyakit tersebut tetap harus disikapi secara proporsional dan terukur,” ujarnya.

Lantas, jika TiLV sudah terlihat menyerang kolam-kolam bagaimana antisipasi pertama yang harus dilakukan pembudidaya agar penyakit tersebut tidak menimbulkan dampak kerugian yang besar serta seperti apa pencegahan sejak dini TiLV yang harus dilakukan pembudidaya.

Taukhid memaparkan, gejala klinis umum yang mengindikasikan adanya infeksi TiLV pada ikan nila antara lain lemah, katarak (endophthalmitis), exopthalmia, penyusutan mata dan phthisis bulbi, pengelupasan kulit/erosi dan ulcus, kongesti ginjal, peradangan otak (encephalitis), dan pembengkakan di hati.

“Organ atau jaringan yang dipilih sebagai materi uji deteksi TiLV secara molekuler adalah mata, otak, hati, limpa dan ginjal,” kata Taukhid.

Langkah antisipatif untuk mencegah TiLV, menurut Taukhid, pada unit usaha atau kolam budidaya ikan nila antara lain dapat dilakukan melalui:

  1. Benih atau bibit ikan nila yang digunakan bebas dari infeksi TiLV yang dapat ditelusur (traceability) sumber populasi induk, baik dari sejarah asal usul maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
  2. Pada kawasan budidaya ikan nila yang menggunakan sumber air yang sama (daerah aliran sungai/DAS), belum ditemukan adanya kasus penyakit tersebut.
  3. Memastikan bahwa prosedur budidaya ikan selalu dilakukan secara baik dan benar sesuai kaidah Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
  4. Membangun sistem informasi dini antar pelaku budidaya ikan nila terkait status penyakit tersebut.

Taukhid melanjutkan, apabila pada unit budidaya ikan nila terlihat adanya ikan-ikan yang menunjukkan gejala klinis disertai kematian yang diduga akibat penyakit tersebut, maka tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah:

  1. Mengisolasi dan pemantauan secara intensif terhadap populasi ikan yang diduga terinfeksi TiLV.
  2. Menginformasikan kepada pihak terkait atau petugas yang kompeten untuk tindak lanjut penanganan teknis dan atau pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoris dalam rangka konfirmasi penyebab utama penyakit tersebut.
  3. Pada populasi ikan nila yang sedang sakit, kurangi porsi pakan harian dan tambahkan unsur imunostimulan untuk menigkatkan ketahanan tubuh ikan.
  4. Pada kondisi kolam yang dapat dikontrol, upayakan flukutasi suhu air dalam periode 24 jam tidak lebih dari 2 oCelcius.
  5. Ikan yang mati segera diambil, selanjutnya dibuang/dikubur untuk memastikan bahwa bangkai ikan tersebut tidak berpotensi sebagai sumber penularan untuk ikan nila lainnya.

Belum ada obat atau bahan kimia yang efektif untuk mengobati ikan nila yang terinfeksi virus TiLV, kecuali penggunaan desinfektan untuk tujuan desinfeksi sarana dan prasarana selama proses produksi.

Beberapa informasi teknis menurut Taikhid yang mungkin perlu menjadi pertimbangkan dalam pengendalian penyakit TiLV pada budidaya ikan nila. Secara laboratoris, menurutnya, beberapa strain ikan nila yang telah berkembang di masyarakat memiliki tingkat resistensi yang berbeda terhadap penyakit TiLV.

Pola kematian ikan nila akibat penyakit TiLV berlangsung secara sub-akut hingga akut dengan masa inkubasi antara 1 – 14 hari. Individu ikan yang mampu bertahan hidup (survivors) akan mengalami proses penyembuhan, bertahan hidup dan terbentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut. Namun status selanjutnya dari individu tersebut (potential carrier or totally eradicated) belum diketahui secara pasti.

“Faktor pemicu yang determinan terhadap munculnya kasus penyakit TiLV adalah fluktuasi suhu air yang cukup besar dalam periode 24 jam,” pungkas Taukhid. (Adit)

Peran “Generasi Millenial” dalam Peningkatan Perikanan Nasional

Oleh: Rifqi Dhiemas Aji

(Konsultan Teknis Peternakan dan Perikanan PT. Natural Nusantara)

Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia tahun 2035 diperkirakan mencapai 305,7 juta jiwa. Maka pertambahan pertahunnya diproyeksikan sebanyak 2,5 juta per tahun dan pertambahan dalam 20 tahun ke depan bertambah sekitar 50,2 juta jiwa.

Selain itu, masih berdasarkan data BPS, pada tahun 2015 sekitar 53,3% dari penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Lalu diproyeksikan pada tahun 2035 mendatang, arus urbanisasi akan meningkat menjadi 66,6%.

Sehingga arus urbanisasi yang tinggi, diprediksikan akan mengurangi jumlah penduduk di pedesan dan berdampak pada produsen pangan yang rata rata berdomisili di desa, baik perikanan, peternakan dan pertanian secara umum akan mengalami penurunan.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait pertumbuhan industri sektor perikanan, produksi perikanan nasional mengalami kenaikan pada angka diatas 23 juta ton dimana tahun 2015 pada angka 20 juta ton.

Angka tersebut bisa saja terus terjaga atau naik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan atau promosi terhadap sektor perikanan yang lebih baik. Indonesia sendiri pada awal tahun 2018 sudah menerbitkan roadmap Making Indonesia 4.0 yang menjelaskan jika sektor makanan dan minuman menjadi prioritas pertama dari 5 prioritas unggulan di era Revolusi Industri 4.0.

Kekhawatiran dalam produksi perikanan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional adalah berkurangnya luas lahan perikanan budidaya akibat alih fungsi lahan yang berpindah, menurunnya minat pelaku budidaya perikanan dalam beternak ikan yang diakibatkan pengaruh sektor lain yang lebih menjanjikan serta lemahnya sumber daya manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan.

Dengan pengetahuan dan kemampuannya dalam berbagai sektor, anak muda atau generasi penerus ini harus menyadari bahwa kontribusi dalam dunia perikanan sedang ditunggu tunggu.

Baik sebagai tenaga ahli perusahaan, pemerintahan, enterpreneur maupun sociopreneur yang bergerak dalam memajukan perikanan Nasional. Sebab, sektor perikanan hampir selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan, karena pola pikir yang tertanam pada generasi muda saat ini adalah pekerjaan atau usaha di bidang perikanan kurang menjanjikan dibandingkan dengan menjadi pekerja kantoran.

Hal tersebut juga dapat menjadi alasan mengapa arus urbanisasi sangat tinggi, karena orang di desa menganggap mencari peruntungan di kota lebih baik ketimbang membangun sendiri desanya masing-masing.

Dalam revolusi keempat ini, kita menghadapi serangkaian teknologi baru yang mengombinasikan berbagai disiplin ilmu dengan dunia digital. Teknologi teknologi baru ini akan berdampak pada semua disiplin, ekonomi dan industri, bahkan akan menantang ide kita tentang arti manusia.

Teknologi ini memiliki potensi besar menghubungkan jutaan manusia melalui web, meningkatkan efisiensi bisnis dan organisasi secara drastis, dan membantu regenerasi lingkungan alami melalui manajemen aset yang lebih baik, mengurangi kerusakan yang terjadi.

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini, secara bersamaan Indonesia mengalami bonus demografi dimana jumlah usia kerja produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia kerja non produktif.

Hal ini perlu diantisipasi dan diarahkan untuk menampilkan sisi positif dari bonus demografi yang terjadi. Generasi muda nan produktif ini perlu diarahkan dan ditumbuhkan “ruh” dalam membangun sektor perikanan Nasional mengingat perikanan masih merupakan sektor penting bagi kebutuhan pangan Nasional.

Tidak sedikit saat ini mulai bermunculan inovasi inovasi hasil kreasi anak muda di bidang perikanan yang sangat diperlukan pada saat ini. Beberapa inovasi yang sudah mulai bertumbuh seperti platform digital untuk pelaku perikanan dan investor perikanan yang dapat menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen perikanan.

Inovasi lainnya seperti jejaring bisnis lewat sistem aplikasi yang mengutamakan efisiensi sehingga bisa tercapainya kemudahan dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring.

Disisi lain, generasi muda yang berkecimpung dalam budidaya perikanan juga harus mampu dan selalu siap apabila harus beternak mandiri secara intensif serta siap mendampingi apabila dibutuhkan oleh pelaku perikanan tradisional di lapangan.

Kemajuan teknologi ini akan memaksa para peternak rakyat di perdesaan untuk beradaptasi. Namun, peran generasi muda dan pemerintah harus terus mendukung masyarakat supaya memiliki daya saing dengan penyediaan infrastruktur dan kebutuhan untuk menuju digitalisasi. Pangan dan perikanan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dan harus selalu menjadi bagian dalam prioritas pembangunan negeri ini.

Menengok pada sektor industri perikanan Indonesia yang secara data telah menunjukkan angka perkembangan yang positif walau belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dengan potensi sumberdaya perikanan yang melimpah seharusnya sektor ini mampu menjadi sektor andalan.

Sejatinya membahas tentang perikanan kedepan harus melingkupi berbagai persoalan-persoalan yang sangat mendasar dan substansial. Pada Saat sekarang ini kehadiran dan peran pemerintah sangatlah diharapkan, berbagai persoalan penting yang berpengaruh terhadap ketahanan dan keberlanjutan perikanan menjadi penting dan harus menjadi perhatian semua kalangan terutama kalangan pemegang kebijakan. Isu lingkungan dan perijinan yang kerap kali dilontarkan terhadap sektor perikanan oleh berbagai kalangan, baik dari internal maupun kalangan eksternal menjadi “bola liar” yang berpotensi merugikan bahkan mengancam keberlanjutan industri perikanan di negara kita.

Teknologi Jaring UHMWPE Sekuat Baja

Jaring UHMWPE Aquatec

Budidaya ikan bebas predator dengan jaring UHMWPE tanpa simpul

Budidaya ikan atau akuakultur adalah industri yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga tahun 2016, tercatat oleh FAO bahwa Indonesia telah mampu memproduksi 5 juta ton ikan (tidak termasuk rumput laut) yang mencakup berbagai macam spesies ikan air laut, tawar, maupun payau.

Budidaya ikan di dalam keramba jaring apung (KJA) HDPE adalah salah satu cara yang paling konsisten untuk memproduksi ikan dalam jumlah besar. KJA HDPE yang tahan ombak dan ramah lingkungan adalah kunci dari praktek budidaya ikan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Hanya saja, aspek yang tidak kalah pentingnya dari menggunakan KJA HDPE adalah penggunaan jaring yang tepat pada keramba.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira mengatakan, budidaya ikan tidak bisa menggunakan jaring atau net yang sama dengan jaring tangkap. Jaring tangkap, memiliki tonjolan-tonjolan simpul (knotted) yang besar dan sangat kasar sehingga beresiko tinggi menimbulkan luka pada ikan.

Luka ini dapat menimbulkan cacat berupa baretan pada sisik ikan, dan dapat menimbulkan infeksi yang dapat meningkatkan mortality rate, sehingga penggunaan jaring bersimpul sangat tidak disarankan.

Oleh karenanya, kata Andi, pembudidaya ikan sangat disarankan menggunakan jaring tanpa simpul (knotless) yang berpermukaan halus. Jaring tanpa simpul tidak menimbulkan luka pada sisik ikan sehingga dapat menekan mortality rate, juga meningkatkan nilai jual ikan dikarenakan ikan memiliki sisik yang sempurna.

Di pasaran, jaring tanpa simpul tersedia dalam bermacam-macam bahan, mulai dari HDPE, metal, hingga UHMWPE. Kategori pertama, yaitu jaring HDPE tanpa simpul memiliki konstruksi yang ringan dan fleksibel, sehingga mudah untuk dioperasikan, dengan harga yang terjangkau.

Jaring ini tersedia secara luas di pasaran dan telah diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan penyedia alat sarana dan prasaranan perikanan budidaya dalam negeri PT. Gani Arta Dwitunggal dengan merk Aquatec. Kategori kedua, yaitu jaring metal, memiliki kontsruksi yang berat dan kaku, namun umumnya dipakai dengan tujuan untuk menghalau predator.

Kategori ketiga, yaitu jaring UHMWPE tanpa simpul, merupakan inovasi jaring budidaya ikan baru yang mulai populer. Namun, apa itu UHMWPE? UHMWPE adalah singkatan dari Ultra High Molecular Weight Polyethylene, yaitu material yang memiliki kekuatan tarikan (tensile strength) lebih kuat daripada baja, akan tetapi ringan dan fleksibel. Oleh karena kekuatannya, bahan UHMWPE telah dipakai dalam beberapa industri berat menggantikan rantai baja dan seling baja.

Jaring UHMWPE tanpa simpul adalah jaring budidaya yang dibuat menggunakan material tersebut, sehingga tiap pilar jaring memiliki kekuatan setara dengan kawat baja berukuran sama. Oleh karena tiap pilar memiliki kekuatan setara kawat baja, maka satu bentang jaring UHMWPE tanpa simpul sangatlah kuat dan mampu benahan beban hingga beberapa ton.

Bebas Predator

Selain dari kekuatan tarikan, Andi memaparkan, bahan UHMWPE juga sangat sulit untuk dipotong dan tahan korosi. Jaring UHMWPE tanpa simpul dipakai untuk melindungi ikan dari predator di laut maupun air tawar dan terbukti mampu menghadapi serangan berbagai predator seperti ikan barracuda, ikan buntal, ikan bawal, kepiting, penyu, dan berbagai predator lainnya hingga hiu berukuran tertentu. Dengan demikian, ikan budidaya aman hingga masa panen sekalipun KJA dipasang di area yang memiliki populasi predator tinggi.

Indonesia sebagai negara maritim memang memiliki populasi predator laut yang tinggi, yang apabila tidak diantisipasi dapat mengganggu usaha budidaya ikan di laut (marikultur). Padahal, potensi ekonomi budidaya ikan laut sangat tinggi dikarenakan nilai komoditasnya lebih tinggi dari nilai komoditas ikan air tawar, sehingga jaring budidaya anti predator ini sangat dibutuhkan.

Mengenai ketahanan dalam menghadapi predator, jaring budidaya UHMWPE dapat dibandingkan dengan jaring dari bahan metal. Dari segi harga, jaring budidaya UHMWPE memiliki harga jauh lebih ekonomis dari jaring berbahan metal, sehingga merupakan pilihan yang lebih baik dan terjangkau untuk pembudidaya ikan.

Selain itu, tidak seperti jaring metal, jaring budidaya UHMWPE yang ringan dan tidak kaku membuatnya mudah dipasang di lapangan dan mudah untuk diangkat ke permukaan pada saat pembersihan jaring dan panen.

“Jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul PT Gani Arta Dwitunggal sudah digunakan oleh beberapa perusahaan di Bali untuk memelihara ikan kakap putih dan menghalau predator berupa ikan barracuda dan hiu,” ujar Andi.

Andi menuturkan, sepanjang masa pemakaian, tidak ada satupun jaring yang mengalami robek bahkan setelah digigit oleh hiu berukuran sedang. Permukaan tanpa simpul yang halus menghasilkan ikan kakap putih dengan sisik yang sempurna, dan tercatat memiliki mortality rate rendah dan survival rate yang tinggi. Ikan kakap putih tersebut kemudian diekspor ke Australia dan Amerika Serikat.

Jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul umumnya memiliki harga 2-2,5 kali dari harga jaring budidaya HDPE tanpa simpul, dengan umur pakai mencapai 10 tahun di laut dan mencapai 15 tahun di air tawar dengan perawatan teratur.

Melihat dari manfaatnya dalam mencegah predator, kemudahan pemakaian, dan umur pakai yang tinggi, jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul diprediksi akan menempati pasaran yang unik dalam industri budidaya ikan di Indonesia sebagai solusi terbaik budidaya ikan bebas predator. (Adit)

Kekuatan Kerjasama Tim

Ketika saya sedang mengendarai motor hendak pergi ke supermarket, mata saya menoleh melihat bangunan megah yang sepertinya rumah hunian sedang dibangun. Dalam pikiran saya, hebat betul bangunan tersebut, selain megah bangunannya terlihat kokoh dan pastinya sangat menakjubkan jika bangunan tersebut sudah seratus persen rampung.

Namun, saya berpikir bukan soal megahnya bangunan, tetapi kepada para pekerja atau kuli bangunan yang bekerja bergotong-royong dan cekatan merealisasikan keiinginan si pemilik rumah. Kemudian, saya berpikir ternyata kuli bangunan juga mengusung filosofi teamwork dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Teamwork menjadi kunci keberhasilan kuli bangunan dalam bekerja, di mana dalam dunia “perkulian” ada yang disebut Tenaga atau Laden biasa juga orang menyebutnya Layan. Tenaga atau Laden sendiri bertugas melayani apa saja kebutuhan Tukang dalam bekerja.

Kemudian Tukang, yang bertugas mengerjakan proses berdirinya suatu bangunan. Tentu saja Tukang tingkatnya lebih tinggi dibanding Tenaga atau Laden. Karena itu bayaran hariannya berbeda. Tukang juga terbagi lagi menjadi dua, yaitu Tukang Kayu dan Tukang Batu, biasanya kedua Tukang ini bekerjasama berdasar keahlian, tapi terkadang ada juga yang mampu merangkap, kemudian di atas Tukang ada Mandor yang mengkoordinasi dan mengontrol kerja keseluruhan.

Dari situ saya langsung teringat nasihat Direksi PT Gallus Indonesia Utama (GITA), Pak Gani, pada saat acara Annual Meeting kantor beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan, untuk menciptakan target dan hasil kerja yang maksimal dibutuhkan kelancaran kerja antar divisi yang saling berantai.

Artinya, semua karyawan saling berkaitan satu sama lain, semua harus bekerja sama dengan mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki. Jika ada salah satu yang tidak maksimal – bisa karena berhalangan, sakit, tidak semangat atau bermalas-malasan – hasil yang akan didapat pun tidak akan sesuai target.

Untuk sesekali, mungkin pekerjaan yang tidak terselesaikan dari salah satu karyawan bisa saja di-backup oleh karyawan lain. Namun, hal tersebut tidak bisa terus-menerus terjadi sebab bisa mengganggu konsentrasi kerja rekan lainnya sehingga terjadi ketidaksinambungan koordinasi di antara divisi.

Selain itu, Pak Gani juga mengatakan untuk menjadi sebuah perusahaan yang tangguh ada tiga hal yang harus dimiliki oleh setiap karyawan, yakni Profesionalitas, Teamwork, dan Intergritas.

Berbicara mengenai profesionalitas sudah pasti berkaitan dengan memahami tugas dan tanggung jawab, kemudian bekerja dalam koridor SISPRO (sistem dan prosedur), serta memiliki target oriented. Kemudian Teamwork di mana setiap karyawan harus saling bekerja sama untuk menciptakan kerja yang saling berantai dan berkesinambungan. Setelah itu, harus punya integritas tinggi yang mana dalam bekerja harus mencintai pekerjaan itu sendiri agar setiap yang dikerjakan.

Pun dengan kuli bangunan, mereka harus saling berhubungan dari mulai Layan sebagai pengadaan barang atau alat, Tukang kayu dan batu dengan bagian kerjanya masing-masing, Mandor dengan pengontrol agar sesuai prosedur dan mencapai target, sehingga si pemilik rumah selaku customer mendapatkan hasil yang memuaskan.

Namun, untuk membentuk suatu tim kerja yang solid memang bukan perkara yang mudah, karena setiap orang dengan talenta yang berbeda dan disatukan dalam sebuah tim memerlukan sebuah proses penyatuan yang memerlukan kesamaan tujuan atas terbentuknya tim tersebut.

Tim tidak akan bisa bekerja optimal jika tanpa komunikasi yang baik. Saling memotivasi juga merupakan bentuk komunikasi. Sekalipun seseorang itu mencintai pekerjaannya, rasa lelah dan malas pastilah ada. Namun  dengan saling memotivasi, kekompakan dalam tim sudah dipastikan akan selalu terjaga.

Tim yang solid juga didapat dari kepercayaan yang diberikan antara satu dan yang lainnya. Selama saling percaya kepada rekan satu tim, maka akan saling mempercayai. Namun kepercayaan tidak sebatas kepada rekan kerja, melainkan juga kepada konsumen yang telah mempercayai kami sebagai produsennya.

Kesuksesan sebuah tim tergantung dari seberapa solid tim itu bekerja, customer menggunakan jasa kami karena mereka percaya terhadap pelayanan dan kualitas yang diberikan. Artinya, tim kerja harus mampu memberikan kepuasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Jadi jangan remehkan kehebatan kerjasama tim, dengan kemauan untuk saling mendengar, saling berbagi ide dan dengan komando yang tepat, ada banyak hal yang bisa terselesaikan dengan kerjasama dan sudah tentu akan banyak pelajaran yang didapat sebab banyak ide dari kepala yang berbeda.

Oleh: Aditya Permadi, Penulis adalah Staf Redaksi Majalah Info Akuakultur